Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Tuan muda penganggu.


__ADS_3

Alina berjalan seperti siput untuk mendekat ke arah Arron dengan wajah yang terus menunduk, dan jemari yang saling menaut satu sama lain. Di dalam hati, gadis cantik itu tentunya tengah menggerutui dirinya sendiri. Kenapa tuan mudanya itu masih merasa kesal? Padahal tadi Alina sudah meminta maaf padanya.


“Y-ya, Tuan muda?” tanya Alina saat sudah sampai di dekat Arron.


“Bereskan rak buku itu,” perintah Arron.


Pandangan Alina langsung tertuju pada rak buku di depannya. “Tapi, Tuan muda, bukankah itu sudah rapi?” tanya Alina.


Arron langsung menatapnya dengan intens, membuat Alina seketika merasa canggung dan langsung mengalihkan pandangannya ke sisi lain. “Urutkan sesuai tahun,” jawab Arron singkat.


“Baik, Tuan muda.”


Alina melirik Arron sekilas, sebelum akhirnya dia melangkah menuju rak buku. Gadis cantik itu memulai pekerjaanya. Seperti yang di katakana oleh Arron, Alina harus merapikan buku sesuai dengan tahun buku-buku di sana. Sementara Arron sibuk dengan layar macbook di hadapannya, dan sesekali dia juga melihat Alina yang tengah sibuk membereskan rak buku di depan sana.


Tidak lama kemudian, pintu terketuk dari luar dan suara yang sangat tidak asing meminta ijin untuk masuk ke dalam ruangan. Arron mengijinkannya, dan pintu langsung terbuka. Di sisi lain, Alina langsung menolehkan wajahnya karena penasaran siapa yang datang ke ruang baca Arron malam-malam seperti ini.


Willson? Allson? Siapa dia? Alina bermonolog dalam hati.


Sembari berjalan mendekat ke meja Arron. Pria tampan itu melirik Alina, lalu mengedipkan sebelah matanya. Membuat gadis cantik itu berjengit kaget, dan langsung mengalihkan pandangannya ke depan. Sementara pria tampan itu hanya terkekeh kecil menanggapi tingkahnya.


Willson? Ada apa dia datang menemui Arron pada jam seperti ini? Batin Alina.


Alina mencoba mengabaikan mereka, dan kembali focus dengan pekerjaanya. Lagi pula, mereka adalah kakak adik, dan bekerja di sebuah perusahaan yang sama. Mungkin, mereka hanya membahas masalah keluarga atau pekerjaan saja.


Sekitar dua puluh menit Willson dan Arron mengobrol masalah pekerjaan. Benar apa yang dipikirkan Alina. Sangat tidak penting untuk Alina dengar, lebih tepatnya Alina tidak mengerti dengan topic pembahasan mereka. Tapi tiba-tiba, Willson mengubah topik pembicaraan yang mana mau tidak mau Alina harus mendengarkannya.


“Kau memiliki pelayan yang sangat rajin, Kak,” ucap Willson dengan nada yang sedikit lantang.


Alina langsung menolehkan wajahnya, dan menatap tajam tuan muda ketiganya itu. Dia sengaja! Gerutu Alina dalam hati.


Arron diam dan tidak menanggapi. Dia hanya terus focus pada layar macbooknya.


“Dia tampak sangat tenang, tidak seperti terakhir kali aku melihatnya,” ungkap Willson, membuat Alina membeliak sempurna.


Alina tertegun mendengar ucapan tuan mudanya itu. Apakah Willson akan memberitahukan kepada Arron mengenai masalah di danau? Bukankah mereka sudah membuat kesepakanan? Tapi kenapa Willson bertingkah sangat menyebalkan?


Willson terkekeh pelan. Pria tampan itu beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan mendekati Alina. Dia meraih satu buku di atas meja lalu membacanya, tapi tidak lama meletakannya kembali. Willson berdiri tepat di samping Alina sembari terus memandanginya dengan senyuman. Sementara Alina membalas tatapan Willson dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


Willson mencondongkan sedikit tubuhnya mendekat ke arah gadis kecil yang hanya memiliki tinggi sampai bahunya saja. “Kau tidak akan menyapaku?” bisik Willson.


Mau tidak mau Alina harus menahan kekesalannya. Karena bagaimana juga, Willson adalah majikannya. Kemudian, Alina langsung memundurkan tubuhnya dua langkah ke belakang, dan sedikit membungkukkan tubuhnya.


“Tuan muda Son.”


Willson tersenyum melihatnya. Ternyata, mengerjai gadis polos lebih menyenangkan dari pada bersenang-senang di dalam bar bersama para gadis cantik.


“Ingat perjanjian kita,” ucap Willson dengan nada rendah.


Alina diam dan tidak mau menjawab. Dia mengingatkannya mengenai perjanjian, tapi tadi jelas-jelas dia memancing perkataan di hadapan Arron. Menyebalkan!


Willson melangkah maju. Kini jaraknya dengan gadis cantik itu hanya satu langkah saja. “Kau marah?” tanyanya disertai kekehan.


Menyebalkan! Gerutu Alina dalam hati sembari terus menundukan wajahnya ke bawah.


“Cepat keluar jika tidak ada yang ingin kau katakana lagi,” perintah Arron, membuat dua orang di depannya langsung menoleh.


Willson terkekeh mendengar itu, dia menolehkan kembali wajahnya dan menatap Alina yang kini sudah menatapnya kembali dengan berani. Tanpa berkata apa-apa, Willson tersenyum, sebelum akhirnya dia melangkah keluar dari ruangan.


 


Setelah itu, Alina bisa menghela napas lega. Karena setidaknya, gangguan sedikit berkurang. Gadis cantik itu memutuskan untuk melanjutkan pekerjaanya kembali.


“Pergi ke dapur, dan buatkan kopi,” perintah Arron.


Alina langsung menoleh ke arahnya. “Baik, Tuan muda.”


Dia menghela napas lelah, lalu menyimpan buku yang tengah digenggamanya ke atas meja. Alina langsung melangkah keluar dan menuju dapur. Sesampainya di dapur, dia melihat beberapa pelayan yang masih sibuk beraktivitas.


Alina langsung melakukan tugasnya membuat kopi untuk Arron. Sebelumnya dia sudah di ajarkan untuk hal-hal seperti ini, sebelum dia resmi menjadi pelayan tuan  muda. Karena Alina adalah pelayan pribadinya, maka semua kebutuhannya harus Alina yang mengerjakan.


Selama beberapa menit, gadis cantik itu sudah siap dengan satu gelas esspreso buatannya. Dia langsung membawanya naik ke lantai atas dan menuju ruangan Arron. Namun baru saja dua anak tangga dia lalui, seseorang sudah memanggilnya.


“Hei,” seru seseorang, dan mau tidak mau Alina langsung menoleh untuk melihat si pemilik suara.


“Tuan muda Van.” Dia menunduk dan menyapa Vano sopan.

__ADS_1


Vano berdecih malas melihatnya.


“Diam! Aku sedang bekerja,” ucap Alina lalu berbalik dan hendak pergi meninggalkan Vano.


Namun seketika Vano berjalan cepat dan menghalangi Alina. Jika saja kini Alina tidak sedang memegang gelas berisikan kopi panas, mungkin Alina sudah mendorong Vano agar pergi menjauh.


“Menyingkirlah!”  ucap Alina dengan nada rendah namun penuh penekanan.


“Setelah mengantarkan itu datanglah ka kamarku, terakhir kali kau membereskan barang-barangku dan ada sesuatu yang tidak bisa aku temukan.”


“Katakanlah, apa yang tidak bisa kau temukan? Aku bisa memberitahu saat ini juga.”


Vano sedikit memajukan wajahnya, dan berhenti tepat di depan telinga Alina. “Sesuatu,” bisiknya yang sangat terdengar ambigu. Setelah itu, Vano menarik tubuhnya kembali.


Alina berkerut heran. Sesuatu apa yang dia maksudkan? “Apa itu?”


Vano memajukan wajahnya kembali, dan kini dia berhenti tepat di depan wajah Alina. “Benda yang sangat penting untuk seorang wanita. Kau menemukannya di dalam koperku hari itu.”


Alina membeliak sempurna setelah mendengar itu. Damn! menatap Vano yang langsung menarik tubuhnya kembali kemudian tersenyum jahil ke arahnya.


“Kau mengerjaiku!” Gadis cantik itu menggertakan giginya dan merasa sangat kesal.


Sementara Vano malah tergelak menanggapinya. “Tidak, aku benar-benar bertanya kepadamu.”


“Menyebalkan! Menyingkirlah!”


Alina mendorong tubuh Vano, dan langsung berjalan melewatinya. Dia pergi sembari menahan kekesalannya.


“Alina,” seru Vano, tapi Alina mengabaikannya, dan terus berjalan menaiki tangga. “Aku yakin, jika kakakku tidak menyukai kopi yang sudah dingin.”


Alina ternganga, dan langsung menatap kopi yang tengah di bawanya.


VANNNOOOOOOOOOOOO!


 


Bersambung ....

__ADS_1


***


Selamat hari senin. Jangan lupa like, koment dan juga vote yaaaa. See you next chap.


__ADS_2