Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Kenyataan.


__ADS_3

Gadis cantik itu berkerut kening melihat satu lembar foto yang tengah digenggamnya kini. Sebuah foto yang di dalamnya terdapat sebuah gambar seorang pria dan wanita dewasa. Alina tebak jika mereka adalah sepasang suami istri. Selain itu, di foto tersebut juga terdapat gambar seorang anak laki-laki berusia sekitar Sembilan tahun.


Siapa mereka? Kenapa ibu tidak pernah memberitahukannya kepadaku? Batin Alina bertanya-tanya.


Dia membalikan foto tersebut, yang mana di sana terdapat sebuah tulisan, ’10 Febuary 2000, hari terakhir aku melihat mereka. Suami dan anakku.’ Setelah itu, Alina membalikan fotonya kembali, dan melihat dengan jelas siapa orang yang berada di dalam foto tersebut.


“Ibu? Bukankah ini ibu?”  Dahinya berkerut kasar. “Jadi, pria yang berada di dalam foto ini adalah suami ibu, dan anak laki-laki ini ini adalah putranya. Tapi ….”


“Kau sudah pulang?” tanya seseorang secara tiba-tiba.


Gadis cantik itu menoleh untuk melihat ke arah sumber suara. Ternyata, itu adalah ibunya yang baru saja pulang entah dari mana. Dia terlihat membawa banyak sekali belanjaan. Alina menatap nanar ke arah ibunya tanpa mengatakan sepatah katapun.


Wanita paruh baya berusia empat puluh tiga tahun bernama Rose itu menyimpan barang bawaanya ke atas ranjang. Lalu dia menatap Alina bingung. Namun seketika, pandangannya teralihkan pada satu lembar foto yang tengah putri kecilnya genggam. Mendadak raut wajahnya berubah, darah seperti berhenti mengalir pada area wajahnya. Rose terlihat pucat, dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.


Saat ini, gadis cantik itu begitu terguncang. Ya, bagaimana tidak? Sesuatu yang sangat mengejutkan baru saja ditemukannya. Tahun ini, Alina genap berusia delapan belas tahun. Namun tulisan dalam foto benar-benar sangat membuatnya terkejut tidak karuan. Berbagai macam pertanyaan hinggap ke dalam pikirannya.


Sejak kecil, Alina tidak pernah bertemu dengan ayahnya, terlebih dia juga tidak mengetahui jika ibunya memiliki seorang anak selain dirinya. Alina tidak pernah tahu. Rose selalu mengatakan jika ayah Alina meninggal dalam sebuah kecelakaan ketika Alina masih sangat kecil. Karena alasan itu pula ibunya harus bekerja di kediaman Washington, dan membesarkan Alina di sana.


Namun setelah melihat foto tersebut, Alina berpikir jika sesuatu yang salah terjadi. Namun gadis cantik itu mencoba menutup matanya. Dia tidak ingin mengetahui apapun kemungkinan terburuk yang berada di dalam pikiranya. Alina menyangkal itu.


Mungkin saja ibunya memiliki keluarga sebelum akhirnya dia bersama dengan ayah Alina di masa lalu. Mungkin saja ibunya tidak ingin bercerita karena hal itu terlalu menyakitkan baginya. Mungkin, mungkin ….


Lagi pula, tidak pernah ada orang yang mau menoleh ke belakang. Terlebih lagi itu adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Batin Alina, mencoba menenangkan hati dan pikirannya.


Alina memberanikan diri untuk menatap mata ibunya. “I-ibu? Kau sudah kem-bali?” tanya Alina dengan nada gugup, namun sebisa mungkin gadis cantik itu terlihat baik-baik saja.


Rose mendekati putrinya secara perlahan. Dia meraih satu telapak tangan Alina kemudian mengenggamnya. Alina menunduk lemah, sementara air mata sudah mengenang memenuhi kelopak matanya.


“Alina, lihat aku,” pinta Rose, dan gadis cantik itu langsung mendongakan wajahnya. Wajahnya terlihat memerah, ada air mata yang mengenang. Mendadak, perasaan tidak enak mendominasi diri Rose.

__ADS_1


“Kau membuka laci itu? Bukankah aku sudah memberitahukanmu untuk tidak membukanya?” tanya Ros dengan suara pelan dan sedikit bergetar.


“I-ibu … aku tidak mengaja melihatnya terbuka.”


“Apapun yang terjadi, aku harap kau tidak membuka laci itu dan melihat isi di dalamnya.” Wanita paruh baya itu tampak resah, membuat gadis cantik di hadapanya merasa sangat khawatir.


Pandangan Alina mengedar tak tentu arah. “Ibu … ada apa?”


“Kemarilah.”


Rose menuntun lengan Alina untuk duduk bersamanya di tepi ranjang. Wanita paruh baya itu menatap Alina nanar, raut wajahnya menampilkan raut wajah cemas yang mendalam, sementara satu telapak tangannya tak henti mengelus pipi serta rambut Alina.


“Kau adalah putriku,” ucapnya dengan nada bergetar.


Alina mengenggam erat telapak tangan Rose yang tengah menyentuh lembut pipinya. “Ibu, kenapa aku merasa … jika kau akan mengatakan sesuatu yang akan membuatku menangis.”


Kemudian, Rose memeluk tubuh ramping Alina dengan erat. “Aku menyayangimu seperti putriku sendiri, aku sangat menyayangimu.”


Sementara di sisi lain, seseorang tengah memperhatikan ibu dan anak ini dari balik pintu kamar mereka yang tidak tertutup dengan rapat. Tangannya mengepal di depan pintu dan berniat mengetuk. Namun seketika dia urungkan karena waktunya yang tidak tepat.


**


Beberapa jam berlalu setelah moment mengharukan di dalam kamar itu. Akhirnya, Alina mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. Keadaan lebihh buruk dari sebelumnya. Dulu, Alina selalu merasa, tidak apa-apa jika dirinya tidak memiliki seorang ayah, kerena ibunya selalu ada untuknya. Tapi kini?


Alina hanyalah seorang anak yatim piatu yang dibuang oleh kedua orang tuanya. Keadaan yang sangat mengejutkan sekaligus mengguncang perasaanya. Kenapa ada seseorang yang tega membuang anak mereka? Kenapa harus ada jiwa yang lahir jika kehadirannya bahkan tidak diharapkan.


Aku berjanji, aku tidak akan mencoba untuk mencari tahu siapa orang tuaku. Ini sudah cukup, aku memiliki ibu yang sangat menyayangiku, dan ini sudah cukup. Batin Alina.


Gadis cantik itu menyeka air mata yang membasahi pipinya, lalu melemparkan batu ke dalam air danau. Seperti biasa, dia akan pergi ke tempat itu ketika suasana hatinya sedang buruk.

__ADS_1


“Kali ini kau tidak berteriak atau menyebutkan nama seseorang?” tanya seseorang yang baru saja datang.


Alina berjengit kaget lalu menoleh untuk melihat siapa orang tersebut. Ternyata itu adalah Willson. “Tuan muda Son,” sapa Alina sembari menundukan wajahnya.


“Kau sedang tidak bekerja, tidak perlu terlalu formal kepadaku,” ucap Son santai.


“Bagaimana mungkin? Kau adalah tuan muda di kediaman ini, aku harus selalu menghormatimu di mana pun.”


Mata Willson membulat mendengar kalimat sopan santun dari gadis di hadapanya. Biasanya Alina akan berteriak, melawan, dan bersikap menyebalkan. Namun ada apa dengannya hari ini? Dia terlihat sangat berbeda.


“Apakah kau sakit?” tanya Willson. Punggung telapak tangannya menyentuh dahi Alina untuk memastikan jika gadis cantik itu sedang sakit atau tidak.


“Ih!” Alina menghempaskan telapak tangan Son pada dahinya.


“Kau tidak demam, tapi kenapa wajahmu terlihat sangat merah?”


Alina mencebik kesal lalu mengalihkan pandangannya. Dia tidak ingin menjawab pertanyaan bodoh dari tuan mudanya itu.


“Apa kau menangis?” tanya Son penasaran.


Namun Alina terus saja diam dan tidak menjawab.


“Ingat,  di luar sana banyak sekali pria. Kau tidak pantas menangisi seorang pria brengsek.”


Alina menoleh untuk menatapnya. “Pria?”


“Ya, Pria. Karena hanya pria brengsek yang bisa melukai hati seorang wanita dan membuatnya menangis.”


Dia gila?

__ADS_1


Bersambung ....


Jangan lupa like, koment dan juga vote yaa makasih. Eeeeeh chapter ini melow yaa wkwkwk. Tapi ini bakal berhubungan sama alur ceritanya lho.


__ADS_2