
Happy Reading ....
Coffee ... Alina melupakan Coffeenya.
“T-tuan aku belum sempat membuatnya. Hm ... tapi aku- aku akan membuatkanya sekarang,” jawab Alina dengan gugup.
Alina beranjak dari tempat duduknya. Dia melangkah menuju pintu dan hendak pergi menuju dapur untuk membuatkan coffe. Tapi seketika langkahnya terhenti ketika melihat keadaan gelap di luar ruangan.
Karena pertanyaan Arron, Alina sampai lupa jika sejak beberapa detik yang lalu dia masih menangis ketakutan.
Arron menatap Alina yang berdiri memaku di depan pintu sebelum akhirnya mengatakan, “Aku akan mengantarmu ke dapur.”
Alina tertegun mendengarnya. Bagaimana mungkin seorang Tuan muda mau pergi ke dapur dan menemani asistennya membuat Coffee. Hal itu tidak pernah ada dalam sejarah. O Lord!
__
Meskipun ragu, Alina tidak bisa menolak perkataan Arron. di sisi lain dia juga tidak bisa pergi ke dapu sedirian karena takut. Dengan gugup dia berjalan menuju dapur dengan Arron yang mengikutinya dari belakang.
Tiba di depan tangga, tiba-tiba saja Alina menghentikan langkahnya. Di berbalik ke arah Arron seraya mengulurkan sebelah tangannya ke samping.
"Tuan, lebih baik anda yang berjalan di depan," ucap Alina.
Arron mengangkat kedua halisnya ke atas setelah mendengar perkataan gadis itu. Bukankah Alina yang takut dengan gelap? Lantas kenapa gadis itu meminta Arron untuk berjalan di depannya?
Ah ... aku gugup sekali jika Tuan muda Ron berada di belakangku. Aku merasa jika dia sedang memperhatikan tubuhku yang tidak indah ini. PIkir Alina.
"Baiklah, berjalan yang benar dan jangan sampai tertinggal jauh," kata Arron memperingati.
"Baik, Tuan," balas Alina dengan keyakinan seratus persen.
Arron berjalan melewati Alina dan mulai terlebih dahulu untuk menuruni anak tangga. Sementara Alina, berjalan dengan jarak empat anak tangga di atas Arron seraya terus memegangi sisi tangga.
Gadis cantik itu berjalan dengan ragu, langkahnya sama sekali tidak lancar. Berbeda sekali dengan Arron yang meskipun gelap, dia masih bisa melangkah dengan sempurna.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Arron tiba-tiba.
Alina hendak melangkahkan kakinya untuk menuruni satu anak tangga. Tapi karena suara Arron yang muncul secara tiba-tiba, membuat Alina terkejut sehingga melangkah dengan salah. Kakinya terlalu lebar melangkah sehingga melewati anak tangga yang harus Ia pijak. Dan alhasil ....
“Aaaaahhhhhh!”
Alina hendak terjatuh, namun di hadapannya terdapat Arron yang tengah berdiri tegap dan secara tidak langsung sudah menolongnya. Tubuh kecil itu mendapat tepat di atas punggung rata Arron dengan kedua lengan yang terus memeluk tubuh Arron dengan erat.
__ADS_1
Dia menutup kedua matanya erat. Pikiran Alina terlalu lambat untuk dapat mencerna setiap keadaan.
“Kau sangat senang memeluk tubuhku, Alina,” kata Arron.
Seketika itu pula Alina langsung membuka matanya bulat. Dia baru menyadari jika dirinya tengah memeluk tubuh tuan mudanya. Ah Alina!
Alina langsung melepaskan pelukannya dan berdiri tegap kembali. Dia menelan salivanya dengan susah payah karena sudah bertindak dengan tidak sopan seperti itu.
“Maafkan aku Tuan ...,” ucap Alina seraya menundukkan wajahnya dengan sangat dalam. Dia sangat menyesali perbuatannya.
“Berjalanlah di depan, jangan menolak dan cepat lakukan,” perintah Arron.
Alina menganggukkan wajahnya pelan. Tidak berani mengangkat wajahnya sedikitpun, dia berjalan menuruni anak tangga dengan wajah yang menunduk. Ketika langkahnya sudah berada tepat di atas anak tangga yang Arron pijak, gadis labil itu malah terdiam.
“Ada apa?” tanya Arron.
“Aku- aku harus berjalan sembari memegangi sisi tangga,” jawabnya gugup. Jangan lupakan wajahnya yang terus Ia tundukan.
Arron membuang napasnya dengan kasar. Tapi, dia tetap menggeser posisinya agar asisten kecilnya itu dapat berjalan dengan benar. Setelah itu, Arron berjalan di belakang Alina, dan mengikuti setiap langkah gadis itu.
Tingkah Alina benar-benar di luar ekspektasi Arron. Arron tahu jika gadis itu bodoh, tapi setelah melihatnya malam ini, Arron merasa jika Alina benar-benar sangat bodoh dan juga konyol. Lihat saja langkahnya, dia melangkah dengan terbata-bata seperti dia tengah berjalan di atas sebuah tali dengan banyak buaya di bawahnya. Lord!
Arron hanya menggeleng pelan melihat itu semua.
--
“Tuan, coffee apa yang ingin kau minum?”
“Espresso,” jawab Arron singkat.
Alina tersenyum dengan semangat. “Baik, Tuan.”
Kemudian, Alina langsung membuatkan coffe espresso sesuai dengan permintaan Arron. Dia membuatnya dengan telaten tanpa menumpahkan satu tetes air sedikit pun.
Arron sedikit mengangkat sebelah bibirnya. “Setidaknya ada satu hal yang bisa dia lakukan,” gumamnya rendah.
Tidak lama kemudian, Alina datang kepada Arron seraya membawa satu cangkir Coffee buatannya. Dia menyimpan itu di atas meja, sembari terus tersenyum menatap Arron. Dia ingin memperbaiki citranya yang sudah hancur malam ini dan menjadi seorang asisten yang baik.
Alina tersenyum, berdiri dengan tegak di hadapan Arron. Dia telah membuang sifat konyolnya yang timbul beberapa menit yang lalu. Tapi, setelah susah payah bersikap anggun, perutnya malah tidak bisa diajak kerja sama. Tiba-tiba saja perutnya berbunyi karena lapar.
Gadis cantik itu mendesis pelan, menyembunyikan wajah meronanya karena malu.
__ADS_1
Arron menatap Alina heran, “Perutmu? Apa kau lapar?”
Alina menggigit bibir bagian bawahnya lalu menjawab, “Sebenarnya, makanan di restoran menurutku sangat sedikit, aku tidak biasa memakannya.” Aku masih kelaparan. Imbuhnya dalam hati.
Lagipula akhir-akhir ini Alina selalu makan sedikit untuk menjaga berat badanyanya agar tetap ideal. Setiap malam dia sering kelaparan. Tapi ibunya dengan sengaja tidak pernah menyiapkan makanan lebih di dalam kamar. Membuat Alina tersiksa.
Arron tahu apa yang Alina pesan malam ini, dan dia cukup terkejut dengan pernyataan Alina baru saja. Sebenarnya berapa porsi yang biasa gadis itu makan?
“Buatlah sesuatu untuk kau makan. Aku akan menunggu.”
Alina langsung mengangkat wajahnya dengan terkejut sembari membulatkan kedua bola matanya. “A-apa? Ah ... tidak perlu.”
“Cepat lakukan,” perintah Arron penuh penekanan.
Pemaksa! Gerutu Alina dalam hati. Lagipula aku tidak bisa memasak.
“Kenapa kau diam saja?” tanya Arron.
“Aku ... tidak bisa memasak,” jawab Alina. Dia harus berkata jujur agar membuat Arron tidak terus memaksanya. Lagipula, seorang asisten makan di hadapan Tuan muda pertama bukanlah hal yang baik.
“Aku akan memasakannya untukmu.”
APA?
--
Alina mencubit kecil jemari lentiknya beberapa kali. Kini, dia tengah duduk di atas kursi meja makan dengan perasaan gelisah. Sesekali, pandangannya melirik ke arah Arron yang tengah memasak di hadapannya.
Bagaimana ini? Jika seseorang melihat ini, tentunya orang itu akan pingsan.
Tidak lama kemudian, Arron sudah siap dengan semangkuk mie buatannya. Dia menyajikan mie tersebut dengan sempurna di atas meja.
Tapi sebelum diberikan kepada Alina, Arron terlebih dulu bertanya. “Hei, apa kau ingat beberapa peraturan di dalam kontrak kerja?”
Alina terdiam dengan pandangan yang mengedar ke arah lain. Sebenarnya, gadis cantik itu tidak pernah benar-benar membacanya.
“Alina, kau tidak bisa menikah sampai batas waktu yang telah ditentukan,” kata Arron menjelaskan.
Ah? Benarkah?
Bersambung .....
__ADS_1
Haiii jangan lupa like dan komen untuk terus menyemangati Author yaaa, see you.