
Happy Reading ….
Dua puluh menit berlalu dan mereka sudah menyelesaikan acara makan siang. Alina pamit untuk kembali ke mansion namun Arron melarangnya dengan alasan tidak ada supir yang bisa mengantar Alina, dan Alina juga masih asing dengan daerah sekitar. Arron tidak ingin mengambil resiko.
Lalu apa yang harus aku lakukan? Pikir Alina.
Arron kembali sibuk dengan pekerjaannya, sementara Alina duduk diam di atas sofa. Dia tidak tahu harus berbuat apa selain diam dan sesekali menatap Arron yang sedang bekerja. Diam selepas makan malah membuatnya mengantuk.
“Tuan, kapan aku bisa kembali?”
Arron diam dan tidak menjawab meskipun dia mendengarnya.
Alina menghela napas lelah. Dia menyenderkan tubuhnya pada sofa. Dia terus menguap karena mengantuk, dan tidak sadar telah memejamkan matanya lalu terlelap. Rasa kantuknya terlalu mendominasi dan membuatnya lupa jika kini Ia sedang berada di mana.
“Dia sudah tertidur,” gumam Arron rendah.
Sebenarnya Arron sudah menambahkan obat pada minuman gadis itu agar dia bisa beristirahat dengan tenang. Jika tidak seperti itu, mungkin kini Alina masih mengoceh dan meminta untuk kembali ke kediaman.
Arron beranjak dari kursi kerjanya dan melangkah mendekati Alina. Dia mengangkat tubuh ramping gadis cantik itu dan membawanya ke dalam kamar yang berada di ruang kerjanya. Kamar tersebut sengaja dibuat untuk Arron ketika lembur bekerja.
Dia menyimpan tubuh Alina dengan lembut ke atas ranjang. Sesaat Arron menatap wajah cantiknya. Hidung mancung, mata yang terpejam dan bibir tipisnya. Arron menyukai semua itu. Dia mengecup bibir Alina sekilas dan menariknya kembali.
“Tidur yang nyenyak.”
--
Di sisi lain, Vano yang kini sedang berada di luar negeri tengah berada di sebuah restaurant untuk makan malam bersama dengan seorang klien. Dia sudah menunggu selama tiga bulan untuk dapat bertemu dengan klien tersebut.
Mereka duduk bersama dan menyantap makan malam diiringi dengan perbincangan seputar pekerjaan. Vano mengangkat gelas berisikan minumannya dan meminumnya. Dia berdeham samar, menyiapkan hati dan pikirannya untuk malanjutkan perbincangan selanjutnya.
“Tuan Zeto,” panggil Vano pada pria paruh baya itu.
Vano mengeluarkan beberapa foto dan memberikannya pada Zeto. Pria paruh baya itu menerimannya, dan tersentak setelah melihat beberapa lembar foto seorang gadis yang sangat dikenalinya. Pandangannya menjadi nanar dan napas yang tidak sabaran.
“Dari mana kau mendapatkan foto ini? Siapa kau?”
“Ibuku bernama Monika,” jawab Vano.
Vano Washington yang sebelumnya Zeto tahu hanyalah seorang penerus dari keluarga Washington dan memiliki janji temu dengannya hari ini hanya untuk membicarakan masalah pekerjaan. Tapi tiba-tiba pria muda di hadapannya itu memberikan sebuah gambaran masa lalu kepadanya dan membuat Zeto begitu terkejut.
__ADS_1
“Monika?” pandangan Zeto tak menentu dan mengingat-ngingat siapa Monika.
“Ya, aku adalah putra Monika Louis.”
“Aku mencarinya selama beberapa tahun ini, kemana dia pergi bahkan tidak ada jejak sama sekali.”
Monika pergi ke kediaman Washington dan menyembunyikan dirinya. Tidak heran jika Zeto tidak bisa menemukan keberadaanya.
“Bagaimana keadaanya? Di mana putriku sekarang?” tanya Zeto tidak sabaran.
Sebelumnya Vano pikir, setelah Zeto bangkit dengan perusahaanya dan menikah lagi mempunyai keluarga baru, pria paruh baya itu tidak akan mengingat putri yang sudah belasan tahun dia tinggalkan. Tidak menyangka selama ini pria itu mencari keberadaanya.
“Dia baik-baik saja.”
Vano menceritakan semua yang sudah terjadi selama belasan tahun ini dengan detail. Kenapa dia menjadi bagian dari Washington, dan juga keberadaan dan kabar putri Zeto. Mendengar semua itu membuat Zeto merasa sangat bersalah. Dia sudah menelantarkan hidup putrinya dan membuatnya menderita.
“Aku akan pergi menemuinya besok,” ucap Zeto dengan gusar.
“Tuan tenanglah. Akan aneh jika kau tiba-tiba datang dan mengatakan jika kau adalah ayahnya. Meskipun kau menjelaskan semuanya, tetapi itu terlalu mendadak dan hanya akan membuatnya bingung.”
“Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan?”
**
Alina membuka matanya, mengoptimalkan pandangannya yang buram. Matanya mengedar menatap ke arah sekitar. Ruangan itu begitu asing untuknya. Dia hafal setiap sudut mansion tapi tidak ada ruangan yang sedang ditempatinya kini.
Di mana aku?
Dia beringsut turun dari ranjang, membuka pintu yang terhubung dengan sebuah ruang kerja. Seketika itu juga jiwanya terkumpul kembali dan matanya terbuka lebar. Dia ingat jika tadi dirinya tengah berada di perusahaan Arron. Bagaimana bisa Alina tidur saat tengah bekerja.
Alina melihat ke arah dinding kaca di mana hari sudah sangat gelap, lalu mengalihkan pandangannya kembali pada arloji di pergelangan tangannya. Sekarang sudah pukul setengah Sembilan malam. Sudah berapa lama dia tidur?
“Tuan?” panggil Alina pada Arron yang sedang berdiri menghadap dinding kaca dan menatap pemandangan kota malam hari.
Arron langsung membalikan tubuhnya dan melangkah mendekati Alina. “Kau sudah bangun?”
Alina mengangguk pelan. Lalu dia menunduk lemah. “Tuan, maafkan aku karena tidur di saat bekerja. Kau bisa memotong gajihku sesuai dengan aturan.”
Arron tersenyum kecil, mengusak puncuk kepada Alina dengan lembut. “Tidak masalah. Pergilah mandi lalu kita akan makan malam bersama.”
__ADS_1
Sekarang sudah pukul setengah Sembilan malam, lewat setengah jam untuk waktu makan malam. Arron sengaja melewatkan waktu makan malamnya dan menunggu Alina bangun dari tidurnya untuk makan malam bersama.
“Ganti pakaianmu, aku sudah menyiapkannya di dalam lemari.”
“Baik, Tuan.”
Setengah jam berlalu dan Alina sudah menyelesaikan acara mandinya. Arron menyiapkan pakaian yang sama persis seperti yang Alina pakai sebelumnya. Dengan seperti ini, maka tidak aka nada yang menyangka jika Alina sudah berganti pakaian.
“Duduklah,” ucap Arron seraya mengedikan dagunya ke arah sofa.
Mereka berada di dalam ruang kerja, namun makanannya disediakan seolah mereka tengah berada di sebuah restaurant bintang lima. Alina berpikir pasti Arron menyiapkan semua itu ketika dirinya tengah mandi, karena sebelumnya tidak ada makanan apapun di atas meja.
Arron menuangkan wine ke dalam gelas.
“Tuan, aku tidak minum.”
“Satu gelas tidak akan membuatmu mabuk.”
“Tapi Tuan-”
“Alina.” Arron menatapnya dan menghentikan kalimat Alina.
Alina tersenyum kaku. Dia hanya bisa mengiyakan ucapan big bosnya saja dan tidak bisa menolak.
Satu gelas berisikan wine itu sudah tandas dan tidak tersisa, dan mereka sudah menyelesaikan acara makan malam mereka. Alina duduk diam di atas sofa, dia mulai merasakan pusing di kepalanya.
Sudah aku katakan aku peminum yang buruk. Pikirnya dalam hati.
Lagi, Arron menuangkan wine ke dalam gelasnya.
“Tuan?” Alina menatap Arron bingung.
“Minumlah.” Arron tersenyum lalu menyesap wine miliknya.
Tidak, aku akan mabuk. Bukan hal yang bagus.
Bersambung ....
Semoga selalu suka sama ceritanya ya ....
__ADS_1