
Happy Reading ….
Alina duduk di tepi ranjang dengan terus melamun. Dia memikirkan kembali apa yang pria paruh baya itu katakan di telepon tadi. Bahwa dia akan datang menemui Alina, dan berencana mengajak gadis cantik itu untuk tinggal bersama dengannya di luar negeri.
Pintu kamar terbuka, ibu Alina masuk ke dalam kamar. Dia melihat putrinya yang terus melamun dan bahkan tidak menyadari kehadirannya. Lalu, wanita paruh baya itu duduk di sampan Alina, memegang lengan putrinya lembut.
Gadis cantik itu terkesiap, lalu menoleh ke arah ibunya. Dia tidak mengatakan apapun selain terdiam, lalu menyenderkan kepalanya pada bahu ibunya.
“Ada apa?” tanyanya penuh perhatian. “Kau tidak kembali semalamam, dan kini kau terus saja melamun.”
Alina menegakan kepalanya kembali, memegang telapak tangan ibunya erat. “Bu, seseorang menelponku.”
“Siapa? Apa dia mengancam dan berbicara tidak baik padamu?”
Dengan cepat Alina menggelengkan kepalanya.
“Bukan. Dia … pria yang-” Kalimatnya terhenti. Alina bingung bagaimana cara memberitahu ibunya.
“Pria?”
“Pria yang mengaku sebagai papaku.”
“Tuan Zeto?”
Alina mengangguk pelan.
“Bu, dia akan datang kemari, dan datang untuk menjemputku. Bu, apa yang harus aku lakukan?”
Wanita paruh baya itu mengenggam tangan Alina, mencoba menenagkan gadis cantik itu. Meskipun di dalam hatinya sendiri dia merasa tidak rela jika Alina pergi meninggalkannya. Namun dia tidak bisa egois, semua ini demi kelangsungan hidup putrinya. Alina berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
“Dia papamu, keluargamu. Apapun yang menjadi keputusannya adalah yang terbaik untukmu.”
“Tapi, Bu … aku tidak ingin pergi meninggalkanmu, aku tidak ingin pergi dari sini ….”
“Apapun keputusanmu, aku akan mendukungmu. Tapi, jika kau terus berada di sini, bagaimana dengan masa depanmu? Kau harus memikirkannya dengan baik.” Dia menatap Alina dengan tenang. “Kau harus memiliki masa depan yang lebih baik, melanjutkan sekolahmu, memiliki pekerjaan yang menyenangkan.”
Alina tidak ingin pergi ke mana pun. Tapi setelah mendengar nasehat ibunya, dia menjadi berpikiran terbuka. Benar, dari dulu Alina sangat ingin melanjutkan pendidikannya, memiliki pekerjaan yang lebih baik dan membahagiaan ibunya dengan uang yang dia hasilkan. Ibunya tidak perlu bekerja sebagai pelayan lagi.
Tapi jika dia pergi, bagaimana hubungannya dengan Arron.
“Pikirkanlah dengan baik.”
**
Alina duduk menunggu seorang teman di sebuah coffeshop. Sebelumnya mereka sudah sepakat untuk bertemu di akhir pekan. Gadis cantik itu duduk menunggu selama sepuluh menit, hingga akhirnya seseorang datang menghampiri mejanya.
“Alina …,” serunya seraya berjalan cepat ke arah Alina dan memeluknya ringan. “Aku sangat merindukanmu.”
Seorang gadis cantik dan seumuran denganya yang tak lain adalah teman sekolah Alina. Dia bernama Lili. Keduanya menjalin pertemanan sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama dan berlanjut hingga mereka lulus SMA.
Semenjak lulus, Alina dan Lili tidak pernah bertemu satu sama lain lagi selain menghubungi lewat chat. Karena gadis itu pergi ke luar kota untuk melanjutkan pendidikannya, dan baru kembali akhir-akhir ini.
“Aku sangat merindukanmu, Alina.”
__ADS_1
“Aku juga sangat merindukanmu.”
Mereka tersenyum bahagia.
“Kita pergi berbelanja?” ajak Lili.
“Tentu saja.”
Malam ini, sekolah mereka akan mengadakan reuni. Lili dan Alina pergi berbelanja dan mempersiapkan diri untuk turut hadir ke acara. Mereka pergi berbelanja aksesoris, dan berbelanja beberapa perlengkapan make up.
Setelah selesai berbelanja, Lili mengajak Alina untuk datang ke rumahnya. Karena jarak rumahnya ke sekolah tidak terlalu jauh. Di dalam kamar, kedua gadis itu mengeluarkan semua barang-barang yang mereka beli kemudian mencobanya.
“Alina, pakai ini,” ucap Lili seraya memberikan sebuah lipstick berwarna merah pada Alina.
“Ah ini sangat merah, aku tidak suka.”
“Cobalah … cobalah ….”
Lili memaksa, namun Alina menolak. Kedua gadis itu saling bercanda, mengejar satu sama lain hingga akhirnya Lili berhasil mencoreng wajah Alina dengan lipstick berwarna merah miliknya.
“Lili!” pekik Alina memprotes.
“Hahah, kau lucu sekali.”
“Lihat saja, aku akan membalasmu!”
Alina merebut lipstick dari tangan Lili, mencoreng wajah Lili dengan lipstick, sama seperti apa yang Lili lakukan kepadanya. Mereka saling membalas, bercanda, dan tertawa bersama. Tapi, tiba-tiba ponsel Alina bergetar, membuat tawa mereka berhenti seketika.
Alina meraih ponselnya, membaca nama Arron yang terpampang pada layar ponselnya.
“Hallo?”
‘Bagaimana pertemuanmu dengan teman lama?’
Alina tersenyum dan menjawab, “Menyenangkan.”
‘Baguslah.’
“Hm … apa yang sedang kau lakukan sekarang?”
‘Ini akhir pekan, dan kekasihku tidak ada di sini. Aku hanya membaca beberapa dokument pekerjaan.’
“Ah … maafkan aku tidak bisa menemanimu.”
‘Tidak masalah. Kapan kau kembali?’
“Setelah acara reuni sekolah berakhir, mungkin sedikit malam.”
‘Aku akan menjemputmu. Kirim pesan setelah kau selesai.’
“Baiklah.”
‘Aku merindukanmu.’
__ADS_1
Alina tersenyum mendengarnya. “Aku juga merindukanmu.”
Setelah itu, panggilan telepon tertutup. Alina membuka pintu kamar mandi dan terkejut oleh Lili yang berdiri tepat di depan pintu.
“Astaga Lili, apa yang sedang kau lakukan?”
“Hei Alina, apa yang menelpon tadi adalah kekasihmu?” tanya Lili menggodanya.
Alina duduk di tepi ranjang, menyibukan dirinya dengan beberapa make up yang berserakan di sana. “Bukan,” jawabnya singkat.
Lili menyikut lengannya. “Hei, lihatlah wajahmu yang memerah seperti tomat. Kau tidak bisa berbohong padaku.”
“Jangan mengada-ada.”
“Ayolah Alina … beritahu aku siapa pria itu, dan bagaimana wajahnya.”
“Tidak!” Alina menolak, mengalihkan wajahnya yang tengah menahan senyuman.
“Sangat pelit, lihat saja aku akan mengetahuinya sendiri nanti.”
__
Acara reuni diadakan di sekolah. Semua yang datang diwajibkan untuk memakai seragam sekolah mereka. Beruntung berat badan Alina tidak bertambah sehingga seragam sekolahnya masih bisa dipakai dengan sangat baik.
Sesampainya di sekolah, beberapa teman sekelas mereka menyapa dan mengajak kedua gadis itu untuk turut bergabung. Mereka saling berbincang, membicarakan kehidupan mereka setelah lulus sekolah. Beberapa membicarakan bagaimana sulitnya belajar di unniversitas.
“Alina, bagaimana denganmu? Apa yang kerjakan setelah lulus?” tanya seorang teman.
“Aku? Aku … setelah lulus aku langsung mendapatkan sebuah pekerjaan.”
“Apa kau tidak melanjutkan pendidikanmu? Sayang sekali, padahal kau sangat pintar.”
Semuanya mendadak diam, mereka menjadi tidak enak hati kepada Alina. Sementara Alina hanya tersenyum tipis.
“Alina, setelah bekerja kau pasti menabung banyak uang. Kau bisa mentraktir kami nanti,” ucap seorang teman pria mencoba mencairkan suasana.
“Benar, traktir kami.”
“Alina, mereka mencoba menguras dompetmu,” bisik Lili sembari terkekeh.
“Tidak masalah.”
Beruntungnya, Alina memiliki teman sekolah yang bisa saling menghargai dan mendukung satu sama lain tanpa membeda-bedakan siapapun. Dia melewati masa SMA nya dengan tenang.
Ponsel Alina berdering, sebuah pesan masuk.
‘Aku berada di depan sekolahmu.’
“Hah?” pekik Alina yang membuat semua orang menatap ke arahnya.
To be contiuned ....
__ADS_1