Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Tugas menjadi pelayan Tuan muda Ron.


__ADS_3

Secepat kilat Alina melangkah mendekati Vano. Namun Vano sudah masuk ke dalam mansion. Tidak menyerah sampai situ, Alina melebarkan langkahnya untuk menyusul temannya itu. Tanpa Alina sadari, satu mobil mewah baru saja datang, dan seseorang turun dari mobil tersebut. Secara tdak sengaja, Alina menabrak tubuh orang tersebut.


Langkahnya terhenti, dan tertegun. Alina memiliki tubuh yang mungil dan pendek. Sehingga harus mendongakkan sedikit wajahnya untuk melihat siapa yang sudah tidak sengaja dia tabrak. Gadis cantik itu menelan salivanya susah payah ketika melihat siapa yang sudah di tabraknya.


Secara tidak sadar, Alina menggigit bibir bagian bawanya. Lalu dia berkata, “Maafkan aku.”


Suasana mendadak menjadi tegang. Beberapa pengawal di sana hanya bisa menatap Alina dalam diam. Mereka harus bersiap. Karena mungkin setelah ini, aka nada badai yang menerjang mereka. Ketika seseorang tidak bisa di tolerir lagi.


Alina selalu ceroboh!


Tanpa mengucapkan apapun, Arron langsung masuk ke dalam mansion dan melewati Alina begitu saja. Beberapa pengawal di sana mulai kembali pada tempatnya masing-masing. Sementara Alina masih tercengang tidak karuan di depan sana.


Apakah setelah ini … Akan ada hukuman lagi?


Alina tersadar. Tidak seharusnya dia berdiam diri di sana. Lalu, secepat kilat Alina berbalik dan menyusul Arron masuk ke dalam mansion. Gadis cantik itu berjalan dengan langkah yang cepat menyusuri lorong, dan berhenti tepat di depan sebuah pintu besar dengan dua orang pelayan yang menjaganya.


Bolehkah aku masuk ke dalam? Tanya Alina dalam hati.


“Tuan muda sudah menunggumu di salam,” ucap seorang pelayan. Kemudian mereka membukakan pintu ruangan dan mempersilahkan Alina masuk.


Alina menelan salivanya susah payah ketika kakinya mulai melangkah masuk ke dalam ruangan Tuan mudanya itu. Dia gugup dan takut. Dia takut melakukan kesalahan lagi. Lagi pula, kenapa Arron bisa berpikiran untuk menjadikannya pelayan pribadinya kembali? Padahal jelas-jelas Alina selalu melakukan kesalahan.


Gadis cantik berjalan seperti seekor siput. Pandangannya sangat waspada, dan menelisik setiap sudut ruangan. Tidak lama kemudian, pintu ruangan tertutup rapat. Dan suara yang di buatnya sukses membuat Alina berjengit kaget.


O Lord! Aku terlalu berlebihan! Batin Alina.


“Kemarilah,” perintah seseorang yang suaranya sangat tidak asing bagi indera pendengaran Alina. Siapa lagi jika bukan si pemilik ruangan?


Alina langsung menoleh kea rah sumber suara. Tepat di depan cermin, seorang pria tampan terlihat tengah melepaskan jas serta arloji yang telah di kenakannya sepanjang hari. Lantas Alina langsung mendekat meskipun dengan langkahnya yang ragu.

__ADS_1


“Sangat lambat,” ucap Arron sebelum akhirnya pria itu berbaik dan sedikit menengaahkan wajahnya ke atas.


Alina hanya diam menanggapi ocehan Tuan mudanya itu. Di saat gugup, Alina akan melupakan apa yang seharusnya dia ingat. Dia sudah membaca hampir seluruh halaman berkas peraturan yang harus dipatuhi sebagai pelayan pribadi Tuan muda. Namun mendadak kini dia melupakannya.


Gadis cantik itu hanya mampu menunduk dengan perasaan yang gelisah. Jemarinya aktif meremas jas yang tengah di kenakannya. Di dalam hati, Alina juga tidak henti mengumpati dirinya sendiri yang selalu bertingkah bodoh seperti itu.


Arron yang merasa tidak ada tindakan apapun dari Alina, lantas menurunkan wajahnya untuk melihat pelayan pribadinya itu. Dia menghela napas panjang ketika melihat Alina yang tengah tertunduk diam dan tidak melakukan apa-apa. Mungkin seterusnya, Arron harus terbiasa dengan sikap langka yang di miliki gadis itu.


“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Arron, dan sukses membuat Alina berjengit kaget.


Dia mendongakkan sedikit wajahnya untuk menatap Arron. “A-aku? Aku-”


Apa yang sedang aku lakukan? Oh Alina! Kenapa kau sangat bodoh! Gerutu Alina dalam hati.


“Cepat buka dasiku,” perintah Arron.


Dia tersenyum puas atas kinerjanya yang lumayan bagus. Mungkin ini adalah satu-satunya tugas yang dilakukannya dengan benar. Setelah itu, dia menyimpan dasi tersebut di dekat jas yang tersimpan di atas sofa.


Suasana kembali hening. Alina bingung. Apa yang harus dia lakukan selanjutnya?


“Apa setiap saat aku harus mengingatkanmu?” tanya Arron.


Gadis cantik itu hanya menundukan wajahnya dengan raut wajah mencebik. Alina tidak bisa menjawab apa-apa, karena dia sendiri menyadari kesalahanya.


Mungkin ya, mungkin tidak. Ucap Alina yang hanya bisa dia katakana dalam hati.


Mungkin sekarang, tingkat kesabaran Arron sudah menurun menjadi tujuh puluh persen. Dia menghela napas panjang lagi. Lalu berkata,, “Buka kancing kemejaku,”


Seketika Alina langsung mendongakkan wajahnya kembali. Dia sangat terkejut dengan apa yang diperintahkan oleh Arron. Yang benar saja! Sepertinya, tugas ini tidak ada di lembar kontrak itu.

__ADS_1


Arron terus memperhatikan Alina. Gadis cantik itu hanya diam sembari menatapnya penuh tanya. Apa yang sebenarnya dia pikirkan?


Apa aku melewatkan sesuatu? Batin Alina.


“Gajimu akan dipotong lima persen jika kau tidak ingin melakukannya,” ucap Arron yang terdengar seperti ancaman.


Lima persen? Jika di hitung, maka lima persen dari gajinya itu sebanding dengan dua minggu gajih paruh waktu Alina dulu. Dulu ketika masih duduk di sekolah mengengah atas, Alina sering mencuri waktunya untuk melakukan pekerjaan paruh waktu. Selain pembayaran uang sekolah, Alina tidak pernah meminta apapun dari ibunya.


Alina juga selalu mengirimkan uang saku yang di berikan oleh keluarga Washington ke dalam rekening ibunya. Tanpa sepengatahuan dari wanita paruh baya itu. Dia tidak mau terlalu merepotkan.


“Aku akan melakukannya,” ucap Alina.


Dia mendongakkan wajahnya. Namun saat itu juga, Arron sudah menghilang dari pandangannya. Alina tertegun, menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Arron. Namun sepertinya Arron sudah pergi ke kamar mandi. Karena terdengar suara gemericik air dari dalam sana.


Dia menghembuskan napas lelah. “Lima persenku ….”


Alina melangkah dari ruangan Arron seraya membawa jas dan dasi bekas di pakai oleh tuan mudanya itu. Dia menundukan kepalanya, dan berjalan menuju mansion belakang. Di mana di sana, adalah tempat untuk mencuci pakaian. Dan tak lain merupakan tempat kerja ibunya.


Baru saja dirinya keluar beberapa langkah, tiba-tiba lengannya di tarik oleh seseorang dan masuk ke dalam suatu ruangan. Alina hendak berteriak. Namun dengan sigap orang tersebut membekap mulutnya menggunakan telapak tangan.


“Diam, ini aku,” bisik orang tersebut.


Alina langsung membuka matanya secepat kilat ketika menyadari siapa orang yang sudah berbuat ulah itu. Vano! Dia melepaskan telapak tangan Vano, kemudian menyeka bibirnya. “Kau membuatku jantungan!”


“Hei, apa yang terjadi selama aku pergi?” tanya Vano, sengan tatapan mengintimidasi.


***


Haii jangan lupa like dan juga koment yaaa. Ilove U all ....

__ADS_1


__ADS_2