Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Episode 54


__ADS_3

Happy Reading ….


Alina merasa dirinya bodoh karena telah menemani Willson sepanjang malam. Nyatanya dia tidak mendapatkan apapun dari jaga malam yang tidak direncanakannya itu. Dia kembali ke pavillium tepat pukul dua pagi, menyebabkannya tidak memiliki waktu yang cukup untuk beristirahat.


Pagi-pagi sekali Alina harus bersiap untuk bekerja. Dengan gerakan yang lambat dia menyisir rapih rambutnya, menyelipkan jepit yang dibeli Arron khusus untuknya. Alina menghela menatap tampilan wajahnya yang kusut di depan cermin.


Semangat …. Dia menyemangati dirinya sendiri di dalam hati.


Alina masuk ke dalam mansion utama, pergi menuju walk in closet milik Arron untuk menyiapkan beberapa kebutuhan pria itu. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti di ambang pintu, dia tertegun ketika melihat Daisy berada di sana lebih dulu darinya.


Daisy menoleh saat mendengar suara pintu yang terbuka. “Hei kau di sini? Cepat kemari dan bantu aku memilih stelan jas.”


Alina menurut, berjalan mendekatinya.


“Bagaimana yang ini?” Daisy memperlihatkan sebuah jas berwarna abu terang.


“Tuan muda tidak memakai warna terang untuk bekerja,” ucap Alina.


“Ah benarkah? Bukankah ini terlihat bagus untuknya?”


Alina menggeleng pelan.


Daisy tidak banyak tahu mengenai apa yang disukai dan tidak disukai oleh Arron. Dia mendesis pelan. “Cepat kau pilihkan, lalu aku akan membawanya ke kamar Arron,” perintahnya pada Alina.


Tidak mau berusaha sendiri. Gerutu Alina dalam hati.


Alina memilih satu kemeja, jas, tidak lupa dengan dasi, arloji serta sepatu yang akan digunakan oleh Arron hari ini. Setelah selesai memilih, Daisy memerintahnya untuk membawakan itu semua ke kamar Arron.


“Kakak, aku memlihkan pakaian kerja untukmu,” ucapnya pada Arron yang baru saja selesai mandi.


Pria tampan bertubuh tegap itu hanya mengenakan bathrobe berwarna hitam dengan tali yang tidak diikat dengan kencang. Bagian atasnya sedikit terbuka, memperlihatkan dada bidang yang basah akibat air yang menetes dari rambutnya. Membuat penampilannya terlihat semakin cool dan ****.


“Kakak, aku akan membantumu bersiap.” Daisy tersenyum menawarkan diri.


Berada di ruangan itu bersama mereka, Alina seperti nyamuk yang tidak diharapkan kehadirannya. Dia menatap Arron untuk mendapatkan jawaban atas ucapan Daisy yang ingin membantunya, menggantikan tugas Alina.

__ADS_1


“Kau keluarlah,” perintah Arron pada Alina.


Alina terdiam sejenak.  Apakah Arron tidak salah mengatakan itu kepadanya, bukankah seharusnya Daisy yang keluar dari sana. Jelas-jelas Arron tidak suka orang lain membantunya kecuali seseorang yang khusus dipilihnya. Apakah posisi Alina akan benar-benar tergantikan.


__


Setiap waktu Alina merasa gelisah dan terus memikirkan masalahnya dengan Arron. Kedekatan Arron dan Daisy seolah telah mengungkapkan jika perasaan pria itu kepadanya adalah palsu. Arron tidak mencintai Alina jika dalam seperkian detik setelah Alina menolaknya, dia langsung pergi ke pelukan wanita lain.


Aku sudah menyangka jika dia tidak benar-benar mencintaiku. Pembohong! Gerutunya dalam hati.


Alina berada seorang diri di dalam kamarnya, dia sedang berada di pavilium karena sekarang adalah waktu makan siang. Sebelum ibunya datang membawa makanan, Alina sedikit menyibukan diri dengan ponselnya.


Beberapa panggilan tidak terjawab dari Vano, dan satu pesan bertuliskan, ‘Jika kau membacanya, cepat hubungi aku.’


Kini, malam hari di sana. Entah ada urusan apa yang membuat Vano sangat sering menganggunya akhir-akhir ini.


‘Seharusnya kau menghubungiku kemarin, bukan? Tapi kau malah tidak ada kabar sama sekali,’ cecar Vano dari ujung telepon.


Alina sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga. “Aku sangat sibuk akhir-akhir ini. Maaf ….”


‘Bagaimana dengan isi kotaknya, apa kau sudah mengetahui yang sebenarnya?’


Memarahiku sesuka hati. Alina melemparkan ponselnya ke atas ranjang.


Tidak lama setelah itu, ibunya datang dengan membawa beberapa piring makanan. Dia menyimpannya di atas meja, dan Alina siap untuk menyantapnya.


“Ini untukmu, jangan menyentuh itu,” ucap ibu Alina seraya menyodorkan makanan sehat rendah kalori.


“Ah ibu … aku sudah kekurangan gizi.” Dia frustasi melihat tumpukan sayuran itu.


“Makanlah.”


Alina mencebik melihat makananya di atas meja, selera makannya mendadak hilang. Dia menghela napas lelah, beranjak lalu mengambil kotak yang beberapa hari lalu Monika berikan kepadanya. Dia mengambil satu lembar foto, memberikannya pada ibunya.


“Lihat, Bu, bukankah gadis kecil ini sangat familiar? Aku bertanya-tanya, di mana aku pernah melihatnya.”

__ADS_1


Ibu Alina langsung menyimpan sendok yang sedang dipegangnya, kemudian beralih memegang foto, mengambil kotak dari Alina dan melihat keseluruhan isinya.


“Di mana kau mendapatkan semua ini?” tanyanya dengan gusar.


Alina menatap ibunya bingung. “Nyonya besar yang memberikannya padaku. Bu, ada apa? Kau menakutiku.”


Pandangan ibunya memburam, nanar menatap Alina. Dia tidak menyangka jika hari ini akan tiba di antara dirinya dan putri angkatnya. Setelah belasan tahun dia membesarkan Alina, dan kini gadis itu akan benar-benar pergi darinya.


“Ibu aku tidak akan bertanya lagi, kau membuatku takut. Kemari, aku akan membawanya kembali kepada nyonya besar,” ucapnya seraya meminta kembali kotak tersebut.


“Gadis bodoh!” Dia menolah untuk memberikan kotaknya. “Apakah kau tidak ingin tahu apa tujuan nyonya besar memberikan ini padamu?”


Alina terdiam sejenak, dia tidak mengerti apa arti dari beberapa lembar foto di sana.


Wanita paruh itu membuka laci dan mengambil sebuah kalung. Dia mencocokannya dengan kalung yang dikenakan oleh gadis kecil di dalam foto.


“Aku tahu mereka tidak akan mengabaikanmu begitu saja, kau layak mendapatkan kehidupan yang lebih baik,” gumamnya rendah.


“Bu ….”


“Aku masih sangat ingat bagaimana gadis kecil ini menangis beberapa hari sampai jatuh sakit, aku merawatnya dengan penuh kasih sayang.”


Alina menatap ibunya dengan cemas. Dia semakin bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.


“Lihat pria ini, apa kau mengingatnya?” Dia menyodorkan satu lembar foto pada Alina.


Alina menggeleng, dia tidak pernah melihat pria itu di mana pun.


“Apa mereka telah menemukannya? Baguslah jika seperti itu.”


“Bu, siapa yang telah ditemukan? Kau membuatku sangat bingung.”


Tiba tiba saja Alarm pada ponsel kerja Alina berbunyi, menandakan jika dia harus kembali bekerja. Meskipun dia bisa saja tetap tinggal di pavillium karena siang hari Arron berada di perusahaan dan Alina tidak memiliki tugas apapun, tapi gadis cantik itu membuat alasan dan menggunakannya. Entahlah, seperti ada sesuatu di dalam hati Alina yang memintanya untuk segera pergi dari sana.


“Bu, aku harus kembali bekerja. Habiskan makananmu.” Dia tersenyum sebelum akhirnya keluar meninggalkan ruangan.

__ADS_1


"Mereka menemukannya. Putriku, apakah kau akan pergi?"


Bersambung ....


__ADS_2