
Happy Reading ….
Sudah tiba waktunya untuk Alina mengakhiri pekerjaanya hari ini, namun dia masih menemani Arron di ruang baca dan tidak berani mengingatkan Arron masalah waktu. Alina tidak bisa kembali ke pavillium belakang sebelum Arron mengijinkannya.
Alina berdiri di samping Arron yang tengah sibuk dengan macbook di atas meja, sesekali melirik kea rah tuan mudanya. Tiba-tiba saja pintu terbuka, refleks Alina menoleh untuk melihat siapa yang sudah dengan berani tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Nona Daisy?
“Kakak, aku menyiapkan coffe untukmu,” ucapnya seraya menyimpan secangkir coffe di atas meja. Lalu dia menatap Alina. “Bukankah jam kerja telah berakhir?”
Alina spontan menatap Arron.
“Dia lembur,” jawab Arron singkat.
Daisy mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. “Kakak, aku akan menemanimu.” Lagi, dia menatap Alina. “Kau kembali saja.”
Alina menatap Daisy dan Arron secara bergantian, dan menetapkan tatapannya pada Daisy. “Baiklah.”
Dia melangkah dan hendak keluar dari ruangan, namun seketika langkahnya tercekat disaat Arron mengatakan, “Kembali.”
Alina menoleh dengan raut bingung, lalu melangkah kembali ke sisi Arron. Tuan muda pertama itu menatap wajahnya tajam. “Aku tidak mengatakan jika kau boleh kembali, diam di sini.”
Alina tertegun mendengarnya. Dia menundukan wajahnya, enggan menatap Daisy ataupun Arron. Alina terjebak di ruangan itu dan menjadi nyamuk. Sedangkan Daisy, wajahnya berubah kesal seketika, karena kehadiran Alina membuatnya tidak bisa berduaan dengan Arron.
“Alina, buatkan coffe.”
Heh, bukankah sudah ada? Pikir Alina bingung.
Arron menatap gadis cantik yang berdiri di sampingnya diam. Dia bahkan tidak menggubris perintahnya.
“Kakak, aku sudah membuatkannya untukmu, cobalah.” Daisy menggeser coffe yang tadi dibawanya.
“Coffe itu mungkin sudah dingin,” lugas Arron.
“Ah~ Aku akan membuatkan yang lain untukmu.”
Daisy mengambil cangkir berisikan coffe yang jelas-jelas masih panas itu dan kembali ke dapur untuk membuat yang baru. Dia tidak peduli jika harus membuatnya lagi, karena yang terpenting adalah membuat Arron senang.
Sementara di dalam ruangan kini hanya ada Alina dan Arron. Tiba-tiba saja Arron menarik pergelangan tangan Alina, membuat gadis cantik itu limbung dan jatuh ke atas pangkuannya. Alina menatap Arron dengan kedua mata membulat.
__ADS_1
“T-tuan.”
Jantung Alina berdegup kencang antara gugup atau tiba-tiba Daisy kembali dan memergoki mereka berdua. Dia beranjak, namun Arron menahan tubuhnya sangat erat.
“Tidak bisakah kita seperti ini?”
“Nona Daisy akan segera kembali.”
“Tidak masalah,” jawab Arron tidak peduli.
“T-tuan ….” Alina habis pikir.
“Sudahkah kau memikirkannya?” tanya Arron. “Hal yang aku katakan tadi siang.”
Tidak perlu ditanyakan lagi, jelas Alina memikirkannya setiap detik. Otaknya bahkan tidak bisa berpikir dengan jernih semenjak Arron mengajaknya untuk menjalin hubungan.
“Katakan jawabannya sekarang.”
Alina mengingat pembicaraan antara dia dan ibunya. Ketika jantung seseorang berdebar dengan cepat, wajah merona malu, dan selalu memikirkannya. Alina merasakannya kepada Arron, dan dia mengakui jika dia menyukai tuan mudanya itu. Tapi Alina berpikir, jika hal itu sedikit tidak pantas. Dia akan sangat meragukan perasaan tersebut karena bagaimanapun Alina hanya seorang pelayan kecil.
“Tuan, bisakah kau melepaskanku dulu? Aku takut jika nona Daisy kembali.”
“Tidak peduli Daisy atau siapapun itu, ketika kau sudah menjadi milikku, aku akan membawamu ke hadapan dunia.”
“Tidak Tuan! Aku tidak bisa.”
Perlahan pelukan Arron pada tubuh Alina melonggar, dan Alina langsung beranjak dari pangkuannya. Di saat itu juga, pintu ruangan terbuka dan Daisy dengan senyuman di wajahnya membawa satu cangkir berisikan coffe. Alina menundukan wajahnya, sementara Arron kembali menatap layar macbook dengan wajah yang masam.
“Kau, pergilah,” perintahnya pada Alina.
Hati Alina mendadak seperti tersambar petir, terasa sangat sakit setelah mendengar perintah dengan nada yang sangat dingin itu.
“Kau masih berdiri di sana? Ayo pergi, Tuanmu sudah memintamu untuk pergi,” ucap Daisy.
Alina melirik Arron yang menjadi tak acuh kepadanya. Dadanya seperti dihantam oleh bogem besar melihat itu. Perlahan dia berbalik, dan melangkah pergi keluar ruangan.
Daisy senang karena kini hanya ada dirinya dan Arron di dalam ruangan. “Kakak, aku akan menemanimu.”
Sementara itu, Alina berjalan dengan cepat menyusuri taman. Dia takut jika terlambat dan malam semakin larut suasananya akan semakin menyeramkan. Tapi ketika dia mengingat kembali wajah dingin Arron langkahnya perlahan melambat.
__ADS_1
“Bagaimana?”
“AAAAAH!”
Seseorang tiba-tiba saja muncul di hadapannya, membuat Alina terkejut setengah mati. Dia menatap wajah Willson yang malah terlihat senang setelah menjahilinya. Alina sangat ingin menghajarnya saat itu juga.
“Apa kini mereka berdua saja?” tanyaWillson lagi. “Aku bahkan membawa makanan ringan untuk mengawasi,” imbuhnya.
Alina menatap Willson dengan raut kesal. Dia bahkan masih memegang dadanya, dan mencoba menyetabilkan napas karena terkejut, tapi Willson dengan santai malah bertanya hal yang menyebalkan itu.
“Hei, ada apa dengan wajahmu?” Dia menelisik wajah Alina yang memerah. “Apa kau menangis karena terlalu terkejut?”
Alina masih terdiam dan menatap Willson dengan sama.
“Kemari kemari.” Dia menarik lengan Alina dan mengajaknya duduk di kursi taman. “Jantungmu tidak jatuh, bukan? Kau memeganginya seperti itu, mari aku periksa.”
Alina menangkis lengan Willson yang hendak menyentuhnya. Namun Willson hanya santai dan terus mengunyah makanannya.
“Kau sangat marah,” ucap Willson pelan, dan Alina tidak mengubrisnya sama sekali.
“Kenapa kau kembali begitu cepat?” tanya kembali mengalihkan perhatian Alina. “Bukankah kini mereka hanya berdua di sana?” Dia menunjukan ruangan di lantai dua dengan lampu yang masih menyala, dan tak lain adalah ruang baca.
“Aku tidak tahu,” jawab Alina singkat.
“Coba kau pikir, jika seorang pria dan wanita di dalam ruangan yang sama hanya berdua saja di malam hari, apa yang akan terjadi?”
Pandangan Alina tertuju pada ruang baca, namun pikirannya melayang memikirkan kejadian kemarin malam antara dirinya dengan Arron. Malam itu Alina mabuk, dan Arron tidak melakukan apapun terhadapnya.
“Tidak ada.”
“Tidak ada?” Willson berpikir. “Tapi jika aku menjadi Arron, untuk gadis cantik dan memiliki tubuh indah seperti Daisy, akan ada sesuatu yang terjadi di antara aku dan dia.”
Alina berkerut kening dan menatap Willson.
“Aku hanya mengutarakan pikiran priaku.”
Tapi Alina yakin jika Arron tidak akan berperilaku macam-macam. Kecuali jika mungkin Daisy menggodanya. Ya, wanita itu sangat menyukai Arron. Terlebih lagi Arron sedang dalam suasana hati yang buruk, bagaimana jika dia mencari tempat untuk pelampiasan.
Ah bagaimana itu? Aku tidak rela. Pikir Alina gelisah.
__ADS_1
Bersambung ....
Holla, jangan lupa like dan koment yaaa ....