
Waktu makan malam telah berakhir. Seperti biasa, ini adalah akhir dari jam kerjanya. Alina akan kembali ke pavilium belakang untuk beristirahat setelah mengantarkan Arron ke dalam kamarnya.
Dia berjalan di belakang tuan mudanya. Namun seketika langkahnya terhenti saat seseorang menarik pergelangan tangannya.
Arron yang tiba-tiba tidak mendengar suara hentakan sepatu pentofel itu langsung berpaling ke belakang. Melihat dua orang yang sangat dikenalnya tengah saling berhadapan.
“Kakak, apakah kau sudah selesai dengannya?” tanya Vano.
Arron hanya menatapnya tajam tanpa jawaban.
“Aku ingin meminjamnya,” kata Vano. Sementara Alina malah menundukan wajahnya dan tidak berkata apa-apa.
“Dia bukan barang,” ucap Arron dengan nada dingin.
“Dia memang bukan barang.” Seketika Vano merangkul bahu Alina. “Tapi dia adalah kekasihku.”
Alina langsung mengangkat wajahnya dengan pandangannya yang membulat menatap Arron. Vano sudah gila dengan mengatakan hal itu kepada Arron. Dia akan menyebabkan masalah untuk Alina.
“Ayo, pergi bersamaku,” ajak Vano seraya menari pergelangan tangan Alina dan melangkah pergi dari sana.
Dengan tatapan datar, Arron menatap mereka. Perasaan tidak senang mendominasinya. Alina adalah pelayan pribadinya, dan secara tidak langsung adalah miliknya. Kenapa dengan sesuka hati Vano membawanya pergi. Dan hal yang paling memekakan telinganya adalah, ketika Vano mengatakan jika Alina adalah kekasihnya.
Sejak kapan mereka menjalin hubungan? Arron akan mempertimbangkan hal ini nanti.
Lagi-lagi Vano membawa Alina ke dalam kamarnya. Entah apa yang akan dia perbuat kali ini. Setelah mengancam Alina menjadi kekasihnya, apa sekarang Vano akan mengancam Alina untuk menjadi istrinya.
“Berliburlah bersamaku besok,” ajak Vano.
“Hah? Besok?”
“Ya.”
“Kau gila!” Alina menghempaskan genggaman tangan Vano pada pergelangan tangannya. “Tidak mau!”
“Ayolah, temanku mengadakan acara ulang tahun di sebuah pulau yang indah Kau hadir sebagai pasanganku.”
“Aku sibuk.”
“Kau libur bekerja besok.”
“Pokoknya aku tidak mau!” Tolak Alina. “Kau tidak kekurangan wanita, kenapa kau mengajakku?”
“Hei, bukankah kau adalah kekasihku?”
__ADS_1
Alina mendesis sebal. Menatap Vano dengan tatapannya yang tajam. “Tidak ada! Aku tidak ingin pergi!” Alina berbalik, melangkah keluar dari kamar Vano.
Tentu saja dia menolak. Vano sudah memperkirakan hal itu sebelumnya. Oleh sebab itu, dia memiliki rencana cadangan lain untuk membuat Alina ikut dalam acara liburanya.
***
Hari sudah pagi. Jam weker sudah berdering beberapa kali. Sinar mentari perlahan menyeruak masuk ke dalam ruangan melalu selah gorden yang tidak tertutup dengan rapat.
Karena hari ini adalah hari libur, Alina menarik selimutnya kembali untuk menutupi seluruh tubuhnya. Dia akan tidur, dan bangun siang nanti.
Tiba-tiba Alina merasakan seseorang tengah mencubit pipinya pelan. Secepat kilat dia membuka matanya lebar, dan melihat siapa orang itu.
Senyuman manis menyapanya. Kemudian tak lama orang itu mengeluarkan sebuah sapu tangan untuk membekap mulut dan hidung Alina. Membuatnya seketika tidak sadarkan diri.
Alina merasa jika ini adalah akhir hidupnya. Dia diculik. Tapi siapa yang telah menculiknya? Hidup Alina bahkan tidak lebih berharga dari sebuah tas limited edition merk prada. Siapa yang telah dia singgung?
Beberapa jam berlalu. Samar-samar Alina mendengar deru angin yang bertiup kencang. Dia membuka matanya perlahan. Rasa pusing langsung menguar di kepalanya.
Alina pikir jika kejadian mengerikan yang menimpanya tadi adalah mimpi. Namun prasangka itu tidak berlangsung lama saat dia menyadari ranjang yang ditidurinya itu perlahan bergoyang.
Di mana aku? Di mana aku? Pikirnya gusar.
“Kau sudah bangun?” tanya Vano seraya memapah tubuh Alina untuk duduk kembali di sisi ranjang.
Alina menatapnya dan berkerut kening. “Kau?” tunjuknya pada Vano. “Di mana ini?”
Vano menyimpulkan senyumannya. Dia mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Alina. “Kapal pesiar.”
Seketika itu pula pandangan Alina membeliak lebar. Kapal pesiar? Sejak kapan dia naik ke atas kapal pesiar? Astaga, rasanya kini kepala Alina akan segera pecah.
Tidak lama Alina menyadari sesuatu. “Ah! Kau yang telah menculikku! Memberiku obat bius!”
Vano tersenyum penuh arti kepadanya.
“Vano! Vano! Vano! Kau sudah gila!” pekik Alina seraya memukuli Vano. “Kau membuatku takut setengah mati. Aku pikir seseorang menculiku.”
“Apa sekarang kau lega karena ternyata aku yang menculikmu?” tanya Vano seraya mengangkat kedua halisnya untuk menggoda Alina.
Alina menghentikan pukulannya. Berpaling dengan wajah yang mencebik kesal. “Menyebalkan.”
“Oke, aku salah. Tapi jika aku tidak melakukannya, kau tidak akan pernah menyetujuinya.”
__ADS_1
“Aku membencimu!” umpat Alina.
“Aku menyukaimu.”
Alina mencebik kesal. “Aku mau pulang!”
Gadis cantik itu melangkah keluar dan menaiki tangga. Dia berlari ke arah depam kapal pesiar itu dengan tergesa. Sementara Vano ikut berlari di belakangnya.
Hamparan laut birut memenuhi pandangan matanya. Bagaimana caranya dia pulang? Berenang? Vano benar-benar menyiksanya.
Alina berpaling. Kini Vano sudah berdiri tepat di sampingnya. Dia tidak ragu untuk mencubit perut Vano, memukul dan memakinya.
“Menyebalkan! Vano kau sangat menyebalkan! Aku ingin pulang, aku ingin pulang!” teriaknya yang sangat memekakan telinga.
Vano mengindari pukulannya. Meraih bahu Alina agar membuat gadis cantik itu tenang. Pandangan mereka saling bertemu. Menatap satu sama lain.
“Gadis konyol, lihat sekelilingmu,” ucap Vano dengan suara rendah.
Seketika Alina mendengar seseorang berdeham samar. Dia langsung berpaling, menatap ke sekelilingnya. Matanya membulat. Dia tertegun, menelan salivanya susah payah.
Di atas kapal pesiar itu, tidak hanya ada dirinya dan Vano. Tapi banyak sekali orang. Tuan muda keluarga Washington termasuk Arron ada di sana. Para tuan muda itu duduk dengan di kelilingi oleh para wanita yang hanya mengenakan bikini.
Willson melambaikan sebelah telapak tangannya dan tersenyum. Allson mengangkat kedua alisnya untuk menyapa Alina. Sementara Arron ....
Astaga ... Dosa apa yang telah aku perbuat sehingga terjebak dengan keadaan seperti ini? Batin Alina meringis, meratapi nasibnya yang buruk.
Alina menurunkan pandangannya. Semua orang berpakaian renang, sementara dirinya masih mengenakan pakaian tidur. Wajahnya merona karena malu.
Vano menarik bahunya, membuat gadis cantik itu berhambur ke dalam pelukannya. Alina tidak meronta, dia hanya berdiri memaku.
“Aku akan membawamu kembali ke dalam kabin,” kata Vano seraya melangkah mengajak Alina.
Alina hanya bisa diam dan menurut. Sekilas dari ekor matanya, ada tatapan mata tajam yang tengah menyorotinya.
Vano menepuk bahunya agar Alina tetap tenang. Sesampainya di kabin, Vano memberikan satu kotak kepada Alina.
“Ganti pakaianmu dengan ini,” ucap Vano.
Alina langsung membuka kotak itu. Di dalamnya ada satu set bikini berwarna cream. Alina membeliak tajam.
“Apa ini?”
****
__ADS_1
Jangan lupaaa review kaliaaaan hhe