Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Episode 28


__ADS_3

Tepat di tanggal ini, Alina sudah menjadi pelayan pribadi Arron selama tiga bulan. Semakin hari, gadis cantik itu semakin cekatan menjalankan tugasnya. Dia juga sedikit mengurangi tindakan ceroboh atau perkataan yang tidak penting. Semakin lama berdiri di samping Arron, Alina semakin dewasa dan mirip seperti bosnya.


Pagi ini, seperti biasa. Alina akan masuk ke dalam kamar Arron selagi Tuan mudanya itu berada di dalam kamar mandi. Gadis cantik berusia delapan belas tahun itu dengan kompeten memilih pakaian yang hari ini akan Arron kenakan seperti, jas, kemeja, dasi dan lainnya. Semua dia siapkan dengan sempurna.


Suara shower di dalam kamar mandi sudah tidak terdengar, dan tidak lama kemudian seorang pria tampan yang hanya mengenakan bathrobe sebagai penutup tubuhnya berjalan keluar dari dalam kamar mandi. Alina menyapanya dengan sedikit membungkukkan badan.


Pria tampan itu pergi ke walk-in closetnya untuk mengenakan pakaiaan. Tidak membutuhkan waktu lama untuk Arron, sekitar lima belas menit pria tampan itu sudah kembali dengan pakaian yang sangat rapih.


“Aku akan menghadiri rapat penting hari ini,” ucap Arron.


Alina mengangguk paham. Dengan segera dia meraih dasi yang sebelumnya dia persiapkan untuk diganti dengan dasi yang lainnya. Setelah memilih, Alina langsung kembali ke dalam kamar Arron dan memakaian dasi kepada tuan mudanya.


Seketika Arron terkekeh kecil, membuat Alina yang tengah focus mengikatkan dasi kepadanya refleks menoleh.


“Kau berkembang dengan sangat pesat,” ucap Arron.


Alina menurunkan pandangannya dan berpikir. Siapa yang dia bicarakan?


Tanpa menjawab satu patah katapun, Alina melanjutkan kembali mengikatkan dasi kepada Arron. Alina tidak memperdulikan Arron berkata apa. Entah dia membicarakan Alina, ataupun orang lain, Alina tidak peduli.


Untuk sentuhan terakhir, Alina memakaikan jas untuk tuan mudanya.


“Tugasku sudah selesai, Tuan muda Ron. Aku permisi dulu.” Alina berbalik kemudian melangkah keluar dari kamar Arron.


Arron menatap kepergiannya dengan intens, dia bahkan tidak berpaling sampai bayang-bayang Alina hilang di balik pintu. Sejenak Arron berpikir, apa yang telah terjadi kepada gadis yang sangat ceroboh itu? Perubahannya begitu kentara sehingga Arron tidak terlalu bisa beradaptasi dengan itu.


Alina akan berjalan dengan menegakkan punggung serta mengangkat dagunya. Dia akan menunduk sopan jika berpapasan dengan salah satu anggota keluarga. Dia mulai menikmati dan beradaptasi dengan pekerjaanya. Dibandingkan terus mengeluh, ini lebih baik.


Setelah keluar dari kamar Arron, Alina bergegas pergi ke ruang makan untuk bersiap di sana. Selama Alina berjalan di antara lorong mansion, tidak sengaja dia berpapasan dengan Willson. Alina hanya berhenti sejenak lalu mengangguk lemah untuk menyapanya, kemudian dia melanjutkan melanjutkan langkahnya lagi.

__ADS_1


“Tunggu,” panggil Wilson, dan seketika Alina menghentikan langkahnya lalu menoleh.


“Tuan muda Son.”


Willson berkerut kening, akhir-akhir ini mereka sangat jarang bertemu dan Alina juga sudah tidak pernah pergi ke danau lagi seperti dulu. Hanya dalam jangka waktu dua bulan saja gadis ini sudah menyapanya dengan benar tanpa harus Willson peringatkan.


Willson berdeham samar. “Kau sibuk?”


Alina menundukan wajahnya, dia bersikap seperti pelayan lainnya yang tidak berani menatap wajah anggota keluarga Washington. “Tuan, aku harus segera turun menuju meja makan.”


Tuan muda ketiga itu berkerut heran. Gadis cantik di hadapannya ini mendadak sangat sopan dan berbicara dengan nada yang halus dan elegan. Sama sekal tidak terlihat seperti gadis nakal dan menyebalkan seperti sebelumnya.


“Sepertinya kau sangat sibuk.”


Alina hanya diam dan tidak menjawab.


Sikap Alina sangat tidak menyenangkan bagi Willson. Willson menyukai ketika gadis cantik itu marah dengan wajah yang memerah, atau berteriak dengan suaranya yang lantang. “Pergilah.”


Willson mendesis dan meringis melihat tingkah aneh gadis itu. Mengapa dia bersikap seperti itu? Sepertinya bekerja bersama Arron membuat Alina ketularan sikap dingin kakaknya itu.


Willson berbalik untuk melanjutkan langkah menuju kamarnya. Namun tiba-tiba, dia dikagetkan oleh Arron yang tengah berdiri tepat di sampingnya. “Kak!”


Sementara Arron hanya menatapnya dengan tatapan tajam.


Willson berpaling, enggan menatap Arron langsung. “Tenang saja, aku tidak akan merebut pelayan pribadimu lagi. Lagipula, dia tidak menarik seperti sebelumnya,” ucap Willson seraya berlalu pergi melewati Arron.


Bahkan bukan hanya Arron yang merasakan perubahan Alina, Willson juga merasa seperti itu. Sebenarnya bagus jika Alina berubah dan menjadi kompeten dalam pekerjaanya. Bahkan itu yang Arron harapkan. Namun entah mengapa, Arron rasa ada sesuatu yang hilang.


**

__ADS_1


Semua orang sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Para pelayan langsung menghidangkan makanan untuk sarapan ketika Nyonya besar kediaman Washington memerintahkan. Semua focus dengan pekerjaannya termasuk Alina.


Semua orang sarapan dengan tenang, kecuali Willson yang malah menatap Alina dengan sangat tajam. Tuan muda ketiga itu masih merasa heran dengan perubahannya. Sebelumnya Willson tidak terlalu memperhatikan, namun lain halnya hari ini.


“Son, kau tidak memakan sarapanmu? Apa kau ingin menggantinya?” tanya Nyonya besar.


Seketika itu pula Willson berpaling dari menatap Alina. “Ya, aku ingin menggantinya.” Willson menoleh ke arah pelayan. “Bawakan aku irisan buah segar.”


Willson menatap Vano yang duduk tepat di hadapannya. Dia melemparkan pandangannya pada Alina, dan Vano hanya mengedikkan bahunya seolah tidak mengetahui apapun.


Beberapa menit berlalu, Arron sudah selesai dengan sarapannya dan pergi dari meja makan. Begitu pula Alina yang langsung mengekori Arron. Gadis cantik itu berjalan di belakang Arron dan berhenti tepan di depan pintu ruang belajar. Alina tidak akan berani masuk sebelum Arron mengijinkannya.


“Masuklah.”


Alina langsung masuk ke dalam, dan di dalam ruangan tampak Arron yang tengah duduk di kursi kerjanya sembari membaca beberapa dokument. Alina melirik arlojinya. Bukankah sekarang sudah waktunya Arron pergi bekerja? Bukankah dia harus menghadiri sebuah rapat penting?


“Ambilkan buku di rak kedua barisan ketiga,” perintah Arron.


Alina langsung menuruti perintah tuan mudanya itu, dan mengambilkan buku yang Arron maksud.


Arron melihat buku yang Alina simpan di atas meja, lalu tidak lama beralih menatap Alina. Biasanya, Alina akan bertanya sebelum melakukan perintahnya. Dia akan memastikan terlebih dahulu sebelum bertindak. Namun hari ini berbeda, setelah Arron perintahkan, Alina langsung melaksanakannya.


“Ada apa denganmu?” Secara tidak sadar pertanyaan itu keluar dari mulut Arron.


“Ya, Tuan muda Ron?” tanya Alina bingung.


Seketika Arron berpaling. “Lupakan. Aku ada rapat penting hari ini.” Arron beranjak dan langsung pergi keluar ruangan.


Alina menatapnya, memastikan tuan mudanya itu telah benar-benar pergi. Setelahnya, Alina dapat bernapas lega. “Bersikap elegan seperti itu sungguh bukan gayaku, ini akan membunuhku!” gumamnya rendah.

__ADS_1


***


Haiii maaf baru up lagii, terus dukung cerita inii yaaaa. Aku bakal rajin up gaes hhe.


__ADS_2