Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Episode 42


__ADS_3

Malam semakin larut, angin dingin mulai menerpa tubuh keduanya. Tidak terasa sudah setengah jam Alina berbincang dengan Jino diiringi langkah kaki mereka yang begitu irit. Sudah selama itu, tapi mereka baru saja sampai pada taman belakang mansion.


“Alina,” panggil Jino di sela percakapan mereka.


“Ya?” Alina menoleh, sedikit mendongak wajahnya dan menatap dengan mata bulatnya.


Tiba-tiba saja Jino menghentikan langkahnya, mencekal pergelangan tangan Alina supaya gadis cantik itu melakukan hal yang sama.


Alina menatapnya heran. Tapi tanpa menoleh, Jino mengedikan dagu, seolah tengah memberi isyarat kepadanya. Alina yang mengerti itupun langsung menolehkan wajahnya sesuai dengan arahan yang Jino berikan.


Mata Alina membulat ketika melihat sosok yang tidak asing baginya tengah berdiri di sisi taman sembari terus menghisap asap nikotin.


“T-tuan muda Ron?” ucapnya pelan dengan nada tergagap.


Sadar ada yang datang, Arron langsung menolehkan wajah tampannya disertai dengan tatapan tajam. Seorang gadis berdiri bersama dengan pria tengah berada beberapa langkah darinya.


“Tuan muda Ron.” Jino menyapanya dengan sopan seraya sedikit membungkukkan setengah badanya ke bawah.


Arron membuang rokoknya ke bawah kemudian menginjaknya hingga padam. Dia melangkah mendekati pengawal serta asisten pribadinya itu.


Entah kenapa saat melihat Arron, rasanya jantung Alina akan berhenti berdetak seketika.


“Kau.” Tunjuknya pada Alina. “Ikut denganku.”


Alina menciut seketika. Pikirannya tiba-tiba saja kacau balau. Takut Arron akan mempertanyakan semua kejadian malam ini yang mana Alina dengan Vano telah menghancurkan acara makan malamnya bersama Daisy.


“T-tuan-”


Belum sempat Alina mengatakan isi pikirannya, Arron malah sudah pergi begitu saja dan mengabaikannya. Gadis cantik itu hanya bisa pasrah dan mau tidak mau harus menuruti perintah bigbosnya.


Padahal jam kerjaku sudah habis. Keluhnya dalam hati.


“Jino ....”


“Hei pergilah, tuan muda menunggumu.”


 --

__ADS_1


Alina terus menundukkan wajahnya. Kini, dia berada di ruang kerja dengan Arron yang duduk di kursi belakang meja tepat di hadapannya. Rasanya, Alina tengah berada di sidang pengadilan sebagai tersangka.


Vano, aku tidak akan mau membantumu lagi! Tak habis-habisnya dia menggerutu dalam hati.


Sekitar lima belas menit Alina hanya diam di sana, begitu pula dengan Arron. Tuan muda pertama itu bahkan tidak mengatakan sepatah katapun. Membuat Alina bingung harus berbuat apa.


Tapi, tidak lama kemudian seorang pria dengan pakaian jas hitam rapih masuk ke dalam ruangan. Pria tersebut memberikan beberapa dokument kepada Arron lalu pergi kembali.


“Kau pergi dan buatkan coffe,” perintah Arron.


Alina menghela napas lelah ketika mendengar sebuah perintah itu. Jam kerjanya sudah usai tapi dia masih harus melayani Arron.


Apakah aku akan mendapatkan uang lembur? Pikirnya dalam hati.


“Baik, Tuan.” Dia menunduk dengan sopan, lalu berbalik dan melangkah keluar ruangan.


Meskipun dalam hatinya Ia terus menggerutu, tapi Alina tetap melakukan perintah yang diberikan kepadanya. Dia harus pergi ke dapur dan menyiapkan coffe untuk Arron.


“Ck, dia bahkan tidak bertanya,” ujar Arron dengan nada rendah.


Sementara itu, Alina yang sudah berada di dapur mulai mengambil beberapa bahan untuknya membuat Coffee. Tapi melihat bahan-bahan di hadapannya, dia baru tersadar dengan jenis Coffee apa yang Arron inginkan.


“Americano? Latte?” Dia bermonolog. “Ck!” decaknya kesal saat mengingat kebodohannya.


Alina berjalan menuju sudut dapur yang mana di sana terdapat sebuah telepon. Dia berniat untuk menelpon Arron dan menanyakan jenis Coffee yang diinginkan oleh Tuan mudanya. Tapi ... bukankah Arron tengah bekerja? Dia tidak suka diganggu. Terpaksa Alina harus pergi ke lantai atas dan menanyakannya langsung.


Seisi mansion sudah sangat sepi, tidak ada satu orangpun di sana. Saat ini mereka pasti sudah tertidur lelap karena waktu sudah hampir tengah malam.


Hanya aku yang bekerja lembur.


Kaki mungilnya naik ke atas tangga dengan telaten. Satu persatu anak tangga dipijaknya. Dia bisa saja menggunakan lift, tapi pikirannya lebih memilih lelah dibandingkan harus melawan rasa takutnya.


Sesampainya di lantai dua, lampu mansion secara otomatis padam, membuat mansion besar itu gelap. Alina sangat tidak beruntung.


Ah ... aku takut.


“Aku harus tenang. K-ke arah kiri, beberapa langkah dan itu adalah ruang belajar tuan, ya.”

__ADS_1


Suasana mansion tidak terlalu gelap karena terdapat sedikit cahaya bulan yang menyeruak masuk. Tapi bagi Alina, justru itu letak terseramnya. Karena cahaya yang remang-remang dapat membuat penglihatannya tidak sengaja membayangkan sesuatu yang tidak jelas.


Dia melangkahkan kakinya dengan kaku, diiringi dengan detak jantung yang berdebar kencang. Pandangannya menyipit dan blur, dia tidak ingin melihat dengan mata terbuka sempurna karena terlalu takut sesuatu akan muncul dari kegelapan.


Tetapi ... beberapa langkahnya tiba-tiba terhenti saat dia melihat sebuah bayangan tepat di hadapannya. Tubuhnya seketika kaku, dan bahkan kini matanya sudah tertutup sempurna.


Aku sangat takut, aku ingin berteriak dan menangis. Aku takut. Apa itu? Apakah itu hantu?


Tiba-tiba saja sesuatu menyentuh hidungnya, itu seperti sebuah jari. Alina semakin tertegun dengan keringat dingin yang membasahi setiap sudut dahinya.


Pingsan! Sudah setakut ini seharusnya Ia pingsan! Tapi kenapa itu tidak terjadi. Lord! Membuat frustasi saja.


“Hei, sampai kapan kau akan terus menutup matamu?” seru seseorang yang suaranya sangat Alina kenali.


Seketika saja, tubuh Alina langsung lemas tidak karuan. Dia merasa sangat lega karena seseorang menemukannya di dalam kegelapan.


Perlahan Alina membuka kedua matanya, dengan wajah yang memerah dan air mata yang mengenang dia berkata, “Tuan ....”


Seperti anak kecil yang kehilangan arah.


--


Sepuluh menit berlalu setelah Arron menemukan gadis itu di dalam kegelapan. Sudah sepuluh menit pula dia mendengar isakan Alina yang tertahan. Arron sampai tidak bisa focus bekerja.


Dari balik meja kerjanya, Arron menatap Alina yang tengah duduk di atas sofa tak jauh darinya. Gadis cantik itu terus menunjukan wajahnya dan sesekali menyeka air matanya. Beruntung Arron menemukannya, jika tidak ....


Ketika lampu mansion padam, Arron langsung teringat pada kejadian beberapa waktu lalu. Yang mana dirinya harus mengantar Alina ke kamar mandi karena gadis itu takut dengan gelap. Setelah mengingatnya, Arron langsung keluar dari ruang kerja untuk menjemput gadis itu. Dan benar saja, Alina sedang dalam kondisi sangat ketakutan.


Di sisi lain, Alina yang masih menangis membuat Arron tidak tahu harus berbuat apa. Dia bukan tipikal pria seperti Vano yang bisa dengan gampang menghibur seorang wanita. Arron terlalu kaku untuk melakukan sebuah candaan.


“Hei, di mana coffeku?” Refleks dia bertanya.


“Ah, Coffee ....”


Bersambung ....


Hai, maaf yaa lama banget up-nya. See you, semoga gak lupa sama alurnya ya heheh. Aku coba up rajin yaaa trimakasih.

__ADS_1


__ADS_2