
Tanpa diberitahu oleh Vano, Alina sudah tahu jika tuan mudanya itu tidak menyukai kopi yang sudah dingin. Bukan hanya Arron yang tidak menyukainya, tapi Alina pun tidak akan menyukai itu. Mungkin seluruh dunia tidak menyukai kopi yang sudah dingin.
Gadis cantik itu terpaksa membuat kopi yang baru. Karena kopi yang dia buat sebelumnya sudah dingin akibat Vano yang dengan sengaja mengajaknya berbincang. Menyebalkan! Gadis cantik itu tidak berhenti menggerutu dalam hati.
“Kopi Anda, Tuan muda,” ucap Alina seraya menyimpan satu gelas kopi ke atas meja.
Arron langsung menutup layar macbooknya, dan beralih untuk membaca sebuah dokumen. “Sangat lambat.”
Alina menunduk lemah. Kali ini, dia melakukan kesalahan lagi. Tapi ini bukan sepenuhnya salah Alina. Ini semua gara-gara Vano. Awas saja!
“Kau masih diam?” seru Arron.
Seketika Alina langsung mengangkat wajahnya, dan bertanya, “Ya?”
“Pergilah.”
“Pergi?” tanya Alina bingung.
“Ya. Jam kerjamu sudah habis.”
Alina berkerut heran. Dia melirik ke arah jam dinding, dan waktu masih menunjukan pukul setengan sepuluh malam. Bagaimana bisa Arron mengatakan jika jam kerja Alina telah habis? Bukankah Alina akan bekerja hingga pagi hari?
“Tapi, Tuan-”
Arron langsung menoleh dan menatapnya tajam. “Mulai hari ini, kau memiliki jam kerja yang sama seperti pelayan lainnya.”
Alina mengerti, dan mengangguk paham. “Baik, Tuan muda. Jadi … aku permisi.”
“ … ” Arron hanya diam dan tidak menjawab. Dia hanya terus focus pada dokument digenggamanya.
Alina langsung berbalik, lalu melangkah keluar dari ruangan. Dia menatap ke sisi kanan dan kiri. Ternyata, pelayan yang menjaga pintu ruangan juga sudah tidak ada. Gadis cantik itu menyunggingkan senyumanya senang. Malam ini, dia bisa tertidur nyenyak tanpa bayang-bayang tugasnya untuk menjaga Arron tidur sepanjang malam.
“Aku sangat senang,” ucapnya seraya merentangkan kedua tangan. Rasanya sangat tidak nyaman karena harus bersikap formal ketika bekerja.
“Apa yang membuatmu senang?” tanya seseorang.
Alina terkesiap, dan langsung menoleh ke arah sumber suara. “Kau!” pekik Alina lantang. Namun kemudian dia menyadari jika Arron masih berada di dalam ruang baca, dan seketika itu pula dia langsung menutup mulutnya menggunakan sebelah telapak tangan.
“Hai, Sayang. Ikutlah denganku. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu.” Tiba-tiba Vano merangkul pundak Alina, dan langsung mengajaknya untuk pergi dari sana. Alina terpaksa mengikutinya, karena dia juga masih memiliki dendam terhadap Vano.
Ternyata Vano membawa Alina masuk ke dalam kamarnya, dengan segera Alina menghempaskan lengan Vano dari bahunya. Vano hanya terkekeh pelan mendapatkan sikap Alina. Kemudian dengan santai, Vano menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, lalu memejamkan matanya.
Alina yang melihat itu benar-benar merasa jengah. Apa Vano mengajaknya ke dalam kamar untuk melihatnya tidur? Menyebalkan sekali!
__ADS_1
Vano menepuk bagian sisi ranjangnya. “Berbaringlah,” ucapnya santai, membuat gadis di hadapanya naik pitam.
“Menyebalkan!” umpatnya sembari menendang kaki Vano yang menjuntai ke bawah dengan sedikit kasar.
Seketika Vano beranjak, dan menyentuh kakinya yang sakit akibat tendangan Alina. Pria tampan itu meringis kesakitan. “Kau sangat kasar!” protes Vano.
“Ah~ Maafkan aku, Tuan muda Van,” ucap Alina dengan sengaja, dan raut wajah merasa bersalah yang dibuat-buat.
Alina berdecih sebal setelah melakukan itu. Dia langsung berbalik, dan melangkah menjauh. Namun seketika Vano menarik tangannya, membuat Alina langsung menghentikan langkah kemudian berbarik menatapnya tajam.
“Aku bahkan belum mengatakan apapun, tapi kau sudah ingin pergi?”
Alina hanya menjulurkan lidahnya untuk meledek Vano. Kemudian dia melepas paksa genggaman tangan Vano pada pergelangan tangannya, dan melanjutkan langkahnya untuk keluar dari kamar tuan mudanya itu. Namun tiba-tiba, hal yang selanjutnya terjadi benar-benar di luar dugaan.
“Hai,” sapa seseorang yang langsung membuat Alina memutar bola matanya jengah. “Kau terlihat sangat senang melihat kehadiranku,” imbuhnya seraya melangkah maju mendekati Alina, membuat gadis cantik itu tersudut, dan mau tidak mau harus melangkah mundur untuk menghindarinya.
Alina langsung berbalik, dan menatap Vano dengan tajam. “Kalian bersekongkol!”
Vano mengedikkan bahunya. “Aku bahkan tidak tahu jika dia akan datang.”
Alina mendesis sebal. Lalu, dia berbalik lagi untuk menatap Willson yang tengah menatapnya dengan senyuman. Willson juga mengangkat sebuah dokument yang dibawanya. Ternyata, Willson mengunjungi Vano hanya untuk membahas pekerjaan.
Alina menundukan kepala layaknya seorang pelayan kepada tuan mudanya. “Tuan muda Son.”
“Alina, kau belum selesai denganku,” ujar Vano, dan membuat Alina menghentikan langkahnya lalu berbalik. Vano tersenyum. “Perbincangan kita di tangga. Apa kau mengingatnya?”
“Tidak!” jawab Alina sebal. Sementara Willson yang mendengar itu hanya terkekeh pelan, sembari pura-pura sibuk dengan dokument digenggamanya.
“Perlukah aku memperjelasnya lagi?”
“Terserah!” Alina berbalik dan melangkah pergi.
“Alina, di mana kau menyimpan bra yang aku-” Seketika ucapan Vano tercekat saat Alina kembali berbalik dan berjalan dengan cepat ke arahnya.
“Menyebalkan! Apa kau tidak malu? Di hadapan kakakmu?” tanya Alina dengan nada yang berbisik.
Vano menoleh untuk melihat ke arah Willson yang tengah duduk santai menyender pada sofa sembari membaca dokument yang tadi dibawanya. Setelah itu, Vano menatap kembali kea rah Alina. Tatapannya seolah mengatakan jika itu hal yang biasa.
Menyebalkan! Gerutu Alina kesal.
“Di kediaman ini, hanya ibuku yang seorang wanita. Akan sangat fatal jika itu ditemukan olehnya,” ucap Vano dengan raut wajah memelas. Alina menghela napas lelah. Dengan sangat terpaksa dia harus mau mencari benda sialan yang menyebabkan banyak masalah itu.
Alina mulai berjalan menuju samping tempat tidur. Dia membuka laci nakas, dan akan mengambil sesuatu di sana. namun, tiba-tiba benda sialan itu menghilang. Padahal Alina sangat mengingatnya jika dia menyimpan itu di dalam sana.
__ADS_1
“Kau sudah memindahkannya?” tanya Alina pada Vano.
“Jika aku memindahkannya, untuk apa aku bertanya padamu dan meminta untuk mencarinya.”
Alina berkerut heran. “Jangan bermain-main denganku, Tuan muda!” pekik Alina kesal.
Willson menahan gelak tawanya sebisa mungkin setelah mendengar itu.
“Aku tidak bermain-main, Nona.”
Gadis cantik itu berdecak sebal. Dia langsung melangkah ke tempat yang lain untuk menemukannya. Tapi, dia masih bisa menemukannya.
“Ini tidak ada di dalam kamarmu,” ucap Alina pasrah.
“Aku tidak mau tahu.”
Alina mendesis kesal. “Aku tidak bisa menemukannya!”
“Apakah kau sudah mencarinya dengan benar?” tanya Vano dengan nada meledek.
Alina melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Vano. “Aku belum mencarinya di suatu tempat.”
“Di mana? Carilah.”
Gadis cantik itu sedikit mencondongkan tubuhnya. Dia tersenyum penuh selidik, membuat Vano yang sejak tadi meledeknya langsung berkerut heran. “Di dalam kamar mandi. Mungkinkah ….”
Vano langsung membeliak mendengar itu. “O shit! Apa kau berpikir jika aku menggunakan itu untuk-”
“Mungkin saja,”
Seketika gelak tawa Willson terdengar menggema di seluruh ruangan. Tuan muda ketiga itu sudah tidak menahan tawanya lagi. Sementara Alina dapat tersenyum puas setelah membalas ledekan Vano kepadanya. Dan Vano hanya menatapnya sebal.
“Kau di sini? Bukankah jam kerjamu sudah habis?” tanya seseorang, dan secepat kilat Alina langsung menoleh ke arah pintu.
“Tuan muda Ron?”
Bersambung ....
***
Jangan lupa like, koment, dan juga vote yaaa guyssss. Babay.
__ADS_1