
Alina menggeliatkan tubuhnya setelah lelah tidur semalaman. Dia melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul setengah lima pagi. Samping tempat tidurnya kosong. Tentu saja, ibunya sudah pergi bekerja dari pukul empat pagi.
Gadis cantik itu beringsut turun dari ranjang, dan melangkah keluar dari kamar. Dia mencuci mukanya, dan bergegas membantu ibunya untuk bekerja. Karena Vano masih berada di luar kota, otomatis Alina masih memiliki banyak waktu luang.
Baru saja Alina keluar dari rumah khusus pelayan. Dia sudah di buat bingung dengan para pelayan yang mulai berhamburan pergi ke halaman depan mansion. Alina yang penasaranpun menghentikan salah satu pelayan di sana.
“Bibi, apa yang tengah terjadi?”
“Tuan muda Ron. Pelayannya membuat Tuan muda Ron marah.” Jawab pelayan tersebut, kemudian berlalu pergi melanjutkan langkahnya kembali.
“Tunggu, Bibi. Aku ikut.”
Sesampainya di halaman depan. Alina tidak dapat melihat dengan jelas apa yang tengah terjadi, karena kerumunan para pelayan yang menghalangi di sana. Dengan tubuh mungilnya, gadis cantik itu mencoba menerobos kerumunan tersebut. Sampai akhirnya dia berhasil berdiri di barisan paling depan meskipun harus bersusah payah.
Alina menutup mulutnya menggunakan dua telapak tangan setelah dia melihat apa yang tengah terjadi. Rose. Wanita itu, apa yang telah dia lakukan? Dan ada apa dengan penampilannya? Alina tertegun menyadari bahwa Rose sudah melakukan tindakan yang sangat berlebihan.
Baju seorang pelayan yang seharusnya memiliki rok sampai atas lutut, tapi dia memakainya sampai setengah paha dengan ukuran yang sangat-sangat ketat. Kemeja putih yang seharusnya di kancing sampai bagian atas, dia malah menyisakah dua kancing terbuka. Sehingga membuat belahan dadanya terlihat jelas. Serta make up.
Sudah aku katakan, seharusnya dia menjadi seorang model saja. Gerutu Alina dalam hati.
Alina tertegun ketika tiba-tiba teringat dengan perkataan bibi Lin kemarin. Dimana Tuan muda Ron tengah mempertimbangkan dirinya kembali untuk menjadi pelayannya. Rose tidak melakukan tugasnya dengan baik. Apa setelah ini Alina yang akan menggantikannya?
“Pergilah dan jangan pernah kembali.” ujar seorang pengawal Tuan muda.
“Kalian tidak bisa mengusirku seperti itu!” pekik Rose tidak terima.
“Tiga puluh juta sudah ada di dalam rekeningmu.”
“Aku tidak mau!”
Sementara Rose berdebat dengan pengawal Arron. Alina sendiri tidak melihat batang hidung pemeran utama pria. Dimana dia sekarang? Arron tidak berada di sana.
“Tuan muda Ron, biarkan aku menjadi pelayanmu.” Pekik Rose dan terdengar begitu berisik.
Alina menatapnya dengan tajam. “Hey, apa yang telah kau lakukan sampai bisa di usir seperti itu?” tanyanya dengan nada memprotes. Alina merasa sangat kesal. Karena Rose, bisa saja Alina yang akan menjadi korbanya.
Wanita sexi itu mendekati Alina, dan menatapnya dengan penuh harap. Dia meraih sebelah telapak Alina, membuat gadis cantik itu terhenyak seketika. “Alina, aku mohon … Bujuklah Tuan muda agar aku bisa kembali menjadi pelayan pribadinya.”
Alina ternganga mendengar itu. Apa yang di pikirkan oleh Rose sehingga dia bisa menyimpulkan jika Alina bisa membantunya. “Apa maksudmu?” tanya Alina seraya mencoba melepaskan genggaman tangan Rose padanya. Alina semakin malu ketika semua mata tertuju padanya.
“Bujuklah Tuan muda Ron ….” Pinta Rose lagi.
__ADS_1
Alina meringis ngeri mendengarnya. “Bagaimana mungkin?” akhirnya Alina dapat melepaskan genggaman tangan itu. “Kau, jangan pernah berpikiran seperti itu. Aku bukan siapa-siapa yang secara ajaib bisa membantumu dan mengubah keputusan Tuan muda Ron.” Bisik Alina.
Sebelum Rose bertingkah lebih jauh, Alina bergegas pergi dari sana. Namun seketika langkahnya berhenti ketika tiba-tiba Rose meneriakan sesuatu yang membuat Alina tercengang.
“Kau senang, bukan? Aku di pecat kerenamu?”
Alina terhenyak, hampir saja dia tersedak ludahnya sendiri. Apa salahku?
“Tuan muda Ron terus saja membicarakanmu. Kau senang, bukan? Kau bisa kembali untuk menjadi pelayannya Alina. Kau diam-diam menusukku dari belakang!”
Alina mendesis kesal. Dia menolehkan wajahnya ke belakang dan menatap Rose tajam. “Menyebalkan!”
Gadis cantik itu menghentakan kakinya dan pergi dari sana. Dia pergi menuju tempat jemuran untuk bertemu dengan ibunya. Sesampainya di sana, Alina langsung membantu pekerjaan ibunya dengan gerakan khasnya ketika kesal.
“Berhenti.” Ibunya mengambil alih sebuah kain sutra yang tengah di pegang Alina. “Kau akan merusaknya.”
Alina tidak menanggapi. Namun gadis itu terus saja menekuk wajah cantiknya.
“Apa yang membuatmu kesal pagi-pagi seperti ini?” tanya ibunya.
“Tidak ada.” jawab Alina singkat.
“Menyebalkan! Menyebalkan! Menyebalkan!” gerutu Alina sembari terus melangkah dengan wajahnya yang tertunduk.
Hingga akhirnya, tubuh kecilnya menabrak sesuatu yang seketika membuatnya terjatuh ke atas tanah. Alina meringis kesakitan. Tapi tiba-tiba, satu tangan terulur untuk membantu Alina kembali berdiri.
Sebelum menjabat uluran tangan tersebut, Alina mendongakan wajahnya untuk melihat siapa yang telah di tabraknya tadi. Dan betapa terkejutnya dia ketika melihat orang itu tak lain adalah Arron. Secepat kilat, Alina langsung berdiri. Dia langsung melupakan rasa sakitnya.
Arron menarik uluran tangannya kembali. “Ceroboh.”
“Maaf, Tuan muda Ron.” Alina menundukan wajahnya.
Setelah meminta maaf, Alina kembali melanjutkan langkahnya dan melewati Arron begitu saja. Namun tiba-tiba, Arron menarik tangannya dan membuat Alina ke tempatnya semula. Alinaterhenyak dan langsung menatap pria tampan bertubuh kekar di hadapannya.
“Ikutlah ke ruanganku.”
Alina tertegun. “Sekarang?”
“Menurutmu Alina?”
“Tapi aku masih ….” Dia menatap pakaian tidurnya. Sebuah dress karakter yang hanya menutupinya sampai atas lutut, dengan beberapa kancing sebagai pengait.
__ADS_1
“Apa yang kau pikirkan? Kau berani berkeliaran di kediamanku menggunakan pakaian seperti ini, dan sekarang kau merasa malu?” tanya Arron seraya mengangkat kedua halisnya.
“Ma-maaf, Tuan muda. Aku baru saja bangun tidur dan-”
“Cepat ikut.” Ajak Arron seraya menarik lengan Alina. Menggiring gadis cantik itu seperti seorang anak kecil berusia lima tahun.
Apa-apaan ini? Dia terus saja menggenggam tanganku dan tidak kunjung melepaskannya. Batin Alina.
Arron membawa Alina masuk ke dalam ruangannya. Mereka duduk berdampingan di atas sofa. Alina terus menundukan wajahnya, menatap jemarinya yang saling menaut satu sama lain.
“Apa yang ingin kau bicarakan, Tuan muda?”
“Kau tidak berhak bertanya.” Jawab Arron. Pria tampan itu tengah sibuk dengan macbook di atas meja.
Benarkah?
“Maafkan aku.”
“Aku memintamu untuk mengajarinya, apakah kau tidak melakukannya dengan baik?”
Alina mengangkat wajahnya untuk menatap Tuan mudanya itu. “Maksudmu Rose?”
“Ya, lihatlah ini.” ucap Arron seraya menunjukan layar macbooknya. Yang mana itu menampilkan sebuah rekaman CCTV di dalam kamarnya semalam.
Rose diam-diam naik ke atas ranjang Arron dan berniat untuk menggodanya.
“Kau sudah melihatnya? Apakah kau yang telah mengajarinya.”
Alina membeliak. “Tentu saja tidak.”
Namun terlambat, Arron sudah mengukung tubuh kecil Alina menggunakan tubuh kekarnya. Alina memundurkan tubuhnya sampai terpentok pada senderan kursi. Kini dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Coba kau praktekan seperti dalam video.” Ucap Arron enteng.
APA? APAKAH ALINA TIDAK SALAH DENGAR?
Bersambung
….
Jangan lupa like dan koment untuk terus menyemangati Author yaa….
__ADS_1