Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Episode 6


__ADS_3

Happy Reading ....


Semoga selalu suka sama alur ceritanya ....


Pria tampan bertubuh tegap itu kini tengah berada di ruang bacanya. Arron berencana sengaja tidak pergi ke perusahaanya, karena dia berencana untuk mengumpulkan kandidat sebelumnya untuk dia jadikan pelayan. Namun hal itu belum di ketahui siapapun, kecuali Bibi Lani, yang tak lain merupakan kepala pelayan di sana.


“Tuan Muda Ron, haruskah Anda mengganti kembali pelayan pribadi Anda?” tanyanya dengan raut wajah khawatir.


Meskipun Lani mengetahui jika Tuan muda yang di rawatnya sedari kecil itu tidak akan bisa tahan dengan seseorang yang tidak kompeten. Namun ini lebih baik dari pada bersama dengan seseorang yang terus berusaha naik ke atas ranjangnya.


Tuan muda Ron memiliki banyak pengawal pria, lantas mengapa dia masih membutuhkan pelayan wanita? Tentu saja Arron memerlukan itu. Masalah-masalah pribadi Arron seperti menyiapkan pakaian, makan, memasangkannya dasi dan juga yang lainya. Itu akan terasa kaku jika pria yang melakukannya. Oleh karena itu Arron memerlukan seorang pelayan wanita.


Namun masalahnya, tidak ada seorangpun yang sempurna dan sesuai keinginannya.


“Bibi Lan, aku harus segera menggantinya.”


Lani begitu mengenal Arron. Keputusannya tidak ada seorangpun yang bisa mengubahnya. Namun sejauh ini, di pandangan Lani, hanya Alina lah satu-satunya gadis yang tidak berani untuk bertindak macam-macam. Meskipun terkadang gadis kecil itu begitu bodoh dan ceroboh.


“Tuan muda, kau harus memikirkannya lagi.”


Arron memandang lurus ke depan. Pikirannya membayangkan hari-harinya bersama dengan gadis bodoh itu. Dia tidak sanggup.


Dia mengurut pangkal hidungnya pening. “Kumpulkan kandidatnya hari ini juga.”


Lani menghela napas panjang. “Kau bisa mengubah Alina agar lebih baik lagi. Aku akan membantunya.” Lani masih bersikukuh dengan keputusannya.


“Bibi Lan, aku sudah memutuskannya.” Lugas Ron yang tidak bisa Lani hindari.


“Baik, Tuan muda.”


Sementara di sisi lain. Seorang gadis cantik tengah melihat dari dalam taman beberapa wanita yang di panggil ke dalam mansion mewah itu. Sudah Alina duga jika ini akan terjadi. Dia harus segera bersiap di usir dari tempat ini.


“Hey!” tiba-tiba seseorang mengagetkannya dari belakang, dan ketika Alina hendak berteriak seseorang itu langsung membungkam mulutnya menggunakan sebelah telapak tangan. “Diam ini aku.”


Alina membeliak, mencoba melepaskan bungkaman itu. “Tuan muda Van, kau mengagetkanku.” Protes Alina dengan jantung yang berdebar kencang.


Geovano adalah Tuan muda ke empat dari keluarga Washington. Namun hubungannya dengan Arron hanya sebatas saudara tiri. Geovano memiliki ibu yang berbeda dengan Arron. Wanita modis meskipun umurnya tidak lagi muda, yang memiliki gelar sebagai nyonya besar di kediaman Washington.

__ADS_1


Vano berusia dua puluh lima tahun. Sedari kecil dia sangat suka bermain dan menggoda Alina. Sehingga mereka begitu akrab. Meskipun ibu Alina sangat sering memperingati putrinya untuk tidak berdekatan dengan Tuan muda dari kediaman ini. Namun siapa yang bisa melarang jika itu adalah keinginan Vano sendiri.


“Kau tengah mengintip?” tanya Vano dengan gaya tengilnya.


“T-tidak ….” Alina begitu gugup karena telah tertangkap basah.


Vano menyiku lengan Alina dengan gemas. “Hey, aku begitu mengenalmu. Kau akan gugup jika tengah berbohong, dan akan menghancurkan apapun yang berada di dekatmu ketika kesal.” Vano mengangkat halisnya, menunjuk pada jemari Alina yang tengah memeras dedaunan.


Seketika gadis cantik itu langsung membuang daun yang sudah hancur di buatnya. Dia menunduk sembari menahan kekesalannya.


“Aku mendengar jika kau di pilih menjadi pelayan kakak. Ceritakan padaku, bagaimana rasanya?”


Alina menghela napas panjang. Dia tidak menjawab pertanyaan dari Vano, dan malah melangkah kemudian duduk di kursi taman.


Sementara Vano yang baru saja pulang dari luar kota karena pekerjaannya pun tidak mengetahui apapun yang telah terjadi dalam satu minggu ini. Berita mengenai pemilihan pelayan tuan muda saja dia dengar dari bibi Lani. Itupun karena Vano aktif bertanya ketika melihat beberapa wanita cantik memasuki kediamannya.


Tuan muda yang amat menyebalkan bagi Alina itu terus saja mendesaknya untuk menceritakan sesuatu. Dia begitu penasaran dengan kehidupan Alina. Padahal di usianya yang sudah menginjak dua puluh tujuh tahun, seharusnya Vano sibuk memiliki kekasih.


“Jangan ganggu aku.” Protes Alina ketika Vano tidak berhenti menggodanya.


“Haissh, kau ini ….” Vano memelotot ketika melihat tingkah Alina yang terlihat begitu kesal.


“Ceritakanlah, aku janji akann mentraktirmu makan es cream untuk meredakan api di dalam hatimu.”


Seketika Alina menolehnya dan menatap Vano begitu tajam. Tapi Vano malah membuat raut wajah menggoda. Terlihat begitu konyol.


“Traktir aku tanpa embel-embel! Lagipula aku akan segera pergi dari tempat ini.”


Vano berkerut heran. “Pergi? Kemana kau akan pergi?”


“Pergi jauh dari tempat ini.”


“Tidak bisa!” protes Vano memekik kencang. “Apa alasanya?”


“Aaaaaah … Seharusnya aku mendengarkan ucapan bibi Lani.” Rengek Alina, dan Vano hanya menatapnya bingung.


“Cepat katakan.” Dan sangat tidak sabaran.

__ADS_1


Alina menceritakan semua yang terjadi padanya kepada Vano. Dan pria tampan itu hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya dan merasa iba terhadap sahabat karibnya itu. Ah lebih tepatnya adik kecilnya itu.


Alina adalah gadis yang polos, konyol dan ceroboh. Dia akan marah ketika di goda. Sebab itulah Vano menyukainya. Ah menyukai sebagai teman. Karena hatinya tentu saja sudah terisi oleh seseorang. Seseorang yang berada jauh dan ambigu untuk bisa di dapatkan.


“Baiklah, sepertinya aku harus segera bersiap.” Lirih Alina dengan gerakan tubuh yang terlihat begitu lesu.


Namun seketika Vano menggenggam pergelangan tangannya, mencekal kepergian Alina. “Siapa yang mengijinkanmu untuk pergi atau bersiap?”


Alina mendesis kesal, dia mencoba melepaskan cengkraman Vano pada pergelangan tangannya. Namun alhasil, itu berujung sia-sia.


“Ikut denganku. Akan aku pastikan kau tetap berada di sini.” ujarnya seraya menjentikan jemari.


Sementara di sisi lain, Arron tengah mendengarkan satu persatu kandidat wanita yang tengah memperkenalkan diri. Dia menatap satu persatu dari mereka dengan begitu tajam. Kali ini, jangan biarkan pilihannya melenceng lagi.


“Tuan muda Van datang.”


Namun tiba-tiba fokusnya teralihkan ketika pintu terbuka, dan satu-satunya adik laki-laki Ron masuk ke dalam ruangan kemudian berjalan mendekatikan. Ini sudah satu minggu semenjak rumah senyap karena Vano di tugaskan keluar kota. Namun kini dia telah kembali.


Vano duduk tepat di samping Arron. Dia tampak memandangi beberapa kandidat pelayan yang tengah berdiri di hadapannya. “Bolehkah aku memilih salah satu di antara mereka? Sepertimu, aku juga memerlukan pelayan wanita untuk membantuku.”


Sudah Arron duga. Jika keberadaan Vano bukan tanpa alasan. “Pilih saja yang kau mau.”


“Bravo!” pekik Vano seraya menepukan kedua telapak tangannya. “Tetapi aku sudah memiliki pilihanku sendiri.”


“Masuklah.” Perintah Vano, kemdian satu gadis cantik lengkap dengan stelan pelayan masuk ke dalam ruangan.


“Bolehkah aku mengambilnya?”


Mengambil? Apakah aku barang? Gerutu Alina dalam hati.


***


Ada yang bisa tebak gimana reaksi Arron pas liat Alina lagi? wkwkkw tulis jawaban kalian di kolom komentar ya.


jangan lupa like, koment, tambahkan like, dan juga vote sebanyak mungkin wkwk.


jangan lupa makan jugaa ... Wkkek See youuuu

__ADS_1


__ADS_2