Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Tamu


__ADS_3

Alina kembali ke kediaman pelayan dan masuk ke dalam kamarnya masih dengan kondisi yang basah kuyup. Di dalam kamar, ada ibunya yang tengah membereskan ruangan. Alina melirik jam dinding, di mana waktu kini sudah menunjukan waktu makan siang.


Rose menghampiri putri kecilnya dengan tatapan cemas. “Ada apa denganmu?”


Alina terkekeh pelan. “Aku jatuh ke dalam danau.”


“Apa kau terluka?” tanya Rose lagi dengan nada khawatir.


Alina menggeleng lemah. “Tidak, aku baik-baik saja.”


“Beruntung kau bisa berenang. Cepat ganti baju dan makan. Cuaca sedang tidak bagus, kau bisa terkena flu.”


“Baik, Bu.” Dan hattchuu … gadis cantik itu bersin tepat di hadapan ibunya. Alina mendongakan wajahnya dan tersenyum.


“Ibu akan pergi ke dapur dan membawakan makanan untukmu.”


“Terima kasih, Bu.” Alina tersenyum manis dan menatap ibunya.


“Sudah, cepat bersihkan dirimu.”


Kemudian, Alina masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. sementara Rose pergi ke dapur untuk mengembilkan makanan untuknya. Di dapur kediaman pelayan, sudah banyak orang berkumpul dan tengah menikmati waktu makan siang mereka sebelum akhirnya kembali bekerja.


“Hei, kau akan membawa makananmu kemana? Apa kau tidak akan makan bersama?” tanya bibi Lin yang berdiri di samping Rose dan tengah mengambil makanan.


“Ini untuk Alina, gadis itu sedang tidak enak badan.”


“Benarkah? Apa yang terjadi kepadanya?” tanya bibi Lin khawatir.


“Dia hanya sedikit flu.”


“Ah~ Gadis itu.” Bibi Lin berbalik, mengambil mangkuk lalu mengisinya dengan bubur. “Berikan sup ini padanya. Aku sengaja membuatnya karena Tuan muda Son juga mengalami gejala flu. Dia tidak sengaja tercebur ke dalam danau,” ucap bibi Lin seraya memberikan semangkuk sup pada Rose.


Rose berkerut kening. Tuan muda Son juga terjatuh ke dalam danau? Kenapa sangat kebetulan.


“Baiklah, terima kasih.” Rose mengambil semangkuk sup dari bibi Lin.


Setelah mengambil makanan dari dapur, Rose segera kembali ke dalam kamarnya. Di sana, sudah ada Alina yang tengah duduk di atas kursi sembari mengeringkan rambutnya yang basah. Sesekali dia juga bersin dan menggosok hidungnya yang gatal.


“Ibu, kau sudah kembali?” tanya Alina.


Rose menyimpan makanan yang dibawanya ke atas meja. “Cepat makan dan segera beristirahat.”

__ADS_1


“Baik, Bu.”


Alina menyimpan handuk kecil yang tengah digunakannya. Dia mulai meraih sendok dan memakan makannya. Sementara itu, Rose hanya menatapnya dengan tatapan nanar dan tidak mengatakan apapun. Dia juga tidak makan. Membuat Alina kebingungan melihat tingkah ibunya.


“Ibu, makanlah,” ucap Alina seraya menyimpan beberapa lauk ke atas piring ibunya.


“Tunggu, kau tadi mengatakan jika kau tidak sengaja tercebur ke dalam danau?” tanya Rose memastikan. Dan Alina mengangguk mengiyakan. Mulut gadis cantik itu masih dipenuhi oleh makanan.


“Bagaimana kau bisa terjatuh ke dalam danau? Apakah tadi kau sendirian?”


Alina langsung menghentikan aktivitas mengunyahnya, menyimpan sendok ke dalam piring, lalu meneguk air mineral di dalam botol. “Ada apa, Bu?” ucapnya, balik bertanya.


“Bibi Lin mengatakan jika tuan muda Son juga jatuh ke dalam danau.”


Alina menghela napas panjang. Alina pikir ada sesuatu yang penting. “Ya, Bu. Aku jatuh bersamanya,” jawab Alina dengan nada santai. Lalu, dia melanjutkan acara makannya.


“Dia melihatmu berenang ke tepi?” tanya Rose dengan gusar.


Lagi, untuk yang kedua kalinya Alina menghentikan aktivitas makannya untuk menjawab pertanyaan dari ibunya. Dia merasa seperti tengah diintrogasi di dalam tahanan.


“Ibu, aku bahkan tidak bisa berenang. Tuan muda Son yang menarikku ke tepian,” jawab Alina.  Gadis cantik itu menurunkan bahunya sebelum akhirnya beranjak dari sana dan naik ke atas ranjang. “Bu, aku akan beristirahat.”


“Beristirahatlah,” ucap Rose. Lalu terdengar suara piring yang sedang di tata.


Kenapa ibu sangat mengkhawatirkan hal itu? Batin Alina bertanya-tanya.


Alina membuka laci nakas di samping tempat tidurnya. Dia meraih ponselnya, dan membuka beberapa notifikasi yang ada di sana. Namun sepertinya tidak ada yang penting. Selalu seperti itu, membosankan. Gadis cantik itu lalu membuka ikon internet, dan ada satu hal yang menarik perhatiannya.


Daisy Arpilis kembali pulang!


Putri seorang model cantik terkenal dan pengusaha kaya raya kembali pulang setelah menyelesaikan pendidikannya di luar negeri!


Daisy si cantik pianis kembali!


“Daisy Arpilis?” gumam Alina. “Dia kembali?”


**


Sementara di sisi lain, keluarga besar Washington tengah makan siang bersama di meja makan. Semua orang hadir kecuali Arron. Tuan muda pertama itu tengah sibuk bekerja, dan tidak memiliki waktu untuk makan siang di kediamannya.


“Kau memakai sweeter dan hidungmu memerah,” kata Monika kepada Willson.

__ADS_1


“Aku terserang flu.”


“Cepat makan lalu beristirahat,” perintahnya, dan Willson hanya mengangguk samar.


“Allson bagaimana pekerjaanmu?” tanya Monika.


“Baik,” jawab Allson sembari mengunyah makannya.


“Pasti sangat sibuk menjadi seorang dokter,” kata Monika lagi. “Kau bekerja keras.”


“Beberapa orang akan datang untuk mendekor rumah,” ucap Vano mengalihkan topic pembicaraan.


“Daisy kembali dan Arron tentunya akan mengadakan sebuah pesta,” sambar Willson.


“Kapan dia akan kembali?” tanya Allson. Nyatanya, Allson adalah yang paling sibuk di antara Willson dan Vano. Sehingga dia tidak memiliki waktu luang untuk bergosip.


“Hari ini,” jawab Vano.


**


Di sebuah bandara. Wanita cantik mengenakan sebuah dress slim fit yang hanya menutupi setengah pahanya, dan dibalut dengan blazer berwarna hitam. High heels dengan brand terkenal sangat indah ketika dipakai oleh kaki jenjangnya yang mulus. Wanita cantik itu berjalan menyusuri bandara dengan beberapa penjaga yang mengawalnya di setiap sisi.


Para pengawal menjaganya sangat ketat. Depan, belakang, sisi kanan, dan sisi kiri. Baru beberapa menit dia turun dari pesawat, beberapa orang dan reporter sudah mengerumuninya seperti semut. Dia memakai kaca mata hitam lalu menurunkan topinya semakin ke bawah. Menutupi wajahnya supaya tidak ada reporter yang berhasil mengambil gambarnya.


Setelah beberapa menit, akhirnya wanita cantik itu berhasil masuk ke dalam mobil. Dia melepaskan kaca mata serta topinya. Kini, wajah cantiknya jelas terlihat.


“Sangat melelahkan! Itulah sebabnya aku tidak ingin pulang,” gerutunya.


“Nona Daisy,” ucap seorang wanita yang tidak lain adalah asistennya. Dia memberikan ponsel kepada Daisy.


“Apakah ini kakak?” tanya Daisy dengan raut wajah gembira.


“Benar, Nona.”


“Sudah beberapa tahun aku tidak melihatnya. Bahkan satu fotopun tidak pernah aku terima. Bagaimana kau mendapatkannya?” tanya Daisy.


“Tuan Vano yang memberikannya, Nona.”


“Vano?” Daisy terkekeh pelan.


***

__ADS_1


Ada apa nih? Jangan lupaa like, koment yaaaaa.


__ADS_2