
Happy Reading ….
Alina berdiri tepat di depan pintu masuk mansion, menunggu kehadiran tuan muda pertama yang kini sudah resmi menjadi kekasihnya. Tidak lama kemudian sebuah mobil tiba, pria tampan berpakaian jas rapih keluar dari sana. Dia berjalan masuk ke dalam mansion bersama Alina yang mengikuti langkahnya dari belakang.
Setibanya di dalam kamar, Alina langsung membantu Arron melepaskan jas dan dasi yang dikenakannya. Mereka selalu melakukan aktivitas itu setiap hari. Tapi hari ini rasanya berbeda, Alina sendiri merasa jika dia sedang melayani suaminya sendiri.
Seketika dia terkekeh, dan Arron memperhatikannya.
“Kenapa kau tertawa?”
Alina menggeleng pelan, menghentikan kekehannya. “Aku hanya merasa aneh dengan semua ini.”
“Aneh?”
“Ya. Rasanya seperti … sedang melayani suami sendiri,” ucapnya kembali terkekeh.
Tiba-tiba Arron merangkul pinggan Alina, menarik dan mendekatkannya pada tubuhnya. “Apa kau ingin menikah?”
“Menikah?”
“Ya, bagaimana jika kita menikah?”
“Tidak.” Alina mendorong Arron, melepaskan pelukannya.
Mereka baru saja menjalin hubungan beberapa jam, tapi Arron sudah mengajaknya untuk menikah. Pria itu menggodanya dengan kata-kata sakral, apa dia pikir pernikahan dapat dilakukan seenaknya. Bagaimana jika mereka bukan pasangan yang cocok. Dasar Arron!
“Kau tidak ingin menikah denganku?” tanya Arron menggodanya.
“Aku ingin menikah, tapi nanti,” jawab Alina.
“Kapan?”
“Lima tahun lagi.” Alina tergelak nyaring. Jika Arron bisa mempermainkannya, maka Alina juga bisa membalasnya.
“Bukankah itu terlalu lama?”
“Ya, itu terlalu lama untukmu. Tapi aku masih berusia delapan belas tahun.”
“Tidak masalah, aku akan menunggumu.”
Alina tersenyum licik. “Kau sudah tua nanti, dan aku mungkin akan berpaling darimu.”
Bagaimanapun usia mereka terpaut sangat jauh.
“Apa?” Arron memelototinya tajam.
Alina terkekeh. “Daddy?”
“Kau menggodaku Alina.”
__ADS_1
Arron menggelitik perut Alina, membuat gadis cantik itu tergelak karena geli. Dia terus melakukannya, dan Alina mencoba menghindar sebisa mungkin namun Arron enggan menghentikan tingkahnya itu. Secara tidak sadar, kaki Alina membetur sisi ranjang dan membuat tubuh rampingnya limbung.
“Ahhh!”
Alina berpegangan pada Arron, membuat pria itu jatuh ke atas ranjang bersamanya. Mereka saling berhadapan, seketika Arron meraih tubuh Alina dan mengikis jarak di antara mereka.
“Terlalu dekat,” keluh gadis cantik itu, tidak mengalihkan pandangannya dari wajah Arron.
Arron memeluk tubuh Alina lebih erat. Dia tersenyum. “Bagaimana dengan ini?”
“Sangat dekat ….”
“Alina, aku menginginkanmu.”
Alina tertegun, menelan salivanya. Dia pernah membaca sebuah novel, dan ketika kedua peran utamnya menjalin hubungan, maka mereka akan dengan senang hati menyerahkan diri pada pasangannya.
“Aku- aku-”
Tiba-tiba Arron mendekatkan wajahnya, meraih bibir tipis itu dan memainkannya. Alina sangat terkejut, rasanya berciuman di atas ranjang adalah hal yang tidak benar. Dia juga belum siap.
Perlahan dia mendorong dada Arron sehingga ciuman mereka terlepas.
“Aku belum siap,” ucapnya.
“Ada apa? Apa kau tidak percaya padaku?”
Dia menggeleng cepat. “Aku hanya belum siap.”
Arron menatapnya sangat dalam, dan terdiam sejenak tapi tak lama kemudian dia mengatakan, “Baiklah, aku akan menunggumu.”
“Apa kau akan pergi?” tanyanya.
“Ya,” jawab Arron singkat.
“Apa kau marah padaku?”
Arron berbalik dan menatapnya. “Tidak.”
Hati Alina sakit mendengar jawaban datar dan singkat dari pria itu. Dia juga menyalahkan dirinya sendiri karena sudah mengecewakan Arron, tidak bisa memberi apa yang harus diberikan oleh seorang kekasih.
“Aku minta maaf …,” lirihnya seraya memegang lengan Arron yang sedang sibuk mengikatkan kembali dasi pada kerah kemeja miliknya.
“Kenapa kau minta maaf? Kau tidak bersalah,” kata Arron. Dia berbicara tanpa memandang Alina, membuat gadis cantik itu semakin merasa bersalah.
Alina menundukan wajahnya. “Jangan pergii ….”
Arron berbalik, menatap gadis cantik yang sedang tertunduk dalam itu. Dia memegang kedua bahu Alina dan berkata, “Ada pekerjaan yang harus aku urus. Tidak usah menungguku kembali. Pulanglah ketika jam kerjamu sudah habis.”
Setelah itu, Arron pergi dan hendak keluar kamar. Namun Alina masih bergeming di tempatnya. Melihatnya seperti itu, membuat Arron tidak enak hati untuk meninggalkannya. Lalu, dia berbalik dan berjalan kembali ke hadapan Alina.
“Maafkan aku,” ucap Alina lagi.
Arron menghela napas. “Kau tidak bersalah, jangan meminta maaf.”
__ADS_1
“Tapi kau marah ….”
Arron terkekeh pelan. “Aku tidak marah.”
Dan Alina hanya diam.
Arron menyentuh dagu Alina, perlahan mengangkatnya agar pandangan mereka saling bertemu. “Lihat, aku tidak marah.” Kemudian, dia memeluk lembut tubuh gadis itu. “Aku tidak marah, sudahlah.”
“Aku harus segera pergi,” ucap Arron dan melepaskan pelukannya, namun Alina enggan melepaskan Arron. “Kau tidak ingin melepaskanku?” tanya Arron dan Alina menggeleng pelan. “Oke, ikutlah denganku.”
Dia mendongakan wajahnya. “Kemana?”
“Kau akan tahu nanti.”
__
Setelah melakukan perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka sampai pada sebuah restaurant. Arron mengajak Alina untuk masuk ke dalam privateroom, namun gadis itu menolak. Alina merasa jika dia akan canggung jika masuk ke sana karena mereka akan membicarakan bisnis. Dia tidak akan nyaman. Karena itu Alina lebih memilih untuk menunggu di luar.
“Nona, pesanan Anda.” Seorang pelayan datang, menata beberapa piring makanan di atas mejanya.
“Tapi aku tidak memesan ini.”
“Tuan yang datang bersamamu yang memesan. Selamat menikmati.”
Dia tersenyum dan mengangguk. Melihat makanan yang telah Arron pesan di atas meja. Pria itu sengaja memesan makanan untuk Alina, karena dia akan memakan banyak waktu ketika bertemu dengan klien dan mungkin akan melewatkan waktu makan malam.
“Karena ini adalah pesanan kekasihku, maka aku tidak akan menyia-nyiakannya.”
Alina mengambil alat makan, menyuapkan spageti yang lezat itu ke dalam mulutnya. “Enak,” gumamnya rendah. Selera Arron memang tidak pernah salah, dia selalu bisa menyesuaikannya untuk Alina.
Ponselnya di atas meja berdering, Arron mengiriminya pesan. “Bagaimana makanannya?”
“Ini sangat enak. Bagaimana denganmu, apa percakapan bersama klien lancar?”
“Tentu saja. Tunggu lima belas menit lagi, dan aku akan segera menemuimu.”
Alina tersenyum dan senang ketika mendapatkan perhatian kecil yang Arron berikan.
Sekitar lima belas menit berlalu, akhirnya pria tampan itu menyelesaikan pekerjaanya. Setelah mengantar kliennya keluar restaurant, Arron langsung menghampiri Alina.
“Kita akan kembali sekarang?” tanya Alina.
“Tidak, kita akan pergi jalan-jalan.”
“Kemana?”
Dia mencondongkan setengah tubuhnya mendekat pada Alina. “Bukankah kau menyesali penolakanmu di mansion tadi?”
“Iya.” Dia mengangguk segera.
“Bagaimana jika kau memperbaiki kesalahanmu dengan menyenangkanku malam ini?” ucap Arron disertai seringai nakal.
“Hah?”
__ADS_1
To be contiuned ....