Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Episode 12


__ADS_3

“Alina.”


Terdengar suara seseorang memanggil namanya, dan secara refleks Alina langsung menoleh untuk melihat siapa itu. Dan seketika matanya membulat di saat dia melihat Arron lah yang sudah menanggilnya. Tuan muda Ron menggerakan telunjuknya, meminta Alina untuk mendekat.


“Ya, Tuan muda?” tanya Alina gugup.


Alina tertegun ketika melihat wajah tampan Arron di hiasi dengan peluh yang membasahi pelipisnya. Sepertinya pria tampan itu baru saja melakukan aktivitas olahraga pagi. Dia tampan, memiliki tubuh yang indah, dan sangat kaya. Pasti kehidupannya di kelilingi oleh para wanita cantik.


“Ikut aku.” Perintah Arron seraya berjalan menjauh dari sana.


Pandangan Alina mengedar dan bertanya-tanya. Ada apa Tuan mudanya itu memanggil dirinya. Bukankah Arron sendiri yang memberikannya cuti. Lalu kenapa dia meminta Alina untuk mengikutinya?


Gadis cantik itu berjalan satu langkah di belakang Arron. Wajahnya tertunduk lemas, dan dia menghela napas panjang. Dan seketika itu pula langkah Arron terhenti secara tiba-tiba, membuat Alina terkejut dan tidak sengaja menabrak tubuhnya.


Alina memegang dahinya sembari menatap Arron. “Maaf, Tuan muda. Aku tidak sengaja.”


“Kau menghela napas?”


“Hah?” tanya Alina bingung.


“Kau menghela napas. Apakah kau keberatan karena aku memintamu untuk ikut?”


Alina menyalang takjub mendengar itu. Mati saja! “Tidak, bukan seperti itu.” Jawabnya cepat dengan kedua telapak tangan terangkat di depan dada.


“Terus berjalan dan berhenti mengeluh.”


Ya, tentu saja. Aku bahkan tidak memiliki hak untuk menghela napas, apalagi mengeluh. Gerutu Alina dalam hati.


Arron membawa Alina masuk ke dalam satu ruangan, dimana ada satu kandidat pelayan yang tengah berdiri menunggu di sana. Alina melihatnya dengan sangat intens. Wanita yang kali ini Arron pilih terlihat sangat berbanding terbalik dengannya.


Wanita itu cantik, dewasa, dan berpostur tubuh indah. Kecantikan yang seperti itu, tapi kenapa dia lebih memilih bekerja menjadi seorang pelayan?


“Seharusnya dia pergi ke agensi modeling.” Gerutu Alina dengan nada rendah. Kebiasaan buruk yang harus dia hilangkan ketika bersama Arron.


Arron menoleh ke arahnya. “Kau mengatakan sesuatu?”


Alina tersenyum getir. “Tidak.”


Arron menatap lurus ke depan kembali, membuat Alina dapat bernapas lega. Dia begitu sensitive. Alina harus sangat berhati-hati.


“Kau kemarilah.” Perintah Arron kepada wanita cantik tersebut. “Perkenalkan dirimu padanya.”


“Rose.” Ucap wanita tersebut seraya mengulurkan tangannya pada Alina.


Dan Alina tentu menyambutnya dengan baik. “Alina.”


“Kau akan belajar dengannya. Ajari dia dengan baik.” Perintah Arron. Setelah itu, dia langsung pergi dari sana dan meninggalkan Alina tanpa penjelasan lebih lanjut.


Apa maksudnya?


“Kau yang akan mengajariku?” tanya Rose memastikan. Pandangannya melirik Alina dari atas sampai bawah. “Kau terlihat tidak menyakinkan.”

__ADS_1


Hah? Alina mencebik kesal. Mengapa harus dirinya yang mengajari calon pelayan pribadia Arron? Di kediaman Washington, masih banyak pelayan lain yang lebih berpengalaman. Padahal Alina hanya bertahan dua hari saja.


“Kau melamun? Apakah kita tidak akan memulainya?” seru Rose.


“Baiklah.”


Alina mengajak Rose untuk berkeliling di mansion dan memperkenalkan beberapa ruangan di sana. Gadis cantik itu sudah hapal karena sebelumnya dia mengikuti pelatihan. Seharusnya Rose juga sudah mengetahuinya, maka Alina tidak perlu memberitahunya untuk yang kedua kali.


“Ah~ Aku baru menyadarinya jika mansion ini begitu mewah.”


Baru menyadari katanya? Kemana saja dia selama pelatihan di mulai? Gerutu Alina sebal.


“Alina, kau adalah mantan pelayan pribadinya?”


“Ya.” Jawab Alina malas.


“Aku dengar, jika kau hanya bertahan selama dua hari saja?”


Alina menolehkan wajahnya ke samping, menghindari tatapan wanita cantik dan sexi bernama Rose tersebut. “Kau benar.”


“Itu pasti karena kau terlihat kurang menarik. Kau kurang enak di pandang.” Ucap Rose yang seenak jidat.


Alina berdecih sebal. Dia menolehkan wajahnya untuk menatap Rose. “Semoga kau bahagia menjadi pelayannya.” Ujar Alina dengan senyum manisnya. Membuat Rose mengangkat kedua halisnya heran.


Gadis itu tidak marah ketika di singgung.


“Apa yang tuan muda Ron suka?” tanya Rose.


“Dia pasti terlihat sangat tampan ketika tidur.”


Alina memutar bola matanya jengah mendengar itu.


Langkah mereka terhenti tepat di taman. Alina meminta Rose untuk menunggunya di sana, sementara dia pergi ke rumah belakang untuk mengambil sesuatu. Dan beberapa menit berlalu, Alina kembali dengan membawa beberapa lembar kertas yang tertata rapih.


“Pelajarilah. Fighting.” Ucap Alina menyemangati.


Seharusnya sesi perkenalan itu telah selesai, sehingga Alina dapat kembali ke dalam kamarnya. Gadis cantik itu mengeluh dalam hati sembari menatap dirinya di depan cermin. Dia menarik kerah bajunya dan melihat dadanya yang datar.


“Tidak menarik?” dia terkekeh geli.


“Apa yang kau pikirkan?” tanya seseorang, dan membuat Alina berjengit kaget.


“Bibi Lin, kau membuatku terkejut. Sejak kapan kau datang?”


“Aku mengikutimu masuk tadi.”


“Ah ….”


“Bagaimana? Apakah kau sudah melihatnya?” tanya Bibi Lin.


“Siapa?” tanya Alina bingung.

__ADS_1


“Calon pelayan tuan muda.”


 


 


“Ah … Rose. Ya, aku sudah melihatnya.” Dia memikirkan sosok Rose yang terlihat sangat cantik seperti seorang model.


“Apakah kau tahu apa alasan Tuan muda Ron meminta pelayan pribadinya untuk melihatnya tidur di malam hari?”


Alina menggeleng lemah. “Aku tidak tahu. Apakah tuan muda Ron memiliki penyakit. Trauma atau sejenisnya?”


“Bukan. Semua itu dia lakukan untuk sebuah test.”


“Test? Test apa, Bi?”


“Tuan muda Ron adalah orang yang sangat berhati-hati. Beberapa pelayan pribadinya dulu mencoba memanfaatkan kedekatan di antara mereka. Naik ke atas ranjangnya, mencoba mencari keuntungan dan lainya.”


Alina berkerut heran. “Benarkah?”


“Ya. Dan aku rasa semua ini akan terulang.”


“Rose? Apa dia berani?”


“Kita tidak pernah tahu isi hati seseorang. Oleh karena itu akan selalu menyarankan tuan muda Ron untuk menjadikanmu pelayan pribadinya kembali.”


“APA? AKU?” pekik Alina terkejut dengan mata yang membulat. Rasanya jantung Alina akan jatuh dari tempatnya.


“Ya. Kenapa tidak? Kau adalah gadis yang baik.”


“Bibi, apakah kau tahu apa alasanku di pecat?”


“Tentu saja. Aku tahu itu bukan salahmu.” Jawabnya dengan yakin.


Bahu Alina melemas. Dia bahkan tidak pernah membayangkan akan kembali menjadi pelayan tuan muda Ron.


Secepat kilat Alina menggenggan kedua telapak tangan Bibi Lin, kemudian menatapnya dengan penuh binar. “Bibi Lin, aku mohon jangan lakukan itu. Aku lebih baik menjadi pelayan Tuan muda Van saja.”


“Kau ini bicara apa. Aku menginginkan yang terbaik untuk kalian berdua.”


“Tapi Bibi Lin, aku benar-benar tidak bisa.”


Seketika bibi Lin beranjak dari duduknya. “Aku harus kembali bekerja. Kau bersiaplah, mungkin saat ini Tuan muda Ron tengah memikirkannya.”


“Hah?”


Bibi Lin tersenyum ramah dan mencubit pelan pipi Alina. “Gadis yang baik.”


Tidaaaaak!


Bersambung ....

__ADS_1


Jangan lupakan koment dan like kaliaan yaa.


__ADS_2