
Happy Reading ….
Alina menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, menggeliat sesaat untuk meregangkan otot tubuhnya yang pegal. Satu hari penuh ini, dia sibuk membereskan kamar, walk in closet, dan ruang baca Arron. Tidak terasa kini waktu telah menunjukan pukul empat sore.
Pandangannya tertuju pada arloji di pergelangan tangannya. “Empat jam aku bekerja, benar-benar membuat lelah,” keluhnya.
Dia beranjak dan hendak pergi. Namun tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan Arron yang masuk ke dalam ruangan. Alina terpaku melihat kehadiran tuan muda pertamanya. Padahal seharusnya Arron kembali satu jam lagi.
“Siapkan pakaianku,” perintahnya.
Alina mengangguk pelan. “Baik, Tuan.”
Gadis cantik itu segera pergi untuk mengambil pakaian Arron. Beberapa menit setelah selesai, Alina kembali ke dalam kamar, dan melihat Arron yang baru saja menyelesaikan acara mandinya. Seperti biasa, pria itu selalu terlihat lebih tampan ketika selesai mandi.
Setelah selesai berpakaian, Arron pergi menuju ruang tamu di lantai satu. Di sana sudah ada Daisy dan kedua orang tuanya dengan Monika yang menemani sebagai tuan rumah. Mereka menyambut Arron dengan gembira, membuatnya bergabung bersama mereka.
Pertemuan keluarga? Setelah menginap satu malam, apa mereka akan menikah? Pikir Alina.
“Arron, bagaimana kabarmu?” tanya pria paruh baya bernama Johannes yang tak lain adalah Papa Daisy.
“Baik,” jawab Arron singkat.
Mereka berbincang bersama dengan akrab. Sementara Alina hanya berdiri dan diam di sisi sofa yang Arron duduki. Sekitar tiga puluh menit dia dalam posisi seperti, dia akan pergi jika Arron memerintahnya. Tapi nyatanya tidak, big bosnya itu sibuk dengan calon keluarga baru.
Kakiku sangat pegal. Lagipula perbincangan mereka sangat membosankan.
“Kau sudah memasuki usia untuk menikah, apa kau sudah memiliki pasangan?” tanya Johannes pada Arron.
“Aku belum memilikinya,” jawab Arron sungkan.
“Arron, kau bisa mempertimbangkan putriku.”
Alina langsung mengangkat wajahnya setelah mendengar kalimat itu. Lalu pandangannya tertuju intens pada Arron, menunggu jawaban yang akan diberikan olehnya.
Arron tersenyum tipis. “Tentu saja.”
Mereka tergelak bersama, berbeda dengan Alina yang tidak henti mengumpat dalam hati. Setelah Arron menjawab ungkapan Johannes, pikiran Alina menjadi tidak tenang. Berpikir jika memang benar Arron tidak pernah mencintainya, kata-kata yang pernah diucapkan adalah palsu.
Dasar pria!
Dua keluarga itu menghabiskan waktunya untuk berbincang dan di akhiri dengan makan malam bersama. Malam ini, Daisy pulang ke kediamannya. Dan Alina kembali pada tugas utamanya untuk melayani Arron.
“Tuan, baju tidurmu.” Dia memberikan pakaian yang dibawanya pada Arron. “Ehm … waktu kerjaku telah habis. Aku pamit.” Alina menundukan kepalanya, dan hendak pergi.
“Aku tidak mengatakan jika kau boleh pergi,” ucap Arron yang langsung membuat langkah Alina terhenti.
__ADS_1
Alina langsung berbalik, dan seketika Arron menarik pergelangan tangannya hingga tubuh ramping itu jatuh ke dalam pelukannya. Pandangan mereka bertemu satu sama lain, beberada detik hanya keheningan sebelum Arron mengatakan,
“Bagaimana?”
Kedua mata Alina langsung berkedip, mendorong pelan dada bidang itu menjauh. Tapi jelas Arron tidak mau melepaskannya.
“Apa kau setuju?” tanya Arron lagi.
“Setuju?” lengan Alina berhenti memberontak.
“Jika aku bersama Daisy?”
“Itu urusanmu!” jawab Alina cepat.
Arron memperhatikan raut wajah kesal gadis di dalam pelukannya dan tersenyum tipis. “Kau tidak kesal? Cemburu?”
“Tidak.” Dia memalingkan wajahnya ke samping, tidak mau menatap wajah Arron.
Sikap Alina benar-benar menunjukan rasa kesalnya. Membuat Arron merasa tenang karena tahu jika perasaan gadis itu sama dengannya, perasaanya berbalas.
“Hei, jadilah kekasihku.”
Alina menatap Arron kembali. “Bukankah kau ingin bersama Daisy?”
Dia terkekeh pelan. “Aku hanya menggodamu.”
“Apa aku pantas?” tanya Alina yang seketika merubah raut wajah Arron menjadi sedih.
“Kau sangat pantas, Alina. Kau gadis baik, aku, mencintaimu.”
Alina tersenyum. “Aku juga mencintaimu.”
Keduanya saling memandang satu sama lain, tersenyum lalu mendekatkan wajah dan saling bertaut bibir dengan lembut. Di dalam hati Alina, dia tidak pernah menyangka jika hari ini akan terjadi. Di mana dirinya akan menjalin hubungan dengan big bosnya sendiri. Hari ini, Alina resmi menjadi kekasih Arron.
“Sudah larut, bagaimana jika kau menginap di sini?” usul Arron.
Wajah Alina memerah seketika karena malu. “Tidak mau.”
Arron terkekeh melihat wajah gadis cantik itu. “Baiklah, aku antarkan kau pulang.”
Alina mengangguk pelan. Tapi sebelum mereka keluar dari kamar, Alina memegang lengan Arron, membuat Arron menatapnya.
“Bisakah hanya kita yang tahu mengenai hubungan ini?” tanya Alina dengan nada rendah. Dia takut jika Arron tidak akan setuju.
“Ada apa? Apa kau meragukanku?”
__ADS_1
“Tidak tidak.” Dia menggeleng cepat. “Hanya saja … aku belum siap. Aku taku orang lain berpikiran macam-macam.”
“Itu tidak akan terjadi, tenanglah.” Arron mencoba menenangkannya, mengelus pucuk kepada Alina lembut.
“Tapi bisakah kau menyetujuinya?”
Alina takut jika seluruh mansion tahu dirinya menjalin hubungan dengan Arron, maka Alina akan dikucilkan, ibunya akan dipermalukan. Dia hanya seorang asisten kecil, bagaimana bisa menjalin hubungan dengan tuan muda besar. Dia sama sekali tidak meragukan perasaan Arron padanya, Alina hanya takut dan belum siap untuk memberitahu orang lain.
Arron mengerti ketakutan Alina. Bagaimanapun Arron berkata untuk membuatnya tenang, itu tidak berguna sama sekali. “Baiklah, seperti yang kau minta.”
Alina tersenyum, menjijitkan kakinya dan mengecup pipi Arron lembut. “Terimakasih.”
**
Pagi ini di ruang makan hanya ada Monika seorang. Willson dan Allson sibuk mengurus pekerjaan mereka dan harus pergi pagi-pagi sekali. Kesempatan ini Arron ambil agar dirinya bisa sarapan bersama Alina. Dia menyiapkannya di dalam ruang baca.
“Makanlah.” Arron menyodorkan sendok berisikan makanan, menyuapi gadis cantik yang duduk di sampingnya.
Ternyata seperti ini rasanya diperhatikan oleh kekasih. Batin Alina.
“Kau suka?”
Alina mengangguk mengiyakan.
“Siang ini datanglah ke perusahaan,” ucap Arron.
“Tapi aku harus bekerja.”
“Mengantarkan makan siang juga pekerjaanmu, bukan?”
Alina tersenyum. “Tentu saja.”
Arron merapikan rambut yang jatuh di dahi Alina, lalu menyuapinya sarapan kembali. Alina tidak berhenti tersenyum mendapatkan perhatian ekstra seperti itu. Dia masih belum bisa mempercayai semua ini, rasanya seperti mimpi.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, nama Vano terpampang pada layar ponsel. Alina terdiam sejenak ketika menyadari dia salah membawa ponsel. Seharusnya dia membawa ponsel yang khusus Arron berikan untuk bekerja.
“Kau tidak menjawabnya?”
“Ah tidak ….”
Arron melihat jika yang menelpon pagi-pagi sekali adalah adiknya. Dia merebut ponsel itu dari Alina dan menjawab panggilan Vano.
‘Alina bagaimana? Kenapa kau tidak menghubungiku, aku selalu menunggu panggilan telepon darimu.’
“Vano,” ucap Arron dengan nada datar.
__ADS_1
Bersambung ....
Jangan lupa like dan review kalian yaaa.