Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Episode 40


__ADS_3

Alina kalang kabut ketika melihat bos besarnya itu berjalan semakin mendekat menuju mobilnya. Dia hampir ingin keluar dari mobil namun dicegat oleh Vano.


"Apa yang ingin kau lakukan?" bisik Vano bertanya.


"Aku akan keluar. Bahaya jika tuan muda Ron melihatku."


"Kau akan lebih cepat ketahuan jika bertindak seperti itu," ucap Vano.


Jantung Alina seakan berhenti berdetak ketika mendengar kaca mobil yang diketuk dari luar. Pandangannya membulat saat dia melihat Arron sudah berada tepat di samping mobilnya. Lord!


"Kita sudah ketahuan. Keluarlah."


Vano mengedikkan dagunya ke arah pintu mobil seraya berucap dengan enteng meminta Alina untuk keluar dan menemui Arron. Dia memang gila!


Setelah itu, Vano keluar dari mobil, tapi Alina malah duduk mematung tanpa bergerak sedikitpun di posisinya. Dengan pikiran yang berkecamuk, berpikir jika setelah ini mungkin saja dirinya akan dipecat dan diusir.


Vano sudah keluar dari mobil dan bertemu Arron. Sedangkan Alina tidak kunjung menyusul. Pria tampan itu langsung mencondongkan tubuhnya, mengetuk jendela mobil untuk meminta Alina keluar juga.


Vano! Aku akan merebusmu nanti!


Dengan berat hati, Alina membuka pintu mobil itu dan turun dari mobil. Dia berdiri di samping mobil, menatap ke arah Arron yang juga tengah menatapnya dengan sorot mata tajam.


Alina menelan salivanya susah payah.


"Babe, kemarilah." Vano menggerakkan jemarinya, meminta agar Alina segera mendekat.


What the hell? Babe? Dia memanggilku Babe? Vano! Aaaah!!!


Rasanya ingin sekali Alina menjambak rambut Vano saat ini juga. Dia melakukannya dengan senang dan semena-mena. Vano memang gila. Mulai detik ini, Alina tidak akan mau membantunya lagi.


Sementara Arron yang mendengar panggilan Vano kepada Alina sedikit berkerut kening. Babe? Jadi, mereka masih menjalin hubungan. Ada rasa sedikit envy di dalam hati Arron. Ck! Konyol sekali! Lagipula, Arron akan memfokuskan dirinya kepada Daisy. Untuk apa masih memikirkan gadis kecil itu? Bukankah perasaan Arron kepadanya hanya sekedar perasaan mendominasi bos kepada bawahannya? Ya, tidak lebih dari itu.


"Aku akan pergi terlebih dahulu. Daisy masih menungguku."


Kemudian, Arron pergi sebelum Alina berjalan mendekatinya.


Alina yang hendak melangkahkan kakinya itu langsung mengurungkannya lagi. Dia memalingkan wajahnya dari Arron yang tengah berjalan mendekati mobilnya sendiri dan menghampiri wanita cantik di sana.


Sesaat, dia bisa bernafas lega karena setidaknya Arron mengabaikannya.

__ADS_1


“Hei, apa yang kau lakukan?” seru Vano pada gadis cantik yang terus saja berdiri di sisi mobil. “Cepat kemari.” Dia menggerakkan jemarinya untuk meminta Alina mendekat.


“Kita pulang,” ucap Alina.


“Kita akan makan malam bersama mereka. Ayolah,” balas Vano tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Apa-apaan Vano!


 


Jemari lentiknya terus meremas ujung dress yang tengah Ia gunakan. Dengan perasaan kesal bercampur gelisah, tak henti-hentinya dia mengumpati Vano dalam hati. Menyebalkan! Pembohong!


“Makanlah.” Vano memberikan satu piring berisikan steak daging miliknya yang sudah dipotong untuk Alina.


Sementara Alina hanya menatapnya dengan sinis, tidak mau berkata apapun.


Entah bermimpi apa Alina semalam, sampai-sampai dirinya bisa berada di meja yang sama dengan big bosnya. Tuan muda pertama! Pria tampan bertubuh tegap itu kini duduk tepat di hadapannya dengan seorang model cantik di sampingnya.


Daisy sempat mempertanyakan mengenai kehadiran Alina. Dia tahu jika Alina hanyalah seorang asisten di kediaman Washington. Namun, Arron menjelaskan jika gadis cantik itu adalah kekasih Vano. Jadi, Daisy tidak bisa bertanya lebih lanjut. Meskipun dia sedikit keberatan karena pergi makan malam dengan seorang asisten. Tapi di hadapan Arron, Daisy akan bersikap sebaik mungkin.


“Kau tidak minum wine, aku akan meminta pelayan menggantikannya,” ucap Vano seraya meraih gelas berisikan redwine milik Alina.


“Kenapa kau tidak makan? Apa kau ingin aku menyuapimu?” tanya Vano sengaja.


Seketika itu, semua mata tertuju pada Vano. Arron yang sejak tadi fokus memakan makanannya, kini langsung menyimpan garpu serta pisaunya di sisi piring. Sementara Alina, hati dan pikirannya semakin gelap saja ketika dia mendengar tawaran Vano untuknya.


“Buka mulutmu, aaaa.”


Tanpa persetujuan dari Alina, Vano bertindak seenaknya.


“Aku bisa melakukannya sendiri,” ucap Alina diiringi senyum canggung.


Gadis cantik itu memegang garpu dan pisau dengan lengan yang gemetar. Bukan karena dia gugup dengan cara makan orang kaya. Tapi, dia gugup karena Arron berada tepat di depannya, dan juga tengah menatapnya.


Alina menelan salivanya susah payah. Sepertinya, satu potong daging steak itu tidak mampu Ia telan.


“Kalian sudah menjalin hubungan berapa lama?” tanya Daisy membuka percakapan.


“Hitungan bulan,” jawab Vano. “Bagaimana denganmu? Apa kau menikmati kencan bersama kakakku?”

__ADS_1


Daisy tersenyum manis. Lengannya merangkul lengan kekar milik Arron, lalu dia menyenderkan kepalanya pada bahu pria tampan itu.


“Aku sangat menikmatinya. Kami juga sudah merencanakan pertunangan kami.”


Vano tertegun setelah mendengar pernyataan dari model cantik itu. Pertunangan? Sejak kapan kakak pertamanya itu cepat bertindak dalam hal itu? Bukankah Arron jelas-jelas tidak mencintai Daisy? Lantas kenapa dia memutuskan masalah pertunangan?


“Selamat untukmu,” ucap Vano berbasa-basi.


Sementara Aline hanya mengangguk-anggukan pelan wajahnya ketika mendengarkan percakapan antara Vano dan Daisy. Dia juga ikut tersenyum senang ketika mendengar hal mengenai rencana pertunangan tuan mudanya. Kabar baik bukan?


Tapi di sisi lain. Atmosfir berbeda seolah menyelimuti restauran itu. Melihat wajah polos Alina, benar-benar membuat hati Arron merasa murka. Entah kenapa, dia sangat ingin menyudutkan tubuh ramping gadis itu lalu menatapnya dengan tajam dan berkata, 'Kau harus marah! Kau harus tidak setuju!'


Entah kenapa Arron bisa berpikir seperti itu. Tapi yang jelas kini perasaanya tengah kacau balau.


Alina fokus pada pembicaraan Vano dan Daisy. Sampai tiba-tiba kakinya terbentu sesuatu. Bukan, bukan terbentur. Melainkan disenggol oleh sesuatu. Sepatu?


Alina menatap ke bawah sekilas lalu pandangannya Ia alihkan ke depan. Ada Arron yang dengan santainya dengan meminum redwine miliknya.


Bukankah jelas jika dia yang menyenggol kaki Alina dengan sepatunya? Apa dia tidak sengaja?


Alina mengabaikan itu, dan fokus kembali pada topik pembicaraan Vano dengan Daisy.


“Bagaimana dengan kalian? Apa hubungan kalian serius?” tanya Daisy.


Seketika, Arron batuk karena tersedak minumannya. Pertanyaan yang diajukan Daisy membuatnya tidak fokus.


Semua mata langsung tertuju padanya. Begitupula Alina.


“Kakak, kenapa kau tidak hati?” tanya Daisy khawatir seraya memberikan beberapa lembar tissue untuk Arron.


Berbeda dengan Daisy yang mengkhawatirkan Arron. Vano malah tersenyum tipis melihat ekspresi terkejut dari kakaknya itu. Sementara Alina masih setia dengan wajah polosnya.


Kenapa dia?


“Sebenarnya, kami juga sudah merencanakan hari pertunangan kami,” kata Vano. Membuat pandangan Alina dan Arron seketika membulat.


Apa-apaan dia?


Bersambung .....

__ADS_1


__ADS_2