Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Episode 61


__ADS_3

Happy Reading ….


“Ada apa, Alina?” tanya Lili ketika tiba-tiba saja Alina beranjak dan memekik lantang.


Pandangan Alina mengedar pada semua orang yang tengah menatapnya di sana. Dia tersenyum canggung, lalu kembali duduk di kursinya.


“Tidak, tidak ada.” Dia menggeleng cepat.


Alina dengan cepat membalas pesan dari Arron. “Tunggu aku.”


Alina kembali berbaur dengan teman-temannya. Mereka saling berbincang, berbagi pengalaman, atau mengingat masa-masa sekolah mereka dulu. Tidak terasa jika waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, dan pesta akan segera berakhir.


Seorang alumni pria berdiri, mengangkat kaleng beer yang digenggamnya. “Aku sangat senang karena bertemu dengan kalian semua.  Aku doakan, kalian semua menjadi orang yang sukses di masa depan.”


Satu teman perempuan melakukan hal yang sama. “Semoga aku segera memiliki pekerjaan yang baik, menemukan kekasih yang tampan dan segera menikah.”


Semua orang berdiri bersama termasuk Alina. Mereka semua mengangkat kaleng beer ke atas, saling meneriakan harapan mereka malam ini. Tapi Alina, cukup mengucapkan harapannya di dalam hati.


Aku ingin menjadi orang yang sukses dan pantas berdiri di samping Aland. Batin Alina.


Mereka semua saling mendekatkan kaleng beer, beradu satu dengan yang lainnya.


“Cheer!” seru mereka serentak dengan sangat meriah.


Beberapa menit kemudian, pesta dibubarkan. Semua orang berhamburan keluar dari area sekolah. Alina dan Lili sedang berjalan bersama sebelum akhirnya seorang pria yang tak lain adalah teman sekelas mereka menghentikannya.


“Alina,” panggilnya.


“Ray?” seru Lili.


“Ada apa, Ray?”


“Alina, ke arah mana kau pulang? Aku akan mengantarkanmu.”


Alina menoleh kea rah Lili dengan bingung, sementara sahabatnya itu malah tersenyum untuk menggodanya. Ray adalah teman sekelas pada saat mereka sekolah dulu, dia juga seorang kapten basket, dan sangat terkenal di sekolah. Setelah lulus, kepopulerannya juga masih melekat di antara para alumni. Tidak menyangka jika malam ini dia menawarkan diri untuk mengantarkan Alina pulang.


“Maaf, Ray, aku sudah dijemput oleh seseorang.”


“Ah~ Baiklah.”


“Kau telat, Ray, Alina sudah memiliki kekasih.”


“Lili,” bisik Alina seraya menyiku lengan sahabatnya.

__ADS_1


Ray tersenyum mengerti. “Alina, kalau begitu aku pergi dulu.”


“Byebye, Ray.” Lilie melambaikan langannya, sementara Alina hanya mengangguk mengiyakan.


Taxi yang dipesan Lili sudah tiba, dia pergi setelah berpamitan dengan Alina. Keduanya tidak tahu kapan mereka akan bertemu lagi, karena besok Lili sudah harus pergi ke luar kota untuk pendidikannya. Sangat disayangkan jika waktu bertemu mereka begitu singkat.


Setelah Lili pergi, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan Alina. Seorang pria turun dari mobil, dan berjalan menghampirinya.


“Maaf membuatmu menunggu,” ucap Alina seraya melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Arron.


“Tidak masalah.” Arron menatap Alina yang masih mengenakan seragam sekolahnya. “Masih terlihat sama seperti dua tahun yang lalu.”


“Hm? Apa maksudnya?”


“Cepat masuk ke dalam mobil, angin malam tidak bagus untuk tubuh,” ucap Arron mengalihkan topic pembicaraan.


Alina mengangguk dan melepaskan pelukannya. Arron membukakan pintu mobil untuk Alina, menutupnya kembali saat gadis cantik itu sudah masuk ke dalam mobil.


Sebenarnya dulu, setiap kali Alina berangkat sekolah, secara tidak sengaja Arron selalu memperhatikannya. Gadis itu terlihat sangat imut dengan seragam sekolah. Arron begitu mengangguminya. Dan setelah mengetahui dia ikut pada pemilihan asisten pribadinya, Arron tidak memandang yang lain selain Alina. Oleh karena itu Alina terpilih.


Di dalam mobil, Arron langsung memakaikan seatbelt untuknya. Alina tersenyum sendiri menatap wajah Arron yang sangat dekat dengan wajahnya. Tiba-tiba saja, dengan jahil Alina mengecup pipi Arron lembut, membuat Arron langsung menatap wajahnya.


“Kau sangat tampan,” puji Alina.


“Bersikap manis setelah membuatku menunggu hampir satu jam.”


Arron menghela napasnya, datang terlalu cepat memang salahnya. Setelah itu, Arron mengendarai mobil dan melaju membelah jalanan malam.


“Kau menungguku di mana? Aku tidak melihatmu saat aku keluar dari sekolah tadi,” tanya Alina.


“Di toko yang tak jauh dengan sekolahmu.”


“Aku tahu, dulu aku sering bermain penjapit boneka di sana. Tapi aku tidak pernah memenangkannya ….”


Arron tersenyum. “Lihat kursi belakang.”


Alina menatap Arron bingung, lalu menuruti ucapan pria itu utnuk dan melihat pada kursi belakang. Alina terkejut sekaligus tersenyum senang melihat satu boneka babi kecil berada di sana. Kemudian, dia langsung membuka seatbelt miliknya, mengambil boneka tersebut.


“Sangat lucu.”


“Mirip sepertimu,” gumam Arron rendah, dan Alina tidak bisa mendengarnya.


“Darimana kau mendapatkan ini?” tanya Alina.

__ADS_1


“Dari penjapit boneka yang tidak bisa kau mainkan.”


“Wah … kau bisa mendapatkannya, sangat hebat,” puji Alina kagum. Sementara Alina sendiri, belasan kali dia memainkannya, belum tentu bisa mendapatkan sebuah boneka dari mesin permainan itu.


Alina melihat boneka itu dengan sangat senang, sesekali memegangi hidung besar boneka babi tersebut. Sampai akhirnya dia baru sadar jika Arron tidak mengendarai mobil sesuai arah jalan pulang ke mansion.


“Ini bukan jalan kembali,” ucap Alina.


“Kita tidak akan kembali.”


“Ke mana kita akan pergi?”


“Aku sudah menyiapkan tempat untukmu, kau pasti akan menyukainya.”


Alina bertanya-tanya sepanjang perjalanan, namun Arron tetap tidak mau memberitahunya. Setelah menempuh waktu perjalanan sekitar satu setengah jam, Arron memberhentikan mobilnya pada halaman sebuah villa.


Gadis cantik itu menatap kagum bangunan mewah di depannya. Meskipun ukurannya tidak sebesar mansion di kota, tapi Villa itu terlihat sangat indah dengan rancangan yang sangat direncanakan. Terlihat begitu tenang terlebih lagi dengan suasana gunung di sekitarnya.


“Turunlah,” ucap Arronn.


Alina langsung membuka pintu dan keluar dari mobil. Dia berjalan menuju pintu masuk Villa dengan Arron yang mengikutinya dari belakang.


“Kenapa kau membawaku ke sini?” tanya Alina pada Arron yang sedang membukakan pintu.


“Kau akan tahu nanti, ayo masuk.”


Arron mengajak Alina pergi ke dua Villa. Dan Alina semakin merasa kagum setelah berjalan masuk dan  menelusuri bangunan itu. Sampai Arron memintanya masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya.


“Aku akan menunggumu di balkon atas. Setelah selesai berganti pakaian, berjalan ke arah sana dan naik ke atas tangga.”


Alina mengangguk mengerti.


Kemudian, Alina langsung masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih tertutup dan hangat. Setelah itu, sesuai arah yang diucapkan Arron, dia pergi menaiki anak tangga yang langsung membawanya ke lantai atas.


Pintu kaca di depannya terbuka, dengan tirai putih yang berterbangan ditiup angin. Alina berjalan ke arahnya, melihat Arron yang sedang berdiri di sana.


“Kemarilah.” Arron tersenyum dan mengulurkan sebelah telapak tangannya.


Alina berdiri tepat di sampingnya, dan tidak lama kemudian beberapa kembang api meledak dan mewarnai langit malam. Itu terlihat sangat indah. Alina tersenyum senang ketika melihatnya.


“Apa kau suka?”


“Aku sangat menyukainya.”

__ADS_1


To be contiuned ....


Jangan lupa like dan komentar yaaa, author baca ko walaupun gabisa bales satu-persatu hehe. byebye.


__ADS_2