
Pria tampan bertubuh tegap itu berdiri menyender di dinding sebelah sebuah pintu sembari mengurut pangkal hidungnya pening. Malam ini dia belum tertidur, tapi sudah bermimpi buruk. Karena pelayan kecil konyolnya itu tidak pernah berhenti membuat masalah.
Tidak lama kemudian, pintu tersebut terbuka dan menampilkan sosok kecil yang sangat senang menganggu ketenangannya. Bibirnya tersenyum, namun dengan raut wajah takut. Dengan segera dia keluar, lalu menutup pintu tersebut.
“Maaf membuatmu menunggu, Tuan muda.”
“Untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Jika tidak, aku akan mencekikmu!” ucap Arron lalu berbalik dan pergi dari sana.
Malam ini, Alina sukses merubah atmosfer di dalam kamar Arron. Bagaimana tidak? Gadis cantik itu mengendap endap dan naik ke atas ranjang Arron, lalu meminta hal yang sangat mengesalkan jika diingat kembali.
“Tuan muda, bisakah kau melepaskanku? Aku akan pergi ke toilet, aku merasa jika aku sudah tidak bisa menahanya lagi,” ucapnya memelas.
Arron yang menyadari gelagat aneh pelayan itu, mau tidak mau Arron segera melepaskannya. Akan berbahaya jika gadis itu melakukan hal aneh di dalam kamarnya lagi. Namun setelah itu, Arron malah mendapatkan hal yang sangat tidak terduga sekaligus sukses membuatnya kesal.
“T-tuan muda … bisakah kau mengantarku?” lirih Alina dengan nada pelan disertai dengan wajah yang memerah.
“Tentu saja tidak,” balas Arron singkat dengan nada kesal.
Alina menunduk lemah dan berdiam diri. Sementara Arron terus menatapnya dengan tajam. Bukankah baru saja Alina memohon untuk pergi ke toilet? Tapi kenapa sekarang gadis cantik itu malah berdiam diri dan tidak segera pergi?
Arron tak habis pikir. “Apa kau sepenakut itu?” tanya Arron kesal.
Alina diam dan tidak menjawab. Dia hanya terus menundukan wajahnya yang tengah mencebik. Kenapa seseorang sangat suka menanyakan hal yang sudah jelas? Menyebalkan! Alina juga tidak mau ditakdirkan sebagai seorang penakut. Terlebih lagi, bukankah ini salah Arron? Jika Arron membiarkannya kembali ke kediaman pelayan malam ini, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi.
Apa dia merasa jika aku senang melakukannya? Apa dia pikir jika aku sengaja? Gerutu Alina dalah hati.
Sementara Arron hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk mengantar pelayan bodohnya itu. “Cepat, jangan sampai kau berulah di dalam kamarku lagi.”
Kini, setelah mengantarkan Alina ke toilet, Arron langsung kembali masuk ke dalam kamarnya dengan Alina yang mengekorinya dari belakang. Alina merasa malu sekaligus konyol, bagaimana bisa malam ini dia meminta tuan mudanya untuk mengantarkannya ke toilet? Sungguh memalukan!
Sesampainya di dalam kamar, tanpa mengatakan apapun Arron duduk di atas sofa kemudian memejamkan matanya. Alina yang melihat itu tentu saja heran. Jika ingin tertidur, kenapa Arron tidak berbaring di atas ranjang?
“Tuan muda …,”
“Hm ….”
__ADS_1
“Maafkan aku karena telah bersikap tidak sopan kepadamu.”
“ … ” Arron tidak menjawab, dan sama sekali tidak bersuara.
“Jika kau ingin memecatku, aku siap,” ucapnya lagi yang seketika membuat Arron membuka matanya dengan sempurna.
Pria tampan bertubuh tegap itu membenarkan posisi duduknya, lalu menatap Alina dengan intens. Sementara Alina hanya bisa menunduk lemah dengan nyali yang semakin menciut. Kenapa tatapan Arron itu terasa sangat mengerikan?
“Kau menginginkannya?”
Alina menaikkan sedikit pandangannya untuk menatap Arron. Namun tatapan tajam dari pria tampan itu sukses membuatnya kembali menundukan wajah. “Hm, aku rasa jika tindakanku malam ini sudah keterlaluan. Tapi aku sungguh tidak akan melakukannya jika tidak ter-paksa ….”
"Seperti yang kau ucapkan, kau terpaksa melakukannya." Arron menatapnya tajam. “Aku akan segera meresmikan kontraknya. Kau akan benar-benar menjadi pelayan pribadiku,” ucap Arron sebelum akhirnya beranjak pergi menuju ranjang.
Benar, selama ini Alina masih tahap uji coba. Ck uji coba? Alina belum benar-benar menjadi pelayan tuan muda Ron sebelum dia bisa dipertahankan oleh Arron selama satu bulan penuh. Namun, meskipun begitu, Alina tetap mendapat gaji tetap.
“B-bukankah masa magangku baru berjalan beberapa hari saja? Aku bahkan membuat banyak masalah,” tanya Alina bingung.
“Benarkah?” Alina merasa tidak enak hati.
**
Tidak disangka, malam berlalu begitu cepat. Kini sudah pukul lima pagi, yang artinya tugas Alina telah selesai. Namun sebelum pergi meninggalkan kamar, Alina harus menunggu Arron bangun terlebih dahulu.
Tanpa alarm dari jam, tanpa sinar mentari, dan tanpa hal apapun yang membangunkannya. Arron selalu bangun di waktu yang sama. Yaitu, tepat pukul lima pagi. Sepertinya, otak dan tubuhnya sudah disetting untuk melakukan itu semua. Dia seperti robot.
Alina masih duduk di atas sofa ketika Arron mulai beranjak turun dari ranjang. Alina tidak merasa mengantuk, hanya saja kantung matanya yang semakin membesar.
“Kau boleh pergi,” perintah Arron.
Seketika itu pula Alina langsung beranjak dan menundukan kepalanya. “Terima kasih, Tuan muda.” Lalu dia mulai melangkah pergi.
“Beristirahatlah hari ini. Mulai besok, kau memiliki jam kerja yang normal.”
__ADS_1
Alina menoleh untuk menatap tuan mudanya itu. “Benarkah? Apa tidak akan berubah pikiran lagi seperti tadi malam?” tanya Alina memastikan.
Namun Arron malah mengabaikannya, dan berjalan menuju toilet yang masih berada di dalam kamarnya. Tuan muda itu!
Alina melanjutkan langkahnya untuk keluar dari kamar Arron. Kini, mansion sudah sangat terang karena lampu sudah dinyalakan. Kenapa bangunan besar seperti ini, ketika malam hari lampunya harus dimatikan? Bukankah itu sangat menyeramkan?
Gadis cantik itu berjalan menelusuri lorong dan menuruni tangga. Dia tidak langsung kembali ke kediaman pelayan, melainkan Alina pergi ke halaman belakang mansion, tempat ibunya bekerja. Tapi sesampainya di sana, Alina tidak menemukan ibunya.
“Bibi, apa kau melihat ibuku?” tanya Alina pada salah seorang pelayan yang memiliki pekerjaan sama seperti ibunya.
“Ah~ Ibumu? Dia pergi pagi-pagi sekali.”
“Pergi? Apa kau tahu kemana ibuku pergi?”
Pelayan tersebut menggelengkan kepalanya. “Tidak Alina.”
“Ah … terima kasih, Bibi.”
Selanjutnya, Alina kembali ke kediaman pelayan untuk pergi beristirahat. Dia akan mandi menggunakan air hangat lalu tidur dengan pulas. Meskipun pekerjaannya sangat ringan, namun tetap saja melelahkan. Lagi pula, malam ini akan menjadi malam terakhirnya begadang.
Aku akan tidur pulas untuk malam-malam selanjutnya. Batin Alina.
Sesampainya di dalam kamar. Alina langsung melepaskan jas, dan juga sepatu pentopel yang semalaman penuh dia kenakan. Alina duduk di depan cermin, lalu tidak sengaja melihat laci meja yang tidak tertutup dengan rapat.
“Bukankah ini adalah laci yang selalu ibu kunci? Bahkan aku tidak diperbolehkan untuk membukanya.”
Alina menatap itu cukup lama, sampai rasa penasaran hinggap ke dalam dirinya.
“Sebenarnya apa yang ibu simpan?”
Bersambung ....
***
__ADS_1
Haiii jangan lupa like, koment, dan juga vote yaaaa.