
Alina duduk di kursi taman sendirian. Sesekali dia melirik ke kanan dan ke kiri mencari seseorang. Sudah hampir dua belas menit dia menunggu namun orang yang dia tidak kunjung datang.
Tiba-tiba sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Membuat gadis cantik itu terkesiap dan langsung berpaling ke samping.
“Jino,” serunya.
Pria tampan itu memberikan satu cup drink coffe serta satu buah roti isi kepada Alina. Sesuai dengan apa yang diingunkan gadis itu.
“Apa ini cukup untuk makan siangmu?” tanya Jino.
“Ya.” Alina meraih roti isi yang Jino bawa lalu membuka bungkus dan langsung memakannya.
Alina makan dengan tergesa, hingga saus dari roti menempel pada ujung bibirnya. Jino terkekeh pelan melihat tingkah gadis di hadapannya. Bagaimana pun dia bersikap elegant di hadapan Arron, tapi dia tetap Alina yang biasanya.
“Makan dengan perlahan.” Jino menyeka ujung bibir Alina menggunakan ibu jemarinya.
Alina terdiam, membulatkan matanya dengan sempurna. Dia tertegun melihat Jino yang juga tengah menatapnya dengan intens dan dalam.
Alina langsung berpaling dan melanjutkan memakan rotinya kembali. Suasana mendadak menjadi kikuk karena adegan itu.
Dia melirik arloji pada pergelangan tangannya, lalu langsung beranjak dari sana. “Jino, aku akan melanjutkan pekerjaanku,” katanya. Dengan gusar dia melangkah, namun Jino dengan segera menghentikannya
“Alina, kau melupakan coffe-mu.” Jino menyerahkan cup coffe itu kepada Alina.
Alina langsung meraih cup coffe itu dan segera melangkah pergi dari sana. Sementara Jino hanya terkekeh pelan melihat tingkah gadis itu. Sangat menggemaskan.
“Bukankah dia seorang gadis biasa?” tanya Willson. “Dia akan beranjak dewasa dan jatuh cinta.”
Vano mendesis pelan. “Ya.” Dia berbalik lalu pergi.
Vano berjalan dengan cepat menuruni tangga. Dia pergi menuju belakang mansion dan berpapasan dengan Alina. Dia langsung menarik gadis itu untuk mengikutinya.
“Vano!” seru Alina penuh penekanan.
“Ikut aku.”
Vano menarik gadis itu masuk ke dalam kamarnya. Dia menutup pintu dan menguncinya. Kemudian melemparkan kunci itu ke sembarang arah. Alina terkesiap melihat tingkahnya.
“Kau!” seru Alina.
“Hei, apa hubunganmu dengan penjaga itu?” tanya Vano mengintimidasi.
Alina menyorot Vano tajam. “Kau gila!” Dia berjalan menuju tempat di mana Vano melemparkan kunci kamar.
Namun seketika Vano menarik pergepangan tangannya kembali. “Hei, jawab aku.”
“Apa?” Alina mendongakan wajahnya.
Seketika itu pula Vano mendaratkan bibirnya tepat pada bibir mungil Alina. Membuat gadis cantik itu membeliak tajam dan langsung terpaku.
Vano membuka matanya perlahan, menatap Alina dengan jarak yang begitu dekat. Lalu dia menarik tubuhnya, melepaskan kecupannya pada bibir Alina.
“Vano, ciuman pertamaku! Aaaaarg!” Alina memukul Vano, dia terus memukul pria yang berani merebut ciuman pertamanya.
__ADS_1
“Hanya sebuah kecupan kenapa kau begitu marah?” tanya Vano seraya terus menghindari pukulan Alina.
“Menyebalkan! Menyebalkan!”
Vano mengenggam pergelangan Alina. Membuat Gadis itu tidak bisa bergerak dan memukulnya lagi. Dia menatapnya tajam kemudian tersenyum simpul.
“Apa kau ingin aku menciumu lagi?”
Alina menghempaskan lengan Vano. Lalu berpaling dengan wajah yang mencebik kesal.
“Baiklah, baiklah. Jangan marah.” Vano mencoba membujuknya.
Namun Alina tidak bergeming. Dia masih merasa kesal atas tingkah Vano.
“Aku akan bertanggung jawab.” Dia menatap Alina. “Mulai sekarang, kau menjadi kekasihku.”
Alina berpaling, menatap Vano dengan kerutan kening yang tajam. “Apa?”
“Kau menjadi kekasihku,” ucap Vano seraya mengusap puncuk kepala Alina.
“Mimpi!” Alina mendorong bahunya, membuat Vano menjauh dari hadapannya.
Alina melangkah mendekati pintu, namun pintu masih terkunci rapat.
“Kau tidak bisa pergi,” kata Vano.
Alina berbalik, dan berjalan mendekati Vano. “Berikan kuncinya padaku.”
“Tidak.” Vano menggeleng pelan. Bibirnya tersenyum melihat Alina yang tampak kesal.
“Kau ingin keluar?” tanya Vano, dan Alina mengangguk lemah. “Dengan satu syarat.”
Alina menggerutu kesal dalam hati. Vano benar-benar mempermainkannya. Tapi dia harus tetap luluh agar bisa cepat keluar dari kamar tuan muda keduanya itu.
“Apa itu?” tanya Alina.
“Setujulah menjadi kekasihku.”
Alina menatapnya tajam penuh protes. “Tidak!”
“Alina ....” Vano mengenggam erat tangan Alina. “Jangan biarkan aku menjadi seorang pria yabg tidak bertanggung jawab.”
Alina berkerut heran. “K-kau!”
“Alina.” Vano masih memohon kepada gadis cantik itu.
“Vano, mari kita lupakan apa yang sudah terjadi.”
“Tidak bisa!” tolak Vano cepat, membuat Alina berjengit kaget. “Jadilah kekasihku.”
“Vano kau sudah gila!”
Lebih baik dianggap gila daripada harus melihatmu bersama pria lain. Batin Vano.
__ADS_1
Sebenarnya Vano sengaja melakukan hal itu hanya karena dia ingin menjaga Alina. Tidak memperbolehkan Alina dekat dengan pria yang salah.
“Terima sajalah,” kata Vano.
“Tidak.” Alina masih saja menolak.
“Kau tidak akan pernah keluar dari sini.”
Vano berjalan menuju ranjang. Menghempaskan tubuhnya kesana lalu memejamkan matanya erat. Sengaja mengabaikan Alina.
Alina menghentakan kakinya dengan kesal. Dia berjalan mendekat ke arah Vano, alu menarik lengannya agar Vano mau beranjak dari posisinya.
“Vano, ayolah. Berhenti bermain-main.”
Sementara Vano mendadak menjadi batu. Dia sama sekali tidak bergerak atau memghiraukan Alina. Vano terus saja memejamkan matanya
Alina merasa semakin kesal. Wajahnya menjadi merah padam. “Baiklah. Aku terima!”
Aku sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Batin Alina.
Secepat kilat Vano beranjak duduk. Memegang bahu Alina lalu memeluknya erat. Alina menghela napas panjang. Biarlah seperti ini. Lagipula itu Vano. Mereka sudah bersama sejak kecil, pasti Vano tidak benar-benar serius dengan ucapannya.
“Kekasihku, bekerjalah yang baik. ” Vano mengelus pipi lembut Alina.
Alina tersenyum terpaksa. “Baiklah.”
Vano langsung membuka kunci pintu, dan membiarkan Alina keluar kamar. Tanpa rasa bersalah dia tersenyum mengiringi kepergian kekasih barunya.
Sementara Alina menahan kekesalannya di dalam hati. Dia melangkah dengan cepat keluar dan menjauh dari kamar Vano. Di jalan, dia tidak sengaja berpapasan dengan Willson yang seketika menghalangi jalannya.
Rasanya Alina ingin meledak sekarang. Dia baru saja lolos dari Tuan muda kedua, dan kini malah terjebak dengan tuan muda lainya.
Dia harus menekan kekesalannya dalam hati. Alina harus bersikap seperti biasa. Dia langsung menurunkan pandangannya. “Tuan muda Son.”
Seketika Willson mendaratkan jari telunjukmya pada dahi Alina. Membuat gadis itu langsung menatapnya tajam.
“Tidak perlu formalitas.”
Alina sudah tahu ini akan terjadi. Dia manatap Vano dengan wajah kesal lalu menghentakan kakinya dan menginjak kaki Willson dengan kasar.
“Kau!” pekik Willson seraya mengiris sakit.
Alina berpaling, menabrak bahu Willson lalu melamgkah pergi meninggalkannya.
“Gadis itu!”
Menyebalkan! Gerutu Alina dalam hati.
Alina pergi menuju tempat cuci untuk menemui ibunya. Dia memiliki banyak waktu luang jika Arron tidak berada di mansion. Karena tugasnya hanyalah melayani Arron.
“Kekasih, siapa yang ingin menjadi kekasihnya!”
****
__ADS_1
Haaaaaai kangen gak? Skrg bakal up setiap harii yaaa. Jangan lupa terus dukung cerita ini.