Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Memori


__ADS_3

Alina mengerutkan dahinya halus. “Pria?”


“Ya, Pria. Karena hanya pria brengsek yang bisa melukai hati seorang wanita dan membuatnya menangis.”


Dia gila? Apakah dia berpikir jika aku menangis karena seorang pria? Gerutu Alina dalam hati. Dia tidak habis pikir dengan pria di hadapannya.


“Aku merasa sangat penasaran, pria seperti apa yang mau bersama dengan gadis sepertimu,” ucapnya sembari menatap Alina dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Rasanya, api di dalam diri Alina mulai berkobar. Pria tampan di hadapannya ini sukses membuat darahnya mendidih. Apakah dia berpikir, jika seorang wanita menangis dan itu semua disebabkan oleh pria? Apakah tidak ada alasan lain yang lebih masuk akal?


“Kau terlihat sangat biasa.”


Alina mendesis kesal mendengar itu. Lalu, dia berbalik dan menghentakkan kakinya kemudian pergi menjauh dari sana. Gadis cantik itu pergi menuju tepi danau, berdiri sangat dekat dengan danau. Dan tentu saja Willson mengikutinya.


Alina menatapnya tajam. “Kau mengikutiku?” tanyanya dengan nada sinis.


“Tentu.” Willson mengangguk mengiyakan. “Kau sedang dalam suasana hati yang tidak baik. Bagaimana jika pikiranmu kosong, lalu tiba-tiba iblis menghasutmu?”


“Kaulah iblisnya!” gumam Alina dengan nada rendah, namun masih bisa terdengar jelas oleh Willson.


Willson terkekeh pelan. “Apa aku terlihat seperti itu?”


Alina mencebik kesal dan memutar bola matanya jengah. Dia juga tidak menjawab ucapan Willson, dan lebih memilih untuk mengabaikannya saja. Tapi di sisi lain, tuan mudanya itu bertingkah konyol dan membuat Alina sedikit melupakan kesedihannya.


“Bukankah aku terlalu tampan untuk sesosok iblis?” tanya Willson lagi.


Alina berdecih malas mendengarnya.


Awalnya, Willson hanya iseng mendekati gadis kecil itu hanya karena Arron dan Vano begitu memperebutkannya. Namun sekarang, sepertinya Willson mulai menyadari jika Alina memiliki daya tariknya tersendiri.

__ADS_1


“Kau, kenapa kau menangis?” tanya Willson.


Gadis cantik itu berdehem samar. “Bukankah kau mengatakan jika aku disakiti oleh seorang pria brengsek?”  jawab Alina dengan senyuman.


Gadis ini!


Willson mendesis samar sembari menyipitkan matanya. “Sepertinya aku berubah pikiran. Karena jika dilihat dengan seksama, kau terlihat sangat tidak menarik. Tubuhmu ….”


Alina menatapnya tajam. Apa Willson juga akan mengatakan jika tubuh Alina tidak menarik? Willson akan menjadi orang ketiga yang mengatakan jika tubuh Alina memang tidak indah setelah Vano dan Arron. Menyebalkan! Apakah pria jatuh cinta kepada wanita hanya karena tubuh mereka?


Wiilson menyimpulkan senyumannya. “Tatapanmu seperti seekor kucing liar yang akan mencakar.”


“Menyebalkan!” gerutu Alina seraya mencebik kesal. Alina yang sudah terlanjur kesal itu refleks mencubit Willson tepat di bagian perutnya, membuat pria tampan itu meringis kesakitan. “Rasakan!”


“Kau berani?” pekik Willson dengan tatapan yang menyorot tajam.


“Aku sama sekali tidak takut.” Gadis cantik itu menjulurkan lidahnya.


 


Saat itu musim semi, tepat di danau ini Alina pertama kalinya bertemu dengan Vano. Meskipun Vano adalah putra terakhir keluarga Washington, tapi dialah yang lebih dulu datang dibandingkan Willson dan Allson. Jadi, Alina lebih akrab dengannya.


Ketika kecil, Alina tidak mengerti mengapa Vano lebih suka bermain dengannya di kediaman pelayan, dibandingkan bermain di dalam kediaman mewah itu. Tapi sekarang Alina mengetahui alasanya. Mungkin Vano adalah Tuan muda Washington, namun kelahirannya tidak pernah diharapkan. Dia tinggal bersama ayah yang tidak peduli padanya, serta ibu dan kakak tiri. Mungkin, semua itu asing baginya.


Dulu, Vano datang sendiri, dia tidak datang bersama dengan Monika. Kemudian tidak lama setelah kehadiranya, Willson dan juga Allson datang. Setelah kejadian itu, kediaman Washington menjadi gaduh. Anak kecil yang sama sekali tidak bisa memahami hal tersebut malah harus terseret ke dalamnya.


Willson tidak ingin diam dan menerima gadis cantik itu mencubitnya begitu saja. Dia menyerang balik Alina dengan menggelitik tubuh rampingnya. Seketika Alina tergelak kencang sembari mencoba menghindar dari Willson. Gadis cantik itu berlari menuju sebuah jembatan kecil.


Namun tiba-tiba, Willson berhasil menangkapnya dan menggelitikinya lagi. Alina terus meronta, sampai menyebabkan tubuhnya goyah dan tidak seimbang. Hal itu membuat mereka tergelincir jatuh ke dalam air.

__ADS_1


“AAAAAH!”


Keduanya masuk ke dalam danau yang cukup dalam. Beruntung Willson bisa berenang dan membawa Alina ke tepian. Jiika tidak, mereka akan tenggelam bersama dan tidak ada satu orangpun yang akan mengetahuinya. Mungkin setelah beberapa hari, tubuhnya akan mengambang. Ckck!


Mereka berdua berbaring di atas rerumputan sembari terus mengatur napas. Sesekali terdengar suara batuk dari Alina.


Lalu Alina beranjak duduk, dan melihat kondisinya yang sudah basah kuyup. “Basah!” pekik Alina kesal sembari memeras tshirtnya yang basah.


“Tentu saja, kau jatuh ke dalam air,” ucap Willson dengan napas yang terengah. “Beruntung tidak ada yang menarik kita masuk lebih dalam.”


Alina menoleh dan menatap Willson tajam. “Maksudmu akar pengikat? Apakah di dalam danau ini benar ada tumbuhan semacam itu? Tentu saja itu hanya mitos.” Gadis cantik itu terkekeh menertawai Willson yang mengada-ngada dan tidak masuk akal.


“Dulu, ketika bermain di tepi danau, para pelayan selalu mengatakan hal seperti itu,” kata Willson. “Bukankah Arron juga pernah tenggelam di danau ini?”


Seketika kekehan Alina terhenti.


“Saat itu dia sangat depresi mengenai kematian ibunya.” Vano menatap Alina lekat. Dia menyadari raut wajah gadis yang tengah duduk di sampingnya itu seketika berubah. “Mungkin saja danau ini menarik orang-orang frustasi,” ucapnya nyeleneh.


Alina masih diam, menatap nanar air danau yang terhampas luas. Angin yang sedikit kencang sama sekali tidak membuatnya menggigil kedinginan. Berbeda dengan Willson yang kini tengah memeluk tubuhnya sendiri.


“Bukankah dulu kau yang menyelamatkannya? “ tanya Willson.


Alina tersenyum tipis. “Bagaimana aku menyelamatkannya? Aku hanya seorang gadis kecil saat itu.”


“Tapi pada hari kejadian-”


“Ah~ Sudahlah. Jelas itu bukan aku. Bukankah saat itu Tuan muda Ron tengah berada dengan seorang gadis? Dia yang menyelamatkannya. Aku bahkan tidak bisa berenang, bagaimana mungkin aku menyelamatkannya?”


Willson menatapnya lekat. Jelas itu kau.

__ADS_1


Bersambung ....


Haiii aku mau up sehari 2 bab kalo gada halangan hhe. Semoga selalu suka sama ceritanya yaaaa.


__ADS_2