Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Episode 45


__ADS_3

Happy Reading ….


Arron berada di dalam ruang kerjannya. CEO tampan itu tampak serius menyelesaikan pekerjaan dengan macbook di atas meja. Tapi tiba-tiba pintu ruanganya diketuk dari luar diiringi dengan suara sekretaris cantiknya.


“Masuklah,” ucap Arron mempersilahkan.


Pintu terbuka dan sekretaris cantiknya itu masuk ke dalam ruangan sembari membawa sebuah tab di dalam pelukannya. Lalu, dia memberikan tab tersebut kepada Arron yang mana di sana tertulis jadwalnya untuk siang ini.


“Pak, sudah waktunya Anda pergi untuk makan siang. Anda memiliki jadwal makan siang bersama dengan nona Daisy.”


Arron meraih tab tersebut lalu membacanya. Dia melupakan janji temunya bersama Daisy karena pekerjaan yang terlalu banyak.


“Batalkan,” perintahnya.


“Tapi Pak, nona Daisy sedang menunggu Anda di ruang tunggu.”


Arron menghela napas lelah.


--


Arron mengajak Daisy untuk makan siang bersama di sebuah restaurant yang berada dekat dengan perusahaan. Mereka menghabiskan waktu cukup singkat ketika makan siang. Arron sengaja mempercepat waktu karena pekerjaannya yang banyak sedang menunggu. Tapi, sisa waktu itu justru Daisy gunakan untuk pergi ke sebuah toko aksesoris.


“Kakak, bantu aku memilih aksesoris,” ucap Daisy pada Arron.


Daisy memilih sebuah cepitan rambut dan meminta Arron untuk membantu memilihnya. Gadis cantik itu sibuk sendiri memilih kebutuhannya. Dan Arron, dia melihat sebuah jepit berwarna merah dengan desain simple di sana. Melihat itu, pikirannya tiba-tiba teringat akan seseorang.


“Kakak, bagaimana dengan yang ini?” Daisy memperlihatkan sebuah jepit berwarna pink berbentuk pita.


“Ya, itu cocok denganmu,” jawab Arron singkat.


“Aku akan membelinya, ini pilihanmu.” Dia tersenyum dengan senang.


Setelah itu, Arron langsung mengantar Daisy untuk pulang ke kediamannya. Di perjalanan, Daisy mengajak Arron untuk makan malam bersama lagi malam ini, tapi Arron menolak dengan alasan dia sudah memiliki janji dengan seorang klien. Tidak sampai di situ, Daisy juga mengajaknya lain hari.


Sepertinya Daisy selalu ingin menempel kepada Arron dan tidak membiarkan waktu luang untuk pria itu.


**


“Pergi untuk perjalanan bisnis? Kenapa begitu mendadak?”


Baru saja Vano menceritakan mengenai pekerjaanya kepada Alina. Di mana anak perusahaan WS yang berada di luar negeri sedang berjalan tidak lancar. Jadi, Vano ditugaskan untuk pergi dan mengurusnya sampai waktu yang tidak ditentukan.

__ADS_1


Di sela-sela perkataannya Vano terkekeh pelan dan bergumam rendah, “Aku akan segera menemukannya.”


“Apa?” tanya Alina ketika dia mendengar sama-samar kalimat yang diucapkan oleh Vano.


“Alina, kau belum membuka bingkisan yang aku berikan,” ucap Vano yang malah mengalihkan topic pembicaraan.


“Ah iya … apa ini? Apakah uang?” Alina menebak-nebak.


“Lebih berharga dibandingkan uang.”


Alina membuka kotak yang diberikan Vano untuknya. Alih-alih senang setelah melihatnya, dia malah langsung menatap Vano dengan wajah datar. Dan Vano sebisa mungkin untuk menahan gelak tawanya ketika melihat ekspresi wajah gadis itu.


“Apa ini? Mie instan?” tanya Alina.


“Fttt, ya. Lebih berharga dibandingkan uang, bukan?” jawab Vano disertai kekehan. “Aku tahu kau selalu makan dengan porsi sedikit. Sembunyikan ini dari ibumu, dan makanlah ketika tidak ada siapapun.”


Alina mencebik sebal. Sikap Vano yang menyebalkan ternyata tersirat rasa peduli kepadanya yang begitu besar. Sebenarnya Alina merasa sedih karena tiba-tiba saja Vano mengatakan dirinya akan pergi. Tapi mau bagaimana lagi, Alina tidak bisa berbuat apapun.


“Baiklah, terimakasih,” ucapnya disertai senyuman ringan.


Vano mengganti tawanya dengan senyuman. “Kau masih marah padaku karena kejadian semalam?”


“Hm … tidak. Mie instan ini cukup memperbaiki moodku.”


Vano menatap Alina yang tengah asik membaca beberapa rasa mie instans miliknya. Gadis konyol itu, Vano akan sangat merindukannya. Setelah ini Vano akan pergi, siapa yang akan menjaganya dan membuat rencana untuk mendekatkannya kepada Arron. Vano menghela napasnya panjang.


“Jaga dirimu baik-baik,” ucap Vano.


“Tentu saja.” Alina tersenyum menatapnya.


“Sebagai permintaan terakhir, bagaimana jika kau peluk aku dan berkata ‘Kakak, aku akan sangat merindukanmu. Sampai jumpa.’ Oke?”ucap Vano disertai seringai.


“Ah tidak mau! Apa itu? Memelukmu dan berteriak kakak? Tidak mau jangan harap!” Senyuman yang tadi ditampilkannya pudar. Wajahnya berubah mencebik kesal.


“Ayolah ….” Vano menggodanya seraya menyentuh perut Alina menggunakan jari telunjuknya.


“Tidak!” tolak Alina dengan keras.


“Alina ….”


“Tidak mau!”

__ADS_1


Sementara itu di luar pintu, ibu Alina berdiri di sana sejak beberapa menit yang lalu. Awalnya dia datang untuk membangunkan Alina. Tapi ternyata Vano lebih dulu datang dan menemuinya. Dia sedikit terharu dengan kebersamaan mereka. Keduannya sudah bersama sejak kecil, dan Vano begitu menjaganya.


“Kapan kau akan pergi?” terdengar suara Alina dari dalam kamar.


“Besok.”


“Besok? Itu hari kerjaku, aku tidak bisa mengantar kepergianmu.”


“Tidak perlu, takutnya kau akan menangis di bandara. Kau kan gadis cengeng,” goda Vano.


Alina mendesis pelan. “Enak saja!”


**


Waktunya makan malam, kini suasana sudah stabil, Alina sudah kembali bekerja dan menempati posisinya untuk melayani Arron. Setelah makan malam berakhir, Arron meminta Alina untuk mengambilkan barangnya yang tertinggal di dalam mobil dan Alina langsung menuruti perintah dari tuan mudanya itu.


Alina pergi kepada salah satu penjaga yang bekerja khusus mengurus mobil untuk mengantarkannya ke tempat mobil Arron. Dia mengatakan jika dirinya harus mengambil sesuatu yang tertinggal di dalamnya. Kemudian, penjaga tersebut mengantarnya dan membantu Alina untuk membuka pintu mobil.


Gadis itu mencari barang tersebut. Arron mengatakan jika barang itu sebuah kotak kecil berwarna merah. Tidak lama akhirnya Alina menemukan kotak tersebut. Lantas Ia pergi setelah berterima kasih kepada penjaga yang membantunya.


Sebuah kado? Ini pasti untuk nona Daisy bukan? Kira-kira apa isinya? Apakah kalung atau cincin lamaran? Ini pasti sangat mahal. Pikir Alina seraya terus memandangi kotak kecil tersebut.


Alina pergi menuju kamar Arron untuk memberikan kotak tersebut. Sesampainya di sana, Alina masuk ke dalam kamar setelah meminta ijin terlebih dahulu kepada pemilik kamar. Tapi ….


Kedua bola matanya membulat ketika dia melihat Arron yang hanya mengenakan bathrobe tengah berdiri di sisi ranjang, dan Alina langsung berbalik untuk menghindarinya.


“T-tuan maaafkan aku, aku akan segera keluar.”


“Tidak perlu,” ucap Arron yang sekaligus menghentikan langkah Alina.


Arron melangkah mendekati Alina yang masih membelakanginya. Lalu, dia mengambil kotak yang Alina pegang dan membuka penutupnya. Sebuah jepit berwarna merah berada di sana.


“Bagaimana?” tanya Arron ambigu.


“Ah ya … sangat indah. Nona Daisy pasti suka ketika menerimanya.” Refleks Alina mengatakannya, karena di sepanjang perjalanan hanya dia terus memikirkan kado tersebut Arron siapkan untuk Daisy.


Arron berdecak pelan. “Ini untukmu.”


Untukku?


Bersambung ....

__ADS_1


Jangan lupa like dan koment yaaaa. See you.


__ADS_2