
“Alina, panggilkan Arron untuk makan malam. Bukankah kau adalah pelayan pribadinya?” perintah Monika, yang ingin sekali Alina tolak.
Rasa canggung langsung menerjang gadis cantik itu. Memang benar, seharusnya Alina menjadi buntut Arron. Seharusnya, dia selalu berada di belakang Arron. Dan tidak seharusnya Alina berpisah dengan tuan mudanya itu.
“Baik, Nyonya,”
Alina hendak berbalik. Namun seketika Arron datang dan duduk di kursi meja makan. Alina langsung membatalkan niatnya untuk memanggil Arron. Gadis cantik itu kembali pada jajaran para pelayan. Sekilas Alina melirik ke arah Arron, yang ternyata tengah menatap tajam ke arahnya. secepat kilat Alina menundukkan wajahnya kembali.
Lord! Tatapannya seperti akan memakanku hidup-hidup. Batin Alina.
Tidak lama setelah itu, Willson dan Allson datang. Kini anggota keluarga telah lengkap, dan makanan siap untuk dihidangkan. Alina menghidangkan makanan khusus untuk Arron dengan wajah yang terus tertunduk ke bawah. Dia tidak mau menatap Arron dan lebih memilih untuk menghindarinya.
Selain menunduk, gadis cantik itu juga menolehkan pandangannya ke arah samping. Dia tidak bisa focus dengan pekerjaan yang tengah dilakukannya.
“Kau menuangkan terlalu banyak saus,” ucap Arron dengan nada dingin.
Alina langsung menoleh, melihat piring makanan milik tuan mudanya. Seketika dia tercengang melihat itu. Astaga … Alina mungkin menuangkan semua isi saus jamur ke atas steak milik Aland. Selain canggung karena telah melakukan kesalahan, Alina juga merasa malu karena semua mata tertuju padanya.
Monika hanya bisa menghela napas dan menggelengkan kepala melihat itu. Sementara Vano, Willson, dan Allson, sepertinya mereka senang melihat Alina yang bertingkah sangat ceroboh. Mereka menertawakannya.
“Maafkan aku, Tuan muda. Aku akan menggantinya,” ucap Alina.
“Tidak perlu.”
Semua orang mengira jika Arron akan kesal karena mendapati seorang pelayan yang tidak bekerja dengan bersungguh-sungguh. Namun kali ini, Tuan muda pertama itu terlihat sangat tenang. Dia bahkan tidak mau mengganti steak yang sudah banjir dengan saus jamur itu.
“Kau tidak bisa memakan steak dengan saus sebanyak itu, Arron,” ujar Monika.
“Aku tidak akan memakannya,” ucap Arron sebelum akhirnya pria tampan bertubuh tegap itu beranjak pergi dari sana, dan dia melewatkan acara makan malam.
Semua orang menatap kepergiannya. Mereka pikir, Arron tidak marah dengan kecerobohan pelayannya. Tapi sepertinya, dia merasa sangat marah. Bahkan lebih dari marah. Alina yang menatap kepergian Tuan mudanya hanya bisa meringis dalam hati, seraya terus meratapi nasibnya yang buruk.
“Sepertinya kakak sangat marah,” seru Willson sengaja untuk membuat Alina merasa ketakutan.
“Aku tidak pernah melihatnya seperti itu sebelumnya,” tambah Vano.
“Akhir-akhir ini kakak sangat sering merasa kesal.”
__ADS_1
“Sudahlah kalian, lanjutkan saja makan malamnya,” ucap Monika.
Alina hanya bisa menunduk lemah. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Sementara si kembar Willson dan Allson merasa sangat terhibur karena telah menggodanya.
“Alina, kau bisa menuangkan saus ke atas steak milikku. Milik kakak terlihat sangat menggiurkan,” pinta Willson, seraya mengangkat kedua halisnya.
Alina tahu, pasti Willson tengah menggodanya. Terlebih, dia adalah saksi ketika Alina mengumpati Arron di danau tadi siang. “Baik, Tuan muda.”
Kemudian, gadis cantik itu melangkah mendekat ke arah Willson. Dia menuangkan semua saus yang berada di dalam mangkuk khusus, lalu berkata, “Selamat menikmati, Tuan muda Son.”
Willson yang mendapati itu langsung tercengang melihatnya. Dia hanya ingin menggoda Alina, tapi gadis cantik itu malah benar-benar membalasnya. Astaga … pantas saja Arron sering merasa kesal akhir-akhir ini. ternyata kakak sulungnya itu memiliki seorang pelayan yang luar biasa.
Setelah melakukan itu kepada Willson Alina langsung pergi dari sana untuk menyusul Arron. Karena tugasnya adalah dia harus selalu berada di belakang Arron.
Vano tergelak melihat itu, terlebih melihat raut wajah Willson yang begitu menakjubkan. “Selamat menikmati, Tuan muda Son,” ujarnya dengan mengikuti gaya Alina.
Allson hanya tersenyum tipis melihat itu. “Bukankah dia menarik? Dia sangat pantas menjadi pelayan kakak.”
“Ya, kakak harus mendapatkan sedikit warna di dalam hidupnya,” tambah Vano.
Sementara Alina, kini gadis cantik itu sudah berada di depan kamar tidur Arron. Dia enggan untuk masuk ke dalam, karena Arron sepertinya tengah merasa sangat kesal kepadanya.
“Tuan muda tengah menunggmu,” ucap satunya lagi dengan nada berbisik.
Alina menelan salivanya susah payah. Mereka tidak tahu apa yang telah Alina lakukan. Alina melakukan hal yang sangat ceroboh sehingga tuan mudanya itu melewatkan makan malamnya. Selanjutnya,entah badai apa yang akan menerjangnya.
Tidak lama kemudian, pintu kamar Arron terbuka. Pria tampan itu kini sudah mengganti pakaiannya dengan mantel tidur. Alina menelan salivanya susah payah ketika melihat dada bidang yang sengaja tidak tertutup dengan rapat itu.
“Ikutlah bersamaku ke ruang baca,” perintah Arron sembari berjalan melewati Alina.
Alina mengangguk, dan langsung mengikuti langkah tuan mudanya. Gadis cantik itu mencoba mengimbangi langkah tuan mudanya. Alina ingin sedikit menebus dosanya kepada Arron.
“Tuan muda, Anda belum sempat makan malam,” ucap Alina sembari terus berjalan menyusul Arron.
Arron tidak menjawab dan mengabaikannya.
Mereka sampai pada ruang baca. Arron duduk di kursi kerjanya kemudian focus pada layar macbook di atas meja. Sementara Alina, dia berdiri tepat di samping meja kerja Arron. Menunggu Tuan mudanya itu memberikan perintah.
__ADS_1
“Tuan muda,” panggil Alina.
“Ya?” jawab Arron. Dia menolehkan wajahnya kemudian menatap Alina dengan intens.
“Anda belum sempat makan malam karena aku. Apakah Anda ingin aku membawakan makanan ke sini?” tanya Alina.
“Tidak,” balas Arron singkat.
Alina langsung mencebik mendengar jawaban tuan mudanya itu. Setidaknya, biarkan Alina untuk menebus dosanya.
“Apakah anda tidak merasa lapar?” tanya Alina lagi, namun Arron diam dan tidak menghiraukannya.
“Apakah Anda menginginkan coffe?”
Arron masih diam.
“Atau cemilan ringan?”
“Apakah Anda mengingnkan-“
“Kau diam, dan itu sudah cukup bagiku,” ucap Arron disertai dengan tatapan tajam yang sangat menusuk.
Alina langsung terdiam, dan menundukan wajahnya. Lord! Dia sangat kejam.
“Maafkan aku, Tuan muda. Tidak sepantastasnya aku bersikap seperti ini. Tapi aku berjanji untuk bekerja lebih baik lagi. Aku tidak ingin terus mengecewakanmu. Lagipula, aku akan memakan gaji buta jika seperti itu. Aku …,” cecar Alina dan masih banyak lagi. Gadis cantik itu mengutarakan segala keluh kesahnya.
Sementara dia terus saja berbicara, dia tidak menyadari jika Arron tengah menatapnya dengan sangat tajam. Padahal baru saja Arron mengatakan jika Alina cukup diam dan tidak berisik. Namun gadis cantik itu malah melakukan hal sebaliknya.
Sampai akhirnya Alina mengangkat wajah, dan menyadari itu. Tatapan itu ….
“T-tuan muda?”
Pria tampan bertubuh tegap itu menyenderkan tubuhnya, kemudian mengangkat kakinya untuk bertumpu pada kaki sebelahnya. “Kemari, mendekatlah,” perintah Arron.
Alina tertegun mendengar itu.
Apa aku melakukan kesalahan lagi?
__ADS_1
Bersambung ....
See you next chap guys.