Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Bermalam di Kamar Tuan Muda.


__ADS_3

Alina ditarik masuk ke dalam kamar Arron. Rasanya, dia tidak melakukan kesalah apapun, tapi mengapa tuan mudanya itu terlihat sedikit marah. Alina menatap bingung ketika Arron menutup pintu kamarnya sekaligus dengan kuat. Membuatnya sedikit berjengit kaget dibuatnya.


“T-tuan muda?’ seru Alina gugup.


Arron langsung berbalik ke arahnya, dan berjalan mendekat. Alina tertegun menatap tatapan tajam Arrond yang sangat menusuk itu. Dia menelan salivanya susah payah sembari terus berjalan mundur menghindari Tuan mudanya yang semakin mendekat.


Beberapa langkah ke belakang, tiba-tiba kakinya terbentur kaki sofa yang membuat tubuhnya limbung dan jatuh terduduk ke atas sofa. Alina langsung menyimpan kedua lengannya di depan dada dan memejamkan matanya erat.


“Tuan muda, apa yang kau lakukan? Apa yang aku lakukan sehingga membuatmu marah?”


“Diamlah, dan lakukan tugasmu.”


“Tugas apa? Bukankah jam kerjaku telah berakhir?” tanya Alina masih dengan mata yang terpejam erat.


Terdengar suara langkah kaki menjauh. “Tidak. Jam kerjamu masih sama seperti sebelumnya.”


Alina memberanikan diri untuk membuka matanya secara perlahan. Dia sudah tidak bisa melihat Arron yang tadi berdiri tepat di depannya. Secepat kilat Alina membenarkan posisi duduknya, dan mencari keberadaan Arron. Pencariannya berhenti pada ranjang, di mana Arron yang sudah terlelap di sana.


Aku gagal tidur nyenyak malam ini. Gerutu Alina dalam hati.


Alina menghela napas lelah, yang mana itu terdengar oleh Arron yang ternyata belum tertidur. Gadis itu! Kenapa dia berani sekali masuk ke dalam kamar dengan dua orang pria bersamanya? Apakah dia tidak mengetahui jika itu bahaya?


Tapi kenapa Arron malah mengkhawatirkannya? Ah~ Tentu saja Arron khawatir. Karena Alina adalah pelayan pribadinya, dia bekerja kepada Arron, dan secara tidak langsung menjadi tanggung jawabnya. Jika sesuatu terjadi kepadanya, maka Arron adalah orang yang akan paling dirugikan.


Tapi sepertinya Arron terlalu berpikiran berlebihan. Lagipula, kedua pria itu adalah adiknya sendiri yang tentunya tidak akan berani berbuat macam-macam yang mana akan mencoreng nama baik keluarga. Ck sialan! Kenapa mendadak pikiranya menjadi sangat tidak menentu.


Alina membenarkan posisi duduknya. Gadis cantik itu menggigit bibirnya, dan merasakan sesuatu yang sangat menganggu. Sepertinya, dia perlu pergi ke toilet untuk membuang air kecil. Dia tidak bisa menahannya lagi.


Gadis cantik itu melirik ke arah Arron yang tengah berbaring di atas ranjang. Sepertinya Arron sudah tertidur pulas. Alina dapat pergi ke kamar mandi sebentar tanpa diketahui olehnya. Selanjutnya, Alina beranjalan mengendap menuju pintu kamar. Dia membuka pintu namun seketika langkahnya terhenti ketika melihat isi mansion yang sudah gelap gulita. Secepat kilat Alina langsung menutup pintu tersebut dengan rapat.


Lord! Kenapa hari ini aku mendapatkan kesialan yang bertubi-tubi! Gerutu Alina kesal.

__ADS_1


Sementara Arron yang belum tertidur tengah memperhatikan Alina dari tempatnya. Gadis cantik itu tampak kebingungan sembari terus berdiri di depan pintu kamar. Arron sengaja tidak memanggilnya, dan bertanya apa yang tengah dia lakukan. Arron ingin melihatnya sendiri.


Alina mencoba berjalan mondar mandir hanya untuk menahan rasa ingin membuang air kecilnya. Damn! Padahal sebelumnya dia tidak pernah merasakan semua ini. Alina tidak pernah keluar kamar dan pergi ke toilet pada malam hari. Dia adalah gadis yang sangat penakut.


Aku tidak bisa menahannya lagi!


Gadis cantik itu berjalan cepat menuju pintu kemudian membukanya. Namun setelah menihat suasana yang begitu gelap, keberanian yang sudah dia kumpulkan sejak beberapa menit yang lalu mendadak hilang. Nyalinya kembali menciut.


Apakah aku harus menggunakan toilet tuan muda? Tapi tetap saja aku merasa takut. Jika di dalam kediaman pelayan, ibu selalu mengantarku pergi ke toilet. Batin Alina.


Dengan langkah yang lebar, Alina kembali duduk di atas sofa dan berusaha sekuat mungkin menahan rasa itu. Alina tidak yakin jika dia bisa menahanya semalaman penuh. Masih ada beberapa jam sebelum pagi. Betapa sialnya dia!


Aku tidak bisa menahanya lagi! Terpaksa aku harus menggunakan toilet tuan muda. Semoga saja dia tidur seperti tupai yang tengah hibernasi.


Alina berjalan kembali dengan mengendap-endap. Sebelum memakai toilet yang berada di dalam kamar tuan muda, alangkah baiknya jika dia memeriksa si pemilik agar tidak tertangkap basah. Karena hal yang mendesak itu, Alina memberanikan diri untuk naik perlahan ke atas ranjang milik Arron.


Arron tentu saja tidak bisa tidur setelah dia melihat tingkah Alina yang sangat aneh. Tuan mudanya itu masih terjaga walau dengan kedua mata yang terpejam. Kini, dia juga merasakan jika seseorang tengah naik ke atas ranjangnya.


Alina menggerakan sebelah telapak tangannya tepat di depan wajah Arron, untuk memastikan jika tuan mudanya itu benar-benar sudah terlelap. Alina berpikir, jika Arron memang sudah tertidur pulas. Karena tuan mudanya itu tidak melakukan gerakan apapun.


Gawat!


Secepat kilat Arron membalikan posisinya. Dia menarik lengan Alina hingga tubuh ramping gadis cantik itu ambruk berbaring ke atas ranjang, sementara Arron dengan sigap menindihnya agar Alina tidak bisa pergi kemana pun.


“T-tuan muda … aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin memastikan-” Dia mengehentikan ucapannya dan tertegun ketika melihat sorot mata tajam Arron.


Gadis cantik itu mencoba mendorong tubuh Arron menjauh, namun tentu saja usahanya akan sia-sia. Karena Arron adalah pria, dan memiliki tenaga yang lebih kuat darinya. Sementara di sisi lain, Alina juga tidak tahan untuk segera pergi ke toilet.


“Tuan muda, tolong ijinkan aku pergi ke toilet, dan setelah itu aku akan menjelaskan semuanya.”


“Benarkah?” tanya Arron memastikan.

__ADS_1


“Tentu saja, aku tidak akan berbohong. Aku sangat takut ….”


“Apa kau berpikir jika aku akan melepaskan seseorang yang berani naik ke atas ranjangku begitu saja?”


“Tolong percaya kepadaku, aku tidak bermaksud melakukannya.”


“Kau memiliki bukti?” tanya Arron mengintimidasi.


Alina terdiam. Bukti? Bukti apa?


“Kau terdiam,” ucap Arron.


Alina tertegun. Setidaknya Arron membiarkannya duduk dengan posisinya yang pantas. Jadi Alina bisa sedikit berpikir jernih. “Aku tidak berbohong, tolong ijinkan aku pergi ke toilet sebentar.”


“Tidak ada jalan keluar di toilet, kau tahu itu?”


“Aku tidak akan kabur, aku hanya ingin-” Lagi. Ucapannya tercekat. Sangat memalukan jika Alina berkata dia sudah tidak bisa menahanya lagi. Tanpa melanjutkan ucapannya, gadis cantik itu malah menggigit bibir bagian bawahnya, dan tentunya hal itu membuat Arron semakin berpikir macam-macam.


“Apa tujuanmu naik ke atas ranjangku?”


Sambil terus menggigit bibir bagian bawahnya, Alina menggeleng samar. Matanya membeliak seperti akan keluar, dan keringat membasahi pelipisnya. Perasaanya bercampur aduk antara pergi ke toilet atau takut kepada Arron yang tengah mengintimidasinya.


“Jawabannya sudah jelas.” Arron membawa kedua tangan Alina ke atas kepala, dan menahannya. “Untuk apa kau bersikap seperti itu? Apa kau ingin menggodaku?”


Damn! Sangat percaya diri sekali! Gerutu Alina dalam hati.


“Bagaimana jika aku bersedia masuk ke dalam permainanmu? Kau akan menjadi pelayan yang beruntung karena sudah bermalam dengan tuan muda. Bagaimana?”


TIDAK MAU! AKU AKAN RUGI!


***

__ADS_1


Bersambung ....


Jangan lupa like, koment, dan juga vote yaaa. See you.


__ADS_2