Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Episode 39


__ADS_3

Enam belas tahun yang lalu. Seorang pria datang ke kediaman Monika. Wanita yang tak lain adalah nyonya Washington saat ini.


Pria tersebut datang dengan membawa seorang gadis kecil berusia tiga tahun. Gadis yang sangat cantik dan manis.


Vano yang saat itu masih berusia 10 tahun diminta Monika untuk menemani gadis kecil bermain. Sedangkan Monika tengah mengobrol bersama pria tersebut yang Vano sendiri tidak mengenalinya.


Hari itu juga. Pria yang mengantarkan gadis kecil dengan nama Alina Zeto Frakiya itu pergi meninggalkan kediaman. Meninggalkan Alina sendiri.


Selama beberapa jam, gadis kecil itu terus menangis. Vano dan Monika bersikeras untuk membuatnya berhenti. Vano mengajaknya bermain, dan Monika melakukan apapun untuk membujuknya.


Setelah beberapa jam, mungkin dia terlalu lelah untuk melanjutkan tangisannya. Alina terlelap, dan Vano terus berada di sisinya.


Meskipun dia baru saja bertemu dengan gadis kecil itu, tapi dia sudah begitu menyukai dan begitu menjaganya. Vano senang karena dia memiliki teman bermain.


Saat kecil, Vano berpikir jika Alina hanya akan berada di rumahnya hingga sore hari. Mungkin, dia akan pergi dan dijemput oleh ayahnya ketika hari menjelang sore. Tapi, siang berganti sore, dan sore berganti malam. Ayahnya tidak kunjung menjemputnya.


Satu minggu berlalu, Alina terua berada di kediamannya. Selama itu, tidak ada satu orangpun yang datang untuk menjemputnya.


Vano heran, kenapa gadis kecil itu terus berada di rumahnya.


Sampai satu hari seorang wanita datang untuk gadis kecil itu. Vano sempat salah paham karena mengira jika wanita itu adalah ibu Alina yang datang untuk menjempunya pulang. Ya, wanita itu memang ibunya Alina dan datang untuk membawanya. Tapi tidak pulang ke rumah. Samar Vano mendengar, jika Alina akan di bawa ke tempat yang jauh. Hingga satu orang pun tidak akan ada yang bisa menemukannya.


Saat itu, Monika dan wanita tersebut bertengjar hebat memperebutkan Alina. Monika merasa jika kini Alina adalah tanggung jawabnya. Karena pria yang datang hari itu telah menitipkan Alina padanya.


Semuanya berlalu. Wanita itu pergi, dan Alina tetap bersama dengan Vano dan Monika.


Hingga satu minggu kemudian. Monika mengajak Vano ke sebuah rumah besar. Tiba-tiba dia dipertemukan dengan pria yang merupakan ayah kandungnya. Vano tidak tahu apa yang pria itu dan ibunya bicarakan. Saat itu dia masih terlalu muda untuk mengerti semuanya.


Setelah kepulangannya mereka. Monika berkata jika Alina tidak bisa tinggal lebih lama lagi. Alina harus pergi. Monika mengatakan jika Alina akan peegi ke tempat di mana dia akan mendapatkan banyak teman.


Vano yang sudah sangat terikat dengannya, dan bahkan menganggap Alina sebagai adiknya sendiri. Dia tidak mau Alina pergi. Terlebih lagi Alina akan dikirim ke sebuah panti asuhan. Dia tidak rela.


Tapi, mau bagaimana lagi? Saat itu, Monika tidak memiliki cara lain selain mengirimnya. Karena jika tidak, Hans Washington akan mencurigai keberadaan gadis kecil itu. Dia takut jika Hans WS menuduhnya melakukan perselingkuhan di belakangnya.


Vano terus menolak. Dia tidak ingin meninggalkan Alina atau ditinggalkan oleh gadis kecil itu. Dia sudah sangat menyayanginya layaknya adiknya sendiri.


Monika pun tidak bisa berbuat apapun. Akhirnya, dia harus memikirkan cara agar terus bisa memantau Alina dari dekat.

__ADS_1


Hingga di pagi hari berikutnya. Monika membujuk Vano agar mau dipisahkan dengan Alina untuk beberapa waktu. Tidak lama. Vano hanya harus menunggu beberapa tahun saja. Dan setelah itu, dia akan kembali dengan Alina.


Setetelah diiming-imingi, akhirnya Vano setuju. Tapi dengan cacatan jika dia akan bertemu dengan Alina lagi.


Dan ... akhirnya hari itu tiba. Setelah menunggu beberapa tahun, akhirnya Vano bisa bertemu dengan gadis kecil itu lagi meskipun, gadis itu sama sekali tidak mengingatnya.


Alina tidak tahu kenapa alasan Vano selalu mendekatinya, menjaganya, dan melakukan yang terbaik untuknya. Dia sudah menganggap Alina sebagai adik perempuannya.


Meskipun awalnya Vano merasa sedih ketika mengetahui Alina hanya seorang pelayan di kediaman WS. Tapi setidaknya, dia bisa terus bersama gadis kecil itu.


****


Kembali ke dalam kamar Vano. Di mana dua orang itu masih berdebat dengan keinginan mereka masing-masing.


"Kau ingin memakainya atau tidak?" tanya Vano seraya menatap tajam gadis cantik yang tengah memprotes di hadapannya.


"Tidak." Dia masih menolak dengan sangat keras.


Vano mendengkus kesal. Betapa keras kepalanya dia!


Dari raut wajahnya yang kesal, tiba-tiba saja Vano mengubah raut wajahnya menjadi sangat menyedihkan. Dia juga menganggam kedua telapak tangan Alina, membuat gadis cantik itu terkesiap seketika.


"Kenapa aku harus membntumu?" tanya Alina seraya menatap wajah Vano dengan sinis.


"Kau tahu model cantik itu? Daisy? Sejak kecil aku begitu mengagguminya. Tapi dia selalu menempel pada kakakku."


Alina mengerti sekarang.


"Jadi, kau ingin menguntit mereka?" tanyanya masih dengan nada yang normal. "Tapi kenapa kau harus mengajakku?" tanyanya lagi sinis dan penuh penekanan.


"Ayolah. Kau kekasihku. Jika perlu, kita bisa menghampiri mereka dan makan malam bersama," ucapnya enteng.


Bibir mungil itu menganga lebar seketika. "Apa kau gila? Makan malam bersama t-tuan muda Ron?"


"Ayolah ... bukankah kakak sudah tahu jika kau adalah kekasihku?"


Tapi dia melarangku untuk berdekatan denganmu. Pikir Alina.

__ADS_1


"Kau tidak menganggapku sebagai sahabatmu?"


"Kau macam-macam saja!"


"Kita hanya perlu memantau dari jauh. Jika ketahuan, terpaksa bergabung bersama mereka, bagaimana? Aku berjanji, mereka tidak akan melihat kita,"bujuk Vano.


Alina berdecak malas. "Baiklah."


Pria tampan itu tersenyum puas mendengarnya.


Karena Alina telah setuju, Vano langsung memberikan dress yang sengaja dia belikan untuk Alina agar gadis cantik itu segera memakainya. Vano juga memanggil MUA khusus yang berada di kediamanya. Sebenarnya, MUA itu adalah milik pribadi Monika. Vano hanya akan meminjamnya sebentar.


Setelah semuanya siap. Mereka siap untuk pergi ke sebuah restaurant di mana Arron dan Daisy makan malam bersama.


***


Sebenarnya, Vano melakukan ini bukan untuk dirinya, melainkan untuk Alina. Sejak awal, dia melakukan semuanya untuk Alina. Termasuk acara liburan bulan lalu.


Vano tahu, Arron mau berdekatan dengan Daisy hanya karena dia menganggap Daisy sebagai penyelamatnya saat tenggelam saat mereka masih kecil. Padahal, gadis kecil yang menolongnya adalah Alina. Bukan Daisy. Maka dari itu, Vano berusaha mendekatkan mereka. Untuk Arron, agar dia tidak menyesal di kemudian hari.


"Kenapa kau memberikanku dress seperti ini? Bukankah ini terlihat sangat pendek?" protes Alina seraya terus menarik dress yang hanya menutupi sebelah pahanya itu.


Kini, mereka sudah duduk bersama di dalam mobil. Dan Vano tengah fokus mengemudikannya.


Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di parkiran sebuah restaurant. Vano dan Alina melihat jika Arron juga baru saja sampai. Pria itu tengah membukakan pintu untuk wanita cantik yang datang bersamanya.


" Apakah kita tidak akan ketahuan?" tanya Alina takut.


"Kau tenang saja," balas Vano.


Tapi, seketika pandangan Arron tertuju pada mobil Vano yang terparkir dua mobil dari mobilnya. Lord! Dia menuju kemari.


"Kau-" Alina mencebik kesal.


"Aku lupa mengganti mobilku!"


Bersambung .....

__ADS_1


Haiii aku kembali ....


__ADS_2