
Happy Reading ....
***
Semua mata tertuju pada Vano yang tiba-tiba saja berbicara dengan sembarangan. Apa katanya? Perencanaan hari pertunangan? Apa dia gila?
Dengan perasaan yang kesal, refleks Alina mencubit lengan Vano. Itu menyakitkan. Tapi, Vano berusaha sekuat mungkin untuk menahannya. Dia tidak ingin Arron ataupun Daisy melihat ekspresi kesakitannya.
Vano mengabaikan Alina yang tengah kesal di sampingnya. KIni, dia malah mengulurkan lengannya, merangkul bahu Alina dengan sengaja.
Alina langsung menoleh, membeliak menatapnya.
Vano tersenyum. Kemudian, dia memajukan wajahnya, dan berhenti tepat di depan telinga Alina.
"Bantu aku sekali lagi. Buat Daisy cemburu, oke?" bisik Vano yang terdengar meyakinkan.
Alina sangat ingin menolaknya, mendorong tubuhnya menjauh, lalu berteriak 'JIKA KAU MENYUKAINYA, LANGSUNG DEKATI SAJA DIA! TIDAK PERLU MELIBATKANKU!' Sialnya, dia tidak bisa melakukan itu saat ini.
Vano menarik tubuhnya kembali. Menatap Alina dengan senyuman yang terpampang pada wajah tampannya.
"Benarkah kalian sudah merencanakannya?" tanya Daisy.
"Tentu saja. Tapi, karena Alina baru saja lulus dari sekolah, kami akan sedikit mengundurnya. Mungkin ... sekitar dua tahun lagi."
"Baguslah," timpal Daisy.
Sementara Alina hanya menundukan wajahnya dengan mau. Dia juga tidak mau mendengarkannya. Kupingnya akan menjadi terbakar nanti.
Di sisi lain, Arron yang mendengar semua itu sama sekali tidak mau menggubrisnya, ataupun memberi selamat kepada adik keempatnya. Padahal, Arron seharusnya bahagia.
Vano yang merupakan dalang dari ini semua, menatap Arron dan Alina secara bergantian. Yang satu hanya menunduk lemas, dan satunya lagi hanya menampilkan wajah dingin tanpa ekspresi.
"Kak, bagaimana menurutmu? Apaka aku boleh menikah dengan asisten pribadimu?"
Vano mulai lagi dengan pertanyaan gilanya.
"Apa kau sudah selesai? Aku akan menunggumu di mobil," ucap Arron pada Daisy, dia sama sekali tidak
memperdulikan pertanyaan yng diajukan oleh Vano.
Arron beranjk pergi dengan Daisy yang langsung mengikuti langkahnya. Kini, dia meja hanya ada Vano yang tersenyum ketika meliihat wajah dingin kakak pertamannya, dan Alina ang langsung bisa bernafas lega.
Akhirnya semua ini telah berakhir.
"Vano!!!" geram Aline seraya mencubit lengan bagian atas vano.
"A-alina, apa yang kau lakukan? Ini menyakitkan!" ringis Vano seraya mencoba melepaskan cubitan Alina pada lengannya.
"Apakah ini sakit? Apa sakit, hah?"
Bukannya melepaskan cubitan itu, Alina malah semakin kencang mencubit lengan Vano.
__ADS_1
"Apakah ini sebanding dengan rasa malu yang aku alami?" tanya Alina dengan kesal. "Kau membuatku tidak memiliki wajah malam ini. Apa kau tahu itu?"
"Baiklah, baiklah, aku tahu aku salah. Maafkkan aku, oke?" pinta Vano memeas.
Cubitan Alina terlepas. Gadis cantik itu berpaling menghindari Vano dengan raut wajah kesalnya.
"Kau tidak aka memaafkanku?" tanya Vano.
Namun, Alina malah diam dan membisu. Gadis lincah dengan sejuta kata-kata jika berbicar itu kini hanya terdiam, dan tidak menanggapi Vano sedikitpun.
Dia benar-benar marah. Pikir Vano.
Tapi, bukan Vano namanya jika tidak bisa membujuk Alina yang tengah merajuk.
Malam ini, dan untuk yang kedua kalinya Vano mendekatkan wajahnya di depan telinga Alina.
"Hei, apa kau melihatnya? Wajah cemburu Daisy?" tanya Vano.
Alina membuang napas kasar setelah mendengar itu. Cemburu?
Dia langsung berbalik, menatap vano dengan tatapan super malas.
"Cemburu? Apa kau tidak melihat bagaimana dia membuntuti tuan muda Ron?"
"Benakah? Jadi dia tidak cemburu?" tanya vano sengaja.
Setidaknya Alina yang berbicara ketika marah lebihh baik daripada Alina yang diam dan sama sekali tidak menghiraukannya.
Alina memutar bola matanya malas.
APA?
***
Sudah cukup menganggu Alina. KIni, waktunya untuk mengantarkannya pulang.
Mobil mewah itu terhenti tepat di depan mansion. Beberapa penjaga berpakaian jas rapih langsung membukakan pintu mobil.
Tanpa mengatakan satu patah katapun, Alina langsung pergi ke halaman belakangdan berjalan menuju pavilium belakang. Sementara Vano yang melihatnya hanya tersenyum tipis seraya menggeleng pelan. Gadis itu.
Alina yang biasanya takut ketika berjalan sendirian di halaman belakan pada waktu malm, kini dia tidak merasakan apapun karena kemarahannya pada Vano. Dia berjalan di taman itu dengan lancar.
Tapi tiba-tiba saja ....
"AAAAAAAAH!!!" Dia berteriak sangat kencang seraya memejamkan kedua matanya erat.
Tiba-tiba saja seseorang membekap mulutnya, dan seketika membuat Alina membeliakan matanya bulat.
"Ini aku," ucap seorang pria dengan nada rendah.
Alina mencoba melihat siapa ituengan jelas. Dia mengerutkan keningnya. Jino?
__ADS_1
"Teriakanmu akan membangunkan semua orang di kediaman ini," imbuh Jino seraya melepaskan bekapan tangannya pada bibir Alina.
"Kau? Apa yang sedang kau lakukan di sini? Kau mengaggetkanku," protes Alina.
Dia baru saja pulang dari acara yang sangat membuatnya kesal. KIni ditambah dengan Jino yang tiba-tiba saja muncul dan mengagetkannya.
"Kau baru kembali?" tanya Jino.
Tapi, Alina sedang tidak ingin menjawabnya.
JIno yang merasa atmosfir malam ini berbeda, langsung memikirkan cara untuk mengubah topik pembicraanya dengan Alina. Dia lebih baik tidak bertanya lagi.
Pria tampan itu berdeham samar. "Mau aku antar?" ucapnya menawarkan.
Setelah dikagetkan olh Jino, Alina merrasajika malam ini begitu dingin dan gelap. Terlebih lagi jarak menuju pavilium masih lumaan jauh. Mendadak, jiwa penakutnya kembali hadir.
Alina menatap Jino. "Baiklah."
Jino tersenyum senang mendengar itu.
Kemudian, mereka berdua berjalan beriringan i bawah gelapnya malam. Beberapamenit hanya ada keheningan di antara mereka berdua. Alina yang tadinya pandai berbicara, kini hanya terdam tanpa kata. membbuat Jino bingung ingin membuka percakapan dari mana.
Jino, berpikirlah!
"Dari mana saja kau? Aku baru melihatmu lagi," ucap Alina. Akhirnya, gadis cantik itu membuka suara juga.
"Urusan pekerjaan. Tuan muda Ron memintaku untuk berjaga di perusahaan."
Alina menatap JIno disertai kerutan halus di dahinya. "Bukankah kau adalah pengawal pribadi tuan muda pertama? Kenapa tiba-tiba kau harus berjaga di perusahaan?" tanya ALina heran.
"Aku hanya menjaga ketika tuan muda bekerja saja," lugas Jino.
"Lalu siapa yang menjaganya ketika di kediaman?" tanya Alina penasaran.
"Apa kau tidak pernah melihatnya? Seorang pria bertubuh tegap yang biasa mengemudikan mobilnya," jawab JIno memberitahu.
"Apa?" pekik Alina terkejut. Hampir saja Jino membekap mulutnya lagi.
"Pria itu?" tanya Alina berbisik.
Kenapa tiba-tiba selera tuan muda berubah? Pria yang biasa mengantarnya lebih cocok menjadi supir dibandingkan menjadi seorang bodyguard. Pria itu bisa dibilang sudah berumur. Awalnya Alina pikir jika pria itu hanya sekedar supirnya saja.
"Kau jangan meremehkannya. Pria itu adalah mantan atlet tinju terbaik."
"Benarkah?" Alina menatap Jino penuh ragu.
"Ya. Tuan muda tidak akan salah memperkerjakan orang."
Alina menganggukan-anggukan kepalanya, mencoba untuk mengerti dengan perkataan Jino.
Padahal, setahu Alina, tuan muda pertamanya itu adalah seorang pria yang rumit dalam hal pribadinya. Asisten, pengawal, pekerja rumah yang biasa membersihkan kamarnya saja harus dia yang memilihnya sendiri. Tapi kali ini sepertinya tuan muda Ron telah berubah.
__ADS_1
Bersambung ....
Jangan lupa like dan juga koment yaaa, see youuu....