Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Episode 35


__ADS_3

Alina sangat ingin berteriak, tapi satu lengan membekap mulutnya. Sebelum dia bisa melihat siapa orang yang sudah memperlakukannya seperti itu, dia malah tidak sadarkan diri.


Gadis bodoh.


Pria itu menggendong tubuh ramping Alina, lalu membawanya ke dalam kamar. Dia membaringkan tubuh Alina di atas ranjang lalu menyelimutinya.


Gadis bodoh itu malah memberikan kamarnya kepada orang lain, dan dia berdiri sepanjang malam di luar kamar tanpa melakukan apapun.


Dua menatap wajah cantik Alina dengan Intens. Gadis cantik yang tengah tidak sadarkan diri itu. Kemudian, dia menyentuh lembut pipi Alina menggunakan jemarinya. Secara tidak sadar dia mendekatkan wajahnya pada wajah Alina lalu memberikan ciuman singkat pada bibir mungil gadis cantik itu.


****


Sinar mentari yang menyeruak masuk dari sela gorden yang tidak ditutup dengan rapat, membuat Alina terbangun dari tidur pulasnya. Ia membuka mata perlahan, mengerjap beberapa kali, dan mencoba beradaptasi dengan sinar mentari.


Alina tertegun ketika menyadari dia tertidur tidak di dalam kamarnya sendiri. Iitu bukan kamarnya, tapi kamar orang lain. Dia sangat ingat kejadian tadi malam, ketika seseorang mengejutkannya sampai dia tidak sadarkan diri. Siapa orang itu?


Alina menoleh dan melihat ke sisi ranjangnya, seketika dia terkejut ketika melihat Arron tengah terlelap di sampingnya.


“AAAAAAH!” teriak histeris.


“Sangat berisik!”


Alina langsung beranjak dari tempat tidurnya, dia menutupi tubuh dengan selimut tebal. Tatapannya menatap Arron penuh selidik.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Arron menatap ke arah Alina yang tiba-tiba menarik selimutnya.


“Tuuan muda Ron, bagaimana bisa aku tidur di sini bersamamu?” tanyanya gugup


Arron menatapnya tajam tingkah Alina seolah menunjukkan jika ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua. Padahal, tadi malam Alina tidak sadarkan diri, dan Arron hanya membawanya ke dalam kamar, lalu tidur disampingnya. Tdak lebih dari itu. Mungkin, hanya ciuman kecil yang dia berikan sevelum tidur.


Melihat tatapan Arron yang seperti mengintimidasinya, Alina secepat kilat beringsut turun dari ranjang, kemudian melangkah keluar dari kamar tuan muda pertamanya itu.


Alina melangkah menuju kamarnya sendiri. Dia membuka pintu lalu mencari keberadaan Vano. Tapi kamar itu sepi, tidak ada Vano di sana.


“Vano.” Dia berteriak, mencari Vano di dalam kamar serta toilet. Namun alhasil, tidak ada Vano di sana.


Tapi Alina tidak ingin berhenti mencari, dia langsung melangkah keluar kamar dan menuruni anak tangga menuju lantai satu. Alina pergi ke ruang tamu, namun di sana dia juga tidak menemukan siapapun.


Suasana Villa mewah itu mendadak sepi, sepertinya tidak ada orang lain selain dirinya. Tapi tak lama kemudian, seorang pelayan berjalan melewatinya, dan Alina langsung menghentikan pelayan itu untuk bertanya.


“Kemana perginya semua orang?” tanya Alina heran.

__ADS_1


“Nona, tiga tuan muda dari kediaman Washington serta beberapa gadis sudah pergi meninggalkan Villa beberapa jam yang lalu,” jawab pelayan tersebut.


Alina menyalang takjub mendengar itu. Dia tertegun, dan tidak tahu harus berbuat apa. Bagaimana bisa Vano meninggalkannya sendirian di sini bersama Arron?


“Baiklah, terima kasih,” kata Alina, kemudian pelayan tersebut pergi meninggalkannya.


Mereka semua meninggalkanku?


Alina duduk lemas di atas sofa ruang tamu, pandangannya kosong dan tidak bisa berbuat apapun. Kini dia sendiri terjebak di villa ini, dan hal yang paling mengejutkan, dia terjebak bersama Arron.


“Spa yang kau lakukan?” Suara itudingin menembus indra pendengaran, dan seketika membekukan pikiran.


Perlahan Alina menoleh ke rah tuan muda yang tengah berjalan, kemudian duduk di sofa tepat di hadapannya.


“Semua orang semua orang telah kembali,” kata Alina pelan.


“lalu?”


Alina terdiam. Bukankah respon Arron itu terlalu biasa saja? Apakah dia tidak terkejut ketika semua orang pergi meninggalkannya?


Alina tersenyum terpaksa, dia tidak tahu harus menanggapi perkataan Arron seperti apa. Dia hanya bisa terdiam sejenak, menatap Arron yang sibuk dengan layar tab miliknya.


“Tuan muda Ron, kapan kita akan kembali?” tanya Alina dengan nada pelan.


“Lalu kapan Tuan Muda ingin kembali?” tanya Alina lagi.


Aaron tidak menjawab pertanyaan Alina, dia hanya fokus dengan layar tablet yang tengah digenggamnya. Sementara gadis cantik itu hanya bisa menahan kesal atas tanggapan tuan muda pertama.


Sampai kapan aku harus terjebak di sini denganmu? Gerutu Alina dalam hati.


“Bersiaplah, temani aku bermain tenis,”kata Arron seraya beranjak pergi dari sana.


Alina berkerut kening mendengar perintah tuan mudanya itu. Tenis? Bukankah kemarin Arron baru saja bermain? Dan lagi pula, Alina tidak bisa bermain tenis. Apakah dia benar-benar menjadikan Alina lawan mainnya?


“Tapi Tuan Muda-” Belum sempat Alina mengatakan sesuatu Arron sudah berlalu pergi jauh meninggalkannya.


Gadis cantik itu menghela napas lelah.


***


Alina tidak menyangka jika hal ini benar-benar terjadi. Kini dia tengah berada di lapangan tenis dengan Aaron yang akan menjadi lawan mainnya. Ini adalah pertama kali Alina memegang raket selama hidupnya.

__ADS_1


Aaron mulai melemparkan bola lalu mengayunkan raket, dan memukul bola itu kearah Alina. Sementara yang dilakukan Alina bukan memukul kembali bola tersebut, tapi dia malah berlari menghindarinya.


“Bermain yang benar!” teriak Arron pada pelayan kecilnya itu.


“Tapi aku tidak bisa bermain.”


Alina mengeluh, tapi Aron tidak menghentikan permainannya. Arron malah terus memukul bola tenis ke arah Alina, membuat gadis cantik itu berlari ke kanan dan ke kiri untuk menghindari beberapa bola yang dipukul oleh Arron.


Terik matahari membuat peluh menetes membasahi pelipis Alina. Rambut yang dikuncir kuda itu sudah mulai berantakan, dan helai demi helai melepaskan diri dari ikatannya.


Sudah beberapa menit berlalu semenjak permainan mereka dimulai, tapi Alina belum berhasil memukul bola satupun. Dan Arron tidak menghentikan permainannya meskipun dia tahu jika Alina tidak bisa bermain bola tenis.


“Kau kemari lah.” Tunjuk Arron pada Alina.


“Aku?” tanya Alina pada dirinya sendiri. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, tidaka da orang lain di sana selain dirinya.


Alina berjalan mendekati tuan muda pertamanya. Arron memintanya berdiri di hadapannya, kemudian dia mulai mengajarkan Alina cara memegang raket dengan benar.


Alina tertegun. Posisinya saat ini sama persis dengan posisinya dengan vanno kemarin, saat Vano mengajarinya bermain tenis.


“Perhatikan pergelangan tanganmu,” ucap Arron seraya mengarahkan Alina.


Jika seperti ini, bagaimana mungkin Alina bisa belajar bermain tenis. Mungkin, jika yang mengajarinya adalah orang lain, bisa saja Alina akan cepat menguasai permainan. Tapi ini Arron yang mengajarinya. Itu malah membuat Aline semakin gugup dan pikirannya akan kacau balau.


Tuan muda memeluk tubuhnya dari belakang, menyentuh lengannya pada saat mengajarinya bermain tenis. Semua itu membuat jantung Alina berdegup sangat kencang.


“Apa kau sudah mengerti?” tanya Arron. “Kau adalah pelayan pribadiku, untuk hal seperti ini tentu kau harus menguasainya.”


Alina mengangguk mengerti.


“Sekarang, cobalah.”


Arron memberikan bola kepada Alina untuk dipukul menggunakan raket. Dia melempar bola itu, lalu menggerakkan raket sesuai dengan arahan Arron sebelumnya. Alina berhasil, memukul bola itu dengan benar.


“Wah ....“ Dia berteriak histeris.


Seketika Alina berteriak girang dan refleks memeluk Arron karena terlalu senang dengan pencapaiannya hari ini.


Tunggu ... aku ... apa yang telah aku lakukan?


*****

__ADS_1


Haihaihai jangan lupaaaa like koment yaaa.


__ADS_2