
Happy Reading ….
Jam makan siang tiba. Sesuai permintaan Arron, hari ini Alina akan pergi ke perusahaan untuk mengantarkan makan siangnya. Setelah selesai menyiapkan kotak makan, Alina terlebih dulu menelpon Vano karena tadi pagi dia tidak sempat berbicara dengannya.
“Vano?”
‘Sudah mengingatku sekarang?’ tanya Vano dari seberang sana.
“Ada apa kau menelponku pagi-pagi sekali?”
'Apa sekarang kau sedang bersama Arron?'
“Tidak,” jawab Alina cepat.
'Aku pikir kau sedang berduaan dengannya,' goda Vano.
“Seriuslah.”
‘Baik baik. Alina, apa kau sudah membuka kotaknya?’
“Ya, aku sudah membukanya. Siapa orang di dalam foto itu?”
‘Papamu.’
“Hah?”
‘Apa ibumu tidak memberitahumu?’
Alina terdiam sesaat. Setelah membuka kotak yang diberikan Monika, Alina hanya melihat isinya. Dia tidak mendengar apapun selain ibunya terus saja bergumam aneh, lalu Alina meninggalkannya pergi bekerja. Dia tidak sempat mendapatkan jawaban atas beberapa foto itu.
Panggilanya langsung terputus. Vano mencoba menghubungi Alina lagi namun tidak ada jawaban dari gadis itu. Sementara Alina tengah berjalan cepat menuju kamar, mengambil kotak dan melihat beberapa lembar foto di dalamnya.
“Bagaimana mungkin? Papa?” gumamnya rendah. “Ibu!”
Dia berlari menuju tempat kerja ibunya. Sesampainya di sana, dia langsung menyodorkan foto itu kepadanya. “Bu ….”
Ibu Alina bergeming, menatap wajah putrinya dengan nanar.
“Bu, siapa dia?”
Wanita paruh baya itu mengambil foto dari tangan Alina. Berjalan mendekati kursi dan duduk dengan tubuhnya yang melemas. Alina mengikutinya, duduk di samping ibunya dengan perasaan berkecamuk tidak karuan. Dia pikir Vano sedang bermain-main dengannya.
“Alina, aku akan menjelaskan semuanya kepadamu.”
__ADS_1
**
“Maaf aku terlambat,” ucapnya setelah masuk ke dalam ruang kerja Arron.
Arron tersenyum tipis, berjalan mendekati gadis cantik yang terus berdiri di ambang pintu. Dia menarik lengan Alina, membawanya duduk di atas sofa. Arron mengambil alih bekal yang dibawa Alina, membuka lalu mempersiapkannya di atas meja.
Tapi, gadis cantik itu malah terus terdiam dengan tatapan yang kosong. Dia tidak memperdulikan Arron yang sedang sibuk menata makanan. Dia tidak menjawab ketika Arron bertanya kenapa dia bisa terlambat. Alina hanya bergeming tanpa mengatakan sepatah katapun.
“Alina?”Arron menyentuh bahunya, membuat Alina terkejut dan langsung menoleh ke. “Ada apa?”
“Tidak, tidak ada.” Dia menggeleng cepat lalu melihat ke arah meja. “Eh, sudah siap?”
“Ya, makanlah.”
Arron mengambilkan satu porsi makanan untuk Alina, dan satu porsi untuk dirinya sendiri. Dia memakan makan siangnya, namun berbeda dengan Alina yang terus saja melamun sejak tadi. Arron memperhatikannya, berpikir ada yang salah dengan gadis itu.
Dia menyimpan alat makannya. Memegang bahu Alina lalu mengiring tubuh gadis itu ke arahnya. “Ada apa?” Sekali lagi dia bertanya.
Alina sangat ragu untuk mengatakan masalahnya kepada orang lain. Hari ini, dia mendengar sesuatu yang sangat membuatnya terkejut. Dia bingung, sedih, dan tidak percaya. Alina terbiasa hidup dengan ibu angkatnya, dia tidak pernah menyangka jika suatu hari sosok ayah akan datang ke dalam kehidupannya.
Dia menatap Arron nanar. “Aku ingin bertanya padamu.”
Arron mengangguk, dengan setia mendengarkan setiap kata gadis itu.
“Apa kau membenci orang itu?” tanya Arron.
Alina menggeleng lemah. “Aku bahkan tidak mengenalnya.”
Dia meninggalkan Alina sejak kecil, Alina bahkan tidak tahu bagaimana wajahnya saat terakhir kali mereka bersama. Alina tidak memiliki sedikitpun ingatan bersama dengannya. Dia pergi tanpa alasan, dan tiba-tiba kembali. Apa yang harus Alina lakukan. Senang? Tidak, itu sangat membingungkan untuknya.
“Siapa orang itu?” tanya Arron.
Alina menghentikan lamunannya. Lalu tersenyum tipis kepada Arron, seolah tidak ada yang terjadi kepadanya. “Tidak ada. Aku hanya membaca novel ketika senggang, dan itu adalah kehidupan si karakter utama,” dalihnya.
“Kau membuatku takut.” Arron menyentuh puncung hidung Alina, dan gadis itu terkekeh samar.
Mereka kembali menyelesaikan makan siang. Setelah selesai, Alina langsung membereskannya dan pamit untuk kembali pada Arron. Tapi, Arron malah melarangnya pergi, memeluk tubuh ramping Alina dari belakang dengan erat.
“Kau tidak bisa kembali tanpa izinku,” bisiknya tepat di depan telinga Alina. Membuat tubuh meremang seketika.
Alina tersenyum tipis, menyentuh lembut lengan Arron yang melingkar pada tubuhnya. “Bukankah kau sibuk? Jika aku terus berada di sini, kau akan mengabaikanku.”
“Aku tidak sibuk,” balas Arron.
__ADS_1
Tapi tidak lama kemudian, telepon di atas mejanya berbunyi. Sekretaris Arron mengingatkan jika setengah jam lagi rapat penting bersama klien akan dimulai, dan Arron harus segera pergi ke tempat rapat yang sudah ditentukan.
“Bagaimana?” Alina tersenyum tipis menatap wajah Arron yang kecewa. “Kau harus pergi rapat.”
Arron menarik tengkuk leher Alina, mendekatkan wajah satu sama lain dan meraih bibir mungil gadis itu. Ciuman mereka saling berbalas. Kini tidak ada sedikitpun rasa ragu ataupun malu, keduanya saling menikmati satu sama lain.
Tidak lama ciuman mereka terlepas, pandangan mereka kembali bertemu sembari terus beradu napas.
“Kita akan bertemu lagi sore ini, tunggu aku,” ucap Arron.
Alina tersenyum tipis dan mengangguk pelan. “Aku akan menunggumu.”
**
Setelah kembali, Alina terus berdiam diri di dalam kamarnya. Memangku kotak yang berisikan beberapa foto lama dirinya dengan seorang pria yang tak lain adalah Ayahnya. Dia menatapnya tanpa berkedip, berharap jika muncul siluet ingatan tentangnya.
“Aku tidak ingat.”
Tepat di sampingnya, ponsel Alina bergetar setiap dua puluh menit sekali. Vano tidak berhenti menghubunginya. Namun Alina tidak mau menjawabnya saat ini. Setelah mendengar banyak kisah masalalu dari ibunya, Alina sedikit merasa kecewa kepada Vano karena telah menyembunyikan semua itu darinya sejak lama.
Pintu kamarnya seketika terbuka, ibu Alina masuk ke dalam kamar lalu duduk di samping putrinya.
“Ibu aku harus bagaimana? Bagaimana jika dia datang menemuiku? Apa yang harus aku lakukan? Dia meninggalkanku sendiri tanpa alasan, dia jahat bukan?”
“Tidak. Dia adalah pria yang baik, papamu orang baik. Itu sebabnya dia memiliki seorang putri sepertimu.”
“Kenapa dia baru datang setelah sekian lama? Tentu saja karena dia tidak menginginkanku.”
“Alina, papamu memiliki alasan tersendiri. Ketika kau bertemu dengannya, kau harus menanyakan semua pertanyaan yang ada di dalam hatimu.”
Alina merasa sangat bingung dengan apa yang harus dia tanyakan. Haruskah dia bertanya mengapa pria itu meninggalkannya, atau kenapa dia tidak datang mencarinya setelah sekian lama. Bukankah jawabannya akan terdengar lebih menyakitkan dibandingkan ketika dia tidak mengetahui apapun.
“Ponselmu bergetar,” ucap ibu Alina.
“Aku tidak ingin menjawabnya. Itu Vano, dia sudah membohongiku.”
“Tuan muda Van sangat memperhatikanmu, dia selalu ingin menjagamu. Dia selalu ingin memberitahukan semuanya padamu, dia hanya menunggu waktu yang tepat.”
Alina terdiam. Pikiran dan hatinya seperti dihujam batu besar, membuat semuanya berantakan.
Bersambung ....
Jangan lupa like dan koment yaaaaa.
__ADS_1