Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Pesta


__ADS_3

Seperti yang Vano dan Willson ucapkan, bahwa Arron akan menyiapkan sebuah pesta khusus untuk Daisy. Hari ini adalah hari diselenggarakannya pesta. Arron mengundang para rekan kerjanya, selebritis, dan juga orang terkenal dan penting lainnya.


Para tamu mulai berdatangan, memenuhi isi mansion megah itu. Sebagai pelayan yang baik, Alina tentu saja melayani mereka dengan mengantarkan minuman serta menawarkan beberapa cemilan ringan yang dia bawa di atas sebuah nampan.


Alina melihat Arron yang tengah berbincang dengan para tamu. Wajahnya terlihat sedikit lebih cerah hari ini mungkin, karena seseorang yang penting dalam hidupnya telah kembali. Daisy adalah satu-satunya wanita yang dekat dengan Arron. Alina tahu itu. Sejak dulu, mereka selalu bersama, dan Daisy selalu menempel kepada Arron bagaikan perangko.


Ketika Alina tengah sibuk menata makanan di atas meja, tiba-tiba seseorang yang tidak asing menghampirinya. Dia berkata, “Seharusnya kau mengikuti pesta ini, bukan menjadi pelayan.”


Alina menoleh, menatap pria tersebut dengan sorot mata tajam. “Aku sedang bekerja.” Lalu dia sibuk dengan pekerjaanya kembali.


“Pergilah ke ruang ganti. Ganti pakaianmu lalu berdandan,” bisiknya yang sangat terdengar mengesalkan bagi indera pendengaran Alina.


“Vano pergilah! Aku sedang bekerja,” bisik Alina penuh penekanan.


“Apa kau tidak akan mendengarkan Tuan mudamu?”


Alina menurunkan bahunya, menghela napas panjang. Dia menatap kue di atas meja, dan sepertinya sudah tertata sedikit rapih. Dia tidak menghiraukan Vano yang terus saja berbicara padanya, dan berbicara omong kosong. Gadis cantik itu beranjak dan berlalu pergi.


Vano menatap kepergiannya dan menggeleng samar. “Gadis itu!”


Alina kembali pergi ke dapur. Di sana, para koki dan pelayan tengah sibuk mempersiapkan makanan. Seseorang memanggil Alina, memberikannya nampan berisikan redwine dan jus jeruk. Alina tersenyum dan menerimanya. Karena selain ini, tidak ada hal lain yang bisa dia bantu.


Gadis cantik itu berjalan di lorong. Namun tiba-tiba, seseorang membuka pintu dan keluar dari ruangan. Seketika nampan yang tengah dibawanya goyah, dan menyebabkan minuman itu tumpah tepat membasahi gaun wanita tersebut.


“Apakah kau buta?” ucapnya dengan nada pelan namun penuh penekanan. Beruntung lorong ini sepi dan tidak ada orang, sehingga tidak ada satupun tamu yang melihat kekacauan ini.


“Nona, maaf. Aku akan membersihkannya.”


“Tidak perlu!” ucapnya sinis, membuat Alina tertunduk dan merasa bersalah. “Gaun ini akan semakin kotor jika kau menyentuhnya menggunakan tangan kotormu!”


Kasar sekali …. Batin Alina.


“Nona, aku akan mengantarmu ke ruang ganti. Kau bisa mengganti gaunmu dengan gaun yang sudah disediakan di sana,” ucap Alina, masih dengan wajah yang tertunduk.


Wanita itu berdecih samar. “Pasti gaun yang disediakan tidak semewah gaunku malam ini. Tapi karena kau telah menghancurkannya, kau harus bertanggung jawab. Jadi cepat antarkan aku!”

__ADS_1


“Baik, Nona.” Alina mengangguk lalu mempersilahkan wanita tersebut berjalan di depannya, sembari Alina akan berjalan di belakang sembari memberitahu arah.


Setelah melewati lorong dan beberapa ruangan, akhirnya mereka sampai pada satu ruangan yang tak lain adalah kamar ganti. Di dalamnya terdapat beberapa gaun. High heels, aksesoris, dan lainnya. Arron sengaja mempersiapkan itu, jika ada hal yang tidak menguntungkan terjadi seperti sekarang ini.


“Silahkan, Nona,” ucap Alina mempersilahkan.


“Kau ikut aku, bantu aku bersiap.”


“Baik, Nona.” Mau tidak mau Alina harus menurut. Karena jika tidak, wanita itu akan kembali bertingkah.


Setelah memilih pakaian apa yang akan dikenakannya, wanita tersebut masuk ke dalam ruang ganti yang masih berada di dalam ruangan untuk mengganti gaunnya. Sementara Alina berdiri di depan pintu dan menjaganya.


Tidak lama kemudian, wanita itu keluar. Dia sudah siap dengan gaun yang menurut Alina lebih indah dari yang sebelumnya dia kenakan. Selain itu, wanita itu juga melemparkan gaun bekasnya pada Alina. Perilakunya itu sangat tidak sopan untuk seorang tamu.


Jika saja Alina adalah seorang banteng, mungkin dia akan siap menyeruduknya menggunakan tanduk.


Alina melipat gaun berwarna merah terang itu di tangannya. Modelnya terlihat seperti suatu brand terkenal, namun ada sesuatu yang janggal pada gaun itu. Sepertinya, gaun tersebut hanya tiruan yang dibuat semirip mungkin dengan aslinya.


Seketika pikiran Alina berputar. Dia beralih menatap pada beberapa gaun yang tergantung. Alina tahu jelas jika gaun-gaun itu adalah brand terkenal, meskipun bukan edisi terbatas. Karena Arron tidak akan melakukan sesuatu yang akan merusak reputasinya.


“Nona, apakah anda sudah selesai? Aku masih memiliki beberapa pekerjaan,” ucap Alina.


Wanita itu menatapnya dari balik cermin. “Benar, kau hanya seorang pelayan rendahan yang tentunya memiliki banyak pekerjaan. Pergilah.” Dia mengibaskan tangannya dengan sangat sombong.


Alina menundukkan wajahnya, lalu berlalu pergi. Sebelum itu, dia juga menyimpan barang kw yang sedari tadi dipegangnya pada kummpulan gaun yang tergantung di sana. Alina menyimpannya begitu saja.


“Sombong sekali!” gerutu Alina kesal.


Dia menghentakan kakinya untuk kembali ke tempat kekacauannya tadi. Karena sebelum Alina meninggalkannya, tidak ada seorang pelayan pun yang melihat untuk membersihkan itu. Tapi sesampainya di sana, lantai itu sudah bersih tanpa satu noda atau pecahan gelas sedikit pun.


Syukurlah, aku bisa melanjutkan pekerjaanku.


**


“Nona, bukankah ini sangat indah?”

__ADS_1


“Tentu saja, ini adalah gaun yang dirancang khusus untukku. Gaun ini hanya ada satu di dunia.”


“Kau sangat beruntung, Nona. Tuan Arron begitu memerdulikanmu,” puji wanita yang tidak lain adalah asisten Daisy. Ranly.


“Ranly, apa kau berpikir jika aku cocok bersanding dengannya?” tanya Daisy, sembari sibuk menatap dirinya di depan cermin.


“Kau sangat cantik, dan dari keluarga terpandang. Kau sangat cocok bersanding dengannya, Nona.”


“Tentu saja, tidak ada yang bisa mengalahkanku, bukan?”


“Tidak ada.”


Ranly melirik arloji pada pergelangan tangannya. “Nona, sudah waktunya.”


“Baiklah, antar aku keluar.”


“Baik, Nona.”


Daisy keluar dengan digandeng oleh Ranly di sampingnya. Sebagai pemeran utama pada hari ini, dia menyapa para tamu dengan ramah. Ini adalah pertama kalinya Daisy berada di dalam pesta mewah setelah kembali ke negaranya. Terlebih, pesta ini Arron sendiri yang menyelenggarakan.


Apa ini bukan sekedar pesta biasa? Arron bahkan mengundang beberapa orang penting lainnya.


Daisy adalah seorang putri dari pasangan model cantik dan pengusaha terkenal. Dia menempuh pendidikan, dan hampir menghabiskan waktunya di luar negeri. Dia tidak bisa mengenali orang-orang penting itu. Daisy hanya tersenyum untuk menyapanya.


“Kau sudah  tiba?” tanya seseorang yang baru saja mendekatinya.


Daisy tersenyum, jika saja orang-orang sedang tidak memperhatikannya, dia akan lompat untuk memeluk orang tersebut. “Kakak, akhirnya aku bertemu denganmu.”


Arron membalas senyumannya, lalu mengulurkan tangannya untuk menggandengan tangan Daisy.


Bersambung ....


**


Jangan lupa like, koment juga yaaaa.

__ADS_1


__ADS_2