
Happy Reading ….
Alina menggeliatkan tubuhnya di atas ranjang. Dia memiliki waktu setengah jam lagi sebelum pekerjaanya dimulai. Kejadian semalam di kantor Arron dihitung sebagai lembur, jadi siang ini Arron memberinya waktu lebih untuk beristirahat. Alina kembali ke mansion dengan diantar supir setelah selesai sarapan pagi.
Dia meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Alina memiliki dua puluh lima panggilan yang tidak terjawab dari Vano. Dengan pandangannya yang masih buram, dia menekan nama kontak Vano dan menghubunginya kembali.
“Ada apa?” Dia menyimpan ponselnya di depan telinga dan mata yang masih terpejam.
‘Alina, aku menghubungimu sejak tadi.’
“Aku tahu,” balas Alina dengan suara lesu.
‘Hei, aku akan memberitahumu sesuatu yang sangat penting.’
“Katakan.”
Terdengar helaan napas dari Vano. ‘Kau belum membuka kotak yang ibuku berikan?’
“Ah~ Aku belum sempat membukanya.”
‘Bukalah, setelah itu kau bisa menghubungiku. Hah … aku sangat mengantuk.’
Sambungan telepon terputus. Alina menyimpan ponselnya di atas ranjang dan beranjak duduk dengan malas. Dia mengambil kotak yang sebelumnya disimpan di atas meja, lalu membukanya dan melihat beberapa lembar foto di sana.
Apa ini? Pikirnya bingung.
Alina ingat jika Monika memintanya untuk menanyakan arti dari isi kotak tersebut kepada ibunya. Dia akan pergi ke tempat ibunya bekerja untuk bertanya. Tapi, waktu untuk kembali bekerja sudah hampir tiba. Dia terpaksa harus menundanya untuk beberapa jam ke depan.
Sekarang, waktunya dia untuk segera bersiap dan menyambut Arron kembali di pintu depan mansion.
--
Gadis cantik itu sudah rapih dengan seragam kerjanya. Dia berdiri di antara para penjaga lainya. Tidak lama kemudian, mobil pribadi Arron tiba, beberapa penjaga sibuk membukakan dan menyambut kedatangan tuan muda pertama.
Alina melihat Arron keluar dari mobil dan sedikit membungkukan badannya. Tapi selain Arron, dia melihat sepasang kaki jenjang dibalut higheels indah ikut turun dari mobil. Mereka berjalan beriringan dan masuk ke dalam mansion.
Alina menegakan tubuhnya kembali, dan berjalan di belakang Arron. Ternyata hari ini Arron membawa Daisy pulang bersamanya. Perasaan Alina mulai tidak enak.
“Antar Daisy ke ruangan ibuku,” perintah Arron pada salah satu pelayan.
“Baik, Tuan.”
Arron kembali ke dalam kamarnya. Alina dengan sigap membantunya melepas jas dan juga dasi. Lalu menyimpannya pada tempat pakaian kotor yang kemudian dibawa pergi oleh pelayan lain. Kini di dalam kamar hanya ada mereka berdua.
“Apa kau beristirahat dengan cukup?” tanya Arron seraya menatapnya.
Alina mengalihkan pandangannya ke bawah. “Istirahatku cukup, Tuan.”
__ADS_1
Telapak tangan Arron menyentuh pipi Alina dengan lembut, mengangkat wajah gadis cantik itu supaya menatapnya kembali. Dia hendak menempelkan bibirnya pada bibir Alina, namun gadis cantik itu dengan cepat mendorong tubuh Arron menjauh.
“Ada apa?” tanya Arron.
Alina menatapnya. “Tuan, kau adalah bosku, dan aku hanya asisten pribadimu. Tidak pantas jika terus seperti ini.”
Bayang-bayang Daisy sangat melekat pada pikiran Alina. Dia berpikir jika Arron sedang menjalin hubungan bersama Daisy, tapi dia juga malah bermain-main dengannya. Perasaan Alina menjadi sakit memikirkannya.
“Apa masalahnya? Kau adalah milikku.”
“Kau hanya mengatakan jika aku milikmu, aku milikmu! Itu membuatku bingung,” cecarnya.
Arron menatap wajah merah gadis itu. Dia mengulurkan kedua lengannya dan menyentuh bahu Alina. Menatapnya tajam. “Alina, aku mencintaimu.”
Alina menatap Arron dengan diam.
“Mari kita mulai berkencan dan menjalin hubungan.”
“Tuan-”
Ucapan Alina terhenti ketika Arron mengatakan. “Jadilah kekasihku.”
Rasanya seperti darah di dalam tubuhnya berhenti mengalir. Lengan dan dahinya berkeringat dingin. Alina tidak pernah menyangka jika hari ini akan terjadi. Bagaimana mungkin dia memiliki hubungan dengan tuannya sendiri. Ini seperti mimpi.
“Alina?” panggil Arron saat Alina hanya terdiam dan bergeming di tempat.
Alina merasa sangat gugup mendapati ajakan berpacaran dari bosnya sendiri. Pikirannya mendadak kosong dan tidak bisa berpikir sedikitpun.
“Apa kau tidak menyukaiku Alina?”
“A-aku tidak tahu. Hanya saja k-kau adalah tuanku, dan aku hanya-” Dia terdiam sejenak. “Bukankah kau menjalin hubungan dengan Daisy?”
“Tidak,” jawab Arron cepat.
Alina tertegun. “A-aku aku ….”
Arron mengecup bibir Alina supaya gadis cantik itu berhenti bicara dan menjadi tenang. Tidak lama dia melepaskannya kembali. “Tenanglah. Aku akan menerima apapun jawabanmu. Hal itu tidak akan berpengaruh pada kontrak kerja.”
“Aku tidak tahu.” Alina menggeleng pelan seraya menundukan wajahnya.
“Tidak perlu terburu-buru.” Arron mengusak puncuk kepala Alina. “Aku akan pergi mandi, siapkan pakaian untukku.”
Alina menatap Arron kembali. Pria itu tersenyum dengan tenang.
“Baiklah.”
Arron tidak begitu mendesak Alina dengan jawaban yang harus gadis itu berikan. Arron memberi Alina waktu untuk memikirkannya dengan baik, agar gadis itu mengerti dengan perasaannya sendiri. Dan apapun jawabannya, Arron hanya akan menghargainya.
__ADS_1
--
Waktu makan malam tiba, semua anggota keluarga sudah berada di meja makan dan malam ini bertambah dengan Daisy yang turut serta. Daisy duduk di samping Arron, dengan penuh perhatian dia melayani Arron selama makan malam. Mengambil alih tugas Alina.
“Kedua orang tuaku pergi untuk berlibur, dan aku juga tidak memiliki kesibukan untuk dua hari ke depan. Malam ini aku akan menginap, Tante sudah menyetujuinya,” ucapnya.
Arron menatap Monika, dan ibu sambungnya itu mengangguk mengiyakan.
Menginap selama dua hari? Pikir Alina.
“Kakak, apakah kau akan langsung pergi tidur setelah makan malam?”
“Aku akan menyelesaikan beberapa pekerjaan,” jawab Arron singkat.
Daisy tersenyum. “Aku akan menemanimu, Kak.”
Wilson yang mendengar itupun langsung berdeham samar. “Bagaimana jika kau temani aku saja? Aku membutuhkan seorang asisten untuk pekerjaanku,” ucapnya pada Daisy.
“Aku tidak mau,” jawab Daisy singkat.
“Arron sudah memiliki asisten pribadi yang menemaninya, kau pergi denganku saja.” Willson masih membujuk.
“Jangan memaksaku,” tolak Daisy dengan wajah yang mencebik kesal.
“Willson.” Monika menatapnya.
“Baiklah baiklah.” Willson mengalah. “Heh Kakak, bagaimana jika asisten kecilmu kau berikan padaku untuk malam ini.”
Alina yang berdiri di belakang membeliak dan refleks menatap Wilson, sementara pria itu mengedipkan sebelah mata untuk menggodanya.
“Tidak,” jawab Arron singkat sambil beranjak. “Alina, ikuti aku.”
“Baik, Tuan.”
Arron dan Alina meninggalkan ruang makan. Sementara Daisy hanya bisa menatap kepergian mereka sembari terdiam. Arron bahkan tidak mengatakan jika dia menyetujui permintaan Daisy untuk menemaninya malam ini.
“Hei, makan makan,” ucap Willson pada Daisy. “Bagaimana, apa kau sudah berubah pikiran?”
Daisy mendengkus. “Tidak.” Dia menatap Monika. “Aku akan kembali ke kamarku.”
Monika mengangguk mengiyakan.
“Dulu kau sangat senang menempel di sisiku, tapi sekarang lihatlah.” Willson berdecak kagum sembari terus memperhatikan kepergian Daisy.
Bersambung ....
Jangan lupa like suka dan koment yaa.
__ADS_1