Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Episode 32


__ADS_3

Arron menatap gadis cantik yang tengah duduk di atas ranjang itu dengan intens. Hanya beberapa menit Alina hilang dari tangkapan matanya, dia malah berakhir seperti itu. Dia adalah gadis yang sama sekali tidak pernah berhati-hati.


“Apa? Merasa hebat dan minum-minuman beralkhohol?” tanya Arron dingin.


“Aku tidak minum, mereka yang memaksaku,” jawab Alina. “Mereka memaksaku minum dan-”


Arron menyorotinya tajam, menatap wajah gadis cantik yang memerah dan sayu. Rambut kepangnya sudah tidak tertata rapih.


Alina beranjak dari duduknya, berdiri dengan sempoyongan. “Mereka memintaku minum, lalu mereka malah sibuk dengan wanita lain.”


Arron berkerut heran.


“Tidak masalah jika itu! Tapi Vano, bukankah dia mengaku kekasihku?”


“Apa kau cemburu?”


“Tidak-tidak.” Alina menggelengkan kepalanya cepat. “Hanya saja status ini membuatku bingung. Vano dia ....”


Arron melangkah mendekatinya dengan cepat. Satu lengannya meraih tubuh ramping Alina mendekat, dan satunya lagi menarik kepala gadis cantik itu mendekat. Dia mendaratkan bibirnya pada bibir Alina, membuat gadis cantik itu membulatkan pandangannya.


Aku bermimpi ... Tuan muda Ron menciumku.


Alina tertegun, dia tidak menolak ataupun menikmatinya. Dia hanya diam tanpa bersuara ataupun bergerak. Tindakan Arron benar-benar membuatnya tercengang.


Arron menarik tubuhnya, melepaskan ciumannya pada bibir Alina. Dia menatap wajah cantik di hadapanya lekat. “Bagaimana kau bisa membicarakan pria lain di hadapanku? Kau adalah miliku.”


Sementara Alina tidak bisa berpikir dengan jernih. Dia mabuk berat sampai tidak bisa membedakan mana khayalan atau kenyataan. Alina merasa jika dirinya hanya bermimpi, karena tuan mudanya itu tidak mungkin menciumnya di kehidupan nyata.


Perlahan, jemari Alina menyentuh wajah Arron dengan lembut. Ini mimpi, tapi kenapa terasa begitu nyata?


Sementara di luar, Vano yang tengah asik dengan beberapa wanitanya tiba-tiba menyadari jika Alina sudah tidak ada di tempatnya. Lantas, dia langsung turun menuju kabin kapal untuk mencarinya.


“Alina?” panggil Vano kencang.


Dia melangkah dengan cepat menuju kabin Alina. Sesampainya di sana, Vano melihat Alina yang tengah terbaring di atas ranjang. Lalu, Vano berjalan mendekatinya, menatap wajah Alina yang memerah karen mabuk.


“Apa kau berjalan sendiri ke dalam kabin?” gumam Vano.


Terakhir kali dia melihat Alina, gadis cantik itu dalam keadaan mabuk berat. Vano tidak percaya jika kondisinya yang sudah mabuk parah, gadis cantik itu masih mampu berjalan sendiri menuju kabinnya.


***


Alina membuka matanya perlahan, rasa pengar langsung menyerbu kepalanya. Dia beranjak bangun, meminum satu gelas air mineral yang tersimpan di atas nakas.


“Kau sudah bangun?” tanya Vano.

__ADS_1


Pandangan Alina mengedar, dia menatap setiap inci ruangan yang kini ditempatinya. Alina yakin jika ruangan ini bukam kabin yang berada di dalam kapal pesiar. Jadi, di mana dia sekarang?


“Minum.” Vano memberikan satu mangkuk sup kepadanya. “Sup ini bagus untuk menghilangkan pengar.”


“Di mana ini?” tanya Alina menatap Vano bingung.


“Kau berada di Villa Washington.”


Gadis cantik itu berkerut heran. “Bukankah kita berada di atas kapal pesiar?”


Vano menyendokan sup, lalu meniupnya. Dia menyodorkan sup itu kepada Alina. “Kau tidur semalamam, aku berusaha keras untuk menggendong tubuhmu dan memindahkannya ke ruangan ini.”


Pandangan Alina membulat. “Benarkah?”


“Ya, kau mabuk berat.” Vano menempelkan sendok berisi sup itu pada bibir Alina, dan Alina langsung membuka mulutnya, memakan sup yang diberikan Vano.


“Selama mabuk ... apakah aku mepakukan hal yang memalukan?” tanya Alina dengan suara pelan.


“Tidak, kau hanya tidur seperti babi.”


Alina mencebik kesal mendengar itu. Bukankah yang membuatnya mabuk kemarin itu Vano? Kenapa pria itu kini berani mengatakan hal seperti itu.


“Alina, kemarin kau mabuk berat, tapi kau masih bisa mengingat di mana letak kabinmu.”


Alina terdiam dan berpikir. Kemarin ... apa yang telah terjadi? Dia mencoba mengingat-ngingat kembali. Kemarin Alina sepertinya bermimpi tentang ....


Apakah aku sudah gila?


“Ada apa?” tanya Vano.


Alina menatap Vano. Dengan cepat dia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. “Tidak ada.”


“Cepatlah bersiap, dan turun untuk makan.”


“Aku baru saja makan sup,” protes Alina.


“Hanya sup tidak akan membuatmu kenyang.” Vano beranjak dan keluar dari kamar Alina, meninggalkan gadis cantik itu seorang diri.


Perlahan Alina menyentuh bibirnya. Dia mengingat-ngingat kembali mimpinya saat Arron menciumnya. Seketika semburat merah memenuhi setiap incu wajahnya. Alina merasa jika ciuman itu benar-benar nyata.


Dia meraih bantal di sampingnya lalu menenggelamkan wajahnya. Bagaimana bisa dia bermimpi hal seperti itu? Apalagi prianya adalah Arron. Kenapa harus Arron?


Alina, kau sudah gila! Kau memimpikan bosmu sendiri.


“Aaaaaarggghhh!” Dia berteriak di dalam bantal. “Alinnnaaaaaaaaaa! Kau gila!”

__ADS_1


---


Beberapa menit berlalu, Alina sudah menyiappkan dirinya. Dia sudah mandi dan mengganti pakaian. Selanjutnya, gadis cantik itu keluar kamar untuk mencari Vano.


Villa itu sangat mewah dan besar, meskipun tidak sebesar mansion Washington di kota. Tapi Villa ini cukup membuat Alina bingung ketika menjelajahinya. Dia bahkan tidak menemukan tangga untuk turun.


Alina berjalan menyusuri lorong. Seketika dia menoleh saat mendengar suara pintu yang tertutup. Itu adalah Arron yang baru saja keluar dari ruangannya.


Alina merasa sedikit gugup sekaligus berdosa. Saat tidak sadar, dia malah memimpikan tuan mudanya.


“Tuan muda Ron,” sapa Alina sopan.


“Kau sedang tidak bekerja, tidak perlu formalitas seperti itu.”


Alina menatapnya bingung.


Arron berbalik dan melangkah pergi, dan Alina berjalan di belakang mengikutinya. Dan seketika langkah kaki Arron berhenti, dia berbalik kembali untuk menatap Alina.


“Kau sedang tidak bekerja, tidak perlu mengikutiku.”


Alina tersenyum terpaksa. “Sebenarnya ... aku mengenal tempat ini. Aku juga tidak bisa menemukan di mana tangga untuk turun.”


Arron tidak menanggapinya. Dia berbalik dan melanjutkan langkahnya kembali, dan masih dengan Alina yang mengikutinya.


Setelah beberapa langkah, akhirnya Alina dapat menuruni tangga dengan Arron yang menjadi penuntun jalannya. Di lantai bawah, sudah ada tiga tuan muda yang tengah duduk bersantai di atas sofa.


“Alina, kemarilah.” Willosn melambaikan tangannya.


Alina tersenyum senang, dia berjalan dengan cepat dan melewati Arron begitu saja. Membuat Arron menatapnya tidak suka.


Di atas meja, tersedia berbagai junkfood. Willson mengambilkan satu pizza daging dan memberikannya kepada Alina.


“Terima kasih.”


“Duduklah.” Vano menarik pergelangan tangan Alina, dan memintanya duduk di sampingnya.


Alina menurut, dia langsung duduk di samping Vano yang tengah serius melihat Allson bermain game bersama Willson. Seketika Vano merangkul bahu Alina dan menyenderkan kepalanya di sana.


Alina sedikit tidak suka dengan tindakannya. Di sana ada Arron dan tuan muda yang lainya.


“Vano ....” Dia mencoba melepaskan rangkulan Vano.


“Diam, kau adalah kekasihku.”


Bersambung ....

__ADS_1


Haiiii gimana? Semoga selalu suka sama ceritanya yaaa. Jangan lupa buat like dan koment. See you ....


__ADS_2