
memasak adalah sebuah pertempuran untuk Maureen, bahkan untuk beberapa pekan ini rumah tidak memiliki perlengkapan apa pun, semua yang ada hanya makanan siap saji seperti mie instan, susu kaleng, minuman kaleng dan buah-buahan yang sudah berumur hampir satu Minggu.
Maureen membersih kan semua nya, membuang hal-hal yang tidak di gunakan ke dalam sampah yang ada di halaman rumah, Merapi kan seluruh ruangan karena hari ini adalah hari bersih-bersih sedunia, hanya untuk Maureen.
Maureen menutup pintu dan menenangkan nafas Nya, tatapan nya teralih kan melihat sebuah mobil berhenti di depan teras, Maureen mengamati lewat kaca jendela dan orang di sana mengerti Maureen sudah tahu dengan kedatangan nya.
mobil sport mewah dengan warna yang sangat cerah, oranye. Maureen sedikit memundur kan kepala ketika orang di luar sana tersenyum ke arah nya, sampai beberapa detik suara ketukan pintu terdengar, lembut dan tenang.
Maureen berusaha mengambil nafas banyak-banyak sebelum membuka pintu untuk menampil kan senyuman ceria nya.
'' Hai '' satu kata itu yang sudah bisa Maureen dengar dari kebanya kan orang yang di temui nya, meski tak saling kenal.
'' iya, silahkan masuk '' lebih baik membawa tamu itu masuk dulu sebelum banyak tetangga melihat, batin Maureen. yang jelas tidak masuk akal dengan sapa an lelaki itu.
Maureen juga mengerti apa tujuan lelaki itu datang ke rumah nya, dengan hati-hati Maureen mengamati, rambut tertata rapih, sepasang mata yang hangat, hidung mancung yang indah dan jangan lupa senyum tulus yang sejak tadi tak luntur sampai dia menjatuhkan diri di sofa meski Maureen tak mempersilah kan.
siapa lagi lelaki tampan yang suka berpenampilan mencolok kalau bukan Jeims kavilo Donnelly.
'' kamu pasti sudah tahu tujuan ku kesini '' ujar Jeims, melepas kaca mata hitam nya.
Maureen mengangguk '' iya, tapi kenapa kamu bisa tahu kalau dia ada di rumah ku''
Jeims tertawa mendengar penuturan polos gadis di depan nya '' dunia ini canggih sayang, pelacak informasi semakin mengembang, kamu tahu itu ''
Maureen mengerjap, merasa malu dan salah menarget kan pertanyaan '' maaf, aku tidak tahu banyak tentang itu ''
Jeims di buat gemas dengan tingkat laku wanita di hadapan nya, dia juga tahu Maureen merona karena pembicaraan nya barusan, sungguh pilihan bright bisa di coba. batin Jeims.
'' aku tidak tahu kenapa, tapi bright tiba-tiba mendatangi ku tadi malam, dia terlihat sangat sedih, aku akan membangun kan nya untuk mu '' Maureen ingin bangkit namun sebuah suara membuat nya mengurung kan hal itu.
'' jangan, tidak perlu buru-buru, aku bisa menunggu nya bangun '' ujar Jeims menjelas kan pertanyaan Maureen yang terlihat jelas di wajah nya.
Maureen kembali duduk seperti semula, mengalih kan pandangan nya ketika sepasang mata tak henti menatap nya, meneliti.
Jeims ter senyum kecil '' siapa nama mu ''.
ini bukan perkenalan melain kan seperti seorang guru yang tengah ingin menanya kan sesuatu pada murid nya, Jeims tidak perlu mengenal kan diri yang tentu nya siapa pun tahu siapa diri nya.
'' Maureen '' jawab Maureen masih normal.
Jeims mengangguk mengerti '' nama panjang nya ''
__ADS_1
'' Silera Maureen ''
'' oh, gelar keluar, atau nama ikut orang tua '' Jeims semakin mendesak, ingin tahu.
Maureen menelan salivan nya kasar dan berkata '' tidak ada ''
''aku di besar kan di panti asuhan, ibu panti bilang, aku di temukan di tangga depan panti waktu hujan deras, dan sampai sekarang aku tidak tahu siapa keluarga ku ''
Maureen tidak seharus nya, tapi mau menolak juga tidak bisa, karena memang pada dasarnya dari awal orang tua Maureen tidak menginginkan kehadiran nya,
penjelasan Maureen membuat Jeims bungkam tak mampu berkata-kata, reaksi nya terkejut mendengar suara santai Maureen yang mencerita kan masa sulit yang selama ini terpendam rapat.
Maureen tahu Jeims prihatin karena lelaki itu tiba-tiba duduk tegak dan gagap, bingung mencari kata-kata yang tepat.
'' maaf, aku tidak bermaksud mengingat kan mu '' suara Jeims lembut penuh keprihatinan.
Maureen ter senyum, sangat tulus dan itu membuat Jeims ingin mendekat lalu menarik gadis itu kedalam pelukan nya, Andai dia tidak ingat kalau gadis di hadapan nya adalah milik teman nya.
'' tidak apa-apa, aku sudah terbiasa dengan itu. lagi pula aku juga tidak bisa menolak nya, ini takdir ku, mungkin ini memang yang terbaik ''
Maureen merasa kan mata nya memanas, tapi sebisa mungkin dia tahan, sangat malu kalau sampai menangis di depan orang asing, apalagi di depan nya sekarang bukan lah orang yang sederajat dengan nya.
'' maaf, merepot kan '' Jeims kembali memasang senyum indah, yang enak di pandang, hangat dan tulus, berkebali kan dengan bright.
Maureen membuka kulkas, mencari sesuatu yang pantas untuk di berikan '' ini saja '' gumam nya membawa dua minuman kaleng dengan kadar alkohol yang rendah.
'' aku hanya memiliki ini di rumah, maaf ''
Jeims menerima suka rela '' tidak masalah, Trims '' jawab nya singkat, padat dan jelas.
'' sejak kapan kalian saling kenal '' suara Jeims kembali normal, mengganti topik dengan cepat.
Maureen tidak langsung menjawab, dia tahu maksud Jeims '' tidak seperti yang kau pikirkan,kami tidak punya hubungan apa-apa, hanya berteman biasa ''
Jeims ingin menyangkal kalau yang Maureen bicarakan itu tidak benar, seperti bagaimana gadis itu membawa perubahan yang sangat banyak untuk bright.
kedua nya bangkit saat mendengar bright mengerang sangat keras, dengan langkah cepat yang di dorong rasa cemas, Maureen membuka pintu kamar nya dan menemu kan bright masih berada di atas kasur, aman.
Maureen mendekat di ikuti Jeims di belakang nya, kedua nya tercengang ketika melihat bright masih memejam kan mata, kening nya berkerut sampai membentuk garis-garis.
'' bright '' Maureen duduk di sebelah bright dan mengguncang pundak lelaki itu perlahan, tidak ada hasil, bright masih bertahan di alam bawah sadar nya.
__ADS_1
Jeims meletak kan punggung tangan nya di dahi bright, memeriksa suhu badan ketika melihat keringat dingin bercucuran dengan bibir yang memucat, lemah.
'' dia demam '' gumam Jeims.
Maureen mendongak sekilas, lalu berganti meletakkan punggung tangan nya di dahi bright, seketika rasa panik mengental di sekitar nya.
'' aku akan mengambil kain untuk mengompres nya '' Maureen bergegas mengisi baki dengan air lalu memasuk kan handuk kecil ke dalam nya.
baru saja Maureen ingin melangkah kan kaki ke dalam kamar, tepat di depan pintu kamar, Jeims berdiri berbicara dengan orang di telepon.
'' kenapa ? '' Maureen bertanya saat ekspresi terkejut terlihat sangat kental di wajah Jeims.
'' Ssstt '' Jeims meletak kan telunjuk nya di depan bibir dan berjalan cepat mendekati Maureen.
'' apa yang terjadi'' suara Maureen sangat lirih.
'' aku minta tolong, jaga kan bright, aku akan pergi ke rumah sakit sekarang ''
jantung Maureen berdetak lebih cepat, tangan nya tiba-tiba bergetar dan pikiran mengacau kemana-mana, mendorong rasa takut nya, Maureen mendongak dan tatapan nya bertemu dengan netra coklat terang milik Jeims.
''siapa? ''
seakan mengerti dengan tatapan Maureen, Jeims menjawab dengan suara yang hampir berupa bisikan.
'' Tuan Derek, ayah bright di lari kan ke rumah sakit, barusan Adelia menelfon ku, dia bilang... '' Jeims menelan rasa frustasi nya, dan mengucapkan penuh hati-hati.
'' keadaan nya jatuh drastis, beliau koma ''
Deg
***
Nexs
MOhon dukungan nya dengan like, komen, dukungan dan bintang buat yang ikhlas aja, ngak maksa. saling membantu ya kakak. lop you.
jangan lupa follow tiktok : @shopaychill
Ig : yarasary_
terima kasih.
__ADS_1