
Bright terlentang, tak sadar di sisi Maureen, gadis itu menyerah mencoba menggerakkan tangan Bright yang terasa berat di perut nya.
Maureen menatap langit-langit yang gelap, menghitung menit-menit yang berlalu dari setiap ketukan jarum jam di dinding kamar yang mengisi kesunyian.
kemanisan malam itu telah berlalu, kepanasan hormon nya sudah turun dan sekarang Maureen merasa gelisah dengan kulit nya sendiri, tubuh nya masih tak tenang. tak terpuaskan.
meskipun dengan sentuhan nya yang penuh semangat, usaha mulut dan tangan dan tubuh nya yang penuh strategi, Maureen merasa Bright tidak pernah membuat nya ke ambang batas.
dia mencoba sangat manis dan penyayang, tapi itu justru lebih parah, ini adalah kegagalan yang Maureen alami karena kesalahan nya yang tinggal di pikiran sendiri, jauh dan tak akrab.
akhirnya, sebuah suara datang, pintu utama kediaman Remirro yang menutup di kejauhan.
apakah itu Oliver? bagaimana kalau Derek atau yang lain!!
Maureen terdiam di sana untuk beberapa saat lagi, berpegang erat pada Bright yang masih tak kunjung membuka mata. aku harus tinggal dengan nya, tertidur dalam pelukan nya. Maureen membatin sambil menatap wajah terlelap Bright yang terlihat sangat tenang.
tapi godaan menang, tentu saja dia menang. Maureen dengan lembut mengangkat lengan Bright dan menyelinap keluar dari bawah, melangkah dengan hati-hati mendekati pintu dan menunggu di sana, menahan nafas, mendengar kan naik turun dada Bright.
tidak ada perubahan, pria itu hanya bergerak untuk mengubah posisi.
Maureen memutar gagang pintu pelan-pelan dan melangkah keluar ke lorong yang gelap, menutup pintu di belakang nya dengan suara klik yang kecil. jantung nya berdetak kencang, setiap Indra nya terasa hidup ketika dia mulai berjalan pelan-pelan menuju terang cahaya lemah dari bawah pintu dapur.
'' merindukan ku?'' Oliver ada di depan kulkas, meminum wiski langsung dari botol nya. mata nya menatap dengan penuh pengetahuan dan langsung, Maureen sadar, dia datang terlalu cepat.
Maureen seharusnya menunggu, membiar kan nya bertanya-tanya, Maureen seharusnya tidak berlari turun seperti anak anjing yang senang akan kedatangan majikan nya.
'' aku tidak tahu kamu sudah pulang. aku tidak bisa tidur '' ucap Maureen berpura-pura santai, berjalan melewati lantai yang dingin.
Maureen meraih ke belakang Oliver dan membuka pintu kulkas, mencari wadah es krim yang tadi Bright sisa kan.
'' pembohong '' bisik Oliver tepat di telinga Maureen yang dengan segera membuat semua bulu kulit nya berdiri.bibir Oliver nyaris menyentuh daun telinga nya.
'' kamu ketinggalan malam yang menyenangkan '' Maureen memberi tahu nya, berbalik badan untuk menatap mata Oliver langsung.
__ADS_1
'' Bright dan aku bersenang-senang ''
bibir Oliver melengkung tersenyum '' mencoba untuk membuat ku cemburu '' kata nya lambat-lambat.
Maureen tetap menatap mata nya ''apakah kamu bisa cemburu ?''
wajah Oliver tetap tenang, lalu Maureen mengangkat es krim nya keluar dari kulkas dan pandangan nya mendarat ke cincin tunangan. otot rahang Oliver menyentak, hanya sesaat, keras karena tegang.
''apakah itu baru? '' Oliver bertanya, suara nya masih santai.
'' Bright memberi nya pada ku'' Maureen merasa kan kemenangan melesat di nadi nya ''malam ini!''
Oliver mengernyit, dia melangkah mendekat '' apa kamu tidur dengan nya?''
darah Maureen melaju terkejut selagi Oliver menatap nya, tersenyum.'' bukan urusanmu '' dia berhasil menjawab.
Oliver mengambil satu langkah lagi, membuat tubuh kecil Maureen terpojok di lemari dapur ''apakah kamu memikirkan ku, ketika dia menyetubuhi mu'' dia menuntut.
tubuh Maureen gemetar, tertangkap dalam tatapan nya ''tidak ''
'' pembohong '' jari Oliver bergerak lebih rendah lagi turun ke dada Maureen '' aku pikir kamu tidur dengan nya dan memikirkan ku. aku pikir kamu membayangkan ku, setiap menit dia berada di dalam diri mu''
Maureen tidak percaya Oliver mengatakan hal-hal itu, lebih parah lagi, semua itu benar. mata Oliver berkilat dan tangan lain nya berada di pinggang Maureen, memegang nya erat, mendorong maureen ke belakang ketika dia mengangkat ujung kaus Bright yang saat ini sengaja Maureen pakai.
tangan Oliver meluncur menaiki paha Maureen. nafas gadis itu terhenti di tenggorokan. Maureen tidak bisa memalingkan wajah, tidak dengan mata Oliver yang masih terpaku pada nya, penuh keinginan dan kemenangan.
ini tidak seperti Bright, ceroboh dan penuh semangat : Oliver mengarah kan sentuhan nya dengan ketepatan, jauh dan tak akrab, mengamati setiap reaksi Maureen.
Maureen mencoba tak bergerak, tapi dia sungguh ahli, terlalu ahli, jari-jari nya dingin bergerak di kulit Maureen yang panas hingga gadis itu gagal menahan kontrol nya, terengah.
ada suara datang dan lorong.
Oliver melangkah menjauh dengan mulus mengitari dapur hingga ketika pintu nya terayun terbuka, dia sedang duduk di sisi lain ruangan dengan Maureen.
__ADS_1
'' di sini kamu rupa nya '' Bright tampak terkejut, lalu tatapan nya beralih pada Oliver, tajam dan dingin.
'' apa yang kalian lakukan ''
'' a-aku hanya mengambil sisa es krim di kulkas, apa kau mau?'' Maureen menangkan nafas, pipi nya memerah, darah nya bergetar dari ketegangan ''aku tidak bisa tidur ''
Bright hanya mengangguk saat Oliver mengangkat sebotol wiski nya, menawar kan, dan berjalan lurus menuju ke arah Maureen.
'' wajah mu merah semua '' Bright mengerut kan kening, menunduk menatap Maureen. dia menggerak kan punggung tangan nya di dahi sang gadis.
'' dahi mu panas, apa kamu merasa sedang sakit ''
'' mungkin '' Maureen mengambil nafas cepat dan meraih sebuah gelas dari meja, membuka kran air dingin.
'' aku merasa tidak enak badan. mungkin aku hanya perlu istirahat, itu saja ''
'' baiklah, kita kembali ke ranjang '' kata Bright, merangkul pundak Maureen dan menuntun nya berjalan.
'' aku akan merawat mu''
'' terima kasih '' ucap Maureen lambat-lambat, dia mengangguk kecil. ke dua nya melewati Oliver, mata Maureen melihat ke bawah, dia masih bisa merasa kan jejak sentuhan Oliver di tubuh nya, denyut jantung nya melaju cepat di dada : sisa-sisa hasrat masih ada di sana.
'' jangan khawatir, kamu berada dalam tangan yang bisa di percaya'' Oliver menambahkan ringan, seakan dia tidak pernah peduli pada resiko karena Bright masih berdiri di sebelah Maureen.
Aku harus bagaimana setelah ini!
***
Next
Terus dukung kelanjutan nya, jangan lupa kepoin terus hubungan Bright dan Maureen dan Oliver....
waduh gimana ya?
__ADS_1