
Maureen mengayun kan pedal nya semangat, ber sepeda melewati perumahan padat di kota, sampai tiba untuk Maureen memutar arah memasuki area perumahan kecil yang tak jauh dari kata biasa.
senyuman ceria Maureen tampak kan ketika tuan rumah keluarga Mayhew menyapa nya, benar dia termasuk tetangga dekat Maureen selain keluarga Sandra.
Maureen mencari kunci pintu yang tadi sempat ia simpan dalam tas ransel, dapat. dia memasuk kan logam itu ke tempat nya dan mendorong pintu terbuka.
'' baru pulang ''
hampir saja jantung Mauren melompat mendengar suara yang tiba-tiba muncul, tanpa ia sadari bahwa seorang lelaki sudah sejak tadi menunggu kedatangan nya.
'' m-maaf, aku lupa kau masih ada di rumah ku'' ucap Maureen, dan mengerjap beberapa kali.
bright menatap datar gadis dengan setelah baju hangat itu yang kini berjalan mendekati nya.
'' kamu sudah makan '' Mauren ber tanya asal.
yang benar saja, apa yang aku kata kan, dasar bodoh.
'' aku membawa kan mu sesuatu ''
bright melihat tanpa minat dengan apa yang Mauren keluar kan, bukan karena diri nya pemilih, tapi karena mood makan nya hilang dengan ada nya masalah yang dihadapi sekarang ini.
'' aku tidak lapar '' tutur bright, menjelas kan setiap ekspresi bertanya di wajah Maureen.
'' benarkah, tapi kamu belum makan sehari ''
bright meraih minum an soda yang juga Maureen keluar kan, meminum nya tanpa berhenti bernafas sampai tetesan yang Ter akhir.
'' kau akan pulang malam ini ''
Maureen mencari topik ketika kedua nya sama-sama diam, untuk menghilang kan ke canggung an.
Maureen menelan ludah nya susah payah, saat lensa biru cerah milik bright bergeser menatap nya. jujur, saat ini jantung Maureen ber debar tak beratur, siapa pun pasti merasa kan itu dimana seorang lelaki yang di idolakan nya sekarang berada di rumah yang sama.
'' kenapa? apa ucap an ku salah ?''
Maureen mengoreksi lagi ucapan nya, dia benar-benar takut kalau sampai menyinggung orang besar yang entah keajaiban dari mana Maureen bisa mendapat kesempatan untuk bertatap an langsung, bahkan dalam rumah nya sendiri.
'' aku rasa, aku sedikit lapar '' tetap sama, bright tidak merubah ekspresi nya, ber beda dengan kemarin malam yang Ter lihat sangat kacau.
Maureen tersenyum simpul " makan lah, maaf, aku tidak punya cukup uang untuk membeli makanan yang biasa kamu makan"
bright berdehem pelan tanpa mau membalas ucapan Maureen, merasa kan kunyahan dalam mulut nya yang terasa aneh tapi membuat nya ketagihan.
'' aku sudah melihat berita mu di tv, dan... '' Mauren menggantung kalimat nya, mencari kata-kata yang tepat untuk melanjutkan.
'' aku Terkejut ''
'' kau percaya berita itu '' tanya bright menyudahi makan nya.
Maureen mengedik kan bahu '' entah lah, menurut mu aku harus percaya atau tidak ''
bright Ter senyum miring '' pendapat tidak bisa di tentukan oleh orang lain, itu hak diri mu sendiri ''
anggukan kecil Maureen beri kan ''jadi... ''
bright menunggu jawaban Maureen, namun wanita itu seperti tak peduli dengan apa yang saat ini bright sebut masalah.
__ADS_1
'' mungkin, aku tidak perlu memper cayai siapa pun ''
'' itu keputusan mu'' tanya bright.
Maureen mengganggu kan kepala dua kali, lalu Ter senyum sangat manis. dan hal itu mengundang rasa penasaran bagi Bright.
'' kau benar-benar tidak peduli dengan berita '' ulang nya, Maureen di buat ber fikir dengan ucapan Bright.
'' yaps. kenapa? aneh!! "
"tidak... '' Bright menjawab cepat '' maksud ku, seperti nya itu lebih baik ''
dengan antusias Maureen menanggapi, meraih sebuah kue kering dan memasuk kan nya ke dalam mulut.
'' aku akan istirahat, kau baik-baik lah di sini ''
bright mengangguk dan menatap wajah Maureen, memberi kan sedikit senyum an meski tidak sepenuh nya tulus.
Maureen berlalu memasuki kamar nya dengan santai dan hal itu tidak lepas dari pandangan seorang bright yang tak henti memandang sampai Maureen menghilang di balik pintu.
dengan panik Maureen menyentuh dada nya, entah mengapa adrenalin seakan mengalir deras, dia juga merasa kan memanas yang menjalar di tulang pipi nya.
'' kenapa dia memandang ku seperti itu? apa aku berbuat salah''
***
suara dentingan jam dinding Ter dengar nyaring di telinga Maureen, dengan perasaan terpaksa dia harus membuka mata. jam menunjuk kan tepat jam tujuh pagi kurang Lo Lima belas, masih ada waktu untuk Maureen kembali ke alam mimpi.
tapi sebuah ketukan pintu mengalih kan atensi nya, dengan Ter buru-buru Maureen menatap diri nya di depan cermin.
memperhati kan seksama, lalu ber jalan ke arah pintu saat di rasa semua nya cukup baik.
'' kenapa ? '' tanya Mauren, mengusap mata nya beberapa kali, bertingkah seolah dia masih belum juga sadar dengan sempurna.
'' maaf mengganggu mu pagi-pagi buta'' bright ber kata tak mengenak kan.
'' aku hanya ingin tanya obat merah yang waktu itu, apa masih ada? ''
Maureen mengangguk dan ber sama an dengan dahi mengerut. heran.
'' buat apa? '' Maureen berbalik tanya.
bright menunjuk kan pundak nya, dan tepat detak setelah nya Maureen melotot terkejut, melangkah lebih dekat untuk melihat nya lebih jelas.
dengan jelas Maureen melihat, luka goresan yang waktu itu bright dapat kini kembali Ter buka dan kembali mengeluar kan darah segar.
'' aku tidak sengaja menabrak lemari laci tadi ''
aneh ?
bright menjelas kan setiap pertanyaan yang muncul jelas dari raut wajah Maureen, Gadis cantik itu mengangguk, mengerti.
Maureen menjauh kan tangan nya tatkala lelaki bertubuh tegap itu mengadu ke sakit an.
'' seperti nya ini lebih besar dari sebelum nya'' ucap Maureen, menatap nya sendu.
'' biar aku bantu obati ''
__ADS_1
bright mengangguk dengan patuh, mengikuti arah an Maureen saat gadis cantik itu memberi nya isyarat untuk duduk.
'' bagaimana dengan keluarga mu'' per kata an Maureen berhasil membuat bright menatap ke arah nya.
'' mereka pasti, mencemas kan tuan muda nya yang hilang '' sambung nya, meraih kain kasa dan menempel kan di luka yang berhasil dia oles dengan obat merah.
bright terlihat diam sesaat, lalu mendongak untuk menjawab '' mereka sibuk dengan urusan nya sendiri-sendiri''
Maureen menatap netra biru muda yang cantik itu, jantung nya kembali berdebar kencang, merasa tak mampu menahan pesona seorang Remirro.
dengan tingkat yang di buat sangat normal dan tenang, Maureen mulai memberes kan peralatan p3k dan berlalu meninggal kan bright.
tidak ada objek lain yang dapat bright lihat selain Maureen yang sekarang melangkah menuju ke arah nya dengan dua minuman soda dingin yang baru saja dia ambil dari kulkas.
Maureen menyerah kan satu botol untuk bright dan yang satu lagi untuk diri nya.
'' kau hidup sendiri '' bright membuka suara.
'' hmm ''
bright mengangguk mengerti.
'' apa rencana mu?'' tanya Maureen sesaat ketika suasana kembali sunyi.
'' belum ada rencana, tapi tenang saja, aku tidak seterus nya di sini''
Maureen mengerjap, apa dia ada salah menyinggung dengan perkataan nya.
'' a-aku tidak keberatan kamu tinggal ''
bright menyungging kan senyum nya, sarkas. memosisi kan kepala untuk menatap Maureen lebih jelas, lebih intens dan lebih menusuk, mata biru itu berkilau dan cerah.
Maureen mengalih kan wajah nya, dia sadar pipi nya mulai memanas sampai tulang telinga nya. bisa tolong beri tahu dia, aku malu di tatap seperti itu ?
bright tertawa '' kamu bisa malu ''
'' yang jelas aku masih manusia '' tutur Maureen, hampir berupa bisikan.
''aku baru tahu kau bisa tertawa '' Maureen membalik kan ucapan lelaki itu.
bright sedikit bingung untuk menjawab nya, tapi secepat mungkin dia kembali ber laku santai.
'' ya, aku juga baru sadar aku bisa tertawa selepas ini''
Maureen mengernyit heran, tapi setelah nya dia mengembang kan senyum manis yang tak pernah bosan di pandang mata.
'' mungkin karena mood ku baik, ada di sisi mu''
Deg...
Nexs
MOhon dukungan nya dengan like, komen,vote dan bintang buat yang ikhlas aja, ngak maksa. saling membantu ya kakak.
jangan lupa follow tiktok : @shopaychill
Ig : yarasary_
__ADS_1
terima kasih.