
'' apa aku terlihat cantik '' sebuah suara terdengar, mengalih perhatian seorang gadis yang membenarkan letak rambut nya.
Maureen melihat, mengamati selagi tubuh Tamara berputar dengan senyum yang mengembang '' cantik '' puji nya, jujur.
'' aku yakin kamu akan jadi pelayan yang paling mempesona nanti '' Maureen meraih gelang karet untuk menyelesai kan pekerjaan nya yang tengah menguncir kuda rambut nya.
'' ayolah '' Tamara mengeluh, mendecak kan lidah sebelum kembali berkata '' asal kamu tahu, kamu jauh lebih sempurna dari ku, gadis manis''
'' berhenti menggoda ku'' suara Maureen lirih, pandangan nya menyebar melihat beberapa orang yang tengah sibuk menyiap kan diri.
ada banyak orang yang di sewa dalam perayaan ini, laki-laki dan wanita, mereka tidak segan membicara kan kalau mereka bangga bisa masuk ke dalam gedung tempat orang-orang besar berkumpul.
meski yang mereka tempati adalah gelar seorang pelayan, yang tak lain, menuangkan minuman, mengisi makanan-makanan yang kosong, menerima piring kotor dan pekerjaan lain yang biasa.
'' persiapan '' suara itu milik Beverly, dewan panitia yang memimpin pelaksanaan bagian pelayan.
wanita dengan tubuh pendek yang berisi, dengan lipstik cerah dan maskara yang berlebihan, umur kurang lebih dua puluh tahun, namun penampilan nya kelewat dari kata normal.
'' jangan sampai terjadi kesalahan, ingat! mereka yang hadir bukan sembarang orang, perhatian ini untuk keselamatan kalian, mengerti? '' tambah Nya, dengan mata menjelajah satu persatu orang.
tatapan nya berhenti pada Maureen, beberapa detik lalu ekspresi nya berubah, Beverly melengos, berjalan menuju kerumunan, di balik salah satu pintu ruangan yang ada.
''apa yang barusan dia lakukan '' Tamara menyahut, terdengar kesal.
Maureen mengangkat bahu acuh '' kamu pasti mengerti dari tatapan nya, tanpa aku harus menjelas kan ''
Tamara melihat ke arah Maureen lagi '' aku tidak percaya dia masih di pekerja kan'' gumam nya.
'' aku percaya, kalau dia bekerja di Quick-stop, jatuh hamil dan punya anak tiga dalam usia nya saat ini''
'' Tamyy '' Maureen memberi peringatan, melirik ke arah pintu.
'' apa? semua orang tahu itu benar '' dia menguap. mendekat kan mulut nya tepat di telinga Maureen.
'' aku dengar dia tidur dengan dua cowok di tim sepak bola saat pesta bulan lalu, dan dia membiar kan mereka merekam nya'' bisikan itu membuat Maureen merinding.
'' itu tidak masuk akal '' bantah Maureen.
'' itu yang mereka katakan '' Tamara mengangkat bahu nya.
sebuah suara masuk ke percakapan '' kamu yang di sana? '' itu Beverly, mengangkat tangan nya, dan menyisakan jari telunjuk terjulur ke depan.
__ADS_1
Tamara menunjuk diri nya sendiri '' aku! '' kata nya, meyakin kan.
'' ambil kan sebotol sampanye di belakang '' Beverly berkata tegas, lalu beralih ke Maureen '' dan kamu, menjaga meja minuman di sebelah timur ''
kedua nya mengangguk patuh, berhenti sejenak ketika Beverly melangkah menuju pelayan yang lain.
'' kau lihat '' Tamara bergumam, menjalan kan apa yang tadi dia dapat '' sungguh berkelas, tapi sombong nya mengalah kan devil di neraka ''
Maureen menggeleng mendengar celotehan teman nya, dia berjalan sesuai apa yang Beverly bilang, menjaga meja minuman di sebelah timur.
menjaga minuman itu tetap terisi meski perlahan banyak orang berdatangan dan mengambil dengan tidak peduli, bahkan ada yang sampai menumpah kan cairan merah pekat di atas lantai juga kepingan-kepingan beling yang berantakan dan mereka pergi tanpa rasa bersalah.
Maureen tersenyum simpul, mencari sesuatu yang dapat di buat untuk membersih kan noda itu di lantai. benar! dia harus ekstra lebih baik, karena dia sekarang hanya sekedar lalat dari sekumpulan orang elit.
'' apa yang terjadi ''
'' seseorang menumpah kan minuman nya, mereka seakan tidak punya hati, meninggal kan kekacauan begitu saja ''
Maureen menjawab tanpa melihat siapa yang sekarang mengajak nya berbicara, pikiran nya hanya fokus untuk tetap bersikap tenang dengan kejadian yang akan terjadi lebih lanjut.
'' siapa yang tidak punya hati? '' suara itu kembali terdengar.
Maureen mendongak netra nya bertemu dengan seseorang di sana, suara nya tercekat di tenggorokan.
rasa takut menyelimuti diri nya, dingin seperti es.
'' hai ''
suara itu menggetar kan relung hati Maureen sampai ke punggung, senyuman sarkasme Nya seakan mengiringi rasa malu yang mengalir deras, membuat sekujur tubuh Maureen bergetar tak tentu.
'' kenapa? aku mengejut kan mu ''
Maureen memaksa sebuah senyuman cerah ''tidak, maaf aku pikir kamu teman ku'' dia terkejut betapa masuk akal nya ucapan itu.
'' bukan kah kita juga berteman ''
Maureen menggigit bibir bawah nya '' tentu saja, Krisna '' gumam nya, menyebut dengan penuh hati-hati.
'' ingatan yang baik '' laki-laki itu menjentik kan tangan Nya, senyum nya kian melebar '' aku cukup mengagumi perkataan mu yang tadi''
Maureen berdiri, tersesat di tengah ruangan. panik mulai menggempur diri nya sekarang, sekawan rasa takut yang tebal dan besar, suara-suara terus terdengar di sekitar nya normal tak ada yang berubah, seperti menit-menit sebelum nya.
__ADS_1
'' maaf, aku harus kembali bekerja '' Maureen pergi dengan kain kotor dan sisa-sisa pecahan beling yang ter kumpul dalam sebuah tas kresek kecil.
'' apa yang ku katakan, dia pasti merasa tersinggung ''
Maureen tak menyadari jika seseorang terus mengamati nya dan masih mampu mendengar apa yang di gumam kan, sampai bibir nya melengkung berbentuk senyuman.
Maureen berhenti ketika tatapan nya kembali bertemu dengan lelaki yang tadi sempat membuat nya takut, dia tidak bisa menghindar dengan berbalik arah karena itu akan memperjelas kalau dia melakukan kesalahan.
'' aku sebetul nya belum memperkenal kan diri kepada mu ''
Maureen mendengar kan dengan tangan yang sibuk mengisi ulang gelas-gelas kosong '' aku sudah menyebut kan nama mu tadi '' ucap nya ringan, tanpa teralih kan dari objek yang ada di sana.
'' tapi itu bukan nama ku yang sebenar nya ''
merasa heran, Maureen menegak kan tubuh dan memiring kan tubuh nya, menghadap orang di sebelah Nya, dengan persiapan mental yang cukup untuk mengahadapi perkataan yang mungkin akan membuat nya terkejut.
'' lalu? '' bisik Maureen.
ingin sekali Maureen menghilang sebentar saja, mengingat rasa malu nya yang masih belum mereda, meski dia tahu orang di depan nya tidak mempeduli kan ucapan itu dan memilih topik lain yang ingin di bicara kan.
Maureen melihat ke bawah ketika seseorang menjulur kan tangan nya, Maureen ragu-ragu, lalu menjabat tangan itu.
'' jadi, siapa nama mu '' suara Maureen kembali terdengar, memecah kan kecanggungan yang mungkin dia rasa sendirian.
sebuah senyuman terbit, lalu mulut nya terbuka dan menyebut kan tiga kata yang membuat Maureen mengerjap tak percaya.
'' Oliver nan Traga ''
'' apa?''
***
NEXT
MOhon dukungan nya dengan like, komen, dukungan dan bintang buat yang ikhlas aja, ngak maksa. saling membantu ya kakak. lop you.
jangan lupa follow tiktok : @shopaychill
Ig : yarasary_
terima kasih.
__ADS_1