Hello Tuan Muda

Hello Tuan Muda
Bab 8


__ADS_3

seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan baju hangat dan syal yang terlilit di leher, tengah memandang area sekitar nya. tanaman hijau menari mengikuti alur angin yang bertiup kencang.


benar. udara sangat dingin sekarang, tapi tak membuat penduduk Florence menyerang dan berpangku tangan, seperti hal nya Krisna.


'' bagaimana perkembangan nya '' tanya seorang ketua pria, ber tubuh sedikit kecil.


" tidak banyak, hanya saja sekarang lebih baik" jawab krisna, menyerah kan kertas berisi kan data.


Maicel membaca secara detail, dia pemilik perkebunan itu, seorang lelaki ber kepala dua yang merupakan paman Krisna dari jalur ibu.


mereka mengambil posisi duduk di salah satu meja yang tersedia di sana, lalu kedua pelayan datang dengan satu teko teh, dua gelas beling dan kue kering yang di suguh kan di atas piring putih.


'' kau membuat kekacauan yang sangat besar '' peringat maicel, sambil menuangkan teh untuk nya dan Krisna.


dengan santai Krisna menjawab '' bukan kah itu kecelakaan, semua orang berfikir seperti itu.dan aku... tidak melakukan apapun ''


dengan tidak ber dosa nya Krisna meraih gelas milik nya dan meminum.


maicel bernafas berat '' aku mengenal mu nak''


'' saham keluarga Remirro hampir merosot, kamu cerdas, kamu juga pintar mencari peluang. dengan menyebar kan Vidio mu tidur dengan bright, kamu sudah tahu kalau itu akan menjadi trending topik dan ber pengaruh dengan perusahaan. Derek pasti menentang berita itu, lalu semua permasalahan nya akan berakhir di bright''


Krisna ter senyum hampir keji ''paman selalu yang terbaik ''


'' kau masih ingin membalas dendam '' maicel Berta nya. kembali meminum teh santai.


'' paman benar mau mendengar kan'' Krisna ber balik tanya. menatap serius wajah keriput paman nya.


'' jangan membuat hidup mu sendiri masuk ke dalam jurang, kamu tahu paman yang ber tanggung jawab atas kehidupan mu. ibu mu pasti marah kalau sampai terjadi sesuatu pada anak kesayangan nya ''


Krisna tertawa '' tenang paman, keponakan mu sudah terlatih ''


maicel menyadari api kegelapan masih mengembara di balik mata kelam Krisna, lelaki muda itu masih saja sama seorang yang sangat keras kepala.


Helena anak mu sama keras nya dengan mu, aku hanya bisa memantau nya dari jauh, maaf mungkin aku tidak bisa menjaga nya untuk terus aman.


maicel berdoa dalam hati. menatap wajah tampan Krisna yang banyak memiliki kemiripan dengan adik kesayangan nya.


'' Mai, jaga kan anak ku. didik dia, jangan sampai dia bernasib seperti ku''


***


jam pelajaran ber jalan, seorang profesor menerang kan dengan suara lantang dalam ruangan yang tak ber jendela itu.

__ADS_1


Maureen salah satu dari mereka, dengan pulpen dan buku lembar bersih yang belum tertoreh tinta sedikit pun. bukan waktu yang tepat, kenapa ibu nya harus menelfon di waktu yang membuat Maureen kehilangan semangat belajar.


pikiran nya tidak terhubung dengan kondisi di dalam ruangan, akal nya berkelana dengan pembicaraan dua puluh menit yang lalu.


'' aku sudah sangat berusaha bu'' jelas Maureen pada ibu.


''tapi sayang, ini benar-benar tidak cukup untuk keperluan panti saat ini '' ibu mengeluh, merasa kan hembusan nafas Maureen di seberang.


'' aku tidak punya tabungan lagi ibu ''


'' sayang, ibu tahu ini Sulit untuk mu, tapi... Kiran memecah kan vas mewah milik sekolah dan ibu harus menanggung biaya nya ''


Mauren merasa kan sesak, amarah menjalar memecah kan ketenangan nya. ingin sekali Maureen mengumpat keras, tapi tidak. dia ibu, orang yang mendidik nya sejak kecil dan Maureen harus bisa mengerti situasi yang sekarang dia hadapi.


''baiklah, aku akan coba lebih keras lagi ibu''


'' kau yang termanis, Maureen''


Maureen menelan pahit nya sesak yang dia rasa '' aku akan tutup dulu, kelas ku akan di mulai sebentar lagi ''


'' baiklah, ibu berharap kau luang kan waktu untuk bermain kesini ''


'' akan ku usaha kan''


dengan cepat Maureen mencatat semua yang Ter tulis di papan, lalu merapi kan barang nya dan mengikuti para murid yang lain ke luar kelas.


***


Maureen ter duduk di atas lantai dingin tanpa alas, menghindari kerumunan orang meski semua nya tak bersuara.


perpustakaan, satu tempat yang mengundang banyak orang tapi tak membuat banyak suara. semua nya diam, fokus dengan buku nya masing-masing, tanpa peduli siapa.


'' ini yang kau butuh kan ''


Maureen mendongak saat sebuah kaki jenjang berdiri di hadapan nya, menjulur kan tangan ke arah Maureen dengan satu permen karet yang di pegang.


'' untuk mu '' lelaki itu melempar permen karet nya, ketika Maureen masih ragu untuk menerima, lalu duduk di sebelah kanan Maureen.


'' terima kasih '' ucap Maureen, Ter senyum simpul.


'' kau Ter lihat kacau ''


'' benarkah, sejelas itu ?'' Maureen sedikit bingung.

__ADS_1


lelaki itu tertawa kecil, sikap Maureen terlihat lucu '' tidak, aku hanya sekedar menebak. tapi seperti nya aku benar''


Maureen tampak sedang berfikir untuk menjawab, tapi percuma untuk menutupi semua sudah terlambat, lebih baik dia jujur karena sudah terlanjur.


gadis cantik itu mengangguk dan menatap netra kelam di depan nya.


''aku Stein, salam kenal '' Stein menjulur kan tangan nya dan dengan cepat Maureen membalas.


'' Maureen, senang ber kenalan dengan mu '' ucap Maureen.


'' Aah.. itu terlalu formal, jangan sungkan anak muda'' Stein meniru gaya bicara seorang profesor.


kedua nya tertawa, dan membuat kedua nya menjadi pusat perhatian. Stein meletak kan telunjuk kanan nya di depan bibir dan Maureen mengangguk mengiya kan.


setelah nya mereka kembali tertawa dengan suara lebih kecil, dan masih di posisi yang sama. Stein mengambil buku yang berada atas pangkuan Maureen.


'' kau butuh pekerjaan ''


Maureen mengganggu kan kepala '' sangat butuh ''


''seperti nya aku punya sedikit bantuan untuk mu''


Maureen berbinar, menggenggam tangan Stein refleks '' benarkah ''


Stein membalas dengan anggu kan lagi, lalu mendekati telinga Maureen '' bagaimana kalau kita bicara kan di luar ''


bisikan itu membuat kedua sudah bibir Maureen tertarik ke atas '' dengan senang hati, tuan ''


kedua nya kembali tertawa mendengar suara Maureen yang menurun kan seorang pelayan.


'' baiklah, let's go ''


kedua nya bangkit dan ber jalan beriringan, meletak kan buku nya di tempat semula sebelum benar-benar meninggal kan perpustaka an.


Maureen menunjuk kursi kantin sebelah kanan yang masih kosong, untuk menjawab pertanyaan dari ekspresi yang Stein tunjuk kan.


Nexs


MOhon dukungan nya dengan like, komen,vote dan bintang buat yang ikhlas aja, ngak maksa. saling membantu ya kakak.


jangan lupa follow tiktok : @shopaychill


Ig : yarasary_

__ADS_1


terima kasih.


__ADS_2