Hello Tuan Muda

Hello Tuan Muda
Bab 41


__ADS_3

Bright memberhenti kan mobil nya di sebuah jalan yang sepi, di depan sebuah kedai makan, mematikan mesin dan melepas sabuk pengaman nya.


Maureen tidak bergerak, gadis itu masih diam dan menatap lurus ke depan, tidak ada pergerakan meski tahu bright akan keluar dari mobil.


bright mendengkus lelah '' baiklah, kita akan bicara di sini '' ucap nya, kehabisan rencana untuk membujuk Maureen keluar.


'' Krisna, atau lebih kamu kenal sekarang dengan Oliver, berhenti dari kuliah nya tanpa alasan yang pasti '' bright memulai, menatap Maureen meski gadis itu terus menghindari nya.


'' masih kurang dua semester untuk dia lulus dari universitas di sana, tapi dia bilang orang-orang di sana tidak menyenang kan lalu Oliver memutus kan untuk pulang dan berhenti begitu saja ''


Maureen masih diam, pikiran nya gatal untuk menanya kan: kenapa Oliver bisa sebodoh itu menyia-nyia kan kesempatan emas? apa dia benar-benar tidak waras !


'' papa sudah merencana kan kalau Oliver akan di tempat kan di sana, tapi sekarang sudah tidak bisa. bukan karena Oliver tidak punya ijazah, tapi karena dia menolak untuk pemberian papa''


''dia bilang dia lebih menyukai hasil dari usaha nya sendiri, dan menerima bantuan orang lain adalah penghinaan menurut nya ''


bright mengambil tangan Maureen dan di genggam nya erat '' di sana adalah tempat impian ku, aku harap kamu bisa mengerti. aku juga tidak bisa meninggal kan mu, aku mencintai mu ''


Maureen merasa kan air mata jatuh membasahi pipi nya, dia juga tidak tahu kenapa, tapi dalam samar dia tidak mau jauh dari Bright, dari kehangatan yang sementara menjadi penenang dalam hari-hari yang penuh dengan kesuraman.


satu ciuman mendarat di punggung tangan Maureen '' aku mohon jangan seperti ini, aku bisa minta papa untuk memberi kita waktu''


'' tidak'' bantah Maureen, mengusap air mata nya kasar '' tidak perlu seperti itu ''


'' perlu... '' bright menegaskan '' kamu sangat berarti Maureen dan aku tidak mau kehilangan mu''


Maureen menelan frustasi nya, menaik kan pandangan lalu menampil kan sebuah senyuman '' aku ada di sini ''


entah sampai kapan kota ini membenam kan cakar nya dalam diri ku. batin Maureen.


" kita bisa berhubungan jarak jauh, dan kita juga sudah terbiasa seperti itu "


bright tersenyum " aku tidak tahu, harus bersyukur bagaimana, karena Tuhan mengirim kan aku malaikat yang begitu sempurna"


sekali lagi Maureen harus berpikir dengan pujian itu, Apa memang ini yang pantas untuk dia dapat. dalam detik itu juga ketika bright menarik nya berpelukan, kata-kata Oliver kembali berputar dalam otak Maureen.


sampai kapan dia harus menjadi seperti ini, apa semua nya akan terus berjalan dalam roda yang bergelinding dengan lubang.

__ADS_1


'' aku janji akan selalu mengabari mu, sayang. aku tidak akan bisa tenang sehari tidak mendengar suara mu'' bright mengusap lembut rambut panjang Maureen.


Maureen mengerat kan pelukan nya '' kita akan baik-baik saja ''


bright mengurai pelukan nya, meraih wajah Maureen dan mencium bibir pink itu sekilas ''aku bilang pada mama, kalau kamu akan datang untuk makan malam ''


Maureen menegak kan tubuh ''tapi kamu tidak beri tahu ku sebelum nya ''


'' mereka semua ingin secepat nya bertemu dengan mu'' bright menyisip kan rambut Maureen ke belakang telinga.


'' aku tidak berbohong tentang itu '' tambah Nya, meyakin kan keraguan yang timbul di wajah Maureen.


'' baiklah, semua sudah kamu atur. aku harap, aku tidak akan mengecewa kan keluarga mu'' Maureen berucap, menatap senyum tulus bright yang muncul setelah persetujuan nya.


'' terima kasih, sayang. mereka semua pasti menyukai mu ''


bright kembali duduk dengan benar dan mulai menjalan kan mobil, memecah keheningan malam di jalanan yang mulai sepi.


***


pintu terayun terbuka, terlihat Aston kembali dengan seragam kepolisian dan pistol kebanggaan nya yang ada di saku celana.


sebuah telepon berbunyi dan Maureen melihat, itu untuk Weber. jadi dia berhenti, karena seseorang sudah menjawab nya di sana.


suara Weber jelas, dan jantung Maureen mengeras mendengar topik apa yang sedang mereka bahas. panggilan berakhir dengan kebencian Maureen yang melambung tinggi di dada nya.


sebuah berkas sudah di tangan, Maureen dengan hati-hati mengetuk pintu yang bertulis kan 'Kantor kepala kepolisian' dengan cat hitam yang ter oles kurang lebih umur nya hampir satu tahun.


suara Weber datang dan Maureen membuka pintu nya '' dokumen yang kau minta ''


'' oh- silahkan masuk ''


di sebelah sana, Weber sedang menggigit ujung bolpoin secara tidak sadar. menjaga secangkir kopi selagi dia membalik perlahan halaman-halaman yang ada di koran lokal, hampir setiap hari, dia akan berada di sana, membolak-balik kertas dokumen atau berkutat dengan teka-teki silang nya.


menyerah kan tugas pengejaran kriminal-kriminal kepada para deputi yang lebih muda: semua orang tahu di mana mereka bisa menemukan nya.


" aku melihat salah satu dokumen belum mendapat tanda tangan, aku akan meletakkan nya di atas "

__ADS_1


Maureen mendekat untuk memberi kan dokumen dan melirik ke arah coretan di teka-teki silang nya.


" terima kasih. apa kamu tahu enam huruf untuk perasaan tidak puas "


Maureen terhenti, memikir kan huruf-huruf yang terbentuk di otak nya " kecewa "


Weber mengangguk meyakini, lalu menulis kan jawaban nya di pinggiran kotak.


" mengapa tidak langsung mengisi nya " Maureen bertanya, ingin tahu.


Maureen masih tidak mengerti alasan nya, hampir semua halaman terisi dengan catatan tapi tidak ada yang tertulis di dalam kotak nya sendiri.


" aku suka menunggu, sampai aku tahu semua jawaban nya " Weber tersenyum konspiratif " supaya tidak ada jawaban yang salah dan membuat nya beranta kan "


" apa ada yang bisa aku bantu " ujar Weber, melihat Maureen yang masih berdiri di dekat nya dengan tatapan tak tentu.


Maureen menarik nafas dalam " aku melihat Aston. apa dia lolos dari tuntutan nya "


Weber mengangguk " keluarga nya menyewa pengacara terkenal dan dia terbukti tidak bersalah "


" apa? " Maureen mengeras kan rahang nya "tapi jelas-jelas waktu itu aku mendengar Aston wawancara, dia mabuk ''


Weber mendengkus lelah '' rekaman nya rusak dan kita tidak punya bukti lain untuk menuntut nya ''


darah mengalir deras di telinga Maureen, kenapa semua bisa seperti ini ? Beverly tidak selamat tetapi Aston kembali dengan senyum dan seragam kepolisian yang tidak ada perbedaan nya.


Maureen berpamitan, melintasi ruangan dan menutup pintu di belakang nya. sebuah suara yang dia kenal terdengar, Aston dan para deputi lain sedang santai menikmati waktu istirahat, mengunyah pizza dengan kaki bersilang di atas meja.


membosankan.


Maureen melengos, menghakimi dalam hati nya kalau ini tidak adil. tidak untuk Beverly Hilton.


***


Next


terima kasih banyak, maaf kalau masih banyak kekurangan dalam kata-kata nya, biasa baru pemula.

__ADS_1


lop yu Kakak,. jangan lupa dukungan nya.


__ADS_2