Hello Tuan Muda

Hello Tuan Muda
Bab 31


__ADS_3

semua kembali seperti semula, menjalan kan hari-hari dengan kepentingan pribadi mereka tersendiri.


Maureen tiba di stasiun kepolisian pagi ini, ada yang salah dia bisa melihat nya, lantai pertama nya terlalu sunyi, telepon-telepon berbunyi tak ada yang peduli, sedang kan para deputi berkumpul menjadi satu di depan Mesin kopi.


Maureen mengikuti arahan mereka yang sedang mengintip ke dalam ruang interogasi, membicara kan sesuatu dengan suara yang sangat kecil.


'' apa terjadi sesuatu '' Maureen menggantung kan jaket nya di kursi dan melangkah mendekati mereka.


'' apakah ada yang akan menjawab telepon-telepon itu?''


salah satu dari mereka mendongak, deputi ''kamu tidak dengar ''


''aku baru sampai, memang nya tentang apa? '' ujar Maureen, menuang kan kopi untuk diri nya sendiri.


'' di jalan tol berbelok an baru, tadi malam ada sebuah kecelakaan, sebelah pembangunan baru ''


Maureen berhenti, mengingat terakhir kali hal itu terjadi, bunga-bunga layu yang tampak menyedihkan memenuhi sisi jalan, selama ber hari-hari Maureen telah mengisi dokumen-dokumen tentang surat tilang dan pertengkaran biasa.


tapi yang satu ini adalah hal yang besar.


'' apakah semua nya selamat, maksud ku baik-baik saja '' Maureen bertanya.


salah satu dari mereka yang tadi sempat menjawab pertanyaan Maureen, menggeleng kan kepala.


'' Aston terlibat, berkendara dengan seorang gadis, dia sangat syok, kepala kepolisian sedang mengintrogasi nya sekarang ''


Maureen diam sesaat, lalu mengintip ke dalam pintu ber cat hitam yang tertutup.


'' aku tidak mengerti, kenapa mereka menaruh nya di dalam sana seperti orang kriminal '' sebuah suara memasuki percakapan.


'' menurut ku itu adalah kesalahan si cewek dari awal nya, semua orang tahu jalan di sana berbahaya ''


Maureen memalingkan wajah melihat seseorang yang menengahi ucapan barusan.


'' pak kepala hanya menjalan kan tugas nya ''


'' tapi Aston adalah salah satu dari kita, tentu saja ini tidak benar '' suara yang ini terdengar penuh menghakimi, tidak terima.


telepon nya berbunyi lagi, dan Maureen lihat papa penghubung di meja nya menyala untuk setiap saluran telepon '' biar aku saja yang akan menerima nya '' ucap nya pada mereka, berjalan menjauh.


tidak ada yang peduli, mereka mengangkat bahu dan kembali lagi ke mesin kopi.

__ADS_1


'' Hallo dengan departemen kepolisian- '' Maureen tidak sempat menyelesaikan kata-kata nya tapi suara di sana mulai meminta jawaban.


apa yang terjadi ? apa Aston berkendara dengan mabuk? kami butuh penjelasan ? seseorang penduduk yang peduli, mencari kunci keingin tahu an nya.


Maureen mencatat semua pesan-pesan nya dan berjalan kembali. pintu ruang interogasi nya masih tertutup, tapi suara di dalam sana terdengar, Aston, tersamar tapi marah.


'' sudah berapa kali aku bilang, aku tidak mabuk, aku hanya minum dua kaleng bir. sudah, mungkin itu karena es nya ''


''tes mu menunjuk kan nol koma delapan '' itu Weber ''Nak, aku sedang mencoba untuk menolong mu''


Maureen dengan hati-hati mengetuk pintu.


'' ya '' suara Weber kembali, menjawab tenang.


perlahan Maureen mendorong pintu terbuka, Weber duduk di seberang Aston dan ada seorang pria berpakaian jas rapi, Aston terlihat buruk sekali : mengena kan baju olahraga yang kebesaran, mata nya merah, seakan dia tidak bisa tidur semalaman, juga kantung mata yang menghitam.


" aku minta maaf " Maureen melambaikan kertas yang ada di tangan nya " panggilan telepon nya tidak berhenti, dan ada seorang pendakwah menunggu telepon juga... "


"secepat itu " Weber menekan tombol pause, menyudahi rekeman nya "Ok, kita istirahat untuk sekarang "


" seperti nya ini sudah cukup menurut ku, ayo Aston " ucap pria berjas itu.


" telepon aku kalau mau interogasi lebih lanjut "


Weber terlihat frustasi sangat jelas ketika hembusan nafas kasar terdengar seiring Dua orang itu keluar dari ruangan.


Maureen berdiam sesaat, merasa canggung berada di posisi seperti ini " aku minta maaf "


" tidak apa-apa " Weber membuang muka, untuk menormal kan situasi, lalu melambai membiarkan Maureen masuk.


Maureen berjalan dan menyerah kan semua pesan yang tadi sempat dia tulis, Weber membaca nya, lalu mendengkus antara lelah dan kesal.


"apa yang terjadi " Maureen bertanya hati-hati.


" ada perayaan di gedung yang di adakan keluarga besar, keluarga Antolino "


Maureen tahu dengan acara yang Weber maksud, dan dia juga ingat kalau setelah itu ada pesta untuk para pekerja.


" para pekerja mengadakan pesta di akhir malam, melepas stres, dan mobil Aston berakhir memeluk sebuah pohon, dia mengenakan sabuk pengaman nya, tapi gadis itu... "


pertanda buruk, karena Weber menggeleng dengan kalimat yang belum tuntas.

__ADS_1


Maureen berpaling untuk meninggal kan nya, tapi sesuatu menghentikan. satu hal yang tidak di sebut kan orang-orang di setasiun kepolisian sepanjang hari.


" oh aku lupa mau bertanya, sebenar nya siapa gadis itu " tanya Maureen.


Weber mendongak, ter bengong dalam beberapa detik.


" gadis itu, yang terluka, apakah dia berasal dari sini"


Weber mengerjap, mengerti. lalu mengangguk kan kepala " Beverly Hilton, dokter bilang keadaan nya tidak bisa di katakan baik-baik saja "


***


Maureen menelfon rumah sakit untuk mencari berita, awal nya suster tidak Mau bilang apa pun, tapi dengan cerdik otak Maureen memberi pengarahan, kalau dia di tugas kan dari pihak kepolisian.


lalu suster itu mengalah, dia bilang tidak ada perubahan. luka benturan di kepala, lengan kanan patah, banyak mengeluar darah dan akhir nya Beverly jatuh koma.


Maureen terduduk di meja depan stasiun kepolisian, tidak bisa bergerak selama pikiran nya kembali pada kemarin malam: memasang riasan wajah di belakang gedung setelah sebuah perdebatan kecil dengan Jeims, dan ekspresi Beverly ketika dia bilang dia mau keluar dari kota.


sebuah kilasan persahabatan yang terlintas beberapa jam yang lalu, dengan ajakan ramah untuk bergabung ke pesta dan satu tikungan tajam yang menyudahi semua.


tidak ada yang tahu Beverly apakah bisa bangun atau tidak.


rasa nya tidak benar untuk dunia ini berputar tapi kenyataan nya seperti itu, semua penggilan- panggilan tentang surat tilang dan keributan tetangga kembali terdengar mengisi pikiran Maureen.


lalu di sore hari panggilan nya surut dan memperbolehkan Maureen berpikir tentang hal yang tadi, dan menggunakan waktu untuk memakan roti yang sempat dia bawa.


pintu depan terayun, Maureen mempersiap kan diri untuk orang yang datang, entah itu orang tua atau petugas yang geram. tapi sebalik nya, Maureen melihat wajah yang dia kenal.


Oliver Nan Traga !


***


NEXT


MOhon dukungan nya dengan like, komen, dukungan dan bintang buat yang ikhlas aja, ngak maksa. saling membantu ya kakak. lop you.


jangan lupa follow tiktok : @shopaychill


Ig : yarasary_


terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2