
mereka berjalan memasuki hutan di perbatasan tanah milik Rebecca. Oliver dan Rebecca memiliki senapan dan senjata berburu lain nya.
tapi tangan Maureen kosong, hanya ada tas dengan baju hangat lebih dan termos berisi kopi panas menggantung di punggung Maureen.
langit nya biru seperti es, pepohonan tanpa daun di sekitar mereka, Maureen melihat ke bawah, salju-salju retak dan pecah di bawah kaki nya yang terselimuti sepatu bot yang dia pinjam dari Rebecca.
'' apakah masih jauh? '' Maureen bertanya, merasa kan dingin menyengat di kulit nya. Maureen terbiasa lari-lari di hutan, tapi dengan salju-salju ini, semua nya terlihat berbeda.
'' seperti nya salju semakin tinggi di depan sana ? ''
'' tenang '' Oliver meyakin kan, meraih untuk menggenggam tangan Maureen, mereka ketinggalan sedikit di belakang Rebecca.
Maureen menatap mata Oliver, dia berusaha bicara kalau di depan ada Rebecca yang kapan pun bisa berbalik badan dan melihat mereka. Oliver seakan mengerti, dia menjatuh kan tangan nya.
Maureen merasa kan sedikit kecewa di hati nya, tapi dia terus melangkah di sebelah Oliver.
Rebecca berada di depan, semangat nya sangat besar dalam berburu kali ini '' kamu tidak bisa tersesat di sini ''
'' kita akan mengitari danau '' Oliver mengumum kan, memeriksa peta di ponsel nya '' pria di toko bilang, mereka melihat banyak rusa di sana Minggu ini ''
'' informasi yang bagus sekali '' Rebecca langsung menyetujui.
Maureen berpaling '' kamu tidak pernah cerita kalau kamu suka berburu sebelum nya ''
Rebecca mengangkat bahu ''aku baru merasakan nya, baru-baru ini bersama Krisna '' dia menjelas kan, menatap punggung Krisna sayang.
dan Maureen menyadari itu '' dia adalah pemburu sebenar nya. kamu harus melihat nya sampai selesai nanti, seperti mendapat hadiah ''
Oliver berputar '' ngomong-ngomong tentang hadiah, kenapa kamu tidak memberi tahu Maureen mainan baru mu''
'' oh iya ! '' Rebecca mengeluar kan pisau berburu besar dari dalam tas nya, terbungkus di dalam sarung kulit '' lihat, apa yang Krisna berikan padaku ''
Rebecca memamerkan pisau nya, Maureen bisa menebak panjang nya perkiraan delapan ratus sembilan inci.
'' bukan kah ini hebat? aku juga bisa menggunakan nya sewaktu memasak. ini pasti terasa menyenang kan ''
'' bagus '' Maureen menyetujui perlahan. mata pisau nya berkilau di bawah sinar matahari pagi, perak dan tajam. Maureen menjangkau pisau itu, mengayun kan nya di udara, merasa kan berat Nya di tangan dan bagaimana gagang nya melekuk sesuai ukuran tangan Maureen.
__ADS_1
'' kamu menyukai nya '' ini suara Oliver.
Maureen mendongak, Oliver sedang mengamati nya '' benar, ini bagus sekali '' ucap Nya '' aku akan mencari kan mu hadiah, secepat nya ''
'' kamu tidak perlu memberi ku apa pun, kamu datang adalah hadiah bagi ku '' Rebecca tersenyum.
'' aku perlu, kau harus menerima nya nanti ''
'' aww, Maureen kenapa kamu semanis ini '' Rebecca mendekat dan memeluk Maureen singkat .
'' lewat sini '' Oliver menggerak kan kepala nya ke persimpangan jalan '' dan ingat, tetap menunduk, kecuali kalian ingin mengumum kan keberadaan kita kepada seluruh kawanan. rusa mungkin bodoh, tapi setidak nya mereka cukup pintar untuk kabur ketika bahaya datang kepada mereka ''
Rebecca mendekat untuk sebuah ciuman, Oliver mencium nya kembali, hanya beberapa langkah jauh nya. Maureen melihat mata Oliver menggoda setiap kali dia berciuman.
Oliver menahan pinggang Rebecca, mencium nya lebih lama sebelum akhir nya melepas.
mata Oliver menetap pada Maureen, dan dia mengira-ngira apakah itu adalah sebuah pesan. apakah dia bahaya? harus kah Maureen berbalik dan berlari?
aku tidak takut !
'' pimpin jalan nya '' suara Maureen cerah dan normal, menerima tantangan di mata Oliver.
***
'' jadi kita hanya akan duduk dan menunggu '' Maureen membuktikan suara.
Oliver tertawa kecil tanpa teralih kan dari objek di depan sana '' ibu mu tidak pernah mengajar kan: hal baik datang bagi mereka yang menunggu "
" hal baik seperti pneumatic dan radang karena dingin maksud mu " Maureen menambah kan gemetar.
Rebecca bangkit dan mengambil alih teropong dari tangan Oliver, laki-laki itu berbalik dan berjalan mendekati Maureen.
'' kamu kedinginan ? '' pertanyaan yang normal, Maureen mengangguk dan diam saat Oliver mengambil tangan nya, menghangat kan.
'' apa bright terus memberi mu kabar, dia bilang pada ku di sana sangat menyenang kan ''
Maureen terdiam sejenak, lalu menjawab ''dia juga mengatakan itu. tapi kami tidak slalu bisa berhubungan tenang, dia sibuk ''
__ADS_1
Oliver mengangkat pandangan nya ''kamu tidak ingin menyusul nya, barada di sana '' ucap nya, melepas syal dan melilit kan nya di leher Maureen.
'' terima kasih '' Maureen tersenyum pada nya dan menggeleng.
Oliver tersenyum membalas, senyuman yang selama ini tidak pernah Maureen lihat sebelum nya, tulus dan ringan. tidak ada kebohongan dan sarkasme di sana, mata nya jujur dan semakin mencair kan suasana di hati Maureen.
Oliver, bagaimana diri mu sebenar nya !
'' Maureen, kemari lah '' Rebecca melambai ke arah Maureen.
Maureen bergegas mendekat meninggal kan Oliver yang sibuk mencicipi kopi nya, Rebecca menyodor kan teropong, Maureen ragu sesaat lalu bergerak bergabung dan melihat petunjuk dari nya.
'' wow ini kuat sekali '' Maureen menyatakan, setelah meletakkan alat itu di mata nya dan mengatur ke fokusan, memperbesar bahkan pada dedaunan yang paling kecil dengan pandangan sempurna.
'' barang militer '' Oliver menjawab, mendekati mereka '' peluru ku juga, aku banyak mendapat kan barang ini dari online ''
Maureen mengamati lewat salju, Oliver berdiri di sebelah nya, nafas nya berkabut '' kamu memikir kan apa yang ku katakan? ''
'' kamu berbicara banyak sekali, dan aku tidak menulis satu per satu nya !'' balas Maureen, ringan.
tidak ada yang perlu di khawatir kan, tidak dengan Rebecca yang sekarang juga berada di sebelah nya.
suara dering telepon masuk, Rebecca merogoh saku jaket nya ''maaf ini pekerjaan? '' ucap nya serius, lalu berjalan sedikit menjauh ke hutan.
'' tentang jujur dengan diri mu sendiri '' tangan Oliver mendekat ke tangan Maureen di teropong nya, Maureen bisa merasa kan panas tubuh nya meski sekarang memakai sarung tangan, Maureen menurun kan alat nya perlahan.
'' aku memikirkan nya? '' Maureen mengakui, membalas menatap mata nya. jantung bergetar di dada nya dan Maureen memaksakan diri untuk tenang.
'' Dan? '' Oliver menaikkan sebelah alisnya.
'' Dan, aku bertanya-tanya kenapa kamu peduli ?''
***
Next
terima kasih banyak, maaf kalau masih banyak kekurangan dalam kata-kata nya, biasa masih belajar. follow akun nya ya, biar ngak ketinggalan cerita baru.
__ADS_1
lop yu Kakak,. jangan lupa dukungan nya.