
bright tiba di kediaman Remirro tepat setelah menjemput Maureen, malam lebih terang dengan bulan yang bersinar sempurna.
kehadiran Maureen mendapat sambutan hangat dari Annette, wanita dengan setelan santai dan rambut yang dibiar kan terurai pirang, memiliki ciri unik nya tersendiri.
'' selamat malam, nyonya Remirro '' Maureen menyapa dengan senyum canggung dan ragu.
Annette mendekat dan membalas nya dengan pelukan, lalu menyentuh pundak Maureen dan menatap nya '' Bright sudah banyak bicara tentang mu''
Maureen merona, belum terbiasa dengan sentuhan lembut orang asing '' sudah lah, kita bicara kan di dalam, semua orang sudah menunggu ''
'' terima kasih, nyonya '' ujar Maureen sopan.
Annette menggeleng kecil '' tidak, sayang. panggil saja aunty, itu lebih terkesan biasa ''
Maureen tersenyum gugup, bagaimana dia memanggil nyonya Remirro dengan sebutan seperti itu: aunty. bukan kah itu lancang.
" baiklah, aunty " suara Maureen terdengar lirih dan ragu. tapi senyum di wajah wanita di hadapan nya terbit dengan tulus.
" aku sudah menebak kau pasti menyenang kan seperti yang bright bilang " Annette menambah kan, menggoda.
" oke, aku terlupakan " bright mengeluh, bercanda. mengangkat tangan dan pundak nya bersama an.
Annette tersenyum, memukul ringan lengan bright, tatapan nya tulus dan sayang. Maureen melihat itu, dengan langkah yang tak mengerti dengan rumah besar yang memiliki ribuan pintu dan luas seperti istana.
Maureen menyadari, ada ke aneh an yang mengganjal di pikiran nya. dari dekat, Maureen bisa melihat dengan jelas wajah Annette yang teroles mek up tipis.
entah kenapa Maureen bisa menyimpul kan dalam segi pikiran nya sendiri, kalau Annette lebih banyak mirip Oliver. dari mata nya, alis dan lensa kelam yang tajam.
" kita sampai, sayang " suara Annette kembali terbuka setelah memasuki ruangan yang lebih terang.
Maureen melempar senyum kepada mereka semua di sana, Derek, Adelia dan Jeims juga sudah mengambil tempat di sebelah sang adik yang cantik.
" silahkan duduk, Maureen " Derek menyambut nya.
Adelia terus menatap, dan mencoba mengingat di mana dia terakhir kali melihat Maureen " dia, bukan nya dia... "
Jeims menarik tangan Adelia, memutus kan ucapan gadis itu yang sudah bisa di tebak oleh akal: pelayan dalam hotel acara keluarga besar Antolino.
bright mengambil posisi duduk di sebelah Maureen dan Annette di sebelah kepala keluarga. dan masih ada satu lagi kursi yang belum terisi, tepat di depan Maureen.
tanpa menunggu lama, otak Maureen bisa menebak siapa pemilik kursi itu. tapi seperti nya dia tidak datang, dan mungkin itu yang terbaik untuk malam ini.
__ADS_1
" pa, aku bisa minta perpanjang an waktu untuk penerbangan ku ke Australia " bright memulai, meraih kentang nya.
Annette memukul tangan bright dan membuat laki-laki itu mendesis ngilu "berdoa dulu "
" dia memang selalu seperti itu aunty, bersikap selayak nya anak kecil'' Jeims menjulur kan lidah nya ke arah bright, yang sekarang melotot tak terima.
Maureen tertawa bersama dengan orang-orang di meja makan, lalu sebuah langkah kaki mematikan suara nya. apa dia akan datang. Maureen menoleh dengan cepat, ternyata hanya para pembantu rumah yang mengantar kan anggur nya.
gadis cantik itu menarik nafas panjang, menghilang kan pikiran tidak benar itu jauh-jauh untuk tetap terkendali. dia tidak akan, dia tidak bisa menghancurkan ku lagi.
'' mencari ku ''
Maureen berubah tegang, suara Oliver terdengar sangat dekat di telinga nya, senyuman sarkas nya tidak hilang sampai laki-laki itu mengambil posisi duduk di kursi kosong dan memain kan garpu yang di ketuk-ketuk kan ke meja.
'' aku pikir kau tidak akan datang '' itu Adelia, melayang kan tatapan permusuhan dan besi dalam suara nya.
'' kenapa, kamu merindukan ku adik kecil '' Oliver berkata ringan.
'' cih '' Adelia memutar bola mata nya ''aku rasa kau perlu bercermin untuk itu ''
'' Adel '' bright menegur nya, lalu menggeleng.
'' dia memang pantas mendapat kan nya ''
'' kau membuat nya merasa tidak nyaman ''
'' baiklah '' Derek menengahi '' Olly, bagaimana kalau kamu mengucapkan doa '' dia menyaran kan.
Maureen melihat ekspresi geli di wajah nya, lalu perdebatan kecil itu terhenti dan mereka semua menunduk '' ya tuhan '' Oliver memulai.
'' kami ber terima kasih atas berkat yang kami terima, untuk makanan di meja ini di siap kan penuh cinta ''
Maureen mengintip dari bawah bulu mata nya, Oliver terus menatap lurus ke arah nya, mata kelam nya membakar dan tajam. Maureen menatap kembali, terperangkap.
'' untuk keluarga dan terutama teman-teman baru '' lanjut Oliver, tidak memutus kontak mata. '' kami ber terima kasih. Amin ''
perlahan, Oliver mengedip kan sebelah mata nya.
Maureen memaling kan mata cepat. yang lain menggumam kan 'amin ' lalu momen nya berakhir dan kesibukan alat makan, juga tangan-tangan yang menjangkau memenuhi tempat di mana tatapan mata mereka bertemu.
dia tidak akan berhenti! .
__ADS_1
Maureen menggigil.
'' jadi, bagaimana permintaan mu tadi '' derek bertanya.
bright mengangkat pandangan '' penerbangan ku akan aku tunda satu Minggu lagi '' dia meraih daging panggang untuk diri nya sendiri dan mengoper piring nya ke samping.
Maureen masih diam, mengamati per kumpulan orang-orang terkenal dalam ruang makan yang selama ini tidak bisa dia bayang kan, kalau dia juga akan duduk menjadi salah satu dari mereka.
'' lalu Olly, apakah kamu ingin melanjut kan study mu? '' topik berubah.
dan Oliver dengan cepat nya menggeleng kan kepala, selagi menyorong kan piring makan pada Maureen dari seberang.
''kentang '' tawar nya sambil tersenyum.
'' kau benar-benar berhenti '' Adelia bertanya *******.
'' aku selalu teguh dengan pilihan ku, tanpa melihat ke belakang sedikit pun '' ujar Oliver.
'' hei, ini bukan tentang filosofi mu. tapi berapa banyak biaya yang di tanggung keluarga Remirro untuk mu '' Adelia kembali menyemprot dengan pedas.
'' aku tidak pernah meminta itu sebelum nya '' Oliver mengoreksi nya '' dan aku bisa kembali kan semua uang itu dari penghasilan ku sendiri, kalau pun kamu mau ''
dia bersandar di kursi nya, tenang sekali.
Maureen ingin menanya kan, tapi dia rasa, dia tidak pantas ikut campur. tapi ucapan Bright mewakili rasa ingin tahu nya '' kamu tidak punya ijazah, bagaimana cara orang-orang untuk merekrut mu''
Oliver tersenyum '' aku akan bilang pada mereka apa pun yang ku inginkan. mungkin aku di rekrut oleh badan pemerintah rahasia, atau pergi untuk memulai firma teknologi milyaran dollar milik ku sendiri ''
dia menatap Maureen, seolah mengerti akan rasa heran gadis itu yang kemungkinan terlihat jelas di wajah nya.
'' tapi itu bukan kenyataan nya '' Jeims masuk percakapan.
Derek berdehem '' kita bahas urusan itu nanti''
Maureen menyadari satu hal yang tidak lepas dari tempat ini, Adelia terlihat sangat membenci Oliver dan yang lain tampak biasa saja. kecuali Annette, yang sedari tadi hanya diam dan mendengar, seperti Maureen.
'' baiklah, siapa yang ingin membuka botol nya ''
***
Next
__ADS_1
terima kasih banyak, maaf kalau masih banyak kekurangan dalam kata-kata nya, biasa baru pemula.
lop yu Kakak,. jangan lupa dukungan nya.