
suara profesor ter dengar menggema dlm ruangan tak ber jendela itu, beberapa siswa mengamati, menulis setiap kata bijak yang mungkin berguna untuk mereka tersendiri.
coretan-coretan di papan tulis terlihat tak beraturan dengan tinta hitam di balik papan putih yang panjang nya sekitar seratus enam puluh meter dengan lebar delapan puluh meter.
tak banyak yang berubah di sini, kecuali murid-murid yang mengantuk, menguap dengan penuh kebosanan ketika profesor di depan mengenal kan diri dengan di iringi candaan yang tidak menarik minat.
'' panggil aku Jecky '' suara profesor terdengar, hanya sebagian yang menanggapi lelucon nya dan lebih banyak dari mereka yang menyibuk kan diri dengan hal-hal yang tidak perlu.
Maureen mendengar lelucon nya, namun semua terasa begitu samar saat ingatan nya terus berputar memikirkan masa depan yang kebebasan nya terlihat semu dan gelap.
apa yang akan seorang anak lakukan ketika tagihan bulanan tertunda hampir menumpuk dan tak mampu membayar, angka-angka tertulis rapi di atas kertas infaq yang hampir menguning dari Minggu ke Minggu.
Maureen menyadari semua nya masih belum bisa di katakan cukup, di mana setiap satu Minggu sekali ibu nya akan menelpon, dan Maureen harus menelan frustasi nya menghadapi perkataan yang sama setiap Minggu.
semua tidak terasa, buku tulis nya bersih tak tersentuh dengan bolpoin yang masih melekat di tangan nya, sampai pada waktu yang lama kursi-kursi di tarik ke belakang dan langkah para siswa yang berebut untuk pergi ke luar ruangan.
Maureen cepat-cepat menyalin semua tulisan yang ada di papan, dan mengemasi barang-barang nya lalu mengikuti kerumunan di sana.
'' pasti sangat membosankan, sampai tak membuat mu menyukai kelas ku''
Maureen memiringkan kepala nya mendengar perkataan yang lebih jelas nya di tunjuk kan kepada dia, sindiran. dengan langkah sedikit ragu, Maureen mendekat, dugaan nya benar profesor itu sedang berbicara untuk nya, ketika sebuah senyuman mengambang tak nyata, pasrah.
Maureen tersenyum canggung '' maaf, apa sejelas itu ''
Jecky Merapi kan buku-buku nya, membenar kan letak kaca mata nya dan berpaling kembali pada Maureen.
'' lebih jelas, anak yang mengorok di sebelah mu'' suara Jecky terdengar, memperlihat kan kejengkelan.
Maureen merasa tidak enak hati, karena dia juga tidak mendengar pelajaran dengan benar, dia tidak seharus nya memikirkan masalah itu dalam waktu yang bukan tempat nya.
'' aku juga tidak bertahan lama di sini '' Jecky menambah kan, membuat Maureen sedikit tertarik mengikuti alur percakapan nya.
'' eemm... jadi kau akan pindah '' ucap Maureen, menahan suara nya.
meneliti penampilan Jecky dari ketika laki-laki itu berbalik dan mulai melangkah, Jecky termasuk profesor baru dan muda di UNIVI, umur nya perkiraan belum mencapai tiga puluh tahun, dan Maureen tahu dari gaya bicara Jecky juga suara nya yang masih terdengar segar.
terdengar helaan nafas dari laki-laki yang sekarang di panggil seorang profesor ''bisa di bilang seperti itu, tapi ini juga keyakinan ku, kalau aku akan keluar dari kota ini ''
sebuah keinginan yang di miliki kebanyakan orang dari tempat kelahiran nya, Maureen merasa kan ada sebuah cerminan dari diri nya, tak ada orang yang tahu seperti apa keinginan hati seseorang.
di mana pernah Maureen dengar seorang guru menjelaskan pada nya, kalau hati manusia tidak pernah memiliki keyakinan dan setiap saat berubah.
__ADS_1
'' aku punya buku koleksi, kemungkinan kamu juga akan menyukai nya '' Jecky mengalih kan topik, dengan kaki berbelok pada ruangan kecil khusus yang tak jauh dari kelas.
Maureen tersenyum cerah '' boleh aku meminjam nya ''
Jecky mengangguk kan kepala, meletakkan buku-buku yang tadi sempat dia bawa ke kelas, lalu berjalan mendekati rak buku yang sudah tertata rapi dengan tingkatan buku yang berbeda-beda.
'' kau sudah membaca semua buku-buku itu '' ujar Maureen '' tapi seperti nya mereka tidak pernah tersentuh ''
Jecky tertawa kecil '' aku suka membaca, dan kemungkinan besar aku bisa menyelesaikan semua buku itu dalam waktu sepuluh hari ''
'' Wow '' Maureen mengerling kagum '' secepat itu ''
'' kau membuat ku besar kepala dengan ucapan berlebihan itu '' Jecky melempar satu buah buku yang dapat di tangkap dengan lihai oleh Maureen.
'' aku akan kembali kan secepat nya '' Maureen berucap ceria '' sampai jumpa ''
'' sampai jumpa ''
***
" Maureen "
" kenapa? " tanya Maureen ketika Tamara berhenti tepat di sebelah sisi nya, dan sibuk mengambil nafas banyak-banyak.
'' kita bicara sambil berjalan saja '' Tamara melempar senyuman tenang dan Maureen mengangguk menjawab nya.
'' aku melihat mu selalu terlihat cemas, apa kamu ada masalah ?'' ujar Tamara, hati-hati.
'' kau suka memata-matai ku'' Maureen menyimpan buku nya.
'' bukan seperti itu, hanya saja aku akhir-akhir ini lebih sering melihat mu diam, sungguh '' Tamara menjelas kan.
Maureen mengeluar kan senyuman cerah ''tidak ada apa-apa, aku hanya berfikir dengan mata kuliah yang sangat merepotkan ''
'' oh, ternyata aku salah '' Tamara bergumam, tatapan nya jatuh melihat kaki mereka '' aku pikir.... ''
Maureen menunggu kalimat Tamara yang menggantung di udara '' kau pikir apa?''
'' aku pikir kamu butuh uang untuk tagihan bulanan '' Tamara menjawab ringan.
tak menyadari ekspresi Maureen yang berubah sebelum gadis itu membuang muka, ini tidak seharusnya terjadi, sangat memalukan kalau sampai banyak yang tahu dengan Maureen yang tidak mampu membayar tanggungan.
__ADS_1
'' dari mana kamu tahu '' Maureen kembali menatap Tamara, santai dan ceria.
'' aku melihat mu berbicara dengan salah satu guru yang mengurusi kantor keuangan di sini, dan... '' Tamara menarik nafas, tenang '' sedikit mendengar kan''
'' siapa saja yang tahu tentang ini '' Maureen bertanya cepat, menahan gejolak kepanikan yang berputar di perut nya.
Tamara tersenyum simpul, menyentuh pundak Maureen '' tenang lah, hanya aku yang ada di sana, kau tidak perlu khawatir, aku mengerti ini pasti sangat sulit untuk mu''
aku harap seperti itu, tapi Tamara tidak tahu, bagaimana keadaan sebenar nya, dia sama dengan yang lain, mengenal ku secara sepihak. batin Maureen.
semua manusia berpikir kalau mereka mengenal satu sama lain, dengan saudara, teman, sahabat dan orang lain yang di anggap nya baik. tapi semua itu salah, tidak ada yang bisa benar-benar mengenal seseorang bahkan orang itu sendiri.
'' aku ada sedikit informasi yang menguntungkan, itu pun kalau kamu tertarik '' Tamara menghenti kan langkah nya di luar gerbang.
'' apa? '' tanya Maureen, memiringkan kepala nya.
'' akan ada perayaan di kediaman salah satu keluarga besar di kota ini, aku mendapat kesempatan untuk menjadi pekerja di sana dengan bibi ku '' Tamara memberi tahu, berbinar.
Maureen tersenyum simpul melihat garis takdir keberuntungan milik teman nya.
'' dan kamu juga bisa ikut, karena masih butuh beberapa orang untuk mengisi meja, aku yakin kamu pasti mau, gaji nya sangat besar, mungkin tiga kali lipat dari pendapatan mu di kedai''
'' lumayan kan? '' Maureen menanggapi nya dengan senyuman, di satu sisi dia sangat tertarik dengan godaan yang ada, tapi di sisi lain dia juga takut sesuatu terjadi.
karena akan banyak orang-orang besar yang hadir di sana, dan termasuk dia.
'' aku akan memikir kan nya, akan ku hubungi kamu nanti, aku dulu an '' Maureen melambaikan tangan ke arah Tamara sebelum masuk ke dalam mobil Sandra.
aku tertarik !
***
NEXT
MOhon dukungan nya dengan like, komen, dukungan dan bintang buat yang ikhlas aja, ngak maksa. saling membantu ya kakak. lop you.
jangan lupa follow tiktok : @shopaychill
Ig : yarasary_
terima kasih.
__ADS_1