Hello Tuan Muda

Hello Tuan Muda
Bab 48


__ADS_3

'' memang seharusnya seperti ini '' Oliver bergumam tenang '' manusia dan hewan, ingat !''


'' tetap saja... '' Maureen tidak bisa bergerak, tidak bisa berpikir dengan rusa yang tidak mengerti nasib nya setelah ini.


'' tanya kan pada diri mu sendiri ?'' bibir Oliver mengenai telinga Maureen. Maureen gemetar ketika tangan Oliver di dalam baju nya bergerak semakin tinggi, menggoda sesuatu di sana. tubuh Maureen panas dengan sensasi gerakan Oliver, dia tidak bisa bergerak. Oliver menahan nya di tempat.


'' kamu tidak bisa karena kamu ingin, atau kamu tidak bisa karena kamu harus ?''


Maureen tidak mencerna pertanyaan itu dengan benar, tapi Oliver melepas tangan nya sebelum dia benar-benar merasakan sesuatu yang lebih.


'' apa yang akan kamu lakukan ketika tidak ada seorang pun yang melihat '' Oliver bergumam '' ketika tidak ada siapa pun yang tahu ''


ucapan itu terus berputar di otak Maureen. siapa aku ketika tidak ada orang yang melihat ? tanpa ekspektasi dan prinsip, tanpa mereka yang setiap saat harus ku buat senang. batin Maureen.


Maureen mengerti, inilah kenapa Oliver membawa Maureen ke hutan : untuk melihat siapa dia sebenarnya ? ketika jauh dari semua orang ?


untuk mengenal siapa Maureen sebenarnya .


Maureen mengangkat senapan nya, nafas Oliver semakin cepat, Maureen menyadari tubuh nya tegang karena ekspektasi. Maureen mengambil bidikan, hati-hati,tarik nafas, perlahan hingga garis bidikan nya tepat di dada.


rusa itu mendongak, lurus, mata Maureen bertemu dengan nya. dan dia menembak.


syok nya menggetar kan seluruh tubuh Maureen, tapi Oliver memeluk tubuh Maureen erat. rusa itu terhuyung, tertembak, lalu melesat ke kiri, seperti yang di perkirakan. Maureen menembak lagi.


rusa nya roboh, di atas salju-salju putih yang perlahan berubah merah di sekitar nya, Darah.


kemenangan menyebar ke seluruh tubuh Maureen. Oliver melepas, bersorak ceria ''kamu mengenai nya ''


Maureen melangkah mundur, kehabisan nafas. senapan nya terlalu berat di tangan Maureen dan dia langsung melempar nya ke tanah.


aku membunuhnya.


Oliver mengambil tas nya dan pergi, berbelok-belok di pepohonan dan berdiri tepat di dekat rusa. Maureen mengikuti nya, jantung nya berdebar kencang. hanya beberapa detik, satu keputusan sekilas dan Maureen tidak bisa menarik nya kembali.


Maureen menatap rusa itu, terhipnotis.


rusa itu menggeliat di tanah, darah bercucuran, sebuah bercak merah di salju.


aku telah melakukan ini !

__ADS_1


'' dia kesakitan '' Oliver berjongkok di sebelah nya '' kamu harus menyelesaikan nya ''


'' apa ? bagaimana ?'' Maureen melihat kembali senapan yang tadi sempat dia jatuh kan di balik pohon. tapi langkah nya terhenti ketika Oliver mengeluarkan sebuah benda dari tas nya.


hadiah belati Rebecca, Maureen ingat, yang dia ayunkan membelah udara satu jam yang lalu, mengagumi berat nya.


'' aku tidak bisa '' Maureen melihat ke pisaunya ketika Oliver mengeluarkan belati itu dari sarung nya dan kembali lagi ke rusa.


mata pisau itu berkilau di bawah matahari terbenam, indah dan menghipnotis.


'' selesai kan apa yang sudah kamu mulai'' ketidak sabaran terdengar dalam suara nya.


tapi Maureen tidak bisa melakukan itu, tidak dengan rusa itu yang sesak nafas dan menendang nendang di tanah. tadi Maureen menembak masih ada jarak dari kedua nya : dia menarik pelatuk, rusa itu roboh. mudah dan sederhana. tapi ini, ini terlalu sadis, berlumuran darah dan nyata.


" Oliver, ku mohon. akhiri penderitaan nya, tolong lah dia kesakitan "Maureen meminta penuh keprihatinan.


Oliver berputar menghadap rusa itu, dia memegang rahang rusa itu dari belakang, menahan kepalanya di arah dada Oliver, lalu menarik pisau itu melintasi leher rusa dalam satu tarikan yang cepat.


darah menyembur dari luka nya. Maureen menonton nya mengalir, aliran merah di atas salju. lalu gerakan rusa nya menghilang : tendangan nya berhenti dan nafas nya berubah diam. Maureen menonton kehidupan dengan lambat menghilang dari tubuh nya.


Mati.


Oliver berjalan mengitari rusa, menilai, membicara kan hal itu dengan sangat tak berperasaan, seakan rusa itu bukanlah makhluk hidup yang bernafas.


Maureen gemetar, berbalik badan. sebuah nyawa telah di rebut nya, tanpa alasan hanya untuk mengetahui kalau dia bisa.


" jangan " suara Oliver terdengar jelas.


"jangan apa ?" tanya Maureen.


" jangan berpaling dari ku, dan mengasihani diri mu dengan 'apa yang telah kulakukan '' Oliver menjawab, menarik tangan Maureen untuk berputar. melihat tubuh rusa itu yang sudah tergeletak lemah dan berdarah.


'' tidak '' Maureen memprotes lemah, tapi Oliver tidak bergeming.


'' kamu tidak bisa berpura-pura tak bersalah di depan ku, ingat aku ada di sana saat kamu menembak nya '' Oliver menatap dalam.


'' aku merasa kan jantung mu berdebar ketika kamu menarik pelatuk nya. itu adalah pilihan mu, tidak ada salahnya. akui saja '' Oliver menambah kan, suara nya tenang.


tidak ada yang salah.

__ADS_1


Maureen menarik nafas, meneguhkan diri ''aku telah melakukan ini '' ucap nya, mengulangi perkataan Oliver. sepanjang tahun, Maureen telah mengurus masalah orang lain, tapi kerusakan ini ? ini milik nya sendiri.


Maureen menelan ludah, rasa bersalah yang memuakkan perlahan mereda, terganti dengan perasaan hangat dan terang. sudah lama sekali rasanya Maureen tidak mengalami ini : keberanian, kemenangan mutlak yang menggetarkan hati nya.


kekuasaan.


" selamat datang ke dalam seleksi alam " Oliver tersenyum penuh konspirasi, memberi tahu.


" yang kuat hidup, yang lemah ditinggal. ini semua hanya bagian dari hal indah yang kita sebut kehidupan "


Maureen mendongak, melihat ke arah nya. jantung nya berdebar, dia ingin menjadi seperti Oliver, seseorang yang membuat keputusan dan membiarkan orang lain yang menanggung akibatnya.


Maureen berlari maju ke arah Oliver dan meraih untuk menarik kerah baju hangat nya.


" tunggu dulu macan" Oliver tersenyum, melangkah mundur.


terlalu tiba-tiba, Maureen kehilangan keseimbangan tapi Oliver menangkap nya dalam genggaman tangan.


"pembunuhan pertama mu" Oliver bergumam, melepas Maureen dan menekan ujung jari nya di bibir Maureen, basah di bibir.


Maureen menunduk, melihat darah di tangan nya, basah dan lengket. rasa muak bergetar kembali di sekujur tubuh Maureen.


Oliver menempel kan mulut nya pada milik Maureen, menangkap bibir nya ke dalam sebuah ciuman, menarik Maureen lebih dekat dan erat dengan tubuh tegap nya.


tarikan gairah kembali muncul dalam diri Maureen, dia membalas ciuman nya, panas dan menuntut. semakin dalam ketika Oliver melepas ciuman nya dan menjelajah setiap inci dalam mulut Maureen.


tidak ada apa-apa lagi di pikiran Maureen kecuali hawa panas yang gelap dan salju yang terang, perasaan bahwa dia bisa melakukan apapun, tidak ada yang terkecuali karena simpati atau peduli.


Apapun.


***


Next


...terima kasih masih Mau menunggu dengan sabar, maaf ya kadang-kadang pikiran aku tiba-tiba nge-blank ngak ada motifasi, jadi lama deh......


...jangan lupa tinggalkan jejak, terus beri dukungan untuk aku semakin semangat......


...lop yu Kakak.....

__ADS_1


__ADS_2