How Matcha Love You

How Matcha Love You
Mencari Nomornya


__ADS_3

“Bapak, Ibu.” Salma melihat orang tuanya bergantian.


“Salma, kamu harus memilih seorang lelaki yang tepat, Ibu berharap kamu juga menikah dengan seorang dokter.” Ibu tersenyum.


“Bagaimana jika aku tidak mencintainya.” Sekuatnya Salma bertahan agar terlihat tetap tenang.


“Cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu yang dihabiskan bersama. Dulu kami dijodohkan, boro-boro menikah karena cinta, kenal saja tidak, iya kan pak?.” Ibu melihat Bapak meminta persetujuan.


“Iya.” Bapak mengiyakan.


Salma menutup mulut dengan kedua tangannya, berharap tangisnya tak akan pecah, namun itu sia-sia dia lakukan. Salma tak bisa membendung air mata kekecewaaannya.


“Kenapa nak?” Ibu mulai melihat Salma dengan khawatir.


“Aku mencintai Malik.”


“Apa?” Ibu melihat Salma dengan tatapan tak percaya. Sama halnya dengan Bapak yang juga terpenga mendengar ucapan putrinya.


“Apa kamu menyukainya karena kemarin Ibu tinggal berdua ya? Kamu bicara dengannya lalu jatuh hati karena bicaranya yang manis itu?” Ibu sudah mulai merasa kesal.


“Tidak bu.” Jawab Salma yang masih dalam keadaan menangis.


“Kapan mereka berduaan?” Bapak kembali bungkam.


“Kemarin waktu membeli sayur saat ada Bu Rima kemari.”


“Itu hanya perasaan sesaat nak, kamu pasti bisa melupakannya jangan terlalu dipikirkan ya.” Ibu mengusap air mata Salma dan beranjak pergi meninggalkan ruang tamu.


“Sudahlah, kamu fokus saja dengan sidangmu. Bulan depan kan?” Bapak ingin mengakhiri untuk membahas Malik.


“Iya pak.”


‘’’’’


Mengingat Gani pernah mengatakan bahwa dia sekelas dengan Sarah, Salma berniat untuk meminta bantuan adiknya itu untuk melakukan sesuatu untuknya. Sekarang Gani berada di kamarnya, melihat adiknya sedang santai sembari bermain game di ponselnya, Salma datang menghampiri.


“Dik.”


“Iya, ada apa?.”


“Kamu masih satu kelas sama Sarah?” Tanya Salma.


Gani mengangguk dan tetap fokus dengan ponsel di tangannya.


“Bisa tolong kamu minta nomor kakaknya?”


“Malik?” Gani akhirnya melihat Salma.


“Iya, pelankan suaramu.” Pinta Salma.


“Untuk apa kakak meminta nomornya?”

__ADS_1


Salma menggaruk tangannya yang tidak gatal.


“Ada yang ingin aku tanyakan tentang kuliah.”


“Oh okeh.”


“Besok ya!”


“Oke.” Gani melanjutkan bermainnya.


Salma merasa yakin, Malik sedang berusaha menjauhinya karena penolakan dari orang tuanya. Maka dari itu, dia ingin menghubungi Malik dan memintanya untuk tetap bersama karena Salma juga memiliki perasaan yang sama. Dia akan mengatakan kalau dia juga menyukai Malik.


‘’’’’


Nanda sedang menunggu Indra di depan gerbang kampus. Indra adalah lelaki yang sudah menjadi pacarnya dari sekitar lima bulan yang lalu. Indra mahasiswa fakultas teknik di kampus yang sama dengan Nanda dan juga Salma.


Pendekatan Nanda dan Indra cukup singkat, sebelum akhirnya memutuskan untuk berpacaran. Mereka dipertemukan dalam sebuah acara musik yang diselenggarakan oleh mahasiswa seni kampus mereka. Waktu itu, Nanda pergi bersama Tissa karena seperti biasa, Salma tak akan mau pergi untuk menghadiri acara tak ada hubungannya dengan kuliahnya.


Malam itu, saat Nanda ingin pulang, dia tidak menemukan kunci motornya. Tissa yang bersamanya juga membantu mencari di sekitaran jalan yang mereka lewati, namun mereka tidak mendapatkannya. Tiba-tiba datang seseorang.


“Lagi mencari kunci motor ya?” Tanya lelaki itu yang ternyata adalah Indra.


“Iya.” Balas Nanda.


“Ini.” Indra menyerahkan kunci motor Nanda yang tidak sengaja dia lihat saat menuju parkiran.


Tidak lama setelah kejadian itu, secara kebetulan Nanda dan Indra bertemu kembali dan mengingat satu sama lain. Mereka berkenalan secara resmi, saling bertukar nomor telepon dan akhirnya dekat hingga seperti sekarang.


Setelah beberapa saat menunggu, Indra yang mengendarai motor akhirnya datang menghampiri. Nanda yang melihat seseorang yang ditunggu datang merasa bahagia. Meski mereka satu kampus, tapi karena berbeda fakultas dan sama-sama mahasiswa semester akhir membuat mereka tak bisa sering bersama karena kesibukan masing-masing.


‘’’’’


“Sarah.”


“Iya?” Sarah menoleh dan menghentikan langkahnya.


“Aku mau minta nomor kak Malik?” Pinta Gani.


Sarah mengeluarkan ponselnya.


“Sini ponselmu.” Pinta Sarah sembari mengulurkan tangannya.


Sarah mengetikkan nomor Malik di ponsel Gani.


“Terima kasih.” Ucap Gani setelah Sarah mengembalikan ponselnya.


“Sama-sama”


“Buat apa?” Lanjut Sarah, merasa penasaran Gani yang meminta nomor kakaknya.


Ganitawalnya tidak berniat untuk menutupi bahwa Salma yang memintanya, tapi setelah berpikir, menurutnya akan lebih baik menjadikannya sebagai alasan karena kalau dia mengatakan Salma yang memintanya itu, mungkin saja akan membuat kakaknya merasa malu dan memang terdengar memalukan, “Perempuan meminta nomor lelaki?” Pikirnya sembari sedikit menggeleng. “Kayanya dia lupa memberiku pesan untuk membuat alasan.” Pikirnya lagi.

__ADS_1


“Aku juga mau seperti dia, bekerja merantau di luar kota.” Balas Gani setelah sejenak memikirkan alasan yang tepat.


“Sungguh?” Sarah merasa tidak begitu percaya.


“Iya.” Gani tiba-tiba merasa canggung, sepertinya alasannya terdengar tidak masuk akal.


“Aku mau seperti kak Salma, pintar, ramah, cantik dan jadi dokter.”


“Oh begitu kah.” Gani merasa lega, ternyata alasannya sudah cukup.


“Bagaimana kita tukeran kakak?” Lanjut Gani.


“Hah?.” Sarah melihat Gani dengan sinis, lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Setelah mendapatkan nomor Malik, Gani segera mengirimkannya pada Salma.


‘’’’’


Fiki mengirimkan pesan pada Nanda untuk menanyakan keadaan Salma, namun kali ini tidak seperti biasanya sudah lebih dari sepuluh menit dia belum juga mendapat balasan. Setelah kemarin berhasil, bertemu Salma karena bantuan Nanda, Fiki berniat akan kembali meminta bantuan adik kelasnya itu. Menurutnya jika dia dan Salma sering bersama, itu akan lebih baik untuk hubungan yang dia inginkan bersama Salma ke depannya.


‘’’’’


Sepulang dari kampus, Salma menghampiri Ibu yang sedang memasak di dapur. Salma ingin kembali membahas Malik dan mengatakan bahwa dia sudah menyukai Malik dari waktu yang lama.


“Bu” Salma datang menghampirinya ibunya.


“Eh sudah pulang.” Ibu baru menyadari keberadaaan Salma.


“Iya.”


“Oh iya bu tentang perasaanku pada Malik...”


“Salma, ibu tidak ingin mendengarnya. Bagaimana pun ibu tidak bisa menerimanya.” Ibu tak membiarkan Salma melanjutkan uacapannya.


“Tapi kenapa bu?”


“Ibu tidak berniat memiliki menantu sekampung. Kamu anak ibu yang cantik, kamu pasti bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik.”


“Bu” Salma merengek.


“Sudah lah persiapkan saja sidangmu, ibu tidak ingin membahasnya.”


Salma menyerah dan meilih untuk tak melanjutkan perkataannya.


Ponsel Salma bergetar.


Salam melihat ponselnya dan mendapati pesan dari Gani yang mengirim nomor seseorang sesuai permintaannya. Setelah beberapa saat berpikir, Salma kembali ke kamarnya dan menutup pintunya rapat-rapat. Dia akan menghubungi Malik.


Di lain tempat, Malik baru pulang mengajar dan sedang duduk di tepi ranjang sembari melepas kancing kemejanya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, dia meraih ponsel dan melihat panggilan dari nomor yang tidak dikenal, Malik segera mengangkat panggilan tersebut.


“Halo, Assalamualaikum.”

__ADS_1


“Waalaikumussalam.”


“Malik”


__ADS_2