How Matcha Love You

How Matcha Love You
Dua Hari Lagi


__ADS_3

“Apa kamu akan menginap di sana?” Sarah kembali bertanya.


“Iya.” Gani mengangguk tanpa melihat Sarah.


Meski Sarah tak pernah menyangka Gani akan pergi jauh dan kemungkinan nanti akan jarang bertemu dengannya, namun dia tetap senang mendengar temannya itu bisa mencapai keinginannya untuk pergi merantau sesuai dengan apa yang pernah Gani ucapkan padanya beberapa waktu yang lalu. Gani ingin seperti Malik.


“Oh, kapan kamu pergi?”


“Insya Allah dua hari lagi.”


“Apa?” Sarah tak berpikir kalau Gani akan pergi secepat itu.


“Dua hari lagi.” Jawab Gani datar.


Sarah membelalakan matanya mendengar Gani akan pergi dalam dua hari yang mana itu artinya tak akan lama lagi.


“Dulu masuk sekolah lebih awal dari kuliah. Apa kampusmu berbeda?” Ucap Malik yang juga merasa terkejut mendengar Gani akan segera pergi.


“Bukan begitu, aku hanya ingin ke sana lebih dulu.”


“Kenapa buru-buru?” Malik penasaran.


Sarah berpikir Gani mungkin seperti itu karena dirinya. Gani ingin segera menjauh darinya karena dia tak ingin melanjutkan perasaannya. Sarah yang mengingat itu, beranjak ingin segera masuk ke rumah.


“Tak apa-apa.”


“Oiya Sarah.” Gani menghentikan Sarah yang sudah berada di depan pintu.


“Iya.” Sarah melihat Gani.


“Aku akan segera pergi. Aku minta maaf kalau aku ada salah sama kamu.”


Malik melihat Gani dan Sarah bergantian, dia memperhatikan apakah terlihat ada sesuatu diantara mereka. Terlebih, Gani pernah mengatakan bahwa dia menyukai Sarah.


“Oh haha.” Sarah terlihat kikuk.


“Dulu kita teman sekelas, sekarang tidak lagi. Mungkin kalau kita bertemu nanti itu adalah kejadian yang langka” Ucap Gani.


“Tapi kita tetap teman sekampung.” Sarah juga sembari melihat kakaknya, dia berusaha terlihat santai meski sebenarnya dia merasa sedikit tak nyaman.


“Bukannya kamu juga perlu minta maaf?. Benar kata Gani, kalian akan sangat jarang untuk bertemu lagi.” Malik mencoba menengahi.

__ADS_1


“Hehe. Aku juga minta maaf dan terima kasih karena kamu sudah sering membantuku.”


“Oke.”


“Kak Malik aku juga minta maaf kalau selama ini ada melakukan kesalahan yang disengaja maupun tidak.”


“Sama-sama. Aku juga.” Balas Malik menghampiri Gani. Gani yang melihat Malik menghampirinya segera turun dari motornya.


Sementara Sarah hanya melihat kakak dan temannya saling mendekat satu sama lain dari depan pintu.


Malik menepuk pundak Gani.


“Jaga dirimu.”


Gani mengangguk dan tersenyum melihat Malik.


‘’’’’


Dua minggu kemudian.


Malik kembali bekerja. Tahun ajaran ini, dia ditugaskan sebagai guru kelas empat. Itu artinya dia bisa pulang lebih awal dari tahun sebelumnya. Sementara Tari dia tak dipindahkan, dia tetap mengajar di kelas lima.


Setelah jam kelasnya selesai, Tari segera menuju ruang guru sebelum pulang. Di ruang guru dia sangat jarang bertemu Malik. Malik biasa langsung pulang seusai mengajar karena dia juga ada pekerjaan lain, dia juga mengajar sebagai guru les.


Menyadari perasaanya tak berbalas, Tari berkeinginan untuk perlahan mengubah kebiasaannya yang sering berharap pada rekan kerjanya itu. Dia sadar, Malik sedikit pun tak memiliki perasaan padanya dan hanya menganggapnya sebagai rekan kerja.


Suatu hari, saat berpapasan dengan Tari di sekolah, Malik ingin menyapa. Namun lagi-lagi karena Tari nampak tak melihat ke arahnya, dia mengurungkan niatnya. Itu sering terjadi akhir-akhir ini, Tari mengabaikannya. “Apa dia marah?” Pikir Malik, mengingat Tari mulai mengabaikannya setelah tahun ajaran ini dimulai, yang mana itu juga berarti setelah kejadian di rumah sakit beberapa waktu yang lalu, saat Malik memintanya untuk tak memaksanya melakukan hal yang tidak dia sukai. Menyadari itu, Malik tak bisa melakukan apapun selain melakukan hal yang sama, yaitu mengabaikannya juga karena meski Tari rekan kerjanya, namun Tari juga seorang perempuan. Malik merasa tak nyaman jika melakukan itu.


Di suatu hari, saat Malik berjalan menuju sekolah, terdengar seseorang memanggilnya.


“Gani.” Balas Malik setelah melihat kalau Gani yang memanggilnya. Sementara Gani sedikit melajukan motornya untuk menghampirinya.


“Kak Malik kerja di daerah sini?” Tanya Gani melihat Malik memakai seragam coklat yang tak lain merupakan baju dinas seorang guru.


“Iya SD itu.” Malik sembari menunjuk sekolah yang tak jauh dari mereka.


“Kamu? Pamanmu tinggal di sini?” Lanjut Malik.


“Iya kak, rumah pamanku tak jauh dari sini.”


“Wah”

__ADS_1


‘’’’’


Dua tahun kemudian.


Salma bersama rekan dokter yang lain sedang berada di suatu ruangan rumah sakit. Mereka berkumpul untuk mendengarkan pengarahan dari para atasan mengenai peraturan baru yang selalu diperbaharui setiap tahun atau biasa diadakan saat ada perubahan ditengah-tengah masa kerja jika ada masalah yang harus diselesaikan.


Di tengah-tengah itu, saat ada kesempatan, diam-diam Salma dan Pratama yang tak lain merupakan rekan kerjanya melihat satu sama lain meski berdiri cukup jauh. Pratama tersenyum padanya dan begitu pun dengan dirinya, Salma juga membalas senyum yang ditujukan untuknya itu.


“Aduh-aduh.” Ucap Resya sembari melihat Salma yang berada di sampingnya sedang tersenyum pada Pratama yang juga melakukan hal yang sama.


Salma yang menyadari kelakuannya diketahui orang lain, segera mengalihkan pandangannya dan bertindak seolah sedang memperhatikan arahan dari atasannya.


“Kamu pikir aku tidak tahu.” Resya tersenyum sinis pada temannya itu.


“Hehe.” Salma kembali melihat Pratama.


Selang beberapa saat, pengarahan pun berakhir.


“Apa aku harus duluan?” Tanya Resya melihat Salma yang nampak memperlambat langkahnya.


“Maaf.” Salma tersenyum sembari menepuk pundak Resya.


“Oke.” Resya mempercepat langkahnya. Dia mengerti kalau temannya ingin kembali bersama Pratama.


Salma memilih untuk menerima Pratama sebagai pacarnya sekitar tiga bulan yang lalu. Meski sempat ragu karena sebelumnya dia tak pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis, namun mengingat dirinya yang kadang masih memikirkan Malik tanpa sebab membuatnya memberanikan diri menerima orang lain agar dia bisa terlepas dari bayang-bayang cinta pertamanya itu. Dan benar saja, dari dia mulai berhubungan dengan Pratama, dia sudah tak memikirkan Malik lagi dan merasa bahagia.


“Sayang.” Ucap Salma melihat Pratama yang menghampirinya. Dia menunggu Pratama di lorong yang sekarang terlihat sepi.


“Kamu memanggilku?” Pratama tak bisa menyembunyikan ekspresi bahagianya.


Salma mengangguk sembari tersenyum.


“Apa aku juga sudah boleh memanggilmu begitu?”


“Iya.”


“Sayang.”


“Haha. Aku jadi malu.” Salma sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Pratama mendekat untuk berdiri tepat di samping Salma. Dia berniat meraih tangan pacarnya ini untuk pertama kalinya.

__ADS_1


Salma yang menyadari Pratama ingin menyentuh tangannya sedikit menjauh.


“Sayang apakah boleh?” Ucap Pratama melihat Salma.


__ADS_2