How Matcha Love You

How Matcha Love You
Memangkas


__ADS_3

Sebelumnya, Nanda menitipkan beberapa barangnya pada Fiki.


“Kamu ingin pulang? Apa kamu menyerah? Apa semenakutkan itu jika aku tak di sampingmu?” Ucap Fiki melihat Nanda membawa tas ke ruangannya.


“Apa aku terlihat takut?” Nanda balik bertanya dengan tatapan menantang.


“Haha sepertinya iya.”


“Kamu sungguh salah.”


“Syukurlah, lantas apa yang membuatmu membawa barangmu ke sini? Aku pikir kamu akan memintaku untuk mengantarmu pulang.”


“Tidak. Karena kamu akan tetap di sini, aku ingin menitipkan barangku ini padamu.” Nanda sembari meletakkan tas dan ponselnya di depan Fiki.


“Rasa penasaranku tinggi, sepertinya aku tak akan tahan tak menyentuh apapun.” Fiki mencoba menggoda Nanda.


“Terserah, aku juga tak punya rahasia apapun darimu.”


Fiki tersenyum mendengar Nanda yang sangat mempercayainya.


~


“Aku Fiki.” Jawab Fiki dari telpon.


Meski saat pertama mendengar suara seseorang yang menerima telponnya terdengar tak asing di telinganya, namun Salma tak mengira ini adalah Fiki. Fiki? Kenapa ponsel Nanda ada di dia? Apa hubungan mereka sekarang? Apa ada hal yang tidak ku ketahui? Pikir Salma mendengar bahwa Fiki orang yang sekarang memegang ponsel teman dekatnya itu.


“Oh, kak Fiki.” Ucap Salma setelah terdiam sejenak.


“Sepertinya kali ini Nanda lupa memberi tahumu mengenai aktifitasnya hari ini.” Ucap Fiki.


Salma sedikit terbelalak mendengar perkataan Fiki yang mengatakan Nanda lupa? Berpikir dia dan Nanda bagai saudara kembar yang selalu berbagi informasi setiap hari, jam, detik? Bahkan saudara kembar asli pun mungkin tak melakukannya. Salma sedikit kesal. Terlebih Fiki terdengar mengatakannya dengan begitu santai.


“Kami tidak begitu.” Ucap Salma juga dengan santai.


“Hah?.”


“Maksudku, kami hanya saling berbagi informasi mengenai hal penting saja, kalau mengenai aktifitas harian itu haha kami tidak punya banyak waktu untuk memberitahu satu sama lain.” Salma mencoba menjelaskan.


“Oh aku pikir kalian sedekat itu.” Fiki terdengar seperti meremehkan.


“Kami memang dekat, namun kami juga sudah cukup dewasa dan tidak punya cukup waktu hehe.” Salma tetap dengan santai meski merasa sedikit kesal.


“Hmm begitu?”


“Iya, Oiya Nanda sekarang sedang apa?”


“Dia masih di dalam ruang operasi.”


“Oh baiklah, aku tutup.”


“Tunggu!.” Ucap Fiki menghentikan tangan Salma yang ingin menjauhkan ponsel dari telinganya.


“Iya, kenapa kak?”


“Apa ada pesan yang ingin kakak sampaikan?”

__ADS_1


“Oh aku hanya ingin bicara santai dengannya. Nanti kalau dia sudah selesai tolong minta dia untuk menelpon balik.”


“Baiklah.”


“Ada apa dengannya?” Gumam Salma setelah menutup telpon.


“Salma.” Panggil Resya di balik pintu ruangannya.


“Apa kamu sudah selesai melayani pasienmu?”


Resya mengangguk dan mengajak Salma untuk makan siang bersama di restoran terdekat. Salma mengiyakan dan mereka segera pergi.


‘’’’’


Malik berada di depan rumahnya. Dia sedang memangkas rumput yang tumbuh di halaman rumahnya. Ini selalu dia lakukan setiap pulang kampung, meski halamannya tidak begitu dipenuhi rumput karena ibunya juga rutin menggantikan tugasnya ini saat dia di luar kota, namun Malik tetap akan melakukannya setiap ada kesempatan. Malik membersihkan halamannya sembari menyapa orang-orang yang melewati jalan di depan rumahnya.


“Kak Malik.”


“Hei Gani.” Malik balik menyapa.


Tanpa menghentikan langkahnya, Gani ingin segera berlalu.


“Tunggu” Malik beranjak menghampiri Gani.


“Apa kalian sudah mengadakan perayaan kelulusan di sekolah?”


“Sudah, beberapa hari yang lalu. Ada apa kak, kenapa bertanya padaku alih-alih Sarah?”.


“Tidak apa-apa, ku hanya belum bertanya padanya.”


“Oiya, apa kamu pernah mendengar Sarah akan melanjutkan pendidikannya dimana?” Malik lanjut bertanya.


Sebenarnya Malik hanya ingin mengetahui rencana adiknya terlebih dahulu sebelum dia bertanya langsung. Dia ingin sedikit lebih bersiaga jika memang adiknya memilih untuk melanjutkan kuliah, meski sebenarnya sekarang tabungan Malik tidak banyak atau bahkan belum cukup untuk membiayai kuliah Sarah. Dia tidak ingin memperlihatkan kenyataan itu pada keluarganya dan akan berusaha untuk memenuhi semua kebutuhan Ibu dan adiknya termasuk biaya kuliah jika memang itu yang akan dipilih Sarah.


“Aku tidak tahu pasti, namun sepertinya tidak ingin kuliah.”


“Kenapa..”


Terdengar Sarah keluar dari rumah. Malik yang menyadari itu, segera menghentikan perkataannya.


“Mau kemana?” Tanya Malik pada adiknya.


“Ke warung.”


Sarah pergi tanpa menyapa Gani.


“Apa kalian tidak berteman setelah sudah tak sekelas lagi?” Tanya Malik setelah Sarah dirasa sudah cukup jauh.


“Entahlah.” Gani terlihat tak bersemangat.


Malik menyadari dia sudah melawati batas karena mengurusi hubungan Sarah dan Gani. “Untuk apa aku bertanya itu?” Pikir Malik menyesal.


“Baiklah, terima kasih.” Malik kembali memangkas rumput.


Gani mengangguk lalu melanjutkan langkahnya yang terhenti karena Malik mengajaknya bicara.

__ADS_1


“Gani.” Sapa Sarah yang berpapasan dengannya.


Gani menghentikan langkahnya dan menatap Sarah tanpa menjawab.


“Terima kasih karena sudah mengabaikanku di depan kak Malik.” Ucap Sarah tersenyum pada Gani.


“Tapi sepertinya tadi kalian mengobrol. Membicarakan apa?”


Meski tak begitu yakin Malik dan Gani sempat membicarakan sesuatu, namun Sarah ingin memastikan apakah perkiraannya benar.


“Haruskah aku memberitahumu?”


Sarah mengangguk dengan semangat.


“Baiklah. Tapi bolehkah aku yang terlebih dahulu bertanya?”


“Kalau kamu sudah menjawab pertanyaanku, aku juga akan menjawab pertanyaanmu.” Lanjut Gani menyakinkan.


“Oke. Mau bertanya apa?”


“Pertanyaan yang sudah pernah aku tanyakan tapi belum kamu jawab.”


Sarah mengangguk. “Kamu bisa katakan ulang pertanyaannya.”


“Mengapa kamu menyuruhku untuk menjauhimu saat kak Malik kembali?”


Gani masih merasa bingung dengan alasan Sarah yang memintanya untuk menjaga jarak di saat Malik pulang kampung. Apa karena Malik agar tak kembali mengingat Salma? Atau juga karena Malik yang memberitahu perasaannya pada Sarah dan tak mendukung itu namun Sarah tetap ingin bersamanya?.


“Apa kamu sudah melupakan kisah antara kakakku dan kakakmu?” Sarah melihat Gani dengan serius.


“Atau sekarang kakakmu sudah bahagia lalu kau tak memikirkan kakakku lagi?” Lanjutnya.


“Apa?”


“Kakakku sepertinya belum menemukan pengganti kak Salma, maka dari itu aku akan membantunya dan aku mohon kamu juga membantuku untuknya.”


“Oh begitu.” Gani menundukan kepalanya.


“Kenapa? Aku jadi penasaran apa alasanmu terlalu ingin tahu alasanku. Apa kamu memikirkan alasan lain?”


Ingin rasanya Gani mengakhiri semua ini sekarang, dia ingin mengatakan perasaanya yang sesungguhnya atau tak mengatakannya sama sekali dan berlalu pergi tak berhubungan lagi. Gani merasa semakin tersiksa dengan perasaanya sendiri. Meski merasa lega mendengar jawaban Sarah barusan, namun tetap saja dia belum merasa tenang sepenuhnya.


“Iya.” Jawab Gani terlihat menyakinkan.


“Apa itu?”


“Apakah tidak masalah jika setelah aku beri tahu, keadaaan akan menjadi tak setenang sekarang?”


“Kalau begitu nanti saja, ku tunggu saat kau bisa memberitahu tanpa mengganggu ketenangan kita.”


“Itu artinya aku tak akan memberitahumu.”


“Kalau begitu maumu.” Sarah beranjak ingin pergi.


“Aku menyukaimu.”

__ADS_1


__ADS_2