
“Maaf, kenapa?” Malik mendengar Tari mengatakan sesuatu, tapi tidak begitu jelas.
Tari mengatakan apa yang sebenarnya ingin dia tanyakan, namun itu hanya sanggup diucapkannya dengan pelan.
“Bukan apa-apa hehe.”
“Oh” Malik mengangguk lalu ingin melangkah pergi.
“Kamu dari daerah mana?”
“Maaf tentang kemarin, aku mendengar dari guru lain bahwa kamu tinggal di rumah dinas karena berasal dari daerah lain.” Lanjut Tari.
“Aku dari desa Cipta Murni.” Jawab Malik.
“Ku rasa aku pernah mendengar desa Cipta Murni. Hmm.” Tari mencoba mengingat.
“Desa di dekat rumah sakit Kimbumi, rumah sakit daerah.”
“Oh, nenekku juga orang sana. Biasanya aku ke sana kalau libur sekolah atau libur kuliah dulu.”
“Oh begitu.”
Malik dan Tari sama-sama terdiam beberapa saat. Tari masih memikirkan desa Cipta Murni. Dia merasa sebelumnya juga ada seseorang yang mengatakan berasal dari sana, tapi tidak ingat siapa orang yang mengatakan itu padanya.
“Baik, aku duluan.” Malik pergi ke ruang guru.
Tari mengangguk dan memberikan Malik jalan.
‘’’’’
Malik memainkan ponselnya, dia mendapati kiriman Salma di sosial medianya. Salma mengirimkan sebuah foto saat makan bersama Nanda, Resya dan Fiki. dalam foto itu Salma nampak tersenyum bahagia. “Syukurlah.” Gumam Malik saat memperhatikan kiriman Salma tersebut. Setelah beberapa saat memperhatikan, dia menggulir layar ponselnya tanpa meninggalkan like pada kiriman Salma itu.
‘’’’’
Setelah Salma membagikan foto makan bersama kemarin di sosial medianya, dia teringat dengan apa yang dikatakan Resya tentang Nanda dan Fiki. Dia juga mengakui perlakukan Fiki pada temannya itu memang berbeda, seperti yang pernah dia terima dulu. “Apa sekarang dia menyukai Nanda?” Pikirnya.
Meski jika benar begitu, Salma akan merasa senang karena temannya bersama dengan orang yang baik seperti Fiki yang sudah dia kenal.
‘’’’
Setiap hari, Tari selalu berusaha untuk melihat dan menyapa Malik. Dia sudah merasakan hatinya bergetar saat bersama dengan rekan kerjanya ini. Tari biasa menunggu Malik setelah dia selesai mengajar di kursi di depan kelasnya. Tidak berapa lama setelah itu, Malik akan berjalan melaluinya.
“Bu.” Malik menyapa
__ADS_1
Mendengar seseorang yang dia sukai menyapanya tentu saja membuat hatinya senang.
Kadang-kadang Tari yang akan terlebih dahulu menyapa Malik. Mendengar seseorang menyapanya, Malik membalas sapaan itu.
Beberapa kali, Tari juga memberikan malik sesuatu, bisa itu makanan, minuman ataupun benda berupa alat tulis yang mungkin berguna untuk mengajar seperti pulpen yang unik dan buku. Setiap Tari memberinya apapun, beberapa saat setelah itu Malik pasti membalasnya dengan memberikan sesuatu yang serupa. Itu Malik lakukan karena dia tidak ingin berutang pada orang lain.
“Ini.” Tari kembali memberikan Malik sesuatu setelah beberapa saat menunggu Malik melewati lorong di depannya.
“Bu Tari sudah sangat sering memberiku. Aku tidak bisa menerimanya kali ini.” Malik mencoba menolak pemberian Tari dengan sopan.
Sebenarnya sudah dari pemberian beberapa kali sebelumnya, Malik merasa tidak nyaman untuk menerima sesuatu dari Tari karena takut ini memiliki maksud lain selain hanya untuk memberi. Sebelumnya Malik juga pernah menanyakan Tari, mengapa dia memberinya sesuatu? Tari mengatakan kalau dia juga memberi guru yang lain. Mendengar itu, Malik merasa lega, ternyata apa yang dia sangkakan selama ini berpikir Tari memberlakukannya berbeda itu bukan hal yang benar.
Tari hanya memberi sesuatu pada Malik. Namun saat ditanya Malik mengapa memberinya, dia belum siap untuk berkata jujur. Di sekolah Malik dan Tari sering menjadi yang terakhir meninggalkan sekolah karena mereka merupakan guru yang mengajar kelas paling tinggi. Dengan begitu, Tari bisa berbohong karena sudah tidak ada guru lain lagi yang berada di sekolah selain mereka.
‘’’’’
Sepulang sekolah, seperti biasa Gani menghampiri Sarah. Mereka saling menyapa dan mengobrol mengenai hal sederhana yang tanpa disadari itu membuat mereka sama-sama merasa senang.
“Oiya, kemarin kakakku menelpon, dia bilang sebentar lagi akan pulang.” Ucap Sarah saat berjalan bersama Gani menuju parkiran.
“Karena kita juga sebentar lagi liburan dan lulus”
“Iya.”
“Ada apa?”
“Apa kita sungguh berteman?”
Mendengar pertanyaan Sarah begitu, membuat hatinya bergetar. Selama ini, meski sudah sering menghabiskan waktu bersama untuk berbicara dan cukup dekat, namun Gani tidak sekalipun menyatakan perasaannya. Gani menghembuskan napasnya, terlihat putus asa.
“Ada apa?” Sarah merasa bingung melihat Gani yang nampak tak bersemangat dan tidak menjawab pertanyaannya.
“Hey, ada apa dengan ekspresimu?” Sarah tambah bingung tapi masih menganggap ini lelucon Gani padanya.
“Kita harus saling membantu.” Lanjutnya.
“Membantu?” Gani akhirnya bungkam dan melihat Sarah.
“Nanti kalau kakakku pulang, sebaiknya kita harus menjaga jarak.”
Gani berpikir apakah selama ini Sarah berusaha mendekatinya diam-diam? Apa Malik sudah memberitahu kalau Gani menyukainya?. Mendengar itu, Gani sejenak merasa senang, namun dia memikirkan hal lain. Bukankah itu lebih buruk? Jika Sarah juga menyukainya, itu akan lebih memperumit keadaan. Dia sudah tahu kakaknya tidak diberi restu bersama Malik, lalu mana mungkin akan berbeda dengan dirinya jika memilih Sarah?. Dia yakin dia akan menerima kenyataan yang sama dengan Salma.
“Ada apa denganmu? Kamu hari ini sangat sering tidak merespon ucapanku.” Sarah merasa kesal.
__ADS_1
“Bolehkah aku bertanya?” Gani tiba-tiba bertanya.
Sarah mengangguk.
“Kenapa aku harus menjaga jarak jika kakakmu pulang? Kenapa hanya harus disaat kakakmu ada?”
“Apa kamu ingin aku menjauhimu selamanya?” Sarah merasa Gani sungguh menjengkelkan hari ini.
“Aku bertanya.”
“Aku juga bertanya.”
“Tolong jawab pertanyaanku terlebih dahulu.” Gani terlihat serius.
“Bukankah aku yang lebih dahulu bertanya?”
“Oke baiklah. Aku akan membantumu.” Gani berlalu pergi.
“Gani.” Sarah mencoba menghentikan Gani, namun tidak digubris.
Gani segera mengambil motornya dan pulang.
‘’’’’
Tari mendengar kabar dari pamannya bahwa neneknya jatuh sakit dan sekarang berada di rumah sakit untuk dirawat. Tari merasa sedih berharap neneknya akan segera sembuh dan baik-baik saja.
Seperti biasa setelah semua siswanya keluar kelas untuk pulang, Tari hampir selalu duduk di kursi di depan kelas itu. Meski dia merasa sedih, namun dia tetap duduk untuk menyapa Malik.
“Malik.” Panggil Tari saat melihat Malik keluar dari kelasnya.
“Iya.”
“Kapan rencananya kamu pulang?”
Hari ini adalah hari terakhir sebelum libur sekolah. Malik mengatakan bahwa dia akan pulang besok.
“Oh begitu, InsyaAllah aku besok juga akan ke rumah sakit Kimbumi. Nenekku dirawat di sana.”
“Oh.” Malik merasa iba mendengar nenek rekan kerjanya sedang dirawat.
“Aku duluan ya.” Ucap Malik setelah terdiam sejenak menunggu jika ada yang ingin Tari katakan lagi padanya.
“Iya, kamu hati-hati ya pulang besok.”
__ADS_1
“Kamu juga.” Malik berlalu pergi.