How Matcha Love You

How Matcha Love You
Seolah Selingkuh


__ADS_3

Salma menghentikan langkahnya saat mendengar Malik memanggilnya. Dia sejenak berhenti dan menarik nafasnya dalam-dalam. Saat ini, hatinya merasa begitu sesak, air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya tumpah membasahi pipinya. Menyadari air matanya telah mengalir, Salma segera menyekanya dan memantapkan diri untuk berbalik menghadap Malik.


Salma berdiri sekitar 2 meter dengan seseorang yang sesungguhnya sangat mengkhawatirkan dirinya. Malik memejamkan matanya sejenak, dia menguatkan diri agar dapat mengendalikan dirinya dan sesaat untuk mengabaikan perasaan yang sebenarnya dia rasakan.


Meski menghadap Malik, Salma belum berani menatap sepasang bola mata seseorang yang sungguh membuat hatinya berkecamuk malam ini. Setelah beberapa saat menunduk, Salma mencoba menenangkan diri dengan melihat lalu lalang kendaraan yang tak jauh dari mereka, dia melihat sekeliling berharap dengan begitu dia bisa menjadi sedikit lebih tenang dan dapat melewati keadaan ini dengan baik tanpa memperlihatkan sisi lemahnya yang sebenarnya sungguh merintih, dia tak mau memperlihatkan dirinya yang seperti itu, terlebih di sini dia tidak hanya bersama Malik, tapi juga ada Nanda dan mungkin seorang selingkuhan Malik itu. Lagi-lagi Salma menarik nafasnya perlahan, lalu menghembuskannya.


Tak jauh dari Salma dan Malik, Nanda juga berdiri melihat kedua temannya ini yang masih sama-sama belum mengatakan sepatah kata pun. Salma yang terlihat jelas beberapa kali menyeka air matanya belum saja bungkam dan terus melihat sekitarnya. Nanda mengerti dengan apa yang dirasakan oleh teman baiknya itu karena dia juga pernah merasakan hal yang sama, Nanda juga pernah diselingkuhi oleh mantan kekasihnya sebelum bersama Fiki. Sejenak Nanda teringat akan hal itu, dikhianati oleh seseorang yang dicintai itu sangat menyakitkan. Segala mimpi yang pernah dibangun untuk hidup bersama dengan bahagia seketika hancur bagaikan diterjang ombak besar, ditiup angin kencang, atau seperti ditimpa sesuatu yang sangat besar yang membuat mimpi itu seketika lenyap, hilang, dan tak tersisa. Melihat Salma sedang merasakan rasa sakit hati yang pernah dia rasakan, tentu membuat Nanda juga bersedih. Terlebih mengingat ini bukanlah kejadian yang sebenarnya terjadi. Ini hanya rencana Malik karena tak sanggup melawan keadaan untuk tetap memperjuangkan cintanya.


Tak lama setelah melihat Nanda juga mengikuti Malik keluar kafe, Tari juga memilih melakukan hal yang sama. Tari berdiri tak jauh dari Nanda, dia melihat dua orang yang sebenarnya saling mencintai sama-sama terluka, terluka karena ulahnya, terluka karena takdirnya. Tari juga merasa iba melihat rekan kerja dan teman SMA nya sedang menghadapi kemalangan karena perasaan mereka kepada satu sama lain.


Malik membuka matanya perlahan. Dia mendapati Salma berdiri tak jauh di hadapannya. Meski tak begitu dekat, Malik melihat jelas air mata yang jatuh di pelupuk mata Salma yang mana itu segera diseka oleh seseorang yang sesungguhnya sangat menyiksa batinnya saat ini. Ingin rasanya dia memohon untuk meminta maaf dan mengatakan sejujurnya yang sejenak dia berpikir itu akan melegakan bagi cintanya ini, tapi … dia menyadari itu sama sekali tak membantu dirinya, itu hanya akan menarik ulur waktu yang akhirnya juga akan menyakiti Salma.


Pikirannya cukup kalut, Salma bahkan belum menatap Malik. “Baiklah.” Batinnya. Salma memilih akan bungkam tanpa melibatkan emosinya, dia ingin berucap setenang mungkin meski hatinya tak begitu.


“Sal”


“Mal”


Malik dan Salma akhirnya sama-sama bungkam dan menatap satu sama lain.


Melihat itu, Tari memilih maju menghampiri keduanya, dia tak ingin ini gagal, tidak sesuai rencana. Dia takut Malik berubah pikiran karena melihat Salma saat ini.

__ADS_1


“Malik ada apa?” Tanya Tari melihat Malik, dia seakan tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi.


Salma seketika membelalakkan matanya saat melihat Tari, dirinya baru menyadari kalau Tari lah seseorang yang bersama dengan Malik.


Meski berat melakukan kebohongan seperti ini, namun lagi-lagi Tari terus mengingat niat awalnya. Dia juga membantu Salma agar tak terus berharap pada Malik yang hingga saat ini hubungannya tidak juga mendapatkan restu untuk bersama.


“Salma” Tari menatap Salma seakan juga baru menyadari keberadaan temannya ini.


Salma menutup mulut dengan satu tangannya, sedang tangan yang satunya memegang kepala yang tiba-tiba terasa pusing.


Nanda yang melihat itu, segera menghampiri Salma.


“Kamu tidak apa-apa?” Ucap Nanda sembari menahan pundak Salma dengan tangannya.


Tanpa gentar Tari terus menguatkan dirinya untuk melakukan perannya dengan sebaik-baiknya, walau sebenarnya dia juga merasa terluka melihat Salma begitu kecewa.


“Apa maksud mu?” Ucap Tari seolah sedang mendesak Malik agar mengatakan bahwa dirinya benar-benar telah melakukan kesalahan.


“Aku tak apa-apa.” Balas Salma sembari menguatkan diri dan melepaskan rangkulan Nanda.


Nanda melihat temannya ini dengan khawatir dan melepaskan tangannya untuk membiarkan Salma sedikit menjauh darinya.

__ADS_1


“Katakan apa yang ingin kamu katakan, aku akan mempercayaimu.” Ucap Salma, kali ini dia telah menatap Malik mencoba setenang mungkin, meski hatinya masih terus menggebu.


Ingin rasanya Salma berkata kasar, marah, dan mengeluarkan segala bentuk kekecewaannya atas apa yang telah dia lihat. Puncak rasa sakitnya adalah saat melihat Malik menggenggam tangan Tari. Tapi Salma terus berharap mungkin akan ada alasan yang membuat dirinya tak begitu kecewa. Salma berharap ini hanya sebuah kesalahpahaman. Cintanya begitu besar, dirinya merasa sangat bahagia saat bersama Malik dan menurutnya begitu juga dengan lelaki yang dicintainya ini, dia percaya Malik juga bahagia saat bersamanya. Dia berharap apa yang terjadi sekarang adalah suatu kesalahan sesaat, kesalahan yang mungkin bisa dimaafkan.


Mendengar apa yang dikatakan Salma, membuat Tari harus berpikir cepat. Dia tak pernah berpikir kalau Salma akan mengatakan hal seperti ini, dia mengira Salma akan bertindak seperti perempuan yang telah dikhianati pada umumnya seperti marah, kesal, dan tak terkendali. Namun …hingga saat ini, Salma tetap menunjukkan kepercayaannya pada seorang yang telah mengkhianatinya.


“Hahaha” Tari tertawa dengan sinis.


“Apa maksudmu? Apa kau merebut Malik dariku?” Ucap Tari sembari melihat Salma dengan berani.


“Apa?”


“Maaf Tari maaf Salma.” Ucap Malik, dia mengatakan sesuatu seolah dia berada di antara keduanya.


“Wah apa kamu berselingkuh dengannya selama ini?” Ucap Tari melihat Malik.


Memasang wajah gugup dan ketakutan Malik mencoba seakan merasa lebih bersalah pada Tari. “Maaf, tapi..”


“Salma, bisa kah kamu mengatakan sejujurnya apa kamu tak mengetahui hubungan kami?” Ucap Tari seakan dirinya juga kacau karena telah dikhianati oleh orang yang dia cintai.


Salma tak menjawab, dia tak menyangka kalau selama ini Malik telah memiliki hubungan dengan temannya sendiri.

__ADS_1


“Tari aku bisa jelasin.” Pinta Malik pada Tari yang menunggu jawaban Salma.


“Apa? Aku selingkuhan mu?” Salma melihat Malik dengan tatapan tak percaya, Salma masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


__ADS_2