
Malik berbaring di atas tempat tidurnya, sudah beberapa kali memejamkan mata berharap agar lelap segera membawanya, namun hingga sekarang pikirannya terus mengganggunya. Malik membalikan tubuhnya beberapa kali, ini membuatnya merasa lebih segar dan tak mengantuk. “Apa-apaan ini.” Malik merengkuh sembari menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Di kepalanya terus terngiang seseorang yang dia temui tadi siang. Meski ini bukan pertama kalinya dia memikirkan orang yang sama dan bahkan selalu sama, ini terus mengganggunya dan dia belum menemukan cara untuk mengatasi saat dia seperti sekarang. “Bukan kah aku sudah merelakannya.” Malik kembali mencoba memejamkan matanya. Namun setelah beberapa saat, bukannya tertidur, pikirannya yang memikirkan cinta pertamanya itu malah semakin menjadi-jadi. Malik menyerah, dia memilih bangun dan mendudukan diri di atas tempat tidur.
“Astagfirullah.” Malik berharap dia bisa mengendalikan pikirannya.
Malik bangun dan melangkah menuju sebuah meja yang tak jauh dari tempat tidurnya. Dia mengambil salah satu bolpoin yang ada di tempat pensil yang terletak di atas meja itu. Malik duduk di kursi sembari memandang sesuatu yang ada di tangannya. Sebuah bolpoin yang pemiliknya adalah seseorang yang terus mengganggu pikirannya. Malik sejenak merenungi lalu berucap dalam hati, “Ya Allah tolong kuatkan aku, jika memang dia bukan jodohku.” Dia memasukan bolpoin itu ke dalam laci dan memilih kembali membaringkan tubuhnya.
‘’’’’
Hari ini, Salma kembali bekerja. Saat dia berada di ruangannya, terdengar seseorang mengetuk dari balik pintu.
“Silakan masuk.” Ucap Salma.
“Resya.” Lanjutnya saat melihat seseorang yang masuk ke ruangannya ternyata adalah temannya sekaligus rekan kerjanya.
Seharusnya hari ini Salma akan masuk kerja pada shift malam seperti hari sebelumnya, namun karena kemarin dia diliburkan, atasan memintanya untuk berubah jadwal. Salma tak memberi tahu Resya dan juga Pratama kalau jadwal masuknya hari ini di mulai dari pagi hari.
“Dari mana kamu tahu aku ada di sini?” Tanya Salma melihat Resya.
“Aku melihatmu tadi saat di parkiran hehe.”
“Kenapa kamu tidak memanggilku?”
“Kamu sudah cukup jauh, aku tak bisa memperdengarkan suara indahku ke banyak orang hanya untuk memanggilmu.” Resya tersenyum melihat Salma.
“Oh baiklah, aku sungguh sangat-sangat mengerti.” Salma mengangguk.
Resya duduk di kursi pasien yang berada tepat di depan Salma.
“Bagaiman keadaan ibumu?”
“Dia sudah lebih baik. Ibuku hanya kelelahan.”
“Alhamdulillah. Memangnya apa yang ibumu kerjakan dalam kesehariannya? Apa dia bekerja?”
Ibu Resya adalah seorang instruktur senam. Meski usianya sudah mencapai kepala lima, namun dia tetap menjaga olahraga dan pola makan.
__ADS_1
“Ibuku diet, mungkin dietnya tidak begitu sesuai dan membuatnya ke kurangan asupan.”
“Kita dokter, jangan sampai lengah dengan keluarga kita sendiri.”
Resya mengangguk. “Iya, selama ini aku tidak begitu memperhatikan ibuku.”
“Aku juga begitu.” Salma menunduk.
“Tapi aku yakin, ibumu akan baik-baik saja jika dia segera memperbaiki pola makannya.”
“Aku harap begitu.”
“…..”
“Oh iya. Apa kamu melihat Pratama hari ini?” Ucap Salma.
“Ada, mungkin sekarang dia juga berada di ruangannya.”
Salma mengatakan kalau dia belum memberitahu Pratama kalau hari ini dia masuk kerja dari pagi.
“Tolong jangan beritahu dia ya!” Pinta Salma.
“Tidak apa-apa, aku hanya ingin mengejutkannya nanti.” Salma sembari tersenyum membayangkan Pratama akan senang melihat keberadaannya.
Salma sedang membuka lembar kertas, lalu ingin menulis sesuatu. Dia mengambil tas dan memasukkan salah satu tangannya untuk mengambil bolpoinnya.
Setelah beberapa saat merogoh tasnya, Salma tak juga menemukan benda yang dicari. Resya yang melihat Salma nampak mencari sesuatu lantas saja bertanya.
“Apa kamu memerlukan ini?” Resya sembari menyerahkan bolpoin yang baru diambil dari saku bajunya.
Salma mengangguk.
“Ah aku jarang meninggalkan barangku disini.” Salma merasa sedikit kesal. Meski dia sudah lama bekerja disini, namun dia hanya membawa satu bolpoin dan tidak ada membawa lebih, apalagi menyimpannya di ruang kerjanya ini.
“Lain kali kamu harus membawa satu pak bolpoin dan menyimpannya disini.” Sahut Resya.
“Kamu benar.”
__ADS_1
“Beda ya hee.” Lanjutnya saat menggoreskan ujung bolpoin di atas kertas. Selama ini Salma selalu memakai bolpoin dengan merk yang sama dan bolpoin yang dipinjamkan Resya bukanlah merk yang sama seperti yang biasa dia gunakan.
“Aku ke ruanganku”
“Oh, apa aku boleh meminjam ini.” Pinta Salma.
“Tentu saja.”
“Terimakasih, nanti aku antar ke ruanganmu.”
“Baiklah.” Resya mengangguk, lalu pergi.
‘’’’
Sembari mengendarai motornya, dalam perjalanan menuju kampus Gani memikirkan sesuatu. “Apa kakak sudah melupakannya?” Pikirnya. Namun, tak begitu percaya kalau Salma sudah melupakan Malik dan sebaliknya, menurutnya Malik juga tak akan mudah melupakan kakaknya.
Gani menyadari betul posisinya, dia tak berhak untuk melakukan apapun untuk hubungan kakaknya. Walau sebenarnya dia sangat mendukung hubungan kakaknya dengan Malik. karena menurutnya Malik adalah orang yang baik, dia sungguh akan merasa tenang kalau kakaknya akan berjodoh dengan Malik, Gani sudah sangat mengenalnya.
“Itu tak mudah, bahkan aku pun meninggalkan Sarah” Pikirnya. Gani memilih tak ambil pusing dan berhenti untuk memikirkan hal ini.
‘’’’’
Salma sudah selesai menulis, dia beranjak, berniat ke ruangan Resya untuk mengembalikan bolpoin. Beberapa langkah dari ruangannya, terdengar suara Pratama yang sedang berbincang dengan rekan kerjanya.
“Dia ternyata tak sekaku yang aku bayangkan.” Pikir Salma sembari tersenyum karena sebelumnya pernah berpikir bahwa Pratama adalah seseorang yang jarang bergaul dengan orang lain.
“Kamu beruntung berpacaran dengannya.” Terdengar lawan bicara Pratama.
“Iya.” Balas Pratama. Pratama terdengar menjawab dengan bangga yang lagi-lagi membuat Salma tak bisa tak menyunggingkan bibirnya. Salma terhenti dan tersenyum sendiri mendengar pengakuan pacarnya yang merasa beruntung karena bersamanya.
“Baiklah” Gumam Salma dan ingin kembali melanjutkan langkahnya.
“Dulu dia tak mau dipanggil sayang, sekarang malah dia yang melakukan itu padaku. Dia tak mau disentuh, mungkin aku hanya sedikit bersabar haha.” Lanjut Pratama.
Salma yang mendengar Pratama berkata begitu seketika menghentikan langkahnya.
“Maksudmu dia akan mau bersentuhan denganmu karena kalian pacaran?”
__ADS_1
“Sepertinya haha.”
“Apa?” Salma membatin tak percaya.